
Solusi Dua Negara Mustahil Mengakhiri Penderitaan Keluarga Palestina
“Indonesia sekali lagi menegaskan kembali komitmennya terhadap solusi dua negara dalam penyelesaian masalah Palestina. Hanya solusi dua negara inilah yang akan membawa perdamaian.”
(Pidato Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB, Senin, 22 September 2025)
Presiden Prabowo sebagai pemimpin Muslim gagal paham terhadap akar masalah penderitaan perempuan dan anak-anak Palestina khususnya Gaza. Perempuan dan anak-anak Gaza adalah korban penjajahan Zionis Israel. Namun, mereka tetap bertahan. Alasan mereka bertahan di tanah suci Palestina adalah untuk menjaga kehormatan Allah dan Rasul-Nya di Baitul Maqdis, termasuk di tanah Ribâth, Gaza. Mereka tidak pernah lupa akan status mulia dan kehormatan umat Muhammad saw. dan pesan mereka untuk persatuan umat. Inilah yang membuat mereka rela menanggung derita yang luar biasa. Bagi Muslimah Gaza, lebih ringan mati kelaparan atau karena wabah penyakit daripada harus menyerahkan diri kepada entitas Zionis sebagai hadiah di piring pengkhianatan.
Sungguh perempuan Palestina telah mengalami penderitaan lebih dari 80 tahun lamanya. Derita ini pun nyata dimulai sejak sistem sekularisme-kapitalisme menjadi penggawa atas kaum Muslim. Ditandai sejak Perjanjian Balfour yang dikeluarkan oleh Inggris yang menjadi cikal bakal invasi Israel ke Palestina. Perjanjian Balfour dipandang menjadi salah satu peristiwa yang mempercepat terjadinya peristiwa Nakba, yakni pembersihan kaum Muslim Palestina pada tahun 1948 dan penjajahan yang dilakukan oleh Zionis.
Saat itu, kelompok Zionis yang dilatih oleh Inggris, mengusir 750.000 lebih Muslim Palestina dari tanah airnya secara paksa. Kaum perempuan Palestina pun menjadi korban dalam pengusiran ini.
PBB: Israel Sengaja Targetkan Perempuan dan Anak-Anak
Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan terhadap Perempuan Reem Alsalem menyatakan militer Israel sengaja menargetkan perempuan dan anak-anak di Jalur Gaza. Kendati menyerang anak-anak secara umum, Alsalem menyebut Israel secara sengaja mengincar wanita dan anak perempuan yang memiliki kapasitas reproduksi.
Dalam laporan yang dirilis Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB (OHCHR), Alsalem menemukan 67 persen dari 57.680 korban Israel per 9 Juli 2025 adalah perempuan. Israel menyadari bahwa wanita dan anak perempuan Palestina membawa janji keberlanjutan hidup Palestina. Karena itu mereka dengan sengaja dibunuh dan dimusnahkan.
Hal ini ditunjukkan tidak hanya dengan serangan militer yang menargetkan perempuan. Alsalem menyebut kebijakan militer Israel yang melarang susu formula masuk Gaza. Mirip taktik Nazi Jerman saat pengepungan Stalingrad pada Perang Dunia Kedua. “Kami melihat ini melalui meningkatnya angka keguguran di antara perempuan Palestina. Malanutrisi akut. Bahkan ibu hamil dan ibu menyusui tidak lagi mampu menyusui,” katanya.
Satu juta perempuan dan anak perempuan menghadapi kelaparan massal, kekerasan dan pelecehan di Gaza. Demikian disampaikan Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah (UNRWA) pada Sabtu (16/8) di platform media sosial X.
Banyak fasilitas kesehatan yang hancur. Distribusi pangan terganggu. Tempat-tempat perlindungan yang seharusnya aman untuk perempuan kini tak lagi tersedia. Hingga kini, tercatat lebih dari 28.000 perempuan dan anak perempuan Gaza kehilangan nyawa dalam konflik kemanusiaan tersebut.
Dua Negara Bukan Solusi
Aktivis Muslimah Asma Siddiq menilai, solusi dua negara adalah ilusi. Ia menyampaikan, gagasan tersebut seolah-olah tongkat ajaib yang dapat menghapus puluhan tahun ketidakadilan, perampasan tanah, pembantaian massal, pemenjaraan dan pembersihan etnis warga Palestina oleh pendudukan Yahudi. Solusi ini tidak akan mengakhiri kejahatan berat Zionis Yahudi yang berkelanjutan terhadap Palestina. Solusi ini juga tidak akan menghentikan tujuan ekspansionisnya untuk menciptakan “Israel Raya” dan menguasai seluruh Tanah Suci.
Bahkan PM Netanyahu, secara terang-terangan menolak gagasan tersebut. Dalam pidatonya di Sidang PBB akhir September 2025, dia menegaskan tidak akan berhenti sebelum Gaza dikuasai oleh Israel dan menyebut ide negara Palestina sebagai “sheer madness” (kegilaan murni). Dia bahkan mengibaratkan kemerdekaan Palestina di Jerusalem sama dengan memberi al-Qaeda sebuah negara di dekat New York.
Bukan hanya Gaza, di Tepi Barat, Israel juga semakin agresif. Pada 1 September 2025, taman kanak-kanak diresmikan di Homesh, permukiman ilegal yang sudah ditinggalkan sejak penarikan Israel dari Gaza pada 2005. Laporan The Times of Israel menyebut langkah ini sebagai upaya melegitimasi kembali permukiman yang dianggap ilegal oleh banyak negara. Warga Yahudi di sana bermain di bawah langit Samaria, menggambar bintang Daud, seolah menegaskan permukiman itu adalah “penebusan janji historis.”
Semua langkah ini memperlihatkan dengan jelas, Israel tidak berniat memberi ruang merdeka yang sejajar bagi Palestina. Sebaliknya, mereka terus memperluas kontrol tanpa perlu dialog. Karena itu, solusi dua negara mustahil mengakhiri penderitaan perempuan dan anak Palestina. Narasi ini yang sengaja dipelihara agar para pemimpin dunia bisa lepas tangan dari kewajiban utama mereka: menghapus segala bentuk penjajahan. Bagaimana mungkin penderitaan bisa berakhir jika masih bercokolnya penjajahan?
Andai solusi dua negara terjadi, kemudian Palestina menjadi sebuah negara, maka akan menjadi negara tanpa kedaulatan sejati; tanpa wilayah yang koheren; tanpa kelayakan ekonomi; tanpa kendali atas perbatasan, perairan dan wilayah udaranya; serta tanpa militer untuk mempertahankan negaranya dari musuh-musuhnya. Palestina nanti akan dikelilingi oleh entitas pendudukan kriminal yang telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka tidak peduli dengan hukum atau perjanjian internasional, norma moral, atau kedaulatan negara mana pun.
Menerima solusi dua negara berarti menerima negara Palestina yang berdiri di atas 20% atau kurang dari Tanah Suci. Ini berarti menerima perampasan tanah Palestina oleh penjajah pembersihan etnis dan penggusuran massal penduduk Palestina dari rumah mereka, penggunaan teror, pembantaian, pemenjaraan, penggusuran rumah untuk memperluas perampasan tanahnya, dan hak bagi pendudukan kriminal untuk eksis melalui pengakuan batas-batas permanen. Sungguh ini adalah pengkhianatan terhadap pengorbanan perempuan dan anak-anak Palestina.
Butuh Pemimpin Pemberani
Ketika seorang Anak Gaza ditanya seorang Jurnalis: Apakah kalian takut? (dengan kondisi peperangan yang ada). “Tidak. Kami tidak takut. Kami hanya takut kepada Allah.” Begitulah jawaban lantang seorang anak Gaza dalam video yang beredar. Termasuk ketika seorang anak perempuan menemukan rumahnya hancur berkeping-keping dan harus mengungsi, bukan mainan yang dia bawa, melainkan tertenteng sebuah bantal dan mushaf al-Quran dia dekap.
Jawaban anak-anak ini adalah indikasi bahwa yang bisa mengakhiri penderitaan mereka hanya kembalinya tanah dan hidup mereka atas dasar wahyu Allah. Tentu yang bisa mewujudkan itu hanyalah pemimpin yang memahami wahyu Allah adalah jalan untuk menyelamatkan kehidupan manusia. Bukan jalan yang lahir dari sistem demokrasi-sekuler yang penuh dengan pengkhianatan dan kemunafikan.
Perempuan dan anak Gaza butuh sosok Shalahuddin al-Ayyubi, Panglima Militer Islam yang berhasil membebaskan tanah Baitul Maqdis dari tangan penjajah. Mereka juga mendambakan sosok seperti Khalifah al-Mu’tashim Billah untuk mengakhiri penderitaan mereka. Beliaulah yang menyambut seruan seorang Muslimah yang dilecehkan tentara Romawi. Ia dengan mengirimkan pasukan untuk menyerbu Kota Ammuriah dan melibas seluruh tentara kafir Romawi di sana. Akhirnya, bebaslah sang Muslimah tersebut dari tawanan Romawi.
Kini, ketika ribuan Muslimah dan anak-anak digenosida, dilecehkan, ditawan oleh Israel, dimana bisa ditemukan pemimpin seperti itu?
Pemimpin yang bervisi memerdekakan manusia dari penjajahan hanya akan lahir dari sistem yang memberi rahmat bagi seluruh dunia. Itulah sistem Islam yang lahir dari wahyu Allah yang disebut khilafah. Hanya Khilafah yang mampu melahirkan para pemimpin seperti Shalahudin al-Ayyubi dan Khalifah al-Mu’tashim Billah. Kembalinya Khilafah tentu harus diperjuangkan oleh seluruh umat Islam. Dengan begitu janji Allah dan bisyârah Rasulullah saw. akan munculnya Kekhilafahan sesuai metode Nabi saw. akan menjadi kenyataan. Insya Allah, jalan ini juga yang akan mengakhiri penderitaan perempuan dan anak-anak Palestina. Allahu Akbar! [Zikra Asril]
Referensi:
https://www.tempo.co/politik/isi-pidato-lengkap-prabowo-soal-palestina-di-ktt-pbb-2072431
https://muslimahnews.net/2025/08/22/38232/
https://magdalene.co/story/solusi-dua-negara-warisan-kolonial-yang-makin-tidak-relevan/





