Tarikh

Pengaruh Khilafah Utsmaniyah Terhadap Rakyat Hindia-Belanda (1882-1928) (Bagian 2)

Dinasti ‘Utsmâniyyah merupakan sebuah kekuasaan yang didiri­kan oleh Osmân Gâzî b. Erturul (w. 1326). Ia pemimpin bangsa Turki pada abad pertengahan. Osmân dan pasukannya mengalahkan 2.000 pasukan Kristen Byzantium. Mereka kemudian berhasil menduduki Kota Nicaea (0znik, Republik Turki hari ini) pada tahun 1302. Tahun tersebut dijadikan sebagai patokan atas pendirian Negara ‘Usmâniyyah (Osmanl1 Devleti) yang seterusnya akan senantiasa dipimpin oleh keturunan Osmân Gâzî.1

Saat itu, Dinasti ‘Utsmâniyyah bukanlah satu-satunya Negara Islam yang eksis. Banyak pula dinasti-dinasti lain yang mempunyai kekuasaan otonom seperti Dinasti Mamlûk (Mesir, Syam, dan Hijaz), Tîmûriyyah (Transoxania dan Persia), Qarâ Qayûnlû (Irak dan Kaukasus), Marîniyyûn (Maroko), Pasai (Melayu), dan lain-lain. Walau kekuasaan dari masing-masing dinasti itu otonom, pada umumnya mereka tunduk dan berloyalitas kepada Khalîfah dari Banî ‘Abbâsiyyah sebagai pemimpin legitimate kaum Muslim sedunia; walaupun gelar ‘Khalîfah’ yang disandang Banî ‘Abbâsiyyah saat itu hanya sekedar ‘pemimpin spiritual’ yang namanya selalu disebut tatkala khutbah Jumat dan namanya dicetak di atas mata uang.

Kekuasaan Mamlûk di Mesir menjadi pusat gravitasi Dunia Islam dengan Khalîfah Banî ‘Abbâs di sisi mereka sebagai daya tariknya. Tatkala Fati% Sultan Me%met II (k. 1451-1481) dari Dinasti ‘Utsmâniyyah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, dia mengirimkan surat kepada Sultan Mamlûk yang baru naik takhta, Inâl (k. 1453-1461) akan berita kemenangan tersebut. Inâl pun segera mengirim utusan ke Konstantinopel yang dijadikan oleh Me%met II sebagai ibukota ‘Utsmâniyyah yang baru itu untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya.2

Akan tetapi, hal tersebut tak berlangsung lama. Pasalnya, pada 1454 Sultan Inâl memutuskan untuk membantu musuh bebuyutan Me%met II dari Dinasti Karaman, Akkoyunlu. Sebagaimana yang dicatat oleh Ibn Iyâs, setelah itu tidak ada lagi pengiriman utusan persahabatan antara ‘Utsmâniyyah dan Mamlûk.3

Ketika masa pemerintahan Bayezid II maka Mamlûk dan ‘Utsmâniyyah menjalin hubungan baik Kembali. Pasalnya, keduanya saling membutuhkan untuk melawan Dinasti ^afâwiyyah di Persia. Baik ‘Utsmâniyyah maupun Mamlûk menganggap persebaran sekte Syiah yang didukung oleh ^afâwiyyah adalah hal yang berbahaya. Ketika Selim I naik tahta tahun 1512, Mamlûk mengirimkan utusannya yang bernama Emîr Akbây untuk memberikan selamat. Akan tetapi, hubungan Mamlûk dan Selim I memburuk, khususnya setelah anak-anak dari Pangeran A%met, yaitu Süleyman dan Alauddin, yang mengancam kedudukan Selim I yang mengungsi ke Kairo di bawah perlindungan Sultan al-Asyraf Qânsûh al-Gawrî dari Mamlûk. Hal tersebut tentu membuat Selim I menjadi marah. Qânsûh al-Gawrî yang menyadari konsekuensi perbuatannya juga turut bersiap-siap menghadapi kemarahan Selim I. Untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaannya di hadapan pasukan ‘Uts­mânî, Qânsûh al-Gawrî menyuruh Khalîfah al-Mutawakkil III untuk berangkat ke medan peperangan Marj Dâbiq di Suriah. Ini yang menurut Ibn Iyâs tidak pernah dilakukan oleh sultan-sultan Mamlûk sebelumnya.4

Namun sayang, usaha Qânsûh al-Gawrî yang demikian kurang digubris oleh manusia, karena kepemimpinannya sendiri dirasakan oleh rakyatnya begitu zalim. Akhirnya, dia juga turut berangkat ke Suriah dan menempatkan keponakannya, Thûmânbây, sebagai wakil Sultan di Kairo.5 [Nicko Pandawa] [Bagian Kedua/Bersambung].

 

Catatan kaki:

  1. Halil 0nalcik, The Ottoman Empire: The Classical Age 1300-1600, (London: Phoenix, 1995), 6.
  2. Ralph S. Hattox, “Mehmed the Conqueror, the Patriarch of Jerusalem, and Mamluk Authority”, Studia Islamica, No. 90, 2000: 106-107. 38
  3. Ibid, 106; Frial Ramadhan Supratman, “Bagaimana Yavuz Sultan Selim Menjadi Khalifah?”, akses 1 Januari 2019, http://frialsupratman.blogspot.com/2017/11/bagaimana-yavuz-sultan-selim menjadi.html.
  4. Mu%ammad b. Iyas, Badâ’i al-{uhûr fî Waqâ’i al-Duhûr, (Wiesbaden: Franz Steiner, 1960), 5:30-33. Dikutip dari Mustafa Banister, “The Abbasid Caliphate of Cairo”, 214; Eugene Rogan, The Arabs: A History, (New York: Basic Books, 2009), 16-18.
  5. Mustafa Banister, “The Abbasid Caliphate of Cairo”, 216.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 − 2 =

Back to top button