Pengantar

Pengantar [Jabatan dan Kekuasaan dalam Islam]

Assalâmu ’alaykum wa rahmatulLâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, kerusakan para pejabat di negeri ini semakin nyata. Gaji dan tunjangan mereka sangat besar. Fasilitas melimpah. Namun, korupsi tetap merajalela. Alih-alih berpihak kepada rakyat, kebijakan mereka lebih sering memanjakan oligarki. Inilah watak asli sistem demokrasi sekuler yang melahirkan pejabat rakus. Bukan negarawan amanah.

Padahal dalam pandangan Islam penguasa adalah râ’in (penggembala). Mereka wajib memelihara urusan rakyat dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Jabatan bukanlah sarana memperkaya diri, tetapi amanah berat yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat.

Meneladani penguasa dalam Islam berarti mencontoh kepemimpinan Rasulullah SAW yang adil, bijaksana dan senantiasa menegakkan hukum Allah SWT tanpa pandang bulu. Begitu pula Khulafaur Rasyidin setelah beliau yang menganggap kekuasaan sebagai beban amanah, bukan sumber keuntungan pribadi. Islam memandang kekuasaan sebagai wasilah (sarana) untuk menegakkan syariah secara menyeluruh demi mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Kekuasaan adalah instrumen mulia untuk menjaga agama sekaligus mengatur dunia dengan keadilan.

Di tengah arus sekularisme yang menjadikan kekuasaan hanya alat kekayaan dan kepentingan politik, seruan untuk memahami kedudukan penguasa dan pejabat dalam Islam adalah panggilan iman. Bukan sekadar retorika. Ini adalah wujud komitmen menegakkan syariah sebagai satu-satunya sumber aturan dalam pengelolaan negara.

Al-Wa’ie edisi kali ini mengajak pembaca menelaah kembali hakikat pejabat dan penguasa dalam Islam: bahwa mereka wajib mengurusi rakyat, bukan memperalat rakyat; bahwa mereka wajib menegakkan hukum Allah, bukan menjadi budak kepentingan asing.

Itulah antara lain yang dibahas dalam tema utama al-Wa’ie edisi kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Semoga semua informasi yang disajikan dalam al-Wa’ie edisi kali ini menjadi bahan renungan sekaligus inspirasi bagi kaum Muslim untuk memahami urgensi kepemimpinan Islam yang amanah dan menolak segala bentuk penyimpangan pejabat dalam sistem sekuler. Dengan demikian, pembahasan tentang kedudukan penguasa dan pejabat dalam Islam ini akan semakin menguatkan kesadaran kita untuk memperjuangkan tegaknya syariah dan Khilafah Islam. Selamat membaca!

Wassalâmu ’alaykum wa rahmatulLâhi wa barakâtuh. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =

Back to top button