
Mentransformasi “Generasi Stroberi”
Istilah “generasi stroberi” kini viral untuk menyebut anak muda yang tampak menarik dari luar, namun rapuh saat menghadapi tekanan. Fenomena anxiety (kecemasan berlebih), overthinking (terlalu banyak berpikir berlebihan), hingga depresi melanda generasi milenial dan Gen Z. WHO mencatat 1 dari 7 remaja mengalami gangguan mental. Pertanyaannya: mengapa generasi yang hidup di era kemajuan teknologi justru lebih rapuh mentalnya?
Jawabannya ada pada sistem sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem pendidikan sekuler hanya fokus pada aspek kognitif dan skill (keterampilan) untuk mencetak pekerja, bukan membangun kepribadian islami. Kurikulum yang berganti-ganti tanpa visi jelas membuat generasi kehilangan arah hidup. Mereka diajari untuk sukses materi, namun tidak diberi jawaban: untuk apa hidup ini? Akibatnya, muncul kehampaan spiritual yang berujung pada kerapuhan mental.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dia pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (QS Thaha: 124).
Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan tanpa petunjuk Allah pasti menghasilkan kesempitan hidup, di antaranya kegelisahan jiwa.
Rasulullah saw. bersabda, “Ketahuilah bahwa di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR al-Bukhari-Muslim).
Hati yang tidak terhubung dengan Allah akan rapuh menghadapi ujian kehidupan.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah jilid I menyatakan, kepribadian islami (syakhshiyyah islamiyyah) terbentuk dari pola pikir (‘aqliyyah) dan pola sikap (nafsiyyah) yang dibangun atas akidah Islam. Sistem sekuler justru merusak keduanya dengan menanamkan materialisme sebagai standar kebahagiaan dan liberalisme sebagai pandangan hidup. Hasilnya: generasi yang bingung, mudah menyerah dan kehilangan ketahanan mental.
Solusinya bukan sekadar konseling atau terapi psikologi, melainkan kembali pada sistem kehidupan Islam yang menjadikan akidah sebagai asas. Pendidikan Islam harus membangun kesadaran bahwa hidup adalah ujian untuk meraih keridhaan Allah, bukan sekadar mengejar kesuksesan dunia. Dengan akidah yang kokoh, generasi Muslim akan memiliki ketahanan mental yang kuat karena mereka memahami hakikat hidup dan tidak mudah terguncang oleh tekanan dunia.
Islam tidak mencetak generasi stroberi, tetapi generasi berkepribadian islami yang kokoh dalam akidah dan tangguh dalam menghadapi kehidupan. WalLâhu a’lam. [Abi Bachrain; (Aktivis Dakwah Islam )]





