
Dunia di Persimpangan, Krisis Ideologis & Jalan ke Depan
Di tengah tekanan yang luar biasa dari rezim Trump terhadap umat Islam di Amerika, Hizbut Tahrir Amerika, pada 5 April 2025, menyelenggarakan konferensi internasional di Chicago. Konferensi Khilafah 2025 ini mengambil tema yang sangat penting sekaligus menarik, yaitu: “Dunia di Persimpangan: Krisis Ideologis dan Jalan ke Depan”. Seperti yang diberitakan oleh Hizbut Tahrir Amerika, konferensi tahunan ini bertujuan untuk membangkitkan dan menginspirasi komunitas Muslim di Amerika untuk menghadapi tantangan global yang mendesak.
Dalam diskusi yang menarik dan cerita langsung dari saksi mata yang menggugah, konferensi ini mengungkap dunia yang berada di persimpangan jalan. Bertahan dengan ideologi Kapitalisme yang rapuh atau mencari jalan baru yang mencerahkan. Dalam konferensi ini diungkap bagaimana ideologi Kapitalisme mengalami krisis yang akut. Hal yang paling menonjol diungkap adalah kontradiksi dalam klaim-klaim Barat tentang demokrasi dan kebebasan, terutama setelah peristiwa 7 Oktober, Sensor dan penindasan terhadap suara-suara pro-Palestina memperlihatkan hipokrisi yang jelas.
Meskipun mengklaim sebagai negara penjaga demokrasi terbesar di dunia, Trump menampakkan kegagalan ideologi Kapitalisme untuk membendung suara kebenaran dan kemanusiaan. Kejahatan entitas penjajah Yahudi yang terjadi di depan mata tidak bisa lagi disembunyikan oleh Barat melalui tirani hegemoni media mainstream. Keberadaan media sosial, jurnalis independen dan saksi langsung menyulitkan untuk menutupi kejahatan parah entitas penjajah Yahudi.
Hal ini menggerakkan sebagian masyarakat Amerika untuk mulai bersikap kritis terhadap dukungan Amerika kepada Israel. Propaganda buruk untuk menutupi kekejaman entitas Yahudi juga gagal. Sebagaimana layaknya pemerintahan diktator, Trump menggunakan alasan yang tidak masuk akal, bahkan nyaris tanpa alasan, untuk bersikap represif terhadap siapapun yang memihak Palestina. Trump menangkap dan mengusir aktivis pro-Palestina dengan tangan besi. Tentu ini bertentangan 180 derajat dengan prinsip demokrasi Amerika. Ini sesungguhnya bukan hanya terjadi di Amerika, tetapi di negara-negara Barat pengusung Kapitalisme lainnya. Mereka membungkam suara kebenaran dengan tangan besi, seolah mereka negara diktator yang kejam di Afrika.
Kondisi ini jelas menunjukkan kegagalan sistem Kapitalisme secara global. Jelas dunia membutuhkan jalan baru yang membawa dunia menuju cahaya dari kegelapan. Dalam konferensi ini, Islam diperkenalkan sebagai alternatif yang adil dan dipandu oleh wahyu Ilahi. Kebenaran yang bersumber dari Allah SWT Yang Mahabenar. Kebenaran yang dibangun atas dasar keimanan yang rasional dan sesuai dengan fitrah. Dari keimanan ini dibangun ideologi Islam yang sesuai dengan fitrah manusia, yang melahirkan sistem kehidupan yang komprehensif dalam segala aspek. Itulah syariah Islam yang mengatur segala aspek kehidupan. Dengan penerapan syariah Islam ini, manusia akan merasakan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Dengan fokus pada krisis kesehatan di Gaza, konferensi ini menyoroti dampak menghancurkan dari perang dan blokade, yang diperburuk oleh pembatasan bantuan medis yang disengaja. Seorang dokter yang berbagi pengalaman pribadinya tentang kondisi mengerikan yang ia saksikan di Gaza menyatakan bagaimana para pekerja medis menunjukkan ketahanan dalam merawat pasien di tengah kekurangan yang parah. Kondisi ini jelas menunjukkan kejahatan entitas penjajah Yahudi, sementara entitas Yahudi ini didukung penuh oleh Amerika Serikat.
AS jelas bukan sekadar mitra kejahatan entitas Yahudi ini. AS merupakan pangkal kejahatan. Amerikalah yang selama ini memberikan dukungan politik, ekonomi dan militer terhadap entitas penjajah Yahudi. Bahkan pada saat bulan Ramadhan dan Lebaran kemarin, serangan telah membunuh lebih dari 400 orang yang menjadi syuhada. Semua itu, seperti pengakuan Netanyahu, di bawah persetujuan Trump.
Sejak awal hingga sekarang kebiadaban entitas penjajah Yahudi karena didukung oleh bantuan-bantuan negara-negara imperialis, termasuk AS. Inggris membidani kelahiran negara ilegal Israel melalui Deklarasi Balfour. Lalu setelah Perang Dunia II, AS-lah yang paling utama menjaga keberadaan entitas Yahudi Zionis. Dengan memberikan legitimasi melalui PBB dan hampir setiap Presiden Amerika, siapa pun mereka, dari Demokrat ataupun Republik, akan menganggap bahwa membela entitas penjajah Yahudi ini sebagai harga mati. Amerika pula yang mendudukkan para penguasa Muslim pengkhianat di tengah-tengah kaum Muslim, terutama di tengah-tengah negeri-negeri Arab.
Pertemuan ini juga akan menghubungkan tanggung jawab lokal dan global, mendorong umat Muslim di Amerika untuk memperkuat persatuan dan terlibat dalam aktivisme serta mengambil inspirasi dari perjuangan seperti yang terjadi di Gaza, sambil mengadvokasi model pemerintahan yang berakar pada prinsip-prinsip keadilan dan akuntabilitas Islam. Konferensi ini juga mendorong peserta untuk berperan aktif dalam mengungkap ketidakadilan dan mendorong perubahan yang bermakna.
Jelas ini bukan hanya tanggung jawab Muslim Amerika, tetapi juga tanggung jawab kita semua, termasuk di Indonesia. Sangat penting umat Islam mengambil peran penting dalam kondisi krisis dunia saat ini. Tentu saja dengan memperjuangkan Islam agar terwujud dalam kehidupan sehari-hari, dalam segenap aspek kehidupan. Bukan sekadar Islam dalam aspek ritual dan moralitas, tetapi juga ekonomi, politik, pendidikan hingga negara.
Di sinilah relevansi perjuangan umat Islam di seluruh dunia untuk menegakkan kembali Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah. Inilah negara yang mutlak dibutuhkan untuk menyatukan umat Islam secara global dan menerapkan syariah Islam secara kâffah. Negara Khilafah ‘alâ Minhâj an-Nubuwwah akan membungkam keangkuhan Amerika, sekaligus membawa perubahan nyata di dunia. Sedemikian sebagaimana sebelumnya Rasulullah saw. dan para Sahabat mengusung Islam ke seluruh penjuru dunia. Islam membawa kebaikan bukan hanya untuk umat Islam, tetapi juga seluruh umat manusia. Sekali lagi, ini adalah tanggung jawab kita bersama! AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





