Nafsiyah

Isyarat Kemenangan Sejak Nabi SAW. Dilahirkan


وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الأَرْضُ * وَضَاءَتْ بِنُورِكَ الأُفُقُ
فَنَحْنُ مِنْ ذَلِكَ النُّورِ فِي الضِّيَاءِ * وسُبْلِ الرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Engkaulah, yang tatkala dilahirkan, bumi bersinar * Dengan sinarmu, ufuk bercahaya
Karena cahaya itu, kami tersinari * dan mampu menerobos jalan-­jalan petunjuk

 

Syair agung di atas disenandungkan Al-­’Abbas bin ’Abdul Muthallib ra., menggambarkan hakikat kelahiran Nabi Muhammad saw. yang menjadi sebab kemuliaan umat ini. Kelahiran beliau mengawali babak baru bagi risalah agung yang Allah turunkan untuk dimenangkan atas seluruh agama dan keyakinan:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ  ٩

Dialah Yang mengutus Rasul-­Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia menangkan atas segala agama meskipun kaum musyrik benci (QS ash-­Shaff [61]: 9).

 

Allah SWT menegaskan tujuan risalah-­Nya diturunkan kepada beliau, yaitu untuk diunggulkan di atas seluruh keyakinan dan agama yang menyimpang dari ajaran-­Nya; untuk mengeluarkan manusia dari ragam kegelapan jahiliah menuju satu cahaya Islam:

الٓرۚ كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ لِتُخۡرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِ رَبِّهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَمِيدِ  ١

Alif Lam Ra. (Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepada kamu (Muhammad) agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang-­benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa dan Maha Terpuji (QS Ibrahim [14]: 1).

 

Isyarat kemenangan risalah dakwah Al-­Mushthafa saw. bahkan telah mengemuka semenjak beliau dilahirkan. Diawali dengan kelahiran beliau pada Tahun Gajah (’âm al-­fîl). Pada tahun itu rezim angkuh Abrahah dengan pasukan gajah dari Habasyah hendak menghancurkan Ka’bah. Namun, Allah membinasakan mereka dengan pasukan burung yang membawa sijjîl (batu dari tanah liat yang sangat panas) (lihat: QS. Al-­Fîl [105]: 1-­5). Perhatikan! Mereka sombong dengan pasukan gajah, lalu Allah SWT hinakan dengan pasukan burung.

Apa yang terjadi, ditafsirkan Syaikh Muhammad al-­Amin dalam Hadâ’iq al-­Rûh wa ar-­Rayhân (XXXII/330), bukanlah pertolongan atas kaum musyrifiin Quraysyi, melainkan pertolongan bagi risalah Al-­Mushthafa saw. Allah SWT mempersiapkan Ka’bah dan Makkah untuk tegaknya risalah tersebut, yang kelak membersihkan Makkah dari kesyirikan dan perbuatan jahiliah.

Menariknya, deretan ulama pakar sîrah semisal Al-­Imam al-­Baihaqi (w. 458 H) dalam Dalâ’il an-­Nubuwwah (I/126), al-­Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam As-­Sîrah al-­Nabawiyyah (I/215) menguraikan ragam khawâriq li al-­’âdah (kejadian luar biasa) berupa irhâshât yang mengiringi kelahiran seorang calon nabi pada akhir zaman. Demikian sebagaimana riwayat shahih yang menyebutkan bahwa ketika Rasulullah saw. dilahirkan, Sayidah Aminah menyaksikan cahaya bersinar mengiringi kelahiran beliau yang tampak menerangi istana-istana Negeri Syam. ‘Irbadh bin Sariyah berkata: Rasulullah saw. bersabda:

«دَعْوَةُ أَبِي إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى، وَرَأَتْ أُمِّي أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ مِنْهُ قُصُورُ الشَّامِ»

Aku adalah doa ayahku, Ibrahim, kabar gembira Isa kepada kaumnya, dan mimpi ibuku yang melihat cahaya keluar dari dirinya sehingga terlihat jelas bagi dia istana-­istana Syam (HR Ahmad).

 

Doa Nabi Ibrahim as. yang dimaksud adalah doa yang disebutkan dalam QS al-­Baqarah [2]: 129. Adapun bisyârah Nabi Isa as. yang dimaksud, adalah yang Allah kisahkan dalam ayat-­Nya:

وَإِذۡ قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ يَٰبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُم مُّصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيَّ مِنَ ٱلتَّوۡرَىٰةِ وَمُبَشِّرَۢا بِرَسُولٖ يَأۡتِي مِنۢ بَعۡدِي ٱسۡمُهُۥٓ أَحۡمَدُۖ ٦

(Ingatlah) ketika Isa bin Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian; membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberikan kabar gembira dengan (kedatangan) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang bernama Ahmad (Muhammad) (QS ash-­Shaff [61]: 6).

 

Menjelaskan fenomena agung ini, al-­Hafizh Ibn Rajab al-­Hanbali (w. 795 H) dalam Lathâ’if al-­Ma’ârif (hlm. 87) menuturkan, ”Keluarnya cahaya ini ketika kelahiran Rasulullah saw. menunjukkan pada apa yang akan datang bersama beliau berupa cahaya yang menjadi petunjuk penduduk Bumi, yang dengan itu sirnalah kegelapan kesyirikan.”

Demikian sebagaimana firman Allah SWT:

قَدۡ جَآءَكُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٞ وَكِتَٰبٞ مُّبِينٞ  ١٥ يَهۡدِي بِهِ ٱللَّهُ مَنِ ٱتَّبَعَ رِضۡوَٰنَهُۥ سُبُلَ ٱلسَّلَٰمِ وَيُخۡرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذۡنِهِۦ وَيَهۡدِيهِمۡ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  ١٦

Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-­orang yang mengikuti keridhaan-­Nya ke jalan keselamatan. (Dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-­orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang-­benderang dengan seizin-­Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS al-­Maidah [5]: 15-­16).

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  ١٥٧

Lalu orang-­orang yang beriman kepada, memuliakan dia, menolong dia dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepada dia (al-­Quran), mereka itulah kaum yang beruntung (QS al-­A’raf [7]: 157).

 

Peristiwa kemunculan cahaya tersebut, menurut Imam al-­Munawi (w. 1031 H) dalam At-­Taysîr Syarh al-­Jâmi’ ash-Shaghîr, adalah petunjuk bagi kemenangan risalah kenabiannya melingkupi Timur dan Barat. Pertanyaannya, ”Mengapa harus Bumi Syam?” Secara apik al-­Hafizh Ibn Katsir menuturkan, “Pengkhususan Negeri Syam dengan cahaya di atasnya menunjukkan tegaknya agama ini dan kenabiannya di negeri-­negeri Syam. Oleh karena itu Syam pada akhir zaman menjadi benteng pertahanan Islam dan umatnya. Di negeri ini pula Isa bin Maryam as. turun ketika ia muncul di Damaskus di Menara Putih arah Timur di sana.”

Ibn Katsir pun menukil hadits dalam Shahîhain: Rasulullah saw. bersabda:

«ولا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ»

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas perintah Allah. Tidak membahayakan mereka siapapun yang mencela mereka, atau menyelisihinya, hingga tiba keputusan Allah dan mereka meraih kemenangan atas manusia (HR al-­Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahîh al-­Bukhârî, sebagaimana dinukilkan Ibn Katsir, mereka berada di Negeri Syam. Menariknya, hadis yang agung ini menurut Dr. Yusuf al-­Qardhawi dalam kitab Al-­Mubasysyirât bi Intishâr al-­Islâm (hlm. 138), sesuai dengan manthûq dalam firman-­Nya:

وَمِمَّنۡ خَلَقۡنَآ أُمَّةٞ يَهۡدُونَ بِٱلۡحَقِّ وَبِهِۦ يَعۡدِلُونَ  ١٨١

Di antara orang-­orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberikan petunjuk dengan haq. Dengan yang haq itu (pula) mereka menjalankan keadilan (QS al-­A’raf [7]: 181).

 

Demikian sebagaimana telah shahih hadis-­hadis yang mengabarkan fajar kebangkitan bagi Islam, ketinggian kalimatnya, tersebar luas dakwahnya dan meluas negaranya (Ibid, hlm. 139). Tak diragukan lagi bahwa Islam menjadi cahaya yang dibawa Rasulullah saw. diawali dengan kemenangan dan ditutup pula dengan kejayaan:


«طَلَعَ الْبَدْرُ عَلَيْنَا، مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَدَاعِ»

Telah terbit purnama di atas kita, dari Lembah Wada’.

«وَجَبَ الشُكرُ عَلَيْنَا، مَا دَعَا لِلهِ دَاعِ»

Wajiblah kita bersyukur atasnya, ketika seorang da’i menyeru (manusia) kepada Allah.

«أَيُّهَا الْمَبْعُوْثُ فِيْنَا، جِئْتَ بِالْأَمْرِ الْمُطَاعِ»

Duhai yang diutus kepada kami, engkau datang dengan perintah yang ditaati.

«جِئْتَ شَرَّفْتَ المَديْنَة مَرْحَبًا يَا خَيْرَ دَاع»

Engkau telah datang memuliakan kota ini, selamat datang wahai sebaik-­baiknya da’i.”

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I (Peneliti Balaghah al- Quran & Hadits Nabawiyyah)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + eighteen =

Back to top button