Nafsiyah

Jadilah Penolong Dakwah Rasulullah SAW

Risalah dakwah Rasulullah saw. adalah risalah agung. Rahmatnya melampaui dimensi ruang dan waktu. Tak terbatas untuk suatu kaum. Juga tak terbatas untuk suatu masa tertentu. Allah SWT menegaskan sifat risalah Rasulullah saw.:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ  ٢٨

Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak tahu (QS Saba’ [34]: 28).

 

Menafsirkan ayat ini, al-’Allamah al-Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H):

Tidaklah Kami mengutus engkau, wahai sebaik-baiknya makhluk, melainkan kepada seluruh umat manusia, yakni umumnya seluruh manusia, menghalangi manusia dari kekufuran, sebagai pemberi kabar gembira dengan Jannah bagi siapa saja yang beriman kepada Allah, dan pemberi peringatan dari siksa neraka bagi orang yang mengkufuri-Nya. “Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui,” yakni tidak mengetahui keumuman risalahnya dan kedudukannya sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan akibat kelalaian kebanyakan manusia tersebut, bukan karena kesamarannya.

Keagungan risalah Rasulullah saw. ini meniscayakan adanya para penerus risalah dakwahnya. Tak terbatas di masa tatkala risalah tersebut turun, melainkan hingga Allah menutup Islam dengan kemenangan melalui tangan hamba-hamba-Nya yang beriman, menjadi penolong dakwah Rasul-Nya saw.

 

Teladan Para Sahabat Rasulullah saw.

Allah SWT menggambarkan keadaan Rasulullah saw dan para penyokong dakwahnya:

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَيَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِينَ  ٦٢

Dialah yang memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum Mukmin (QS al-Anfal [8]: 62).

 

Al-‘Allamah Syaikh Ali al-Shabuni (w. 1442 H) menjelaskan dalam Shafwat at-Tafâsir (hlm. 477): “Maknanya: Dialah yang menolong kamu dengan pertolongan-Nya dan dengan kaum beriman.”

Istilah al-mu’minin dalam ayat ini berbentuk ism al-fâ’il. Ini menunjukkan keimanan melekat pada diri orang-orang tersebut. Para ulama tafsir menafsirkan bahwa al-mu’minin yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah kaum beriman dari kalangan kaum Aus dan Khazraj. Mereka menjadi kelompok dakwah yang solid dipersaudarakan Islam.

Al-‘Allamah al-Qadhi Taqiyuddin al-Nabhani (w. 1397 H) dalam Al-Dawlah Al-Islâmiyyah menjelaskan bahwa pada fase awal dakwah, Rasulullah saw. membentuk kelompok dakwah yang terdiri dari 40 orang, laki-laki dan perempuan, dengan ragam latar belakang dan usia. Kebanyakan adalah para pemuda belia. Ada juga yang lemah, kuat, kaya dan miskin.

Mereka semua berperan penting dalam dakwah. Status sosial dan ekonomi tidak menghalangi tekad mereka memperjuangkan tegaknya Islam. Bukan hanya dari kalangan para sahabat kibar (senior). Bahkan seluruh sahabat dengan ragam potensi yang mereka miliki adalah penyokong dakwah Rasulullah saw.

Dalam peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah, misalnya, tercatat nama besar Abu Bakar al-Shiddiq r.a. (lihat: QS at-Taubah [9]: 40). Ia berkorban di jalan-Nya membersamai perjuangan hijrah Rasulullah saw. Ada pula Amir bin Fuhairah ra. Dengan keberaniannya, ia mengerahkan segenap daya upayanya, menyokong perjalanan hijrah bersejarah tersebut. Amir menghapus jejak-jejak kaki Rasulullah saw. dan Abu Bakar r.a. Ia juga memasok makanan perbekalan. Ia bersenandung:

«لقد وجدت الموتَ قبلَ ذَوْقِهِ # إنَّ الجُبْنَ حَتْفُهُ مِن فوقِهِ»

Sungguh, aku telah menemukan kematian sebelum merasakannya Sungguh, rasa takut (sifat pengecut) adalah kematian yang datang dari atasnya sendiri

«كلُّ امرئٍ مُجاهِدٌ بِطَوْقِهِ # كالثَّورِ يَحْمِى جِلْدَهُ بِرُوقِهِ»

Setiap orang berjuang sesuai potensinya, bagaikan seekor banteng yang melindungi kulitnya dengan tanduknya

 

Menariknya, diriwayatkan bahwa ketika Amir bin Fuhairah r.a. syahid dalam peristiwa Bi’r Ma’unah, jenazahnya tak pernah ditemukan karena diangkat ke langit oleh para malaikat.

Ada pula Haram bin Milhan ra. Ia memproklamirkan kemenangannya di hadapan pembunuhnya, Jabbar bin Sulma, dengan sebuah tombak dalam jebakan musuh di Bi’r al-Ma’unah. Hal ini menjadi jalan bagi keislaman Jabbar bin Sulma itu sendiri. Ia berkata, “Sesungguhnya yang membawa aku pada agama Islam adalah ketika itu aku telah menusuk seorang laki-laki dengan tombak di antara kedua pundaknya. Aku melihat mata tombak yang menembus dadanya. Aku mendengar orang itu berucap, ‘Demi Rabb Ka’bah (Allah), aku telah beruntung!’ Aku bertanya dalam hati, apa yang membuat dia beruntung? Bukankah aku telah membunuh dia? Lalu aku bertanya kepada orang-orang mengenai perkataannya beberapa lama setelah peristiwa itu. Mereka menjawab, “Keberuntungannya adalah mati syahid.” Lalu aku berkata, “Demi Allah! Ia benar-benar beruntung!”

Keteladanan para Sahabat lahir dari keteladanan sang pembimbing (musyrif), yakni Rasulullah saw. Tentu beliau sangat relevan untuk diteladani oleh para pengemban dakwah. Salah satu pendidikan asasi Rasulullah saw. adalah mendidik dan membina para Sahabat agar konsisten, komitmen pada Islam, akidah dan syariahnya sedari awal memasuki Islam, tanpa menunda-nunda, tanpa kompromi, dan tanpa tapi.

Kisah keislaman Abdullah bin Salam dan para Sahabatnya dari Ahlul Kitab Yahudi yang diajari tentang totalitas dalam Islam adalah potret pembinaan Rasulullah saw. Allah SWT dalam QS al-Baqarah [2]: 208 memerintahkan mereka memasuki Islam secara kaffah (totalitas). Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr, menjelaskan bahwa Ibn ‘Abbas ra. berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Salam dan para sahabatnya. Ketika mereka beriman kepada Nabi saw., mereka tetap berpegang pada sebagian syariah Nabi Musa as., seperti mengagungkan Hari Sabtu dan membenci daging unta serta air susunya.”

Lalu kaum Muslim menegur mereka dan berkata, “Kami kuat untuk melakukan ini dan itu.” Kemudian mereka menyampaikan hal itu kepada Nabi saw. Lalu Allah menurunkan firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ  ٢٠٨

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).

 

Artinya, orang yang telah masuk Islam harus masuk sepenuhnya ke dalam Islam. Ia tidak boleh masih mengikuti syariah lain. Pasalnya, Islam telah menghapus syariah sebelumnya, sebagaimana firman Allah dalam QS al-Maidah [5]: 48.

 

Menjadi Penolong Dakwah Rasulullah saw.

Jadilah penolong dakwah Rasulullah saw. dalam rangka menegakkan Dîn-Nya:

فَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُواْ ٱلنُّورَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ  ١٥٧

Orang-orang yang mengimani. memuliakan dan menolong dia (Rasulullah saw.) serta mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepada dirinya (al-Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (QS al-A’raf [7]: 157).

 

Jadilah penolong dakwah Rasulullah saw. hingga kelak menjadi golongan di akhir zaman yang mendapati pujian beliau. Dari Abu Said al-Khudri ra.: Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw., apakah thûbâ (kebaikan) bagi orang yang menjumpai dirimu dan beriman kepada engkau?” Rasulullah saw bersabda:

«طُوبَى لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بِي وَطُوبَى، ثُمَّ طُوبَى لِمَنْ آمَنَ بِي وَلَمْ يَرَنِي»

Kebaikan bagi orang yang menjumpai diri­ku dan beriman kepadaku, dan kebaikan, kemudian kebaikan bagi orang yang beriman kepadaku, meskipun ia tidak pernah menjumpai diriku (HR Ibn Hibban).

 

Rasulullah saw. pun bersabda:

«ولا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ»

Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas perintah Allah. Tidak membahayakan mereka siapapun yang mencela mereka, atau menyelisihi mereka, hingga tiba keputusan Allah dan mereka meraih kemenangan atas manusia (HR Muttafaqun ’alayhi).

 

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I; (Peneliti Balaghah al- Quran & Hadits Nabawiyyah)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × four =

Back to top button