Nafsiyah

Rajab: Spirit Perjuangan Mengembalikan Khilafah

Tanggal 27 Rajab 1342 H (3 Maret 1924 M) menjadi momentum menyedihkan bagi umat Islam. Saat itu dunia menyaksikan keruntuhan Khilafah Islam setelah berdiri tegak selama belasan abad. Momentum ini disaksikan oleh penyair Ahmad Syauqi yang bersenandung:

ضَجَّتْ عليكِ مآذنٌ ومنابرٌ / وبَكتْ عليكِ ممالكٌ ونواحِ

Menara-menara dan mimbar-mimbar masjid seakan merintih dalam duka karenamu / Negeri­negeri menangisimu dan meratap dalam pilu

الهندُ والهةٌ ومصرُ حزينة / تَبْكي عليكِ بمَدمَعٍ سَحّاحِ

India sendu, Mesir berduka / Air matanya mengalir tanpa henti

والشّامُ تسْألُ والعِراقُ وفَارسٌ / أَمَحَا من الأرضِ الخلافةَ ماحِ؟

Syam bertanya-tanya, Irak dan Persia pun terperanjat / Benarkah sang penghapus telah menghapus Khilafah dari hamparan bumi ini?

 

Berkaitan dengan keruntuhan Khilafah yang dicintai kaum Muslim, yang dirasakan kebaikannya selama belasan abad, Al-Imam Ibn al-Mubarak juga bertutur dalam syairnya:

إن الجماعة حبل الله فاعتصموا / بعروته الوثقى لمن دانا

Sungguh Jamaah adalah tali Allah maka pegang teguhlah / Tali yang amat kuat bagi siapa yang beragama

كم يدفع الله بالسلطان مظلمة / في ديننا رحمة منه ودنيانا

Betapa banyak Allah menghalau kezaliman dengan perantara penguasa / Dalam agama dan kehidupan kita sebagai rahmat-Nya

لولا الخليفة لم تأمن لنا سبل / وكان أضعفنا نهبًا لأقوانا

Anda Khalifah tiada maka tak kan aman jalan-jalan bagi kita / Orang yang paling lemah pun terinjak oleh orang yang paling kuat di antara kita

 

Isyarat Kehancuran Khilafah: Fitnah Akhir Zaman

Bukan tanpa peringatan, sirnanya Khilafah, jauh-jauh hari bahkan telah diperingatkan oleh Rasulullah saw.:

«لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ، وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ»

Sungguh ikatan-ikatan Islam benar-benar akan terburai satu-persatu. Setiap kali satu ikatan terburai, orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah al-hukm (pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat (HR Ahmad, Ibn Hibban dan al-Hakim).

 

Rasulullah saw. menyampaikan peringatannya dengan dua penegasan (al-khabar al-inkari): (1) lam penanda jawab sumpah (jawab al-qasam) dan (2) nun at-tawkid ats-tsaqilah, yang bahkan diringkas tanpa ungkapan sumpah ”walLâhi” (al-ijaz bi hadzf al-qasam). Beliau langsung pada inti kalimat (jawab al-qasam). Seakan-akan tidak ada waktu lagi alias sangat mendesak, bahwa umat harus segera diperingatkan dengan bahaya berupa akan terburainya ikatan-ikatan Islam. Yang pertama kali terburai adalah urusan pemerintahan (al-hukm) dan yang terakhir urusan shalat (ash-shalat).

Rasulullah saw. pun mengabarkan bahwa hal itu kelak terjadi pada masa mendatang (mustaqbal az-zaman). Hal ini ditunjukkan oleh huruf nûn al-tawkîd al-tsaqîlah. Terbukti, Khilafah runtuh pada era ’Utsmaniyah, yakni pada 1342 H. Artinya, itu terjadi setelah lebih dari 1300 tahun hijrah sejak hadis ini diucapkan Rasulullah saw.

Pertanyaannya, siapa yang menghancurkan ikatan-ikatan Islam tersebut? Kata kerja tunqa­dhu sebagai kata kerja pasif (mabnî li al-majhûl), menunjukkan bahwa Rasulullah saw tidak spesifik menyebut siapa yang menghancurkan ikatan-ikatan Islam. Pasalnya, keruntuhan sistem pemerintahan Islam tidak terjadi secara instan dan melibatkan banyak pihak. Kehancuran Khilafah ’Utsmaniyah adalah cita-cita imperialis Barat, terutama Inggris, yang didukung oleh anteknya dari kaum sekularis, Kemal Attaturk dan para pendukungnya yang kagum pada pemikiran-pemikiran rusak Barat, secularism dan nationalism. Islam ditanggalkan dan umatnya dipecah-belah dalam sekat-sekat nation states.

Keruntuhan Khilafah ’Utsmaniyah yang berpusat di Istanbul pada tahun 1924 M mengubah wajah Turki menjadi negara sekuler. Ini merupakan mimpi kaum kuffâr Barat sejak seratusan tahun lamanya. Lalu tak lama setelah Khilafah sirna, manusia memasuki babak baru kehidupan yang sangat buruk di bawah asuhan jahat Komunisme, lalu Kapitalisme, yang belum lama era ini menapaki usia satu abad. Kedua ideologi ini sudah mengorbankan banyak umat manusia dan merusak alam dengan ketamakannya. Ketamakannya bahkan telah dipertontonkan sejak awal kemunculan keduanya di panggung dunia dalam Perang Dunia II. Ini mengisyaratkan kebenaran era yang disebut oleh Rasulullah saw. sebagai era mulk[an] jabriyyat[an] (HR Ahmad dan al-Bazzar). Era ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan, Rasulullah saw. bersabda:

«لَا تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَمْتَلِيءَ الأَرْضُ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا»

Tidaklah terjadi Hari Kiamat, kecuali setelah bumi ini dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan (HR Ibn Hibban, Ahmad dan al-Hakim).

 

Lafal zhulm[an] dan ‘udwan[an] dalam bentuk ism nakirah menunjukkan keluasan cakupan kezaliman dan permusuhan yang terjadi. Kejadiannya memenuhi muka bumi. Hal ini mengisyaratkan bahwa itu semua terjadi secara sistemik, tumbuh subur di tangan para rezim jahat. Tentu karena kejahatan dan keburukan di tangan orang yang memegang kekuasaan berdampak kepada masyarakat luas, massif dan sistemik.

 

Rajab: Isyarat Kemenangan Dakwah

Akan tetapi, pada Bulan Rajab, Rasulullah saw. mendapati isyarat kemenangan dan kepemimpinan atas umat manusia dalam peristiwa agung al-Isra’ wa al-Mi’raj. Peristiwa besar ini terjadi setahun sebelum hijrah yang menjadi momentum tegaknya Daulah Islamiyah di Al-Madînah al-Munawwarah. Allah SWT berfirman:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ  ١

Mahasuci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepada dia sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS al-Isra’ [17]: 1).

 

Peristiwa agung al-Isrâ’ wa al-Mi’râj ini mengandung isyarat kemenangan, Prof Dr Muhammad Rawwas Qal’ah Ji menuturkan seakan-akan Allah SWT berkata: “Wahai Muhammad, jika bumi telah menghimpit kamu maka langit terbuka lebar untuk dirimu. Jika penduduk Bumi memusuhi kamu maka penduduk langit menyambut dirimu. Jika penduduk Bumi mengabaikan kamu maka kedudukanmu agung di sisi Allah (Yang Maha Agung).”

Nyatanya dakwah Rasulullah saw. tidak melemah karena wafatnya dua penyokong utama dakwah: Sayidah Khadijah ra. dan Abu Thalib, tidak pula karena penolakan Bani Tsaqif di Tha’if yang memilih jalan sukar kekufuran. Bukti nyata Kemahakuasaan Allah, kesulitan yang dihadapi di jalan dakwah itu disertai dengan ragam kemudahan yang menghantarkan pada kemenangan dakwah. Sebabnya, pada hakikatnya suatu kesulitan senantiasa disertai dengan ragam kemudahan. Mahabenar Allah Yang berfirman:

فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا  ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا  ٦

Sungguh bersama suatu kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama suatu kesulitan ada kemudahan (QS al-Insyirah [94]: 5-6).

 

Syaikh ‘Atha bin Khalil Abu al-Rasytah dalam Al-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 91) menjelaskan ayat ini, bahkan menuturkan, bahwa satu kesulitan tak akan mampu menundukkan dua kemudahan sekaligus. Setelah datang kesulitan yang menghadang laju dakwah Rasulullah saw., Allah menurunkan pertolongan-Nya dengan tegaknya Daulah Islamiyah di Madinah, yang juga menjadi pengabulan doa Rasulullah saw: sulthân[an] nashîr[an]. Ia menjadi titik tolak penyebaran dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hingga detik ini, Khilafah terhapuskan dalam peta dunia, tetapi tak akan pernah sirna dari lembaran sejarah peradaban umat manusia. Khilafah tak akan redup dalam dada para pengembannya dan tak kan senyap dari lisan para pejuangnya. Jika khilafah pernah ada, lalu sirna, maka Khilafah pun akan tegak kembali, berdiri kokoh. Hal ini telah dipastikan oleh Ash-Shâdiq al-Mashdûq Rasulullah saw. dalam hadis-hadis bisyârah Kekhilafahan, bisyârah era kepemimpinan Imam al-Mahdi, berlanjut masa kepemimpinan Isa bin Maryam a.s:

«ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ»

…Selanjutnya akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian (HR Ahmad, al-Bazzar).

 

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × 3 =

Back to top button