
Takut Khilafah
“Kami tidak akan menerima pembentukan Khilafah apa pun di pesisir Mediterania.” (PM Benyamin Netanyahu)
++++
Di atas adalah pernyataan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dalam sebuah pidato yang direkam pada hari Senin, 21 April 2025 tahun lalu. Ini bukanlah pernyataan pertama kali bernada warning dari pemimpin negara Barat atau pro Barat terkait khilafah. Mantan Presiden AS George Bush, bersama dengan Menteri Pertahanannya, Rumsfeld, dan Wapres John McCain, beberapa tahun lalu juga memperingatkan hal serupa. Orientalis Inggris, Bernard Lewis, pernah mengatakan dalam sebuah seminar bahwa bahaya terbesar yang mengancam Eropa adalah kembalinya tentara Muslim di bawah Khilafah untuk melanjutkan pengepungan mereka terhadap Wina, yang telah mereka tinggalkan lebih dari tiga abad sebelumnya.
Lebih seronok lagi apa yang dikatakan Sir Keir Starmer, Perdana Menteri Inggris saat ini, sebagaimana dikutip oleh koran The Sun. Memang banyak pihak meragukan hal ini, bahwa Starmer benar berkata seperti itu. Akan tetapi, andai benar, ini luar biasa. Makin nyatalah ketakutan Barat terhadap Khilafah. Simaklah apa yang dikatakan Starmer, “Masalah utama kami sebenarnya bukan dengan bangsa-bangsa Muslim. Bukan pula dengan rezim-rezim penguasa mereka. Pasalnya, para penguasa itu sejatinya berputar dalam orbit kepentingan kami. Mereka tetap eksis karena perlindungan kami. Mereka pun melaksanakan kebijakan-kebijakan yang mengamankan kepentingan nasional kami meski sering bertentangan dengan kepentingan bangsanya sendiri.”
“Masalah hakiki kami adalah dengan Islam itu sendiri dan Muhammad, Nabi umat Islam. Sebabnya, Islam adalah agama yang menyuguhkan jawaban-jawaban mendalam dan rinci terhadap seluruh persoalan eksistensial, dan peradaban. Islam adalah rival sangat tangguh bagi peradaban Barat yang kini tengah kehilangan pamor dan sinarnya. Sementara itu, Islam dan Nabi Muhammad justru semakin bersinar, bahkan di tengah masyarakat Eropa sendiri, yang telah diberikan kebebasan berpikir oleh nilai-nilai liberalisme. Kebebasan berpikir inilah yang telah menuntun banyak kaum intelektual dan generasi muda Eropa untuk memeluk Islam. Di dalamnya mereka menemukan seluruh jawaban atas dahaga batin, krisis eksistensial dan kekosongan spiritual. Itu artinya, kami akan kembali ke titik awal pertarungan antara peradaban Islam dan peradaban kami yang penuh kontradiksi dan kemunafikan,” kata Starmer.
Maka dari itu, lanjut Starmer, “Kami tak punya pilihan selain menghadapi arus islamisasi dan gagasan Islam melalui berbagai cara. Sebabnya, jika tidak, satu-satunya pilihan lain yang tersisa adalah mengakui bahwa Islam adalah agama Allah yang sejati. Inilah agama yang juga dianut oleh Yesus dan para nabi lainnya. Pengakuan ini tentu akan menggiring kami untuk menerima Islam sebagai agama kami, demi meraih kerajaan agama dan negara dalam pemikiran Kristen, yang jelas memiliki perbedaan mendasar dengan Islam dalam persoalan tersebut.”
Oleh karena itu, katanya, “Kami harus melawan Islam meskipun itu berarti kami harus mengorbankan nilai-nilai liberal yang kami banggakan selama ini. Kami perlu menetapkan hukum-hukum yang membuat umat Islam bisa meninggalkan Eropa, sebagaimana yang dilakukan Swedia dengan melegalkan homoseksualitas dan ateisme secara ekstrem. Hal ini mendorong umat Islam untuk hengkang atau larut dalam peradaban kami dan akhirnya kehilangan keimanannya. Kami juga harus menghentikan arus migrasi dari negara-negara Islam ke Eropa dan Amerika serta membuka pintu bagi migran dari non-Muslim. Bahkan jika perlu, kami bekerja sama dengan negara-negara Islam untuk membatasi perpindahan umatnya ke wilayah kami.”
“Dari sisi lain,” lanjutnya, “kami harus terus mendukung Israel, betapapun keras tindakan mereka. Kami tidak boleh membiarkan pembentukan sistem pemerintahan Islam di Gaza yang bisa menjadi otomatisasi teladan bagi kebangkitan politik Islam di negara-negara Muslim lainnya. Dalam hal ini, kita bisa memanfaatkan dukungan besar dari negara-negara Arab terhadap Israel. Pasalnya, mereka sendiri takut akan kemunculan sistem pemerintahan Islam atau demokrasi yang berbasis ajaran Nabi Muhammad dan al-Quran.”
“Bagi kami, tidak penting apakah yang kami lakukan ini salah, tidak sah atau tidak bermoral. Itu bukan urusan kami. Yang jelas, kami harus bekerja berdasarkan prinsip bahwa keamanan nasional kami saat ini bertentangan dengan nilai-nilai liberal kami sendiri. Kami sedang menghadapi tantangan besar dari arus Islam yang muncul dari segala penjuru dunia—bagai uap air yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba telah disinari oleh mentari dan menyebar di langit kami.”
Dengan nada gusar, akhirnya ia mengatakan, “Kami kini berada di persimpangan yang menakutkan: melanjutkan nilai liberal berarti membuka pintu arus islamisasi, sementara kembali ke gereja akan menghancurkan fondasi liberalisme yang menjadi kebanggaan kami. Generasi muda kami bahkan sudah tidak lagi percaya kepada Yesus dan Gereja. Mereka tidak mungkin kembali ke gereja setelah badai keterbukaan tanpa batas melanda Eropa.”
Lalu dengan nada ketakutan ia menambahkan, “Saya khawatir, jika semua strategi ini gagal, maka satu-satunya pilihan yang tersisa hanyalah mendorong terciptanya perang besar—yang membatasi kebebasan sipil, menghancurkan tatanan publik, dan menciptakan konflik tak berkesudahan di negeri-negeri Muslim. Tujuannya hanya satu: mencabut Islam dari iklim damai yang menjadi lahan subur penyebarannya. Sebabnya, jika tidak, maka masjid dan menara adzan akan memenuhi Eropa, dan para Islamis akan meraih suara mayoritas dalam Pemilu, menguasai parlemen, memengaruhi opini publik, ekonomi dan akhirnya memerintah Eropa sepenuhnya dengan ajaran Islam.”
++++
Apa yang dikatakan oleh Netanyahu, Bush dan Starmer (sekali lagi andai benar ia berkata seperti itu), atau siapapun tentang Khilafah, tidaklah mengejutkan. Mereka semua sangat yakin bahwa Khilafah adalah satu-satunya kekuatan yang bisa mengakhiri hegemoni mereka yang selama lebih dari 100 tahun menggenggam dunia, termasuk Dunia Islam, dengan segala kepongahan dan kerakusannya. Mereka sadar betul, Khilafah adalah satu-satunya yang mampu memimpin umat Islam, memanfaatkan kemampuannya, serta menyebarkan risalah Islam ke seluruh dunia. Tentang yang terakhir ini, sesungguhnya bukan masalah bagi mereka, karena semua itu tidaklah menyangkut masa depan nasib mereka. Yang jadi soal adalah kenyataan bahwa Khilafah, jika benar tegak, nantinya pasti akan menjadi lawan tangguh buat mereka. Oleh karena itu, mereka berupaya dengan segala cara mencegah tegaknya kembali Khilafah itu.
Akan tetapi, yang mengherankan adalah tak sedikit dari umat Islam, termasuk para tokohnya, yang ikut-ikutan bersikap seperti Netanyahu dan lainnya itu. Setiap kali ada seruan untuk tegaknya Khilafah, selalu saja mereka menolak dengan berbagai alasan. Salah satunya dengan menggunakan seruan palsu, seperti bahwa Khilafah itu bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi, pluralisme dan akan menghancurkan kebebasan. Jadi, bukannya turut memperjuangkan, mereka malah rela menjadi batu penghalang kebangkitan. Seolah mereka itu bukan Muslim.
Mestinya umat Islam yang telah dinyatakan Allah sebagai umat terbaik (khayru ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyadari bahwa kerahmatan dan keberkahan, serta seluruh kebaikan yang diangankan oleh umat manusia, tak akan pernah dijumpai kecuali di dalam risalah yang telah diturunkaan Allah ini. Sebagai umat terbaik, terlebih para tokohnya, umat Islam harus mampu melaksanakan peran yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mereka, yaitu menegakkan kebenaran tauhid, ketaatan syariah serta keadilan hukum, politik, sosial dan ekonomi bagi seluruh umat manusia. Mereka pun harus menghentikan segala bentuk kezaliman yang dilakukan oleh negara-negara Barat, AS dan sekutunya di berbagai belahan dunia, khususnya Dunia Islam. Saat itulah kerahmatan Islam (rahmatan lilalamin) yang telah dijanjikan Allah akan benar-benar terwujud. Insya Allah. [H.M. Ismail Yusanto]
