Nisa

Kemandirian Perempuan, Akankah Membawa Kemuliaan?

Narasi kemandirian perempuan terus digaungkan di negeri ini. Hal ini cukup meneteskan air liur kaum Muslimah.   Kemandirian perempuan diklaim bisa mengatasi segala permasalahan yang menimpa perempuan, termasuk Muslimah.  Benarkah demikian?

Faktanya hari ini  kehidupan kaum perempuan masih belum beranjak dari keterpurukan.  Kemiskinan, kekerasan, diskriminasi dan persoalan-persoalan lain yang selama ini diklaim sebagai persoalan perempuan tetap saja lekat dalam kehidupan kaum perempuan, bahkan umat Islam secara keseluruhan. Ironisnya, masih banyak yang  percaya bahwa gagasan ini merupakan jawaban final bagi permasalahan yang menimpa perempuan.

Penerapan sistem sekuler kapitalis terbukti membawa kemadaratan luar biasa. Kemiskinan, ketidakadilan, gap sosial, kekerasan, perbudakan, kezaliman, dan sejenisnya menjadi potret buram mayoritas masyarakat di berbagai belahan dunia. Tak jarang  mereka  dikapitalisasi hanya demi memutar roda perekonomian sebuah negara. Alih-alih dijamin hak finansial dan keamanannya, kaum perempuan  justru terjebak dalam kemiskinan struktural yang diciptakan sistem kapitalisme global dan dikukuhkan penguasa.

Dalam situasi ini kaum perempuan justru diperdaya oleh proyek-proyek pemberdayaan. Dalihnya demi mewujudkan kemandirian perempuan yang akan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga. Efeknya, perempuan memikul beban ganda bahkan triple. Ini yang membuat tugas utamanya tak berjalan secara optimal. Tingkat stres juga meningkat. Interaksi mereka dengan anak juga makin berkurang.

Akibatnya, generasi umat Islam hari ini makin tak jelas warna. Mereka tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang tak mendukung pembentukan pribadi-pribadi istimewa sebagaimana yang diinginkan Islam. Itulah generasi berkepribadian Islam yang siap memimpin peradaban cemerlang pada masa depan.

 

Berpijak Pada Asumsi

Pemberdayaan perempuan versi  feminis yang diarahkan pada kemandirian perempuan sesungguhnya tegak di atas asumsi yang salah tentang nilai peran domestik perempuan. Mereka berasumsi bahwa peran domestik merupakan peran yang tidak strategis. Peran tersebut  tidak bernilai ekonomis  dan menjadi penjara bagi perempuan untuk maju. Karena itu agar perempuan bisa maju dan sejajar dengan laki-laki, mereka harus dibebaskan dari peran ini. Mereka harus didorong  untuk meningkatkan peran publiknya. Mereka harus berkiprah secara aktif dan luas di berbagai bidang kehidupan, terutama bidang ekonomi dan politik.

Ini sebenarnya sesuai dengan pandangan mereka yang rusak tentang konsep masyarakat yang berorientasi pada individu, juga konsep kebahagiaan dan standar prestise yang tegak di atas prinsip meraih sebanyak-banyaknya materi.

Pemberdayaan politik perempuan ala feminis sebagai solusi tuntas atas masalah perempuan hanya membatasi pengertian politik hanya pada tataran kekuasaan dan legislasi saja. Karena itu arah pemberdayaan politik melulu diartikan sebagai upaya melibatkan perempuan dalam kedua ranah tersebut.  Padahal fakta politik tidak demikian. Keberadaan perempuan di ranah tersebut sama sekali tidak berkorelasi positif dengan tuntasnya masalah perempuan.

Yang menentukan justru  ada-tidaknya perspektif yang seragam dan benar di seluruh ranah kehidupan masyarakat. Dengan begitu masing-masing individu di dalamnya, apapun status dan kedudukannya, mengetahui secara pasti tujuan-tujuan luhur  yang harus diperjuangkan secara bersama dan untuk kepentingan bersama.

Dari aspek ideologi,  senyatanya feminisme merupakan gagasan yang rusak. Gagasan ini tegak di atas akidah yang rusak pula, yakni paham sekularisme yang menafikan peran agama dalam pengaturan kehidupan.   Wajar jika cara pandang feminisme terhadap fakta-fakta yang dihadapi, sebagai bentuk pemikiran cabangnya, akan rusak dan lemah pula. Hal ini tampak dari gagasan-gagasannya yang berbicara mengenai persoalan perempuan, hakikat sosok perempuan, peran dan fungsinya dalam kehidupan, serta kiprah secara ekonomi dan kiprah politik mereka dalam tataran kekuasaan dan legislasi. Semuanya pada akhirnya cenderung serba tidak jelas, serba pragmatis dan  tidak solutif.

Lalu, layakkah kita berharap bahwa pemberdayaan perempuan versi feminis yang mengarah pada kemandirian perempuan ini bisa menyelesaikan permasalahan perempuan?

 

Tidak Butuh

Tidak sedikit kaum perempuan negeri ini yang menyambut baik program kemandirian perempuan melalui pemberdayaan ekonomi dan politik perempuan ini.  Mereka menilai program ini sebagai jawaban atas kesulitan ekonomi yang diderita mereka akibat krisis yang terus berlanjut. Padahal sejatinya program-program pemberdayaan ini tidak  akan pernah  mampu  menyelesaikan problem kebodohan dan kemiskinan bangsa.

Barat memang sangat bernafsu mengeluarkan perempuan dari habitat ternyamannya dalam rumah. Mereka merusak potensi keibuan dan pengabdiannya dalam rumah tangga dan umat. Mereka berupaya mengganti peran perempuan hanya pada peran ekonomi saja. Lihatlah perempuan Muslimah hari ini. Mereka justru bangga dan percaya diri jika mampu mandiri secara materi dan menempati posisi  sebagai pejabat teras atau pimpinan perusahaan. Kondisi inilah yang dimanfaatkan musuh-musuh Islam. Mereka memakmurkan perempuan secara materi, namun menjauhkan perempuan dari tatanan syariah Islam.

Ketika perempuan didorong untuk mandiri, tidak membutuhkan siapapun bahkan suaminya sekalipun, ini jelas melawan fitrah. Bagaimanapun perempuan tetap ingin dan butuh dilindungi, ingin dijaga, mau tidak mau harus bergantung kepada laki laki, apakah suami atau walinya. Apakah kebebasan perempuan menjadikan ia sebagai ujung tombak ekonomi keluarga membawa kebahagiaan? Sama sekali tidak.

Kemandirian perempuan bukanlah cara untuk menghilangkan penindasan atas perempuan atau menegakkan kehormatan bagi perempuan. Ide ini tidak menyelesaikan masalah perempuan. Faktanya, negeri ini pernah dipimpin oleh perempuan. Apakah berbagai permasalahan yang menimpa perempuan terselesaikan?   Kita semua telah mengetahui jawabannya.

Perempuan mandiri justru lebih rentan dari sisi perlindungan. Lihatlah betapa banyak perempuan bekerja, Tidak sedikit  di antara mereka yang mengalami pelecehan, dianiaya dan tak sedikit yang akhirnya meregang nyawa. Pulang hanya tinggal nama.

Demikian halnya perempuan bekerja di negeri ini ataupun yang berkecimpung dalam politik praktis. Mereka harus berjibaku dari pagi hingga petang bahkan malam atau dari malam hingga pagi  lagi. Semua demi kemandirian dan kebebasan atas nama kesetaraan. Apa yang kemudian didapatkan? Terkurasnya tenaga dan pikiran.  Buah hati mereka di rumah yang menunggu senyuman dan belaian lembut tangan sang bunda akhirnya harus menelan  kekecewaan. Sang bunda bahkan tak sempat memberikan senyuman, ataupun sekadar sapaan. Pasalnya, anaknya sudah tertidur kelelahan menunggu bunda tercinta, tetapi tak kunjung datang. Pagi  buta sang bunda sudah harus berangkat, dengan menempuh perjalanan yang masih sepi, siap menawarkan ancaman kehormatan dan keamanan sang bunda. Lalu siapa yang akan melindungi dirinya?

Jelaslah, program kemandirian perempuan ini bukan memberdayakan perempuan. Justru yang terjadi adalah memperdaya mereka.  Program ini malah  bisa menggiring perempuan menjadi pemutar roda industri kapitalis sekaligus target pasar dengan dalih mengentaskan kemiskinan atau pemulihan ekonomi.  Program ini tidak lain adalah salah satu alat untuk melanggengkan hegemoni kapitalisme dunia, sekaligus  menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam dan aturan-aturan Islam.  Sudah seharusnya dijauhkan dari umat.

 

Pemberdayaan Persfektif Islam

Islam telah menempatkan perempuan dan laki-laki  pada posisi yang mulia. Islam telah memberikan peran dan posisi yang istimewa bagi keduanya.  Ketika keduanya mampu menjalankan peran dan posisinya tersebut sesuai dengan tuntunan Islam, sesungguhnya kemuliaan  dan kebahagiaan akan dapat diraih.  Ketika seorang Muslimah, misalnya,  mampu  menjalankan  peran utamanya sebagai  ‘umm[un] wa rabbah al-bayt’ dengan maksimal dan melaksanakan kewajibannya sebagai bagian dari masyarakat,  maka kemuliaan  dapat diraih.

Karena itu arah pemberdayaan perempuan perspektif Islam adalah upaya pencerdasan Muslimah hingga mampu berperan menyempurnakan seluruh kewajibannya yang datang dari Allah SWT., baik dalam peran utamannya sebagai umm[un] wa rabbah al-bayt  maupun perannya dalam masyarakat. Ke sanalah aktivitas pemberdayaan perempuan diarahkan. Dengan demikian Islam tidak hanya mengatur peran perempuan. Islam juga menjamin peran tersebut dapat terealisasi dengan sempurna melalui serangkaian hukum yang bersifat praktis.

Hanya saja ketika membahas pemberdayaan perempuan, kita tidak boleh memandang perempuan sebagai masyarakat yang terpisah dari laki-laki.  Keduanya merupakan bagian dari  masyarakat  yang  hidup  saling berdampingan,  baik dalam keluarga ataupun di tengah masyarakat. Upaya pemberdayaan keduanya tidak boleh lepas dari upaya pemberdayaan anggota masyarakat secara keseluruhan sesuai sudut pandang Islam. Lalu langkah apa yang harus ditempuh?

Langkah yang harus dilakukan, baik oleh Muslim atau Muslimah, tidaklah berbeda. Sebabnya, keduanya adalah bagian dari masyarakat yang tidak terpisah satu dengan yang lain. Langkah awal yang kita lakukan adalah mengubah pola pikir diri kita dan umat dengan tsaqaafah Islam. Dengan itu umat akan berpikir dan berbuat dengan cara yang benar dan landasan yang benar, yaitu akidah Islam. Caranya adalah dengan membina diri kita dan umat dengan  pemahaman Islam yang lurus. Pemikiran dan hukum-hukum Islam ini tidak boleh hanya dipandang sebagai informasi saja. Ia harus dijadikan  pijakan untuk  menyikapi setiap  fakta yang dihadapi dengan tepat dan benar berdasarkan sudut pandang Islam.

Dengan pembinaan ini, akan terbentuk pemahaman Islam di tengah-tengah umat. Pemahaman Islam ini  akan berpengaruh pada perilakunya dan mendorong dirinya untuk siap bergerak menyampaikan dakwah Islam, ridha diatur oleh hukum-hukum Islam dan senantiasa mengupayakan agar aturan Allah dan Rasul-Nya tegak di muka bumi ini. Hanya dengan sistem Islamlah kita akan mampu meraih kemajuan, yaitu sebagai umat terbaik  di muka bumi ini.

WalLaahu a’lam. [Najmah Saiidah]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − 18 =

Back to top button