Tafsir

Keanehan Berfikir Orang Kafir

(QS Qaf [50]: 1-3)

قٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ  ١ بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ  ٢ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ  ٣

Qâf. Demi al-Quran yang sangat mulia. Bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan. Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.” (QS Qaf [50]: 1-3).

 

Surat ini dinamai dengan Qaaf, diambil dari huruf pada ayat pertama. Penamaan surat tersebut sebagaimana Surat Shaad, Nuun, dan lain-lain yang diambil dari huruf pertamanya. Jumlah ayatnya ada empat puluh lima. Menurut para ulama, surat ini terkatagori sebagai Makkiyyah.1 Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah tidak semua ayat turun di Makkah.2

Relevansi dengan surat sebelumnya, yakni Surat al-Hujurat, pada ayat akhirnya  diberitakan tentang perkataan dan anggapan salah orang-orang Arab Badui, yang kemudian diluruskan oleh Allah SWT.

Surat ini pada ayat-ayat awalnya menjelaskan kemuliaan al-Quran, juga menjelaskan keraguan orang-orang kafir terhadap nubuwwah dan Hari Kebangkitan serta bantahan semua keraguan mereka itu.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

قٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ٱلۡمَجِيدِ  ١

Qaaf. Demi al-Quran yang sangat mulia.

         

Qaf merupakan salah satu huruf hijaiyah. Dibaca apa adanya: Qâff. Menurut az-Zuhaili, ini memperingatkan kemukjizatan al-Quran dan perkara amat penting lainnya, yaitu berupa berbagai hukum dan peristiwa yang akan dijelaskan setelahnya.3

Tentang maknanya, terdapat banyak perbedaan pendapat di kalangan ulama. Menurut Abu Hayyan, ada sebelas pendapat para mufassir tentang makna huruf qaff ini.  Di antaranya adalah pendapat asy-Sya’bi yang mengatakan bahwa huruf ini merupakan fâtihat as-sûrah (pembuka surat).4

Lalu dilanjutkan wâwu al-qasam. Huruf ini berguna untuk mengungkapkan sumpah. Yang disebutkan sebagai al-muqsam bih adalah al-Qur‘ân (al-Quran). Biasanya, yang dijadikan sebagai al-muqsam bih (sesutu yang dijadikan sebagai alat sumpah) adalah sesuatu yang besar, agung dan memiliki keistimawaan. Al-Quran jelas memenuhi kriteria tersebut.

Telah maklum, al-Quran adalah kitab yang Allah turunkan kepada Rasululullah saw. sekaligus mukjizat bagi beliau. Di dalamnya terdapat petunjuk kebenaran bagi manusia. Juga terdapat berbagai berita penting, baik yang telah lalu, sedang berlangsung dan akan terjadi pada masa yang akan datang. Sebagai kitab yang diturunkan kepada rasul terakhir, al-Quran juga merupakan kitab terakhir yang diturunkan kepada seluruh manusia. Kedudukannya nâsikh (me-naskh) kitab-kitab sebelumnya, ghayru mansûkh (tidak di-naskh) oleh kitab apa pun.

Dalam ayat ini, kata al-Quran disifati dengan kata al-majîd (yang mulia). Secara bahasa, kata « الْمَجْدُ » berarti « السّعة في الكرم والجلال » (keluasan dalam kemuliaan dan keagungan).5 Menurut Imam al-Qurthubi, maknanya adalah derajat yang tinggi.6 Asy-Syaukani berkata, “Al-Majîd adalah « ذُو مَجْدٍ وَشَرَفٍ » (yang memiliki kemuliaan dan keagungan) atas seluruh kitab yang diturunkan sebelumnya.”7

Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan jawaban dari sumpah yang disebutkan dalam ayat ini. Menurut Ibnu Jarir dan sebagian ulama Nahwu, jawab qasam-nya adalah firman Allah SWT:

قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡۖ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظُۢ  ٤

Sungguh Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka. Pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (Qaf [50]: 4).

 

Ada juga yang mengatakan bahwa jawab qasam-nya telah terkandung di dalam kalimat sesudahnya. Hanya saja, perkara yang ditekankan dengan sumpah itu tidak disebutkan secara tekstual, yakni menetapkan kenabian dan Hari Akhir, serta mengukuhkan dan meyakinkan keberadaannya. Menurut Ibnu Katsir, hal seperti ini banyak didapati dalam qasam-qasam yang ada dalam al-Quran, seperti dalam firman-Nya:

صٓۚ وَٱلۡقُرۡءَانِ ذِي ٱلذِّكۡرِ  ١ بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِي عِزَّةٖ وَشِقَاقٖ  ٢

Shad. Demi al-Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit (Shad [38]: 1-2).8

 

Penjelasan senada juga dikemukakan oleh al-Jazairi. Menurut al-Jazairi, jawabannya tersirat dan diperkirakan berbunyi sebagai berikut: Sungguh Muhammad adalah seorang rasul yang dapat dipercaya.9

Menurut az-Zuhaili, makna ayat ini adalah: “Aku bersumpah demi al-Quran yang banyak memiliki kebaikan dan keberkahan atau yang sangat tinggi derajat dan kemuliaannya. Sungguh, wahai Muhammad, engkau benar-benar datang kepada mereka sebagai pemberi peringatan akan adanya al-ba’ts (kebang-kitan).”10

Kemudian dilanjutkan:

بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ ٢

Bahkan mereka heran karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri.

 

Dhamîr atau kata ganti mereka dalam ayat ini menunjuk kepada orang-orang kafir.  Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rasulullah saw.11 Hal ini diketahui dari ayat berikutnya yang menyebutkan secara jelas: « فَقال الْكافِرُونَ » (Lalu berkatalah orang-orang kafir).

Kata « مُنْذِرٌ » (pemberi peringatan) merupakan ism al-fâ’il dari kata « إِنْذَارٌ » (peringatan). Kata « الْإِنْذَارُ » bermakna « تخويف فيه اخبارٌ » (memberikan informasi yang mengandung ancaman).12 Yang dimaksud dengan mundzir (pemberi peringatan) di sini adalah Nabi Muhammad saw.13

Menurut ayat ini, orang-orang kafir itu merasa heran terhadap pemberi peringatan kepada mereka. Keheranan itu disebabkan lantaran yang diutus sebagai pemberi peringatan kepada mereka adalah manusia sebagaimana mereka.

Sikap heran itu mengandung makna pengingkaran. Sebabnya, mereka mengherankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diherankan. Atas sikap itu, mereka pun diperingatkan dan diancam dengan azab neraka setelah rasul yang diutus dari kalangan mereka dan bangsa mereka sendiri.14

Ibnu Jarir ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad saw, “Kaummu yang musyrik itu mendustakan kamu bukan karena mereka tidak mengetahui bahwa kamu adalah orang jujur dan benar. Namun, mereka mendustakanmu karena merasa heran karena orang yang menjadi pemberi peringatan kepada mereka tentang siksa Allah SWT dari kalangan mereka sendiri. Tidak lain seorang manusia dari kalangan mereka. Bukan malaikat yang datang kepada mereka dengan membawa risalah.”15

Kemudian Allah SWT berfirman:

فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ  ٢

Lalu berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan.”

         

Dalam ayat ini digunakan ism azh-zhâhir pada pelakunya: al-kâfirûn (orang-orang kafir). Padahal bisa juga digunakan ism al-dhamîr atau kata ganti sebagaimana kalimat sebelumnya, sehingga disebutkan: Faqâlû (Lalu mereka berkata).

Menurut ayat ini, orang-orang kafir itu berkata: « هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ » (“Ini adalah suatu yang amat ajaib”). Kata « العجيب »   adalah « الأمر الذي يتعجب »    (sesuatu yang amat mengheran-kan atau menakjubkan).16 Lalu apa yang membuat mereka merasa heran?

Dalam ayat ini hanya disebutkan « هَذَا » (ini). Tidak disebutkan secara tersurat apa yang dimaksudkan sehingga di sini ada beberapa penjelasan. Sebagian ulama memahami, keheranan itu dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, yakni pemberi peringatan yang diutus kepada manusia dari kalangan manusia sendiri. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir. Mufassir tersebut berkata, “Mereka merasa heran dengan pengutusan seorang rasul dari kalangan manusia kepada mereka. Ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٖ مِّنۡهُمۡ أَنۡ أَنذِرِ ٱلنَّاسَ ٢

Pantaskah manusia heran bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia.” (QS Yunus [10]: 2).

 

Artinya: Ini bukanlah sesuatu yang mengherankan. Sebabnya, Allah SWT telah memilih dari kalangan malaikat dan manusia menjadi utusan-Nya.”17

Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari. Menurut ath-Thabari, kedatangan seorang laki-laki dari kalagan mereka, yakni dari anak Adam dengan membawa risalah Allah SWT kepada mereka, itulah yang sangat mengherankan.18

Menurut Wahbah az-Zuhaili, orang-orang Quraisy itu tak hanya ragu dan menolak. Mereka juga menjadikan diutusnya Rasulullah saw itu sebagai salah satu yang mengherankan. Mereka  mengatakan, “Keberadaan Rasulullah saw. yang menjadi pemberi peringatan adalah manusia, sebagaimana kita, merupakan sesuatu yang mengherankan.”19

Menurut Abdurrahman as-Sa’di, keheranan mereka itu disebabkan oleh dua kemungkinan. Pertama, bisa jadi mereka memang jujur dalam rasa heran tersebut. Jika ini yang terjadi, itu menunjukkan puncak kebodohan mereka dan lemahnya akal mereka. Hal ini sebagaimana halnya orang gila yang merasa aneh terhadap perkataan orang yang berakal; seperti pengecut yang merasa heran ketika bertemu dengan penunggang kuda; atau orang bakhil yang merasa aneh terhadap kedermawanan orang yang dermawan. Lantas, apa bahaya yang ditimbulkan oleh orang yang merasa heran seperti itu? Keheranan itu menjadi bukti atas kezaliman dan kebodohan.

Kemungkinan dua, mereka merasa heran dengan kesalahan mereka. Jika ini yang terjadi, merupakan kezaliman yang besar dan paling keji.20

Kemudian dalam ayat berikutnya disebutkan:

أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ٣

Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (akan kembali lagi)?

 

Ini masih memberitakan perkataan orang-orang kafir. Jika dalam ayat sebelumnya mereka merasa heran terhadap pemberi peringatan yang berasal dari kalangan manusia seperti mereka, mereka juga merasa heran karena manusia setelah mati akan dihidupkan lagi.

Ayat ini diawali dengan huruf al-hamzah yang merupakan istifhâm (kata tanya). Perkataan tersebut mengandung makna istifhâm inkâriy (kalimat tanya yang mengandung makna pengingkaran) karena adanya kebangkitan (dihidupkan kembali setalah mati) merupakan sesuatu yang mustahil.21

Dalam penggalan ayat ini, ada kalimat yang dihilangkan atau disembunyikan. Menurut al-Qurthubi, kata tersebut adalah « نبعث » (kami dibangkitkan).22 Dengan emikian kalimat seutuhnya adalah: “Apakah kami setelah mati dan menjadi tanah, nanti akan dibangkitkan atau dihidupkan lagi?”

Penjelasan senada juga dikemukakan oleh Ibnu Katsir. Mufassir tersebut berkata tentang penggalan ayat ini:  Mereka mengatakan, “Kketika kita telah mati dan menjadi tulang belulang, semua sendi tulang-tulang kita bercerai-berai, dan kita menjadi tanah, bagaimana mungkin sesudah itu kita akan dihidupkan kembali seperti jari jemari dan susunan yang sekarang ini seutuhnya?”23

Kemudian dilanjutkan:

ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ  ٣

Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.

 

Inilah komentar mereka terhadap berita bahwa manusia setelah mati akan dihidupkan lagi. Menurut mereka, itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Dalam ayat ini disebutkan: « رَجْعٌ بَعِيدٌ » (pengembalian yang tidak mungkin).

Menurut Imam al-Qurthubi, kata « الرجع » bermakna « الرد » (pengembalian). Maknanya, « رد بعيد » yang berarti « محال » (mustahil).24

Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, kata « بَعِيدٌ » (jauh, mustahil); seperti perkataan Anda kepada seseorang yang keliru dalam suatu masalah: « لقد ذهبت مذهبا بعيدا من الصواب » (sungguh kamu telah mengambil pendapat yang jauh dari kebenaran). Artinya: « أخطأت » (kamu telah keliru).25

Ibnu Katsir juga memaknai kalimat tersebut sebagai mustahil terjadi. Artinya, mereka meyakini hal itu sebagai sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin terjadi.”26

Wahbah az-Zuhaili berkata, “Manusia setelah mati sibangkitkan dan dihidupkan kembali merupakan kejadian yang tidak masuk akal. Mereka menganggap itu adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak wajar menurut hukum kebiasaan.”27

Pengingkaran mereka terhadap penghidupan kembali manusia yang sudah mati itu disebabkan oleh kesalahan berpikir mereka. Menurut as-Sa’di, mereka menyamakan kekuasaan Zat Yang Mahakuasa dengan segala sesuatu dan Mahasempurna dalam semua pekara dengan kekuasaan hamba yang fakir dan lemah dalam semua aspeknya. Mereka menyamakan orang yang bodoh dan tidak mengetahui apa-apa dengan Allah SWT yang mengetahui segala sesuatu.28

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 392; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, vol.

2        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 3

3        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 280

4        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 275

5        al-Asfahani,  al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 760

6        al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17, 3

7        al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1994), 84

8        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7, 395

9        al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Maktbah  al-Ulum wa al-Hikam, 2003), 137

10      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 283

11      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahman (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 803

12      al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Beirut: Dar al-Qalam, 1992), 797

13      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17, 3

14      Lihat al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 280

15      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 326-327

16      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17, 4

17      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7, 395

18      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22, 327

19      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 283

20      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahman, 803

21      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26 , 279

22      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17, 4

23      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7, 395

24      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 17, 4

25      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22, 327

26      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7, 395

27      al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, vol. 26, 283

28      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahman, 803

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + three =

Back to top button