
Penting Mengajarkan Sejarah Kepada Anak
Iran hebat. Iran berhasil mengalahkan Israel. Iran telah memberikan pelajaran pada Israel agar tidak berlaku sewenang-wenang terhadap Islam. Iran satu-satunya negara yang berani melawan Israel dan AS. Hanya Iran yang berani membela Palestina.
Ayah dan Bunda, pendapat seperti di atas belakangan bertebaran di medsos kita. Memang sepintas lalu tampak seperti itu. Opini di-setting untuk menunjukkan kehebatan Iran dan kekalahan entitas Yahudi, khususnya di Indonesia yang memang dari awal membenci negara zionis tersebut.
Lantas kita, yang sekian lama frustasi melihat saudara-saudara kita di Gaza dibantai Zionis Yahudi tanpa bisa berbuat apa-apa, ikut bersorak gembira melihat drone dan rudal-rudal Iran menghantam kota-kota mereka. Padahal, itu semua hanya “panggung sandiwara” di bawah AS sebagai sutradaranya. Dari mana kita tahu bahwa itu hanya setting-an? Membaca fakta saat ini dan fakta sejarah yang panjang dari perjalanan Iran, “Israel” dan AS.
Masalahnya, di tengah masyarakat kita, sejarah bukan bacaan yang disukai. Apalagi menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca (Kompas.com, 01/12/2025).
Inilah sebabnya mengapa rakyat kita mudah sekali dibodohi, tanpa sadar adanya pemutarbalikan fakta dan sejarah. Inilah sebabnya, mengapa kita harus mendidik anak-anak kita untuk melek sejarah!
Pentingnya Mempelajari Sejarah
Membaca sejarah akan membantu kita untuk memiliki perspektif yang utuh dalam memandang persoalan. Tidak terjebak hanya pada peristiwa yang tampak. Hal ini akan membuat kita bisa menganalisis persoalan dengan jernih. Selanjutnya kita bisa merumuskan solusi atau langkah-langkah yang diperlukan ke depannya dengan tepat.
Sebagai contoh, jika kita melihat PBB saat ini, kita bisa jadi mengambil kesimpulan bahwa ia memiliki peran besar untuk perdamaian. Padahal, jika kita telusuri sejarah pembentukannya, tampak bahwa ia hanya alat dari negara-negara besar untuk mengendalikan negara-negara lain. Sejarah, dengan demikian, bisa membuat kita berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang keliru, bisa membuat kita mengambil langkah yang keliru.
Sejarah juga menentukan bagaimana kita merumuskan masalah beserta solusinya. Solusi two state dalam perang Gaza dengan entitas Yahudi adalah solusi dari orang yang tidak memahami sejarah. Dari sejarahnya, tanah Palestina adalah milik kaum Muslim yang diduduki Inggris pasca kekalahan Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunia I. Inggrislah yang memasukkan orang-orang Yahudi ke Palestina dan membentuk negara “Israel” di wilayah Palestina. Maka dari itu, membentuk two state di Palestina ibarat kita membiarkan perampok yang masuk rumah tanpa kita kehendaki, menguasai sebagian rumah kita lantas menindas dan selalu menyakiti kita. Padahal kitalah tuan rumahnya.
Sejarah juga memberikan pelajaran kepada kita agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama dengan pelaku sejarah pada masa lalu. Ketika kita tahu bahwa Yahudi dalam sejarahnya selalu ingkar janji, kita tidak akan mengambil perjanjian dengan mereka dalam menyelesaikan permasalahan.
Dengan demikian, jika kita menginginkan untuk menguasai konstelasi perpolitikan dunia, sejarah adalah hal niscaya yang harus kita kaji. Begitu pula jika kita menginginkan anak-anak kita menjadi politikus dan para pemimpin Islam, mengajarkan sejarah pada mereka adalah hal yang tidak boleh tidak harus dilakukan.
Cara Mengajarkan Sejarah kepada Anak
Ayah dan Bunda, berikut adalah beberapa tips untuk mengajarkan sejarah kepada anak.
Pertama: Membentuk perspektif anak dengan benar sebelum belajar sejarah. Perpektif ini adalah ibarat pisau yang akan digunakan untuk menguliti persoalan. Tanpa perspektif ini, sejarah hanya sekedar hafalan tentang nama, tahun, dan tempat.
Seorang Muslim hanya menggunakan akidah Islam sebagai perspektifnya dalam memandang setiap peristiwa. Maka dari itu kita harus membentuk dan menguatkan akidah anak terlebih dulu sehingga ia memiliki standar dalam menilai suatu peristiwa sejarah. Misal, sekalipun ia belajar bahwa sejarah Kekhilafahan kadang diwarnai dengan pertumpahan darah, ia paham bahwa Khilafah adalah satu-satunya metode untuk menerapkan syariah Islam sehingga ia tidak tumbuh memusuhi Khilafah.
Kedua: Mengajarkan sejarah dari sumber-sumber yang terpercaya. Sejarah sering ditulis oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian sering terjadi bias dan pembelokan sejarah sesuai dengan kepentingan penulisnya. Bahkan bisa jadi ada fakta-fakta yang dihilangkan, disamarkan, atau diubah untuk membentuk persepsi tertentu. Karena itulah, kita tidak bisa membaca sejarah hanya dari satu sumber atau sejarah yang lemah referensinya. Ini perlu kita sampaikan kepada anak agar mereka kritis dalam merujuk berbagai peristiwa sejarah sehingga tidak menghasilkan kesimpulan yang salah.
Ketiga: Kita bisa mengajarkan sejarah kepada anak melalui berbagai media. Bisa melalui buku-buku sejarah dari sumber-sumber terpercaya yang kita sesuaikan dengan tingkat umurnya. Bisa melalui youtube, peristiwa-peristiwa di TV dan berbagai media sosial yang telah kita seleksi kebenaran kontennya. Berangkat dari buku atau apa yang ia lihat, kita bisa memulai diskusi. Diskusi ini sangat penting karena bisa kita gunakan untuk meluruskan jika ada fakta-fakta sejarah yang menyimpang serta mengajari anak bagaimana menarik kesimpulan dan menyikapi suatu peristiwa. Yang perlu kita ingat, suasana diskusi harus kita buat sedemikian rupa agar anak tertarik dan menggugah keinginannya untuk tahu lebih banyak.
Keempat: Materi sejarah yang kita ajarkan bisa kita sesuaikan dengan tingkat umur dan perkembangan pemikiran anak. Untuk anak usia dini sampai menjelang balig, kita mulai dengan menyampaikan sejarah Islam, keteladanan Rasulullah saw., Sahabat beliau dan pahlawan-pahlawan dalam Islam. Seiring bertambahnya informasi anak, kita bisa mengajarkan sejarah penaklukan Islam ke berbagai belahan dunia termasuk Palestina.
Setelah anak mulai remaja, kita tingkatkan pengajaran dengan sejarah yang lebih luas, bagaimana konstelasi perpolitikan dunia sebelum dan sesudah masa renaisans, Perang Dunia, upaya meruntuhkan Daulah Islam, kemunculan PBB sampai kemunculan strategi menghambat pendirian Khilafah melalui nasionalisme, liberalisme, sekularisme dan moderasi beragama. Semua kita sampaikan sesuai dengan momen-momen yang tepat. Tidak perlu buru-buru menyampaikan semuanya sekaligus.
Kelima: Yang terpenting kita harus memahamkan kepada anak posisi sejarah bukan dalil Syariah, melainkan sekadar kumpulan fakta-fakta yang mendukung kesimpulan dan pelajaran bagi kita. Karena itu salah besar jika mengatakan bahwa hukum mengambil undang-undang Barat adalah boleh karena pernah diadopsi oleh Khilafah Utsmaniyah sebagai hukum negara.
Namun, boleh bagi kita untuk menyampaikan kepada anak bahwa Khilafah Utsmaniyah mengambil perundang-undangan Barat karena kekeliruan. Sebagai Muslim kita harus bisa mengambil pelajaran dari sejarah ini, yakni harus memahami Islam dengan benar agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama dengan para pendahulu kita.
Keenam: Untuk bisa mengajarkan sejarah kepada anak dengan baik, tentu kita juga harus mempelajari dan memahami sejarah yang benar. Karena itu Ayah dan Bunda harus rajin membaca, mengikuti perkembangan situasi terkini, mendengarkan ulasan-ulasan para ahli sejarah, serta berdiskusi dengan ayah dan bunda yang lain untuk memperluas wawasan politik.
Demikianlah Ayah dan Bunda. Kita tidak cukup hanya mendidik anak dengan pemahaman agama, tsaqaafah Islam dan sains. Kita perlu juga mewarnai pemahaman anak dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi pada manusia. Kita berharap anak-anak mampu mengambil ibrah, berpikir politis dalam rangka menyelesaikan persoalan-persoalan umat dan mampu merumuskan langkah yang tepat dengan pemahamannya atas fakta yang sedang atau yang telah terjadi. Mahabenar Allah dengan firman-Nya:
Sungguh pada kisah-kisah mereka (para nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat) (QS Yusuf [12]: 111).
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Arini Retnaningsih]





