TarikhTsaqafah

Jaringan Ulama Bogor Pejuang Islam Sejak Era Utsmaniyah (Abad 19–20 M) (Bagian 5)

Syaikh Mukhtar ‘Atharid

Al-Musnid al-Faqih Syaikh Abu al-Is’ad Rd. Muhammad Mukhtar ibn ‘Atharid al-Bughuri al-Batawi al-Jawi al-Makki asy-Syafi’i lahir di Bogor, 14 Sya’ban 1287 H/14 Februari 1862 M. Beliau merupakan ulama bangsawan trah Rd. Aria Wiratanu. Berikut ini nasabnya:

Syaikh Rd. Muhammad Mukhtar ibn Syaikh Atharid Rd. Natanegara ibn Rd. Wiranegara Wiratanudatar VI ibn Rd. Muhyiddin Wiratanudatar V ibn Rd. Sabirudin Adipati Wiratanudatar IV Rd. Astra Manggala Wiratanudatar III ibn Rd. Wiramanggala Aria Wiratanudatar II ibn Rd. Jayasasana Aria Wiratanu ibn Rd. Aria Wangsa Goparana.

Syaikh Mukhtar Atharid adalah bagian jaringan Ulama Bilad al-Jawi “generasi baru” setelah era Syaikh Nawawi Banten. Diduga kuat sejak era Syaikh Muhammad ibn Umar al-Jawi atau lebih dikenal dengan Syaikh Nawawi Banten, jaringan ini erat kaitannya dengan laporan Konsulat Utsmaniyah yang ditanggapi serius oleh Khalifah Abdul Hamid II. Laporan yang dimaksud sebagai berikut:

 

Laporan Konsul Batavia Mehmed Kamil Bey, 1897 kepada Turhan Pasya Wazir Luar Negeri

Semua sarana untuk mencerahkan kaum Muslim melalui pendidikan, ilmu-ilmu agama, dan perhatian kepada hukum syariah telah hancur secara total. Meskipun semua kelas masyarakat secara teori memiliki hak untuk mengenyam pendidikan tanpa terkecuali, nyatanya semua masyarakat pribumi –kecuali mantan penguasa di sini– dianggap sebagai tawanan dan budak di mata hukum, yang menghabiskan hidup mereka untuk menjadi pembantu rumah tangga dan pekerja demi mencari sesuap nasi.1

Setiap tahunnya, dalam rangka menjalankan kewajiban yang ditetapkan syariah Nabi yang memancar, ribuan jamaah dari wilayah ini berangkat ke Hijaz untuk menunaikan ibadah haji dan mencerahkan pengetahuan mereka sampai batas tertentu dengan melihat secara langsung Tanah Suci, yang merupakan tanda kemegahan Islam yang masyhur. Namun, tidak ada satu pun yang pulang dan mengajar ke kampung halamannya setelah berhasil mempelajari berbagai permasalahan syariat dan tinggal di sana.2

Masalah akhlak ini akan diselesaikan dengan cara pembudayaan dan pendidikan. Melalui perlindungan Hadirat yang Mulia Khalifah di bumi, Amir al-Muminin Tuanku Sultan yang Agung, kita akan memperkuat hubungan politik dengan bagian Dunia Islam yang sangat penting ini. Dengan cara meningkatkan keindahan akhlak mereka dan menyebarkan karya-karya agama di antara masyarakat sehngga dapat mencerahkan dan memperbaharui pengetahuan mereka serta meningkatkan kekuatan dan keterikatan mereka dengan Sang Pelindung Khalifah.3

Artinya, Syaikh Mukhtar ‘Atharid melanjutkan peran Syaikh Baing Yusuf sebagai sesama ulama trah Rd. Aria Wiratanu, meskipun beliau tidak pulang ke negeri asal dan lebih memilih bermukim di Hijaz. Beliau menjadi guru bagi para Ulama Bilad al-Jawi berikutnya, terutama sebagai pengajar di Mesjid al-Haram. Dalam al-’Iqd al-Farid, tsabat Syaikh Muhammad Yasin al-Fadani disebutkan sanad-sanad beliau:4

  1. Sanad kitab al-Muwattha‘ (hadits), Yasin al-Fadani dari Ali ibn Abdullah al-Banjari dan Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri, keduanya dari Zainuddin ibn Badawi ash-Shumbawi dari ‘Abid ibn Ahmad as-Sindi al-Madani hingga muttashil kepada Imam Malik ibn Anas.
  2. Sanad kitab Tafsir al-Qur‘an al-‘Azhim (tafsir al-Quran), Yasin al-Fadani dari Ali ibn Abdullah al-Banjari dan Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri, keduanya dari Zainuddin ibn Badawi ash-Shumbawi dari Nawawi ibn Umar al-Bantani dari Arsyad ibn Abdusshamad al-Banjari dari Abdusshamad ibn Abdurrahman al-Falimbani hingga muttashil kepada Imam Ibn Katsir
  3. Sanad kitab Nukhbah al-Fikar wa Syarhuh (ilmu hadits), Yasin al-Fadani dari Ali ibn Abdullah al-Banjari dan Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri, keduanya dari Zainuddin ibn Badawi ash-Shumbawi dari Nawawi ibn Umar al-Bantani dari Arsyad ibn Abdusshamad al-Banjari dari Abdusshamad ibn Arsyad al-Banjari dari ‘Aqib ibn Hasanuddin al-Falimbani hingga muttashil kepada Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani
  4. Sanad Madzhab asy-Syafi’i (fiqih), Yasin al-Fadani dari Muhsin ibn Ali al-Falimbani, Husain ibn Abdul Ghani al-Falimbani, Ahyad ibn Idris al-Bughuri, Sulaiman ibn Husain as-Samadani, semuanya dari Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri dari Zainuddin ibn Badawi ash-Shumbawi dan Mustofa ibn Muhammad al-‘Afifi, keduanya dari asy-Syihab Ahmad an-Nahrawi hingga mutta­shil kepada Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i.

 

Dari nukilan semua sanad ini, guru utama Syaikh Mukhtar ‘Atharid bermuara kepada Syaikh Zainuddin ibn Badawi ash-Shumbawi, murid Syaikh Nawawi Muhammad ibn Umar al-Bantani. Terlihat jelas jaringan Ulama Jawi menghubungkan putra-putra terbaik dari seantero Asia Tenggara saat ini, bukan hanya terbatas dari Indonesia. Dalam Tasynif al-Asma`, Syaikh Dr. Mahmud Sa’id Mamduh menukilkan nama guru-guru beliau lainnya:5

  1. Syaikh ‘Atharid Rd. Natanegara, sang ayah (al-Quran al-Karim)
  2. Habib Utsman ibn Abdullah Bin Yahya, Mufti Betawi (nahwu, sharaf dan fiqih)
  3. Sayyid Abu Bakar ibn Muhammad Syattha (fiqih)
  4. Syaikh Muhammad Sa’id Babushail (hadits dan fiqih)
  5. Habib Husain ibn Muhammad al-Habsyi (hadits)
  6. Muhammad ibn Sulaiman Hasbullah al-Makki (tafsir dan fiqih)
  7. Muhammad Amin Ridwan al-Madani (hadits)

 

Di antara kitab-kitab yang dinisbahkan kepada Syaikh Mukhtar ‘Atharid sebagai berikut:

  1. Ittihâf as-Sâdah al-Muhadditsîn bi Musalsalât al-Hadîts al-‘Arba’în.
  2. Al-Mawârid fî Syuyûkh Ibn ‘Atharid.
  3. Jam’u asy-Syawârid min Marwiyyat Ibn ‘Atharid.
  4. Taqrîb al-Qashd fî Istikhrâj bi ar-Rubû’ al-Mujîb wa Wasîlah ath-Thullâb.
  5. Ad-Durr al-Munîf bi Syarh al-Wird al-Lathîf.
  6. Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah li al-Awham al-Kâdzibah fî Bayân Hill al-Balût.
  7. Kitab Ushûluddîn.
  8. Risâlah al-Wahbah al-Ilâhiyyah fî Bayân Isqât Mâ ‘alâ al-Mayyit min al-Huqûq wa ash-Shiyâm wa ash-Shalâh.
  9. I’tiqâd Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah.
  10. Manâsik al-Hajj.
  11. Hidâyah az-Zâ’irîn wa al-Ghâyah al-Ma’mûl fî Ziyârah ar-Rasûl.
  12. Kifâyah al-Mubtadi’în li ‘Ibâdah Rabb al-‘Âlamîn.
  13. Hidâyah al-Mubtadi’în ilâ Sulûk Maslak al-Muttaqîn. [Bagian 5]

[Ahmad Abdurrahman al-Khaddami]

 

Catatan kaki:

  1. Nicko Pandawa, Siyasah Sulthaniyah, 94-95
  2. Nicko Pandawa, Siyasah Sulthaniyah, 96
  3. Nicko Pandawa, Siyasah Sulthaniyah, 99
  4. Yasin al-Fadani, al-‘Iqd al-Farid, 9, 31, 38, 91
  5. Sa’id Mamduh, Tasynif al-Asma‘, 588 – 589

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + 9 =

Back to top button