Hadis Pilihan

Kebolehan Syirkah

يقولُ عَزَّ وَجَل: أنا ثالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمُا صَاحِبَهُ، فَإِذَا خَانَ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku adalah Yang ketiga dari dua orang yang bersyirkah selama yang satu tidak mengkhianati yang lainnya. Jika dia berkhianat maka aku keluar dari keduanya.” (HR Abu Dawud no. 3383, ad-Daraquthni no. 2933 dan al-Hakim no. 2322).

 

Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi di dalam Sunan al-Kubrâ no. 11424, Sunan ash-Shughrâ no. 2104 dan Ma’rifah as-Sunan wa al-آtsâr no. 11397; oleh Muhammad Abu Thahir al-Mukhalishi (w. 393 H) di dalam Al-Mukhallishiyât no. 1566; dan oleh Muhammad Abu Bakar Qadhi al-Maristan (w. 535 H) di Ahâdîts asy-Syuyûkh ats-Tsiqât (al-Masyaykhah al-Kubrâ) no. 242.

Imam al-Hakim berkomentar, “Ini adalah hadis shahîh al-isnâd meski beliau berdua (al-Bukhari dan Muslim) tidak mengeluarkannya.”

Al-Hafizh adz-Dzahabi di dalam At-Talkhîsh berkomentar: (hadis ini) shahih. Imam Abu Dawud di dalam Sunan Abû Dâwud tidak berkomentar: Hal itu mengindikasikan hadis itu hasan menurut beliau.

Ibnu al-Qathan menilai hadis ini memiliki penyakit (‘illat) dengan ketidakjelasan (al-jahlu) keadaan Said bin Hayyan, bapaknya Abu Hayan. Ini karena dia tidak diketahui keadaannya dan tidak diketahui yang meriwayatkan dari dia selain anaknya, yakni Yahya bin Said bin Hayyan (Abu Hayyan).

Namun, Imam Ibnu Hibban menyebutkan hadis ini di dalam Ats-Tsiqât pada no. 2901, bahwa selain anaknya, yang meriwayatkan dari dia adalah al-Harits bin Suwaid. Al-‘Ijliy (w. 261 H) di dalam Târîkh ats-Tsiqât pada no. 538 menilai Said bin Hayyan at-Taymi tsiqah. Syamsuddin adz-Dzahabi (w. 748 H) di dalam Al-Kâsyif fî Ma’rifah man lahu Riwâyah fî al-Kutub as-Sittah pada nomor 1871 menilai Sa’id bin Hayyan tsiqah.

Dengan demikian, ‘illat yang dinyatakan oleh Ibnu al-Qathan hilang dengan kejelasan keadaan Abu Hayyan Yahya bin Said bin Hayyan dan keadaan bapaknya, Said bin Hayyan. Keduanya dinilai tsiqah. Dengan demikian hadis ini sah untuk dijadikan hujjah.

Makna hadis ini dijelaskan oleh al-Munawi (w. 1031 H) di dalam Faydh al-Qadîr, “Aku adalah Yang ketiga dari dua orang yang berserikat,” yakni dengan pertolongan dan diperolehnya keberkahan dan pertumbuhan. Lalu, “selama yang satu tidak mengkhianati temannya,” yakni dengan tidak menunaikan amanah dan tidak menjaga diri dari khianat. “Lalu jika ia mengkhianati mitranya,” yakni dengan hal itu “Aku keluar dari keduanya,” yakni keberkahan dicabut dari harta keduanya.

Ath-Thibiy menyatakan, perserikatan Allah dengan keduanya merupakan usluub isti’ârah seolah Allah menjadikan keberkahan pada posisi harta yang dicampurkan. Karena itu Allah menyebut Diri-Nya sebagai Pihak Ketiga untuk keduanya. Firman-Nya “kharajtu” menguatkan isti’ârah itu. Di dalamnya ada anjuran syirkah. Di dalamnya juga ada keberkahan dengan syarat amanah. Hal itu karena masing-masing dari keduanya berupaya memberi manfaat kepada temannya, sementara  Allah menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya sebagaimana dalam khabar lainnya.

Al-Amir ash-Shan’ani (w. 1182 H) di dalam Subul as-Salâm menjelaskan makna hadis ini bahwa Allah bersama keduanya, yakni dalam menjaga dan memelihara serta memberikan bantuan dalam harta keduanya dan menurunkan keberkahan dalam perdagangan keduanya. Jika terjadi khianat maka keberkahan dicabut dari harta keduanya. Di dalam hadis ini ada dorongan untuk ber-syirkah disertai tidak adanya khianat dan peringatan dari khianat bersamanya.

Abdurrahman as-Sa’diy (w. 1376 H) di dalam Bahjatu Qulûb al-Abrâr wa Qurratu ‘Uyûn al-Akhyâr fî Syarhi Jawâmi’i al-Akhbâr menjelaskan, hadis ini dengan keumumannya menunjukkan kebolehan jenis-jenis syirkah semuanya: syirkah al-‘inan, al-abdân, al-wujûh, al-mudhârabah, al-mufâwadhah dan jenis syirkah lainnya yang disepakati orang dua orang yang ber-syirkah.

Hadis ini menunjukkan keutamaan dan keberkahan syirkah jika dibangun di atas kejujuran dan amanah. Sebabnya, orang yang dibersamai oleh Allah maka pasti Allah berkahi rezekinya dan memudahkan untuk dirinya sebab-sebab yang dengan itu diraih rezeki tersebut. Allah memberi dia rezeki dari arah yang tidak disangka dan menolong serta membantu dirinya.

Hal itu karena syirkah itu di dalamnya terjadi tolong-menolong di antara para syaarik dalam pandangan dan aktifitas mereka. Kadang ada aktivitas-aktivitas yang tidak mampu dilakukan masing-masing sendirian. Lalu dengan dikumpulkan aktivitas dan harta maka itu mungkin dicapai.

As-Sa’diy juga menyatakan, semua ini harus disertai dengan kejujuran dan amanah. Jika dimasuki khianat dan salah satu atau keduanya berniat khianat terhadap yang lain, dan menyembunyikan apa yang dia kuasai darinya, maka Allah keluar dari keduanya, hilanglah keberkahan itu dan sebab-sebab tidak mudah. Pengalaman dan fenomena menjadi saksi untuk hadis ini. WalLâh a’lam. Demikian pernyataan as-Sa’diy.

Syirkah secara bahasa adalah bercampurnya dua perkara yang mana tidak dapat lagi dibedakan yang satu dari yang lain. Hadis ini dengan dalaalah isyaarah menunjukkan kebolehan syirkah secara umum.

Syirkah secara syar’iy dapat berupa syirkah harta (syirkah al-a’yân) yakni syirkah kepemilikan (syirkah al-amlâk), yaitu perserikatan dalam kepemilikan suatu harta. Artinya, harta itu dimiliki secara bersama oleh dua orang atau lebih. Syirkah juga dapat berupa syirkah akad, yakni dua orang atau lebih berakad ber-syirkah untuk melakukan aktivitas bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Ini bentuknya berupa syirkah al-inân, syirkah al-abdân, syirkah al-wujûh, syirkah al-mudhârabah dan syirkah al-mufâwadhah. Semua bentuk syirkah itu boleh sesuai penunjukkan hadis ini. Sebabnya, lafal asy-syarîkayn (dua orang yang ber-syirkah) itu bermakna umum mencakup semua syirkah.

Hal itu ditegaskan dengan iqrâr (persetujuan) Nabi saw. atas syirkah yang dilakukan oleh para Sahabat. Imam al-Bukhari meriwayatkan hadis dari jalur Sulaiman bin Abi Muslim yang berkata: “Aku bertanya kepada Abu al-Minhal tentang sharf secara kontan (yad[an] bi yad[in]). Ia berkata: Aku dan mitraku membeli sesuatu secara kontan dan dengan tempo. Lalu al-Bara’ bin ‘Azib datang keapda kami dan kami bertanya kepada dia. Ia berkata: “Aku dan mitraku, Zaid bin Arqam, melakukan itu dan kami bertanya kepada Nabi saw. tentang hal itu. Beliau bersabda, “Mâ kâna yadan bi yadin fakhudzûhu, wa mâ kâna nasî`ah faruddûhu (Apa saja yang kontan, ambillah. Apa saja yang bertempo, kembalikanlah).”

Masih ada riwayat-riwayat lain yang menunjukkan persetujuan Nabi saw. terhadap syirkah yang dilakukan para shahabat.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

14 − 7 =

Check Also
Close
Back to top button