Fokus

Di Balik Perang AS-Zionis Vs Iran

Serangan brutal AS dan entitas Yahudi ke Iran dimulai pada Sabtu, 28 Pebruari 2026. Saat itu Presiden Amerika Trump merilis video di platform-nya Truth Social yang menyatakan bahwa pasukannya di Timur Tengah telah melancarkan operasi militer besar-besaran di Iran. Netanyahu pun ikut bergabung dalam pernyataan itu.

Memasuki minggu ke-5 atau hari ke-40 konflik, laporan menunjukkan jumlah korban jiwa terus meningkat, terutama di Iran. Perkiraan korban jiwa di Iran mencapai lebih dari 1.500 hingga 2.000 orang. Sebaliknya, militer AS mengonfirmasi setidaknya 13 personel tewas dan Israel melaporkan sekitar 19-26 korban jiwa. Kehancuran infrastruktur, bangunan, dll. pun terjadi di kedua belah pihak.

Pada Selasa, 7 April 2026, Trump memberikan ancaman terakhir, bahwa jika pada selasa malam pukul 20.00 waktu timur AS (ET) – waktu Washington DC atau Rabu (08/04) pukul 3.30 waktu Iran atau pukul 07.00 WIB, Iran tidak mau menuruti keinginan AS, maka Trump akan menghancurkan Iran (terutama jembatan dan pembangkit listrik) dalam waktu semalam, istilah Trump: penghancuran total (complete demolition). Sebuah judul di situs al-Jazeera.com (7/4) menulis: Trump on Iran: ‘A whole civilisation will die tonight’ (Trump tentang Iran: ‘Seluruh peradaban akan mati malam ini)’.

Akan tetapi, saat terakhir tenggat waktu tersebut, Trump (8/4, BBC Indonesia) akhirnya mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menempuh gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu-lintas maritim di Selat Hormuz.

 

Latar Belakang Perang

(1) Kegagalan AS mengubah Iran dari negara orbit menjadi negara pengikut.

Perang ini mengindikasikan adanya perbedaan sikap di internal dalam Iran, khususnya Korps Garda Revolusi(IRGC) dan pejabat sipil Iran, dalam hubungannya dengan Amerika. Ini terlihat pada kecenderungan sebagian pejabat sipil Iran yang ingin memenuhi keinginan pemerintahan Trump agar Iran menjadi negara pengikut atau pengekor sepenuhnya (ad-dawlah at-taabi’ah). Adapun IRGC menolak dan bahkan berusaha keluar dari orbit pengaruh Amerika.

Selama ini Iran sebenarnya adalah negara orbit (satelit/ad-dawlah allati fî al-falak). Artinya, Iran Adalah negara yang kebijakan politik luar negerinya terikat dengan politik negara lain (AS) karena ada ikatan kepentingan, bukan sebagai pengikut yang membebek begitu saja. Akan tetapi, hasil kebijakan luar negerinya tetap ada dalam orbit negara adidaya tertentu (AS).

Yang menguatkan bahwa Amerika memang bertujuan mengubah kebijakan Iran—dari orbit/satelit menjadi pengekor – meskipun faktanya gagal sampai saat ini—adalah pernyataan Menteri Pertahanan AS Hegseth pada 10/3/2026, “Saya tidak bisa mengatakan bahwa kami benar-benar memperkirakan reaksi mereka seperti ini.”

Demikian pula laporan New York Times tanggal 12/3/2026 yang menyebutkan, “Trump dan para penasihatnya yakin bahwa pembunuhan kepemimpinan puncak akan memunculkan tokoh-tokoh yang lebih pragmatis yang akan berusaha mengakhiri perang.”

Ketika harapan itu pupus, Trump mulai berbicara tentang dua minggu untuk menyelesaikan perang, bahkan mungkin empat minggu. Ia ingin mengakhiri perang dengan cara apa pun yang dapat menampilkan dirinya sebagai pemenang, bukan sebagai pihak yang kalah seperti saat penarikan Amerika dari Afganistan tahun 2021. Ia pun membuat pernyataan penuh manipulasi seolah-olah ia telah menang.

Karena itu kita bisa melihat: Pertama, Garda Revolusi berjuang keras agar Iran keluar dari pengaruh Amerika dan menjadi negara independen. Kedua, para pejabat sipil Iran berada di antara kelemahan dan keberanian, namun sebagian cenderung ingin mempertahankan Iran dalam orbit Amerika atau bahkan menjadi negara pengikut, seperti banyak negara di kawasan. Ketiga, Trump ingin Iran menjadi negara pengikut agar ia mengendalikan minyak, gas dan Selat Hormuz. Jika perang berlanjut dan Garda Revolusi tetap bertahan, Iran akan berpotensi bergerak menuju kemandirian dan independen.

 

(2) Iran adalah negara orbit (satelit) bagi AS.

Iran selama ini sebenarnya menjadi negara orbit AS setidaknya dalam empat kasus: Afganistan, Irak, Yaman dan Suriah. Bagi Iran, dalam beberapa konteks, kebijakan AS menciptakan kondisi yang menguntungkan Iran atau bahkan menghasilkan kesamaan kepentingan sementara. Dengan demikian, orbit Iran tetap ada dalam kepentingan AS. Dengan demikian hubungan Iran–AS dapat dipahami sebagai: rivalitas kompleks dengan elemen interaksi tidak langsung dan hasil yang kadang konvergen. Dengan kata lain, interaksi Iran–AS mencerminkan kombinasi antara rivalitas struktural dan konvergensi taktis, tetapi tetap dalam pusaran dan kendali AS.

Jika konsep ini kita terapkan dalam kasus Afganistan, polanya adalah Keselarasan Tersirat (Tacit Alignment). Iran mendukung penggulingan Taliban pada 2001 dan berpartisipasi dalam pembentukan pemerintahan baru. Hal ini menunjukkan adanya kepentingan paralel dengan AS. Akan tetapi, setelah kehadiran militer AS berlanjut, Iran berbalik menentang dan bahkan menjalin kontak dengan Taliban. Ini membuktikan argumen tentang konvergensi taktis (tactical convergence).

Lalu untuk kasus Irak, polanya adalah Keselarasan yang Tidak Disengaja (Unintended Alignment). Invasi AS tahun 2003: menghilangkan musuh utama Iran (Saddam Hussein). Ini membuka ruang bagi peningkatan pengaruh Iran. Karena itu Iran kemudian: menguatkan aktor politik Syiah di Irak dan mendukung milisi anti-AS. Ini membuktikan bahwa Iran diuntungkan oleh kebijakan AS, tetapi tidak senantiasa sejalan dengan AS.

Ketika sintesa itu kita terapkan pada kasus Suriah, maka polanya adalah Rivalitas Terbuka dengan Konvergensi Terbatas. Iran mendukung rezim Bashar Assad, sementara AS mendukung oposisi di Suriah. Ini merupakan konflik langsung. Akan tetapi, keduanya bersama melawan ISIS. Ini memberikan penjelasan terdapat konvergensi fungsional terbatas (limited functional convergence) di tengah konflik utama.

Jika kita aplikasikan dalam kasus Yaman, polanya adalah Persaingan Proksi (Kompetisi Proxy). Iran mendukung milisi Houthi, AS mendukung koalisi Saudi. Hal ini menggambarkan bahwa adalah kasus Yaman, adalah deskripsi paling jelas dari: (a) konflik tidak langsung; (b) tanpa persekutuan (alignment) sama sekali,.

Dari keempat kasus, terlihat pola: Pertama, tidak ada subordinasi Iran terhadap AS, tetapi sejalan dengan AS untuk sebagian kasus. Akan tetapi, untuk sebagian yang lain, Iran tetap: (a) menolak kehadiran militer AS; (b) mendukung aktor anti-AS.

Kedua, ada konvergensi terbatas, yang terjadi ketika: (a) ada musuh Bersama; (b) atau akibat kebijakan AS yang tidak disengaja.

Ketiga, interaksi bersifat situasional, bukan aliansi tetap, tetapi: (a) adaptif; (b) kontekstual.

Kesimpulan umumnya: “Iran tetap dalam orbit AS, meskipun ekspresi kepentingannya beragam mulai dari rival strategis beroperasi dalam ruang geopolitik yang sama, menghasilkan kombinasi konflik, ko-eksistensi, dan konvergensi tak disengaja.”

 

Motif Amerika Sesungguhnya

Motif Amerika yang sesungguhnya dengan perang ini sangat jelas, yakni penguasaan minyak. Melalui unggahan di media sosial pada Jumat (3/4/2026), Trump secara blak-blakan menyebut bahwa penguasaan sumber daya Iran akan memberikan keuntungan finansial yang sangat masif bagi pihak Amerika Serikat.

“Dengan sedikit waktu tambahan, kita dapat dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan mendapatkan keuntungan besar. Ini akan menjadi ‘sumur minyak melimpah’ bagi dunia???” tulis Trump dalam unggahan yang viral tersebut.

Selain minyak, tentu target AS adalah menundukkan rezim Iran. Akan tetapi, terkait pergantian rezim (regime change) di Iran, perhitungan Amerika dan entitas Yahudi ternyata keliru. Ketika mereka bersama-sama melancarkan agresi terhadap Iran, tampak bahwa mereka telah menetapkan durasi sangat singkat: diperkirakan empat hari dengan serangan kilat besar yang menargetkan kepemimpinan puncak, fasilitas nuklir dan pusat-pusat produksi serta peluncuran rudal. Mereka mengira bahwa dengan menghancurkan kepala negara dan jajaran terdekatnya, maka para pemimpin tingkat dua akan menyerah sebagaimana yang terjadi di Venezuela.

Akan tetapi, hal itu tidak terjadi di Iran. Setelah kematian pemimpin tertinggi, Ayatullah Ali Khamenei dan sejumlah pemimpin puncak, Garda Revolusi tetap berdiri dan memutuskan melawan agresi ini dan menyerang balik.

Oleh karena itu, hubungan Iran dan Amerika memasuki fase pemutusan total. Padahal sebelumnya Iran berada dalam orbitnya. Amerika ingin mengubah hubungan ini. Jika tidak, mereka tidak akan melakukan agresi sedemikian rupa dan membiarkan entitas Yahudi membunuh tokoh-tokoh paling penting di Iran, termasuk pemimpin tertinggi. Ini menunjukkan bahwa Amerika memang menargetkan perubahan total kebijakan Iran: dari negara dalam orbit menjadi negara pengikut. Akan tetapi, ketika gagal, untuk menyelamatkan muka, maka Amerika terus melanjutkan perang.

 

Alasan-Alasan Palsu AS

Jonathan Alter, sejarahwan Kepresidenan yang pernah menulis biografi Franklin Roosevelt, Barack Obama and Jimmy Carter, mengatakan, “He’s a chaos agent and that’s what he specialises in. He doesn’t think any further ahead than the next news cycle and so you get an on-again off-again zigzag foreign policy” (Guardian, 14/3/2026).

Dalam pandangan Alter, Trump adalah agen kekacauan dan itulah spesialisasinya. Trump juga tidak berpikir lebih jauh dari siklus berita berikutnya (dari berita ke berita). Dia pun mempraktikkan on-again off-again zigzag foreign policy; kebijakan luar negeri yang berubah-ubah, tidak konsisten, dan tidak memiliki arah yang jelas. Ini seperti gerakan zigzag yang maju ke kiri lalu ke kanan tanpa pernah bergerak lurus ke depan.

Analisis yang dilakukan oleh The Washington Post pada tahun 2021 lalu menemukan bahwa Trump membuat 30.573 klaim palsu atau menyesatkan selama empat tahun masa kepresidenannya yang pertama (2017-2021). Jumlah itu dihitung sejak hari pertama ia dilantik pada 20 Januari 2017 hingga hari terakhir masa jabatannya pada 20 Januari 2021, dengan rata-rata 20,94 klaim tidak akurat per hari.

 

Skenario Terkait Perang Iran vs AS- Entitas Yahudi

Setidaknya ada tiga skenario yang dapat diprediksi dengan mempertimbangkan berbagai variabel dan perkembangan terakhir Perang Iran vs AS-entitas Yahudi ini.

 

Skenario 1 – De-eskalasi Diplomatik

Pertama: Negosiasi Iran–AS menghasilkan kesepakatan terbatas. Diplomasi yang dilakukan AS dan Iran, dengan mediasi Pakistan, membuka kemungkinan adanya kesepakatan terbatas di kedua belah pihak.

Fakta terbaru, per Rabu 8 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan bahwa Iran akan menyetujui gencatan senjata “jika serangan terhadap Iran dihentikan”. Dia menambahkan, “Selama periode dua minggu, jalur pelayaran aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan.”

Menurut Araghchi, hal tersebut akan dilakukan “melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada”. Pernyataan Araghchi mengemuka sesaat setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menempuh gencatan senjata selama dua minggu dengan syarat Iran membuka lalu-lintas maritim di Selat Hormuz. “Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” ujar Trump di Truth Social.

Lembaga penyiaran milik Pemerintah Iran merilis rincian 10 butir syarat gencatan senjata yang diajukan Teheran: (1) Penghentian total perang di Irak, Lebanon dan Yaman; (2) Penghentian perang terhadap Iran secara menyeluruh dan permanen tanpa batas waktu; (3) Pengakhiran seluruh konflik di kawasan secara menyeluruh; (4) Pembukaan kembali Selat Hormuz; (5) Pembentukan protokol dan persyaratan untuk menjamin kebebasan serta keamanan navigasi di Selat Hormuz; (6) Pembayaran penuh kompensasi biaya rekonstruksi kepada Iran; (7) Komitmen penuh untuk mencabut sanksi terhadap Iran; (8) Pembebasan dana dan aset Iran yang dibekukan dan ditahan oleh Amerika Serikat; (9) Komitmen penuh Iran untuk tidak mengupayakan kepemilikan senjata nuklir; (10) Gencatan senjata segera berlaku di seluruh lini begitu seluruh persyaratan di atas disetujui.

Sejauh ini, gencatan senjata selama dua pekan sebagai hasil diplomasi ini telah disepakati. Dampak jika skenario ini benar-benar dijalankan adalah potensi penurunan intensitas konflik, meski tidak akan menyelesaikan konflik secara total.

 

Skenario 2 – Perang Terbatas Berlanjut (Most Likely)

Pertama: Serangan udara & proxy terus berlangsung. Serangan AS terus berlanjut dan pasti akan dibalas oleh Iran yang ternyata memiliki kemampuan rudal dan drone yang keliru dikalkulasi AS-entitas yahudi.

Kedua: Tidak ada invasi darat karena fokus tetap ke serangan udara meskipun pendapat kebanyakan pakar tidak akan efektif untuk mengakhiri konflik.

Dampak dari skenario ini adalah konflik akan berkepanjangan ditambah tekanan ekonomi global yang juga akan makin berdampak pada berbagai bidang lain di luar ekonomi.

 

Skenario 3 – Eskalasi Tinggi (Most Risky)

Pertama: AS melakukan serangan darat ke Iran dan penghancuran total sebagaimana ancaman Trump. Amerika tentu memiliki kalkulasi untuk melakukan serangan darat. Kalaupun AS tetap nekad untuk melakukan serangan darat, bentuknya kemungkinan adalah serangan darat terbatas plus operasi perlindungan terkait. Jadi sifatnya gabungan. Tidak sebagaimana ketika di Afganistan dan Irak.

Kedua: Iran membalas secara luas (Teluk, Israel, Pangkalan AS). Di sisi lain, jika ini dilakukan AS, maka Iran pun akan melakukan serangan balasan ke berbagai objek, yang ada di Teluk, wilayah entitas Yahudi, dan pangkalan militer AS yang ada di berbagai negara-negara teluk.

Dampaknya tentu ini akan melahirkan perang regional yang lebih besar dan intensif dibanding pada saat awal perang. Kondisi ini akan semakin memicu krisis energi global. Diperkirakan harga minyak dan gas akan semakin tidak terkendali, harga kebutuhan meningkat, inflasi global akan semakin terjadi, dan ekonomi dunia akan makin lemah.

WalLâhu a’lam. [Dr. Riyan, M.Ag.; (Peneliti MSPI – Masyarakat Sosial Politik Indonesia)]

 

Referensi

https://spatialhighlights.com/news/mengenal-kekuatan-geografis-iran-buat-as-mustahil-lakukan-invasi-darat

https://www.bbc.com/indonesia/articles/cn9e0v5pe4eo

https://www.aa.com.tr/id/politik/trump-tak-tutup-kemungkinan-kirim-pasukan-darat-ke-iran-jika-gagal-capai-kesepakatan/3894086

https://fortune.com/2026/03/11/oil-inflation-butterfly-effect-kpmg-trump/

https://mediaindonesia.com/internasional/873482/survei-popularitas-trump-anjlok-akibat-perang-iran-dan-kenaikan-harga-bbm

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260406/44/1964420/harga-minyak-dunia-naik-lagi-hari-ini-usai-trump-ultimatum-iran#goog_rewarded

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260330145316-85-1342580/gerbang-air-mata-terseret-perang-iran-ini-efeknya-ke-minyak-dunia.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × 5 =

Back to top button