Afkar

Keruntuhan dan Kebangkitan Kembali Khilafah

Khilafah adalah kunci kegemilangan peradaban Islam. Sebuah peradaban yang telah memberikan tinta emas dalam perjalanan kehidupan manusia pada berbagai aspeknya. Belum ada peradaban yang bertahan lebih dari 1300 tahun kecuali Khilafah. Sejak Rasulullah saw. membangun Negara Islam pertama di Madinah dan kemudian dilanjutkan oleh para khalifah, Islam diterapkan di tengah masyarakat secara nyata.

Hasilnya berupa kemajuan luar biasa yang lahir dari sana. Kemajuan ilmu pengetahuan hingga kesejahteraan masyarakat berhasil mencapai titik gemilang ketika peradaban Islam tegak di muka bumi. Hal tersebut merupakan buah dari penerapan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan rakyat di dalam institusi Khilafah.

Karena itu merupakan malapetaka terbesar bagi umat Islam tatkala institusi Khilafah tersebut mengalami keruntuhan pada 3 Maret 1924. Dampaknya, kaum Muslim kemudian mengalami kemunduran dan keterjajahan pada segala lini kehidupan. Nestapa akibat keterjajahan tersebut, mulai dari aspek ekonomi, hukum, politik, terus berlangsung hingga hari ini.

 

Penyebab Keruntuhan Khilafah

Para sejarahwan membagi sejarah Khilafah Islam menjadi empat masa, yakni Khulafahur Rasyidin (632-661 M), Khilafah Umayyah (661-750 M), Khilafah Abbasiyah (750-1517 M) dan Khilafah Utsmaniyah (1517-1924 M). Keseluruhan masa Khilafah tersebut belangsung kurang lebih 1300 tahun dengan wilayah kekuasaannya meliputi hampir 2/3 bagian dunia.

Puncak kejayaan Khilafah Utsmaniyah terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Sulaiman al-Qanuni (926-974 M). Pada masa tersebut, Khilafah Utsmaniyah telah jauh meninggalkan negara-negara Eropa di bidang ekonomi, sains, militer dan politik. Namun, setelah Khalifah Sulaiman al-Qanuni meninggal dunia, Khilafah terus mengalami kemunduran hingga mendapatkan gelar ‘The Sick Man of Europe’. Akhirnya, Khilafah diruntuhkan pada tanggal 3 Maret 1924 oleh agen penjajah Musthafa Kemal Attarturk.

Penghapusan sistem Khilafah tersebut dilakukan sebagai bagian dari syarat yang diajukan oleh Inggris untuk mengakui kekuasaan Musthafa Kemal Attaturk atas negara Turki. Keempat syarat itu adalah: menghapus sistem Khilafah, mengasingkan keluarga Utsmaniyah di luar perbatasan, memproklamirkan pendirian negara Turki sekuler dan pembekuan hak milik keluarga Utsmaniyah (Mahmud Syakir, Târîkh al-Islâm, VIII/233).

 

Faktor Penyebab

Faktor penyebab keruntuhan Khilafah Utsmaniyah tersebut secara umum dapat dilihat dari dua hal, yakni faktor internal dan eksternal:

 

(1)      Faktor Internal.

Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Ad-Dawlah al-Islâmiyah, secara internal faktor-faktor yang menyebabkan runtuhnya Khilafah ada dua, yakni lemahnya pemahaman Islam dan buruknya penerapan Islam. Hal tersebut mengakibatkan para penguasa saat itu mulai membuka diri terhadap pemikiran Barat. Di antaranya mulai dibentuk Dewan Tanzimat (1839 M), UU Acara Pidana (1840 M) dan UU Dagang (1850 M) yang bertumpu pada ide sekularisme. Puncaknya adalah diadopsi undang-undang Barat dengan mengabaikan ketentuan-ketentuan syariah. Sistem pidana Islam pun diganti dengan sistem pidana Barat.

Menurut Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam Kayfa Hudimat al-Khilâfah, negara-negara Barat saat itu turut memprovokasi penghancuran Khilafah dari dalam. Mereka menggunakan berbagai cara, seperti menghembuskan paham nasionalisme, mendorong gerakan separatisme, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap Khilafah serta memberikan dukungan senjata dan dana untuk melawan Khilafah.

Misalnya, atas dasar provokasi Inggris, Saudi memisahkan diri dari Khilafah dan kemudian menduduki Kuwait tahun 1788. Lalu menuju utara hingga mengepung Baghdad dan menguasai wilayah Karbala. Pada tahun 1803 Saudi menduduki Makkah dan pada tahun berikutnya berhasil menduduki Madinah. Mereka juga berhasil menguasai banyak wilayah di Siria hingga Aleppo (Muwaffaq Bani al-Marjih, Shahwah ar-Rajul al-Marîdh, hlm. 285).

 

(2)      Faktor Eksternal.

Secara eksternal, Inggris, Prancis, Italia dan Rusia secara terus-menerus berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah. Mereka melakukan serangan politik dengan menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Rusia menduduki wilayah Turkistan tahun 1884. Prancis merampas Al-Jazair tahun 1830, Tunisia tahun 1881 serta Marakesh tahun 1912. Italia menduduki Libya tahun 1911. Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan Sudan tahun 1898 (An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyyah).

Ambisi untuk menghancurkan Khilafah Utsmaniyah oleh Barat tidak terlepas dari dendam mereka yang berkaitan dengan Perang Salib. Pada abad 15 M, kaum Muslim menyerang Barat hingga berhasil membebaskan Konstantinopel. Kemudian disusul berbagai pembebasan pada abad 16 M, yang merambah Eropa Selatan dan Timur. Hasilnya jutaan penduduk Albania, Yugoslavia, Bulgaria dan bangsa lainnya memeluk Islam.

Hal inilah yang telah membuat Barat marah dan dendam kepada kaum Muslim. Hal ini  mendorong mereka untuk merancang berbagai strategi jahat demi melenyapkan Islam dan kaum Muslim. Demdam tersebut tercermin ketika Lord Allenby menaklukkan al-Quds dan memasukinya pada tahun 1917 M, dia berkata, ”Hari ini, Perang Salib telah berakhir.” (An-Nabhani, Ad-Dawlah al-Islâmiyyah).

 

Upaya Menegakkan Kembali Khilafah

Pasca keruntuhan Khilafah Ustmaniyah itu umat Muslim terus berjuang untuk menegakkan kembali Khilafah. Gema perjuangan tersebut kini makin membesar yang terjadi hampir di seluruh negeri-negeri Muslim. Hal tersebut sejalan dengan makin meningkatnya kesadaran dan pemahaman kaum Muslim atas kewajiban menegakkan Khilafah.

Sebagaimana diketahui, empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali) telah bersepakat bahwa menegakkan Khilafah itu wajib. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan, “Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib.” (Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘alaa al-Madzâhib al-Arba’ah, V/416).

Hal senada juga ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, XII/205).

Buku fiqih yang cukup terkenal yang dikarang ulama Indonesia, KH Sulaiman Rasyid, yang berjudul Fiqih Islam, juga memuat bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah.

Berdasarkan Ijmak Shahabat, umat Muslim hanya boleh kosong dari kepemimpinan Khilafah ini selama tiga hari dan tiga malam. Faktanya, sampai hari ini sudah lebih dari 100 tahun kaum Muslim tanpa Khilafah. Maka dari itu, kewajiban ini harus segera ditunaikan oleh kaum Muslim saat ini. Kewajiban ini oleh para ulama disebut taaj al-furuudh (mahkota kewajiban) dan a’zham al-waajibaat (kewajiban yang paling agung). Karena itu berdiam diri terhadap perjuangan ini adalah dosa besar dan wujud ketidakpedulian pada nasib kaum Muslim.

 

Metode Menegakkan Khilafah

Kaum Muslim yang menginginkan tegaknya kembali Khilafah tentu harus mempelajari dan mendalami metode ini serta menerapkannya tanpa penyimpangan sedikitpun. Penelaahan terhadap sirah Rasulullah saw. akan menemukan bahwa beliau menempuh tiga tahapan dalam mewujudkan Daulah Islam di Madinah. Hal ini harus menjadi teladan bagi kaum Muslim dalam upayanya menegakkan kembali Khilafah.

 

(1)      Kaderisasi (tatsqîf wa takwîn).

Pada tahap ini Rasulullah saw. melakukan dua hal. Pertama, pembinaan aqidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Rasulullah saw. membina mereka untuk meningkatkan taraf berpikir dan merefleksikan ayat-ayat al-Quran yang Allah SWT turunkan. Beliau menanamkan keyakinan yang kokoh kepada mereka sehingga bekas-bekas kekufuran lenyap dalam diri mereka, menjadi bersih dengan aqidah Islam.

Kedua, pengorganisasian Sahabat sehingga membentuk kelompok dakwah atau partai politik (hizb) yang secara solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Dengan itu bukan hanya Rasulullah saw. seorang diri yang melakukan pembinaan. Para Sahabat lain pun turut membina orang yang baru masuk Islam. Misalnya, Rasulullah saw. pernah meminta Khubbab bin al-Arts untuk mengajarkan al-Quran kepada Zainab binti al-Khaththab dan suaminya, Said, di rumahnya.

Berdasarkan aktivitas Rasulullah s.aw tersebut, maka perjuangan penegakan Khilafah saat ini harus dilakukan melalui wadah partai politik (kutlah/hizb) yang melakukan proses kaderisasi di tengah-tengah masyarakat. Membina kadernya untuk menenggelamkan seluruh pemikiran kapitalisme, komunisme, sekularisme, nasionalisme, dan semua yang bertentangan dengan Islam.

 

(2)      Berinteraksi dengan Ummat (Tafaa’ul ma’a al-Ummah).

Setelah Rasulullah saw. membina para Sahabat dan berhasil membentuk partai yang solid dan kuat, Allah SWT memerintahkan beliau keluar secara terang-terangan sekaligus menentang pemikiran-pemikiran orang-orang Makkah serta para elit politiknya yang memberlakukan aturan kufur kepada masyarakat Mekah (Lihat:  QS al-Hijr[15]: 94).

Hal tersebut dilakukan oleh beliau untuk menumbuhkan kesadaran umum masyarakat tentang rusaknya tatanan jahiliyah saat itu. Ini sekaligus menumbuhkan harapan dan keyakinan masyarakat terhadap ajaran Islam yang beliau dakwahkan. Untuk saat ini, partai politik yang berupaya menegakkan Khilafah harus menentang dan menjelaskan kebatilan segala ide atau pandangan yang lahir dari aqidah kufur. Misalnya, kapitalisme, sekularisme, pluralisme, sosialisme, dan liberalisme

Demikian juga terhadap berbagai ide turunannya seperti demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan sebagainya. Jika hal ini dilakukan secara terus-menerus maka masyarakat akan dapat memahami kebatilan dan kerusakan berbagai sistem aturan yang bersumber dari ide-ide kufur tersebut. Sebaliknya, masyarakat semakin dapat memahami dan meyakini keunggulan sistem Islam apabila diterapkan.

Partai politik tersebut penting untuk membongkar makar negara kafir imperialis di negeri-negeri Muslim. Termasuk pula membongkar agenda imperialisme ekonomi dibalik berbagai program yang dikendalikan oleh IMF, Bank Dunia, Usaid, Ausaid, dan sejenisnya. Jika semua aktivitas itu dilakukan secara intensif dan massif maka taraf berpikir umat akan makin meningkat. Pembelaan dan dukungan terhadap syariah dan Khilafah beserta para pejuangnya akan semakin besar dan kuat.

 

(3)      Meraih dukungan ahlun nushrah.

Setelah partai politik dan kaderisasinya berhasil serta mendapat dukungan masyarakat untuk menegakkan negara yang menjalankan syariah Islam secara kaaffah, maka legitimasi penguasa yang ada menjadi rapuh. Pada saat itulah diperlukan adanya dukungan dari para ahlun nushrah untuk terjadinya penyerahan kekuasaan (istilaam al-hukmi).

Rasulullah saw. telah melakukan aktivitas mencari dukungan dari para ahlun nushrah selama tiga tahun. Beliau pergi dari satu kabilah yang kuat ke kabilah kuat lainnya, mengajak mereka untuk membantu beliau meraih kekuasaan serta mengimplementasikan Islam. Secara keseluruhan beliau mengunjungi lebih dari 40 kabilah. Di antaranya adalah kabilah Kindah, Hanifah, Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah, Kalb, Bakar bin Wail, Hamdan, dan lain-lain.

Kepada setiap kabilah tersebut Rasulullah saw. mengajak mereka untuk beriman dan memberi nushrah kepada beliau dalam meraih kekuasaan untuk tegaknya agama Allah. Saat ini, mereka yang masuk ke dalam ahlun nushrah adalah setiap pemilik kekuatan termasuk militer. Dengan adanya dukungan ahlun nushrah penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai. Seperti itulah peristiwa yang dialami oleh Rasulullah saw. saat menegakkan Daulah Islamiyah di Madinah.

 

Membangun Sikap Optimisme

Negara-negara Barat penjajah sudah pasti akan terus berupaya menghalangi tegaknya kembali Khilafah. Sebabnya, mereka memahami bahwa institusi Khilafah itulah yang akan mengakhiri hegemoni dan imperialisme mereka di negeri-negeri Muslim. Terorisme dan radikalisme merupakan isu global yang mereka gunakan untuk menyesatkan opini tentang Khilafah. Mereka membuat narasi fiktif seolah perjuangan menegakkan Khilafah itu akan melahirkan aksi terorisme dan radikalisme.

Padahal faktanya imperialismelah yang telah terbukti menimbulkan teror dan kerusakan di dunia itu justru akibat ulah mereka. Bandingkan dengan peradaban Islam yang selama 13 abad memayungi dunia dengan berbagai kemuliaan dan kegemilangannya. Sejarah telah mencatat bahwa dulu Negara Khilafah mampu menjadi pusat peradaban dunia. Khilafah menjadi pusat pendidikan, sains dan teknologi, serta memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang tangguh di level global.

Firas Alkhateeb (2014) secara obyektif menilai peradaban Islam melalui bukunya, Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past. Menurut dia, selama 1400 tahun, Islam telah menjadi salah satu kekuatan agama, sosial, dan politik yang terkuat dalam sejarah. Firas Alkhateeb, peneliti dan sejarahwan di Universal School Bridgeview Illinois itu secara kronologis telah memaparkan peran Islam dalam sejarah dunia. Firas berkesimpulan bahwa Islam telah berhasil menyatukan beragam masyarakat dengan berbagai latar geografis menjadi satu kekuatan yang tangguh.

Berbagai potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang dimiliki kaum Muslim, baik secara kuantitas maupun kualitas, ditambah dengan kekuatan i’tiqaadi akan semakin memperkokoh perjuangan umat untuk segera menegakkan kembali negara Khilafah tersebut. Sikap optimisme ini merupakan sikap yang berbasis pada data, fakta, dan juga keimanan.

Ketika Khilafah tegak nanti, ideologi Islam akan kembali memancarkan peradaban mulia yang memberikan rahmat bagi alam semesta. Ia sekaligus akan menghapus segala bentuk kezaliman dan kesombongan negara-negara Barat penjajah. Karena itu tegaknya Khilafah, selain sebagai kewajiban, juga merupakan kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan berbagai problem yang menimpa kaum Muslim saat ini.

WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. [Dr. Muhammad K. Sadik]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − eight =

Back to top button