
Haji Tercemar Korupsi: Belajar dari Quraisy Jahiliah
Haji adalah ibadah agung. Setiap Muslim yang menunaikan ibadah haji berharap pulang dalam keadaan bersih, seperti bayi yang baru lahir. Namun, berita dugaan korupsi kuota haji yang merugikan lebih dari Rp 1 triliun dan legalisasi talangan haji berbasis riba sungguh mencoreng kesucian ibadah ini. Ironis, ibadah yang semestinya menjadi puncak keshalihan justru dinodai kerakusan duniawi.
Sejarah mencatat, kaum Quraisy pernah merenovasi Ka’bah sebelum Nabi Muhammad saw. diutus. Mereka sepakat hanya memakai dana halal. Harta dari riba, zina atau kezaliman ditolak. Karena dana kurang, sebagian pondasi Ka’bah—Hijr Ismail—tidak ditutup. Namun, prinsip mereka jelas: lebih baik bangunan sederhana daripada ternoda oleh harta haram. Inilah pelajaran berharga: bahkan Quraisy jahiliah menjaga kehormatan rumah Allah.
Allah SWT berfirman (yang artinya): Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa di antara kalian yang paling baik amalnya (TQS al-Mulk [67]: 2).
Imam Fudhail bin ‘Iyadh menafsirkan: amal terbaik adalah yang ikhlas dan benar. Ikhlas berarti karena Allah. Benar berarti sesuai dengan Sunnah Rasulullah. Pada zaman kini, kita perlu menambahkan syarat ketiga: halal. Bagaimana amal bisa menjadi ahsanu ‘amala jika tumbuh dari korupsi dan riba?
Allah SWT pun mengingatkan (yang artinya): “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS al-Isra’ [17]: 36).
Setiap rupiah yang dikorupsi, setiap akad ribawi yang dipaksakan dalam ibadah, akan menjadi saksi di hadapan Allah. Amal besar seperti haji pun bisa tercemar jika fondasinya kotor.
Hari ini, ironi itu nyata. Quraisy jahiliah menolak dana haram, sementara ada orang-orang dari umat Islam rela mengorupsi haji dan menjerat jamaah dengan talangan ribawi. Apakah kita tidak malu?
Pertanyaan penting muncul: sudahkah amal kita ikhlas, benar, dan halal? Tanpa tiga syarat ini, haji hanya meninggalkan catatan hitam, bukan jalan menuju ridha Allah. [Maman Abdullah; Magister Manajemen, Pengasuh Pondok Pesantren Tahfizh al-Quran di Garut]





