Nafsiyah

Menyikapi Permusuhan Kaum Kafir

Benturan kebenaran dan kebatilan adalah keniscayaan hingga tiba Hari Kiamat. Ini sejalan dengan janji Iblis menyesatkan umat manusia hingga Hari Kiamat. Permusuhan setan terhadap kaum Mukmin abadi. Bahkan Allah menegaskan adanya musuh para nabi dari kalangan setan golongan jin dan setan golongan manusia.

Tentu relevan jika Islam menuntun dan menuntut umatnya memiliki kesadaran politik. Mereka dituntut untuk mengidentifikasi segala ancaman keburukan atas Islam dan umatnya. Mereka pun dituntut untuk menyikapi semua itu dengan tuntunan Islam. Upaya musuh-musuh Islam memusuhi Islam ini telah Allah beritakan dalam firman-Nya:

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِئُواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ  ٨

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-­ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya (QS ash-Shaff [61]: 8)

 

Lafal yurîdûna dalam bentuk al-fi’l al-mu­dhâri’ (al-jumlah al-fi’liyyah) mengisyaratkan bahwa mereka senantiasa memiliki keinginan memadamkan cahaya Allah secara total. Meskipun demikian, itu sesuatu yang mustahil terwujud. Demikian sebagaimana ditegaskan dengan khabar bahwa Allah sebagai Penyempurna cahaya Islam. Allah mengungkapkan hal itu dalam bentuk kata benda (al-jumlah al-ismiyyah): lafal mutimmu dalam bentuk ism al-fâ’il (kata benda subjek), menunjukkan kepastiannya. Karena itu relevan jika Islam memberikan tawjîh (petunjuk) menyikapi permusuhan mereka. Di antaranya:

Pertama: Tidak ber-wala’ kepada kaum kafir. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ بِطَانَةٗ مِّن دُونِكُمۡ لَا يَأۡلُونَكُمۡ خَبَالٗا وَدُّواْ مَا عَنِتُّمۡ قَدۡ بَدَتِ ٱلۡبَغۡضَآءُ مِنۡ أَفۡوَٰهِهِمۡ وَمَا تُخۡفِي صُدُورُهُمۡ أَكۡبَرُۚ قَدۡ بَيَّنَّا لَكُمُ ٱلۡأٓيَٰتِۖ إِن كُنتُمۡ تَعۡقِلُونَ  ١١٨

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, sementara apa yang disembunyikan dalam hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika saja kalian paham (QS Âli Imrân [3]: 118).

 

Kedua: Tidak meminta bantuan militer kaum kafir independen dan menjadikan mereka sebagai rujukan. Diriwayatkan dari Anas ra.: Rasulullah SAW bersabda:

«لَا تَسْتَضِيئُوا بِنَارِ الْمُشْرِكِينَ»

Janganlah kalian mencari penerangan dari api kaum musyrik (HR Ahmad, an-Nasa’i dan al-Baihaqi).

 

Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani dalam Al-­Syakhshiyyah al-Islâmiyyah (II/178) menjelaskan bahwa api sebuah kaum adalah kinâyah (kiasan) dari institusi mereka dalam peperangan sebagai sebuah suku (kabilah) atau negara yang independen. Maka dari itu, dalil ini, menurut Syaikh an-Nabhani, merupakan dalil larangan untuk meminta bantuan kepada kaum kafir dalam peperangan, dalam kapasitas mereka sebagai entitas kekuasaan/negara yang independen.

Para ulama, semisal Imam al-Baihaqi (w. 458 H) dalam As-Sunan al-Kubrâ’ (X/127), ketika menjelaskan hadis, ini menegaskan, “Maksudnya: sesungguhnya Nabi saw. bersabda, ’Janganlah kalian mengambil petunjuk orang musyrik dalam hal apapun dalam urusan kalian.’”

Al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H) pun, dalam Syarh al-Suyûthî li Sunan al-Nasâ’î (VIII/174), menegaskan: “(Al-Hafizh Ibn al-Atsir) berkata dalam An-Nihâyah, bahwa Nabi saw. menghendaki maksud al-nâr di sini adalah pandangan (al-ra’yu), yakni janganlah kalian bermusyawarah dengan mereka/ Dengan demikian ar-ra’yu ini diserupakan dengan cahaya ketika mengalami kebingungan.”

Ketiga: Tidak menyerupai pola pikir dan perilaku kaum kafir. Dari Ibn ’Umar ra., Rasulullah SAW bersabda:

«خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ»

Selisihilah kaum musyrik (HR Muttafaqun ’alayhi).

 

Diksi al-musyrikîn dalam hadis ini dipilih karena kaum ini yang paling intens dihadapi oleh Baginda Rasulullah SAW dan para Sahabat pada masa itu, khususnya kaum kafir Quraysyi. Ini sejalan dengan prinsip balaghah, al-munâsabah li ahwâl al-mukhâthabîn (kesesuaian dengan keadaan objek yang diajak bicara). Akan tetapi, maksudnya umum, mencakup semua orang kafir.

Padahal Allah telah mengancam orang-orang Islam yang menyalahi jalan Rasulullah saw. dengan ancaman musibah dan azab yang pedih (QS an-Nûr [24]: 63), Allah berfirman:

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا  ١١٥

Siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepada dia petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman, Kami akan membiarkan dirinya leluasa dengan kesesatannya (yakni menentang Rasul dan mengikuti jalan kaum kafir), kemudian Kami akan menyeret dirinya ke dalam Jahanam. Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS an-Nisâ’ [4]: 115).

 

Lafal man dalam ayat di atas menunjukkan keumuman subjeknya, yakni siapa saja yang memenuhi karakteristik yang disebutkan dalam ayat, yakni: (1) Menentang Rasulullah saw. setelah jelas bagi dia petunjuk Islam; (2) Mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman.

Keempat: Tidak membuka celah penguasaan kaum kafir atas kaum Mukmin. Islam pun menegaskan bahwa segala bentuk jalan (sabil[an]), mencakup perjanjian-perjanjian yang membuka jalan penguasaan kaum kafir atas kaum Muslim, adalah haram. Allah berfirman:

وَلَن يَجۡعَلَ ٱللَّهُ لِلۡكَٰفِرِينَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ سَبِيلًا  ١٤١

Sekali-sekali Allah tidak akan pernah memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin (QS an-Nisâ’ [4]: 141).

 

Al-Hafizh al-Qurthubi (w. 671 H) dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân (V/417) memaparkan perincian penafsiran ayat ini, bahwa Allah tak akan pernah memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin; kecuali jika mereka saling mendorong pada kebatilan, tidak melarang dari kemungkaran dan menolak bertobat hingga terjadi penguasaan musuh. Ini berdasarkan QS asy-Syûrâ [42]: 30.

Menafsirkan ayat ini dan menggunakan dalil yang sama, Imam Muhammad bin ’Ali asy-Syaukani (w. 1250 H) dalam Fath al-Qadîr (hlm. 609) memperingatkan: ”Sesungguhnya Allah tidak memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai kaum Mukmin selama kaum Mukmin mengemban kebenaran, tidak ridha terhadap kebatilan dan tidak meninggalkan perbuatan melarang dari kemungkaran.”

Lantas, apa akibatnya jika petunjuk-petunjuk agung Islam menyikapi kaum kafir harbi di atas dilanggar oleh kaum Muslim? Allah memperingatkan:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ  ١٢٤

Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia penghidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS Thâhâ [20]: 124).

 

Bagaimana sikap kita? Sudah seharusnya memperbaiki paradigma dan sikap, kembali pada Sunnah Rasulullah SAW dan para Sahabat mencakup sunnah dalam persoalan politik dan kepemimpinan umat. Hal itu karena peringatan bermanfaat bagi orang-orang yang masih memiliki keimanan dan akal sehat (ulul albâb):

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ  ١٨

Orang-orang yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya, mereka itulah orang-orang yang telah Allah beri petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS az-Zumar [39]: 18).

 

Dalam firman Allah lainnya:

وَذَكِّرۡ فَإِنَّ ٱلذِّكۡرَىٰ تَنفَعُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ  ٥٥

Berilah peringatan karena peringatan bermanfaat bagi kaum Mukmin (QS adz-Dzâriyât [51]: 55).

 

Hal ini diperjelas peringatan hadits lainnya, dari Abu Hurairah ra., bahwa Nabi SAW bersabda:

«لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ»

Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali (HR Muttafaqun ’alayhi).

 

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I; (Peneliti Balaghah al-Quran]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − five =

Back to top button