
Orang yang Takut Kepada Allah SWT
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah, sedangkan Dia tidak kelihatan (oleh dirinya) dan dia datang dengan hati yang bertobat. (QS Qaf [50]: 33).
Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman:
(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah, sedangkan Dia tidak kelihatan (oleh dirinya).
Kata « مَنْ » di sini merupakan ism al-mawshûl (kata ganti penghubung). Dalam konteks ayat ini, terdapat beberapa pendapat tentang kedudukannya. Ada yang mengatakan badal (kata ganti penjelas) atau ‘athf al-bayân (penjelas tambahan) terhadap kata yang disebutkan dalam ayat sebelumnya: « لِكُلِّ أَوّابٍ » (setiap yang banyak bertobat)1. Dengan demikian artinya: “Orang yang selalu bertobat dan menjaga diri dari dosa-dosa adalah orang yang takut kepada Ar-Rahman.”
Adapun kata « الْخَشْيَةُ » bermakna « الْخَوْفِ » (perasaan takut)2. Meskipun menurut ahli bahasa keduanya sama maknanya, menurut Fakhruddin ar-Razi, keduanya terdapat perbedaan. Menurut beliau, kata « الْخَشْيَةُ » (rasa takut) timbul dari « عَظَمَةِ الْمَخْشِيِّ » (keagungan yang ditakuti). Hal ini karena susunan huruf-huruf « خ، ش، ي » dalam berbagai bentuk turunannya mengandung makna « لْهَيْبَةِ » (kewibawaan yang disertai kekaguman dan penghormatan). Dikatakan: « شَيْخٌ » untuk menyebut as-sayyid (pemimpin) atau orang yang sudah tua. Mereka semua adalah orang yang memiliki wibawa.
Adapun « الْخَوْفِ » adalah khasyyah (rasa takut) yang timbul dari kelemahan orang yang takut al-khâsyi (orang yang takut). Hal ini karena susunan huruf-huruf « خ، و، ف » dalam berbagai bentuk turunannya yang menunjukkan makna adh-dha’f (kelemahan). Ini ditunjukkan oleh kata « الْخِيفَةُ » (rasa takut) dan « الْخُفْيَةُ » (secara rahasia, tersembunyi)3.
Menurut Fakhruddin ar-Razi, kata al-khasyyah disebutkan dalam banyak ayat yang menunjukkan rasa takut yang muncul karena keagungan Zat yang ditakuti, seperti dalam firman-Nya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (QS Fathir [35]: 28).
Juga dalam firman-Nya:
Sekiranya Kami menurunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihat gunung itu tunduk dan terpecah-belah disebabkan ketakutannya kepada Allah (QS al-Hasyr [59]: 21).
Menurut Fakhruddin ar-Razi, gunung tidak memiliki kelemahan yang membuat dirinya menjadi al-khawf (rasa takut) karena kelemahannya. Akan tetapi, Allah itu Mahagung sehingga semua yang kuat pun takut kepada Diri-Nya « يَخْشَاهُ ».4
Ini berbeda dengan kata al-khawf yang digunakan untuk menunjukkan rasa takut yang disebabkan karena kelemahan yang terdapat pada dirinya. Allah SWT berfirman:
Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih (QS al-‘Ankabut [29]: 33).
Artinya, janganlah kamu takut karena kelemahan (dalam dirimu), karena sesungguhnya mereka tidak memiliki keagungan (yang patut ditakuti seperti itu)5.
Demikian juga dalam firman-Nya:
Karena itu aku takut mereka akan membunuh diriku (QS al-Qashash [28]: 33).
Ini karena ia (Musa)6 sendirian dan dalam keadaan lemah.
Dari berbagai ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa kata al-khasyyah digunakan untuk menunjukkan al-khawf (rasa takut) yang disebabkan oleh keagungan yang ditakuti. Adapun kata al-khawf digunakan untuk menyatakan al-khasyyah (rasa takut) yang disebabkan oleh kelemahan orang yang takut. Hal ini berlaku dalam kebanyakan, meskipun terkadang klaim ini tidak berlaku pada sebagian penggunaan, tetapi banyaknya contoh yang sesuai sudah mencukupi.7
Penjelasan lain dikemukakan Ibnu ‘Asyur. Menurut beliau, al-khasyah digunakan untuk menyebut pengaruhnya, yakni ketaatan8. Al-Khazin juga mengatakan bahwa maknanya adalah takut kepada Ar-Rahmân, lalu menaati Dia meskipun dia tidak melihat-Nya.9
Dalam ayat ini digunakan kata Ar-Rahmân (Yang Maha Pengasih). Bukan lafzh al-Jalâlah Allah SWT. Menurut al-Baidhawi, ini untuk memberikan isyarat bahwa mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada azab-Nya, atau karena mereka merasa takut disertai dengan pengetahuan tentang keluasan rahmat-Nya.10
Menurut Ibnu ‘Asyur, pemilihan Nama-Nya, Ar-Rahmân, dalam ayat ini, bukan ism al-Jalâlalah (nama keagungan, Allah) adalah untuk mengisyaratkan bahwa orang yang bertakwa ini takut kepada Allah. Padahal ia mengetahui bahwa Dia adalah Ar-Rahmân (Maha Pemurah). Hal ini bertujuan untuk menyindir kaum musyrik yang mengingkari Nama-Nya, Ar-Rahmân. Allah SWT berfirman:
Jika dikatakan kepada mereka, “Sujudlah kepada yang Maha Pengasih,” mereka menjawab, “Siapakah yang Maha Pengasih itu?” (QS al-Furqan [25]: 60).11
Sisi menarik lainnya juga diungkapkan oleh Fakhruddin al-Razi. Dalam ayat ini disebutkan bahwa orang yang takut kepada « الرَّحْمنَ » (Zat yang Maha Pengasih), sedangkan sifat « الرَّحْمَةِ » (kasih sayang) biasanya bertolak belakang dengan al-khasyyah (rasa takut). Ini memberikan isyarat untuk memuji al-muttaqîy (orang yang bertakwa), karena ar-rahmah (sifat kasih Allah) tidak menghalangi dirinya dari al-khawf (merasa takut) yang disebabkan oleh al-‘azhamah (keagungan-Nya).12
Adapun terkait al-jarr wal-majrûr « بِالْغَيْبِ », terdapat perbedaan pendapat berhubungan dengan apa. Sebagian mufassir menyatakan bahwa itu berhubungan dengan al-hâl (keadaan) dari al-fâ’il, yakni orang yang takut terhadap Ar-Rahmân.13 Itu berarti, orang tersebut tersebut tetap takut kepada Allah SWT sekalipun dia dalam keadaan ghayb, yaitu keadaan ketika tidak ada seorang pun yang melihat dirinya. Sesungguhnya al-khasyyah (rasa takut) dalam keadaan tersebut menunjukkan benarnya ketaatan kepada Allah, karena ia tidak mengharap pujian siapa pun dan tidak takut hukuman siapa pun.14
Al-Dhahhak dan as-Suddi berkata, “Maksudnya adalah dalam kesendirian tanpa terlihat orang lain.” Al-Hasan berkata, “Maksudnya adalah apabila dia menurunkan tirai dan menutup pintu.”15
Menurut Ibnu Katsir, maksud ayat tersebut adalah orang yang takut kepada Allah SWT dalam kesendiriannya meskipun tiada orang yang melihat dia selain Allah SWT. Ini seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw. tentang tujuh golongan yang mendapatkan naungan-Nya pada Hari Kiamat:
Seorang lelaki yang berzikir kepada Allah sendirian, lalu menangis mengeluarkan air matanya (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Sebagian lainnya memahami bahwa bi al-ghayb itu berkaitan dengan kata Ar-Rahmân (Yang Maha Pemurah). Dengan demikian ayat tersebut bermakna: dia takut kepada Allah SWT meskipun dia tidak melihat Dia).16
Abu Bakar al-Jazairi berkata, “Dia adalah orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pengasih dalam keadaan gaib, yaitu ketika dia tidak melihat Dia, dan dia tidak mendurhakai Diri-Nya dengan meninggalkan kewajiban maupun melakukan keharaman.”17
Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, mereka adalah orang-orang yang takut kepada Allah SWT ketika di dunia sebelum mereka bertemu langsung dengan Allah SWT di akhirat nanti. Maka dari itu, mereka menaati Allah SWT dan mengikuti segala perintah-Nya.18
Wahbah az-Zuhaili menggabungkan kedua makna tersebut. Ia berkata, “Orang yang senantiasa menjaga batasan-batasan Allah dengan tidak mendekati Batasan tersebut adalah orang yang takut kepada Dia, padahal dia tidak melihat Dia. Dia pun takut kepada Allah SWT ketika sendirian, padahal tidak ada seorang pun yang melihat kecuali Dia.”19
Kemudian Allah SWT berfirman:
Dia datang dengan hati yang bertobat.
Ini melanjutkan tentang keadaan awwâb hafîzh. Diberitakan bahwa mereka datang kepada Allah SWT dengan hati yang bertobat. Disebutkan: « بِقَلْبٍ مُنِيبٍ ». Huruf al-bâ‘ pada kata « بِقَلْبٍ » bisa bermakna at-ta’diyyah, yakni membuat kata sesudahnya menjadi maf’ûl bih. Dengan demikian maknanya: menghadirkan hati yang selamat. Ini sebagaimana pada kalimat: « ذَهَبَ بِهِ » berarti « أَذْهَبَهُ » (membuat ia pergi, menghilangkannya).20
Kata itu bisa juga bermakna al-mushâhabah (beserta, bersama). Makna ini seperti dalam kalimat: « اشْتَرَى فُلَانٌ الْفَرَسَ بِسَرْجِهِ », yang berarti: « مَعَ سَرْجِهِ » (Si Fulan membeli kuda beserta pelananya). Juga seperti dalam kalimat: « فُلَانٌ بِأَهْلِهِ », maknanya adalah: [ مَعَ أَهْلِهِ ] (Si Fulan datang bersama keluarganya).21
Makna ini juga dipilih oleh Ibnu Asyur. Menurut Ibnu Asyur makna ayat ini: Dia datang pada Hari Kiamat disertai oleh hatinya yang kembali kepada Allah. Artinya, ia mati dalam keadaan memiliki sifat inâbah (kembali, bertobat kepada Allah) dan tidak merusak amal salihnya di akhir umurnya. Ini seperti firman-Nya yang menceritakan tentang Ibrahim. Disebutkan:
Pada hari Ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat (QS asy-Syu’ara [26]: 88-89).22
Kemungkinan lainnya, huruf al-bâ bermakna li as-sabab (untuk menunjukkan sebab). Dikatakan: « مَا أَخَذَ فُلَانٌ إِلَّا بِقَوْلِ فُلَانٍ » (Si Fulan tidak mengambil [sesuatu] kecuali karena perkataan Si Fulan). Juga dalam perkataan: « وَجَاءَ بِالرَّجَاءِ لَهُ » (Dia datang karena adanya harapan untuknya). Seakan-akan Allah SWT berfirman: “Ia datang dan ia tidak datang kecuali karena adanya sebab inâbah (kembali, bertobat) dalam hatinya; ia mengetahui bahwa tidak ada tempat kembali kecuali kepada Allah.” Dengan demikian ia datang karena sebab hatinya yang munîb (yang kembali, bertobat).23
Makna [ الْقَلْبُ الْمُنِيب ] menurut Fakhruddin ar-Razi, seperti halnya kata [ الْقَلْبِ السَّلِيمِ ] yang disebutkan dalam firman-Nya:
(lngatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan membawa hati yang suci (QS ash-Shaffat [37]: 84).
Artinya, selamat dari syirik. Siapa saja yang selamat dari syirik, maka dia akan meninggalkan selain Allah SWT dan kembali kepada Diri-Nya sehingga menjadi munîb (orang yang kembali). Siapa saja yang kembali kepada Allah SWT, maka dia terbebas dari syirik sehingga menjadi orang yang selamat.24
Menurut Ibnu Katsir, makna ayat ini adalah orang yang berjumpa dengan Allah SWT pada Hari Kiamat nanti dengan hati yang bersih, bertobat dan tunduk patuh di hadapan-Nya.25
Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, maknanya adalah orang yang takut kepada Allah itu lalu datang kepada Allah dengan hati yang bertobat dari segala dosanya dan dia ingin berpaling dari perkara yang tidak Allah SWT sukai pada perkara yang Dia ridhai.26
Asy-Syaukani menafsirkan: “Dia kembali kepada Allah SWT dalam keadaan ikhlas untuk menaati Diri-Nya.”27
Al-Jaziri berkata, “Dia menghadap Tuhannya dalam keadaan taat, mengingat Dia sehingga tidak melupakan Diri-Nya, dan selalu menaati Dia sehingga tidak bermaksiat kepada Diri-Nya.”28
Demikianlah. Ayat ini menggambarkan hubungan sangat erat antara takwa dan takut kepada Allah SWT. Ini bisa dipahami ketika Allah SWT mengabarkan bahwa surga telah didekatkan kepada al-muttaqîn (orang-orang yang bertakwa).
WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Catatan kaki:
- Al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 471; Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 26 (Tunis: Dar al-Tunisiyyah, 1984), 319; al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 92; al-Qinuji, Fat-h al-Bayân fî Maqâshid al-Qurân, vol. 13 (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1992), 178
- Lihat Zainuddin al-Razi, Mukhâr al-Shihhâh (Beirut; al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1999), 91; al-Fayumi, al-Mishbâh al-Munîr fî GHarîb al-Syarh al-Kabîr, 1 (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, t), 170
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 146
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28, 146
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28, 147
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28, 146
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28, 147
- Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
- Al-Khazin, Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, 4, 190
- Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5, 143
- Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
- Al-Razi, Mafâtih al-Ghayb, 28, 146
- Al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27, 469
- Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
- Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 149
- Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 92
- Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 149
- Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 365
- Al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Muniîr, 26, 307
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 147
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 147
- Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 320
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 147
- Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127, 147
- Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 406
- Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 366
- Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5, 92
- Al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 149


