
Hidup Berat karena Dunia Dijadikan Tujuan
Banyak orang merasa hidupnya berat. Bukan karena ujiannya terlalu besar, tapi karena hatinya terlalu menaruh dunia di tempat tertinggi. Dunia yang seharusnya menjadi jalan, justru dijadikan tujuan.
Akibatnya, ketika dunia itu goyah sedikit saja, hatinya ikut runtuh. Ketika harta berkurang, ia merasa gagal. Ketika jabatan hilang, ia merasa hina. Ketika manusia tak lagi memuji dirinya, ia merasa tak berharga.
Padahal dunia memang diciptakan untuk berubah, hilang dan berpindah tangan. Dunia bukan tempat menetap. Apalagi tempat bergantung. Dunia hanya alat, bukan tujuan. Namun, ketika alat dijadikan tujuan, maka hidup terasa seperti beban yang tak pernah selesai. Selalu ada yang kurang. Selalu ada yang dikejar. Selalu ada yang membuat gelisah.
Syaikh Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikâm mengingatkan, “Istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu. Apa yang telah diurus oleh selain dirimu, janganlah engkau ikut mengurusnya.”
Kalimat ini bukan mengajarkan pasrah tanpa usaha, namun mengingatkan hati agar tidak boleh menggantungkan tenangnya pada dunia. Sebabnya, yang mengatur rezeki, jodoh dan takdir bukan manusia, tetapi Allah.
Ketika hati sibuk mengejar dunia, ia akan lelah. Namun, ketika hati sibuk mencari ridha Allah, dunia justru datang sebagai bonus, bukan beban.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan, manusia akan mulia ketika menjadikan akidah sebagai asas kehidupannya. Menurut beliau, kebahagiaan sejati bukan terletak pada materi, jabatan, atau kenikmatan fisik, melainkan pada ketenangan yang lahir dari ketaatan kepada Allah dan keterikatan pada hukum-Nya.
Ketika hidup diatur oleh akidah, maka standar bahagia bukan lagi seberapa banyak dunia yang dimiliki, tetapi seberapa dekat diri dengan ridha Ilahi.
Di sinilah letak rahasianya. Hidup terasa berat ketika dunia dijadikan tujuan, karena dunia tidak pernah benar-benar bisa digenggam. Sebaliknya, hidup akan terasa ringan ketika akhirat dijadikan tujuan, karena apa pun yang terjadi di dunia tetap bernilai pahala di sisi Allah.
Orang yang mengejar dunia akan selalu takut kehilangan. Namun, orang yang mengejar Allah, tidak akan kehilangan apa pun, karena hatinya sudah berada di tempat yang paling aman.
Maka dari itu, bukan ujiannya yang membuat hidup terasa berat, namun tujuan hidup yang salah. Ketika dunia turun dari singgasana hati, dan Allah kembali menjadi tujuan utama, hidup yang sama bisa terasa jauh lebih ringan.
WalLâhu a’lam. [Nabila Zidane; (Jurnalis)]



