Tafsir

Azab Dunia Bagi Kaum Kafir

وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّن قَرۡنٍ هُمۡ أَشَدُّ مِنۡهُم بَطۡشٗا فَنَقَّبُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ هَلۡ مِن مَّحِيصٍ  ٣٦

Berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka, yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini. Mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? (QS Qaf [50]: 36).

 

Dalam ayat-ayat sebelumnya, Allah SWT telah memberitakan azab yang ditimpakan kepada kaum kafir di akhirat. Sebaliknya, balasan bagi kaum bertakwa adalah surga. Mereka dipersilakan masuk ke dalam surga dengan aman dan damai. Mereka pun tinggal di dalamnya selamanya dan mendapatkan apa pun yang mereka inginkan.

Kemudian dalam ayat ini dijelaskan hukuman dan azab yang ditimpakan Allah SWT kepada kaum kafirdi dunia.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا قَبۡلَهُم مِّن قَرۡنٍ ٣٦

Betapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka.

 

Huruf al-wâwu dalam ayat ini merupakan isti’nâf.1 Dengan demikian kalimat sesudah merupakan kalimat baru yang terputus dengan kalimat sebelumnya secara i’râb.

Kata « كَمْ » (berapa) di sini bukan istifhâmiyyah (kata tanya), namun merupakan khabariyyah (kalimat berita). Maknanya: « عَدَدٌ ‌كَثِيرٌ » (jumlah yang banyak)2. Kata kam merupakan khabariyyah karena menunjukkan makna taktsîr (jumlah yang banyak)3. Jadi makna firman-Nya: « وَكَمْ أَهْلَكْنا » adalah: « كَثِيرًا ‌مَا ‌أَهْلَكْنَا » (betapa banyak yang telah Kami binasakan)4. Dengan demikian kata tersebut berkedudukan sebagai maf’ûl (objek) dari kata « أَهْلَكْنا » (telah Kami binasakan)5.

Adapun kata « قَبْلَ » pada firman-Nya: « قَبْلَهُمْ » (sebelum mereka) adalah zharf zamân (keterangan waktu: sebelum), sedangkan dhamîr al-hâ‘ menunjuk kepada kaum kafir Quraisy6. Maknanya: « قبل ‌قَوْمك » (sebelum kaummu)7.

Menurut Ibnu ‘Asyur, dua dhamîr (kata ganti) pada kata « قَبْلَهُمْ » (sebelum mereka) dan « مِنْهُمْ » (dari mereka) kembali kepada subjek yang dipahami dari konteks, meskipun tidak disebut dalam lafal, sebagaimana telah disebutkan pada awal surah (QS Qaff [50]: 2). Yang dimaksud dengan ‘mereka’ di situ dijelaskan oleh firman-Nya setelah itu (QS Qaff [50]: 2)8.

Adapun kata « الْقَرْن » memiliki beberapa makna. Di antara maknanya adalah rentang waktu. Ada yang mengatakan rentang waktu selama delapan puluh tahun atau sembilan puluh tahun9. Juga berarti rentang waktu selama seratus tahun. Menurut Sayyid Thanthawi, ini lebih râjih10.

Kata al-qarn juga berarti « أهل عصر واحد أو زمان واحد » (orang-orang yang hidup pada satu zaman atau satu masa); juga bermakna umat atau jamaah yang pada satu masa atau satu zaman. Makna ini seperti dalam firman-Nya yang lain (QS al-Isra‘ [17]: 17)11.

Menurut para mufassir, kata tersebut dalam ayat ini berarti « الأمة والجماعة والجيل من الناس » (umat, jamaah dan generasi manusia)12. Sebagaimana dijelaskan di atas, umat tersebut hidup pada satu masa dalam rentang seratus tahun. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan rasul-rasul mereka13. Jadi ayat ini bermakna: “Betapa banyak orang-orang yang mendustakan rasul-rasul mereka Kami binasakan sebelum kaummu, wahai Muhammad.14

Menurut Ibnu ‘Asyur, kalimat berita dalam ayat ini merupakan sindiran yang mengandung ancaman sekaligus pelipur lara bagi Nabi saw15. Ketika Allah memperingatkan mereka tentang apa yang ada di hadapan mereka berupa Hari yang Agung dan azab yang pedih, Dia memperingatkan mereka dengan azab yang menghancurkan yang akan disegerakan bagi mereka, juga kebinasaan yang akan menimpa mereka. Allah pun menjelaskan kepada mereka keadaan kaum sebelum mereka16.

Kemudian Allah SWT berfirman:

هُمۡ أَشَدُّ مِنۡهُم بَطۡشٗا ٣٦

…mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini

 

Dhamîr munfashil « هُمْ » (mereka) adalah ahl al-qurûn (umat terdahulu itu). Adapun dhamîr al-hâ‘ pada « مِنْهُمْ » (daripada mereka) adalah kaum Quraisy17.

Diberitakan bahwa kaum yang hidup sebelum kaum Quraisy lebih kuat daripada mereka. Dalam ayat ini, digunakan kata « بَطْشاً », yang bermakna « قُوَّة » (kekuatan)18.

Lebih spesifik, menurut Ibnu ‘Asyur, kata tersebut bermakna: « الْقُوَّةُ عَلَى الْغَيْرِ » (kekuatan atas pihak lain)19. An-Nasafi, menyatakan bahwa makna « البطش » adalah « ‌الأخذ ‌بصولة » (mengambil [mengazab] dengan kekuatan dan kekerasan)20. Sejalan dengan itu, Sayyid Thanthawi menyebutan, makna « البطش » adalah « السطوة والأخذ ‌بشدة » (kekuatan, keperkasaan dan mengambil sesuatu dengan keras)21.

Dengan demikian ayat ini menjelaskan bahwa kaum yang telah dihancurkan dan dibinasakan Allah SWT itu lebih dahsyat kekuatannya, seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun.

Ibnu Katsir berkata, “Artinya, mereka (umat-umat terdahulu itu) lebih banyak jumlahnya dan lebih besar kekuatannya daripada mereka (kaum kafir Quraisy). Mereka telah mengolah serta memakmurkan bumi lebih banyak daripada apa yang mereka (kaum musyrik) makmurkan.22

Lalu disebutkan:

فَنَقَّبُواْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ ٣٦

Mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri.

 

Kata « التَّنْقِيبُ » dari kata « النَّقْب ». Secara bahasa, kata tersebut berarti « الْخَرْقُ وَالدُّخُولُ فِي الشَّيْ » (melubangi dan memasuki sesuatu)23.

Dalam konteks ayat ini, ada beberapa penjelasan. Menurut Ibnu Abbas, maknanya: “Mereka meninggalkan jejak di dalamnya.” Mujahid menafsirkan: « ضَرَبُوا فِي الْأَرْضِ » (mereka melakukan perjalanan di berbagai negeri).” Qatadah berkata: “Mereka berjalan di negeri-negeri, yakni mereka mencari rezeki, perdagangan dan berbagai keuntungan lebih banyak daripada kalian berkeliling di negeri-negeri.”

Terhadap « طَوَّفَ فِي الْبِلَادِ » (orang yang berkeliling menjelajahi negeri-negeri) disebut « نَقَّبَ فِيهَا ».” Ini seperti yang dikatakan seorang dari al-Qais dalam salah satu bait syairnya:

«لَقَدْ نَقَّبْتُ فِي الْآفَاقِ حَتَّى … رَضِيتُ مِنَ الغنيمة بالإياب»

Sungguh aku telah menjelajahi berbagai penjuru, // hingga aku pun rela menjadikan kepulangan sebagai satu-satunya keuntungan24.

 

Menurut Ibnu ‘Asyur, kata tersebut kemudian digunakan secara isti’ârah bermakna « ذَلَّلُوا وَأَخْضَعُوا » (mereka menundukkan dan menguasai). Artinya, mereka melakukan berbagai aktivitas di bumi dengan menggali, menanam, membangun, mengerjakan bagian bawah gunung-gunung, serta mendirikan bendungan dan benteng. Dengan demikian maknanya serupa dengan firman-Nya dalam firman-Nya yang lain (QS ar-Rum [30]: 9)25.

Bentuk ma’rifah kata « الْبِلاد » (negeri-negeri) menunjukkan li al-jins (menunjukkan makna jenis, semua negeri). Artinya, di bumi. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ٱلَّذِينَ طَغَوۡاْ فِي ٱلۡبِلَٰدِ  ١١

Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri (QS al-Fajr [89]: 11)26.

 

Adapun huruf al-fâ‘ pada kata « فَنَقَّبُوا » berfungsi sebagai tafrî’ (penjelasan dan penjabaran yang berasal dari kalimat sebelumnya), yakni firman-Nya: « أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشاً » (lebih kuat daripada mereka). Artinya, dengan kekuatan dan kedahsyatan mereka itu, mereka pun ‘menelusuri’ dan menguasai negeri-negeri27.

Fakhruddin ar-Razi menerangkan tentang mereka: Ada tiga kemungkinan. Pertama, mereka adalah kaum Tsamud, sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT (QS al-Fajar [89]: 9). Karena kekuatan mereka, mereka membelah dan melubangi jalan-jalan serta memotong dan mengebor bebatuan28.

Pendapat ini juga disampaikan oleh al-Bai­dhawi, bahwa kaum itu seperti ‘Ad, Tsamud dan Fir’aun. Demikian pula al-Qasimi dan Abu as-Su’ud29.

Kedua, mereka adalah orang-orang yang melakukan perjalanan, namun tidak mendapatkan tempat berlindung atau tempat melarikan diri. Menurut pendapat ini, yang dimaksud bisa jadi adalah penduduk Makkah. Artinya, mereka adalah orang-orang yang telah bepergian jauh dan mereka melihat berbagai peninggalan (umat-umat terdahulu) di dalamnya.

Ketiga, mereka adalah orang-orang yang menjadi « نُقَبَاءَ » (para pemuka) di muka bumi. yakni apa yang mereka dapatkan berasal dari kekuatan dan kegagahan mereka.

Petunjuk makna ini tampak dari huruf al-fâ‘ karena huruf tersebut menunjukkan konsekuensi logis dari sesuatu. Dalam kalimat: « كَانَ زَيْدٌ أَقْوَى مِنْ عَمْرٍ وفَغَلَبَهُ » (Zaid lebih kuat daripada ‘Amr sehingga dia mengalahkannya). Demikian pula dalam kalimat: « وكان عمرو مريضا فغلبه زيد » (‘Amr sedang sakit sehingga diadikalahkan oleh Zaid).

Hal serupa juga yang terkandung di dalam ayat ini. Allah SWT berfirman: « هُمْ أَشَدُّ مِنْهُمْ بَطْشاً فَصَارُوا نُقَبَاءَ فِي الْأَرْضِ » (Mereka lebih dahsyat dalam kekuatannya daripada kalian sehingga mereka menjadi nuqabâ` [para pemuka] di muka bumi)30.

Kalimat ini merupakan jumlah mu’taridah (kalimat sisipan) yang berada di antara kalimat « وَكَمْ أَهْلَكْنا قَبْلَهُمْ » (dan berapa banyak telah Kami binasakan sebelum mereka) hingga akhir ayat31.

Muhammad al-Amin al-Harari berkata, “Maknanya: Banyak sekali umat sebelum kamu yang telah Kami binasakan. Mereka lebih kuat dalam kekuasaan dan lebih besar kekuatannya daripada kaummu, seperti kaum ‘Ad, Tsamud, dan Tubba‘. Mereka bepergian ke berbagai negeri dan menempuh setiap jalan dalam rangka mencari rezeki. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak menemukan jalan keluar ataupun tempat berlindung dari ketetapan Allah ketika keputusan-Nya telah datang. Demikian pula keadaan kalian. Karena itu berhati-hatilah jangan sampai kalian ditimpa azab yang sama seperti yang telah menimpa mereka—baik azab yang cepat di dunia maupun azab yang kelak di Hari Kiamat.32

Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Maksudnya: mereka membangun benteng-benteng yang kokoh, tempat-tempat tinggal yang tinggi, menanam pepohonan, mengalirkan sungai-sungai, bercocok tanam, memakmurkan (negeri), dan menghancurkan (musuh-musuh mereka). Akan tetapi, ketika mereka mendustakan para rasul Allah dan mengingkari ayat-ayat Allah, Allah pun menimpakan kepada mereka hukuman yang pedih dan azab yang keras.33

Kemudian Allah SWT berfirman:

هَلۡ مِن مَّحِيصٍ  ٣٦

Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?

 

Kata « هَلْ » merupakan harf al-istifhâm (kata tanya). Dalam ayat ini, ia merupakan istifhâm inkâriyy (pertanyaan bernada pengingkaran) yang bermakna al-nafiyy (peniadaan); dan karena itu huruf « مِنْ » masuk setelah istifhâm, sebagaimana pada ungkapan: « مَا مِنْ مَحِيصٍ » (tidak ada tempat menghindar). Ini dekat maknanya dengan firman-Nya yang lain (QS Shad [38]: 3)34.

Adapun kata « الْمَحِيصُ » merupakan mashdar mîmî dari kata « حَاصَ » yang berarti « عَدَلَ وَجَادَ » (menyimpang atau menghindar), yaitu: mereka tidak mendapatkan tempat menghindar dari kebinasaan itu. Ini seperti firman-Nya yang lain (QS Maryam [18]: 98)35.

Tentang makna ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Adakah tempat lari bagi mereka dari qadha‘ dan qadar Allah? Apakah semua yang mereka kumpulkan itu dapat bermanfaat bagi mereka dan dapat menolak azab Allah ketika azab itu datang menimpa mereka setelah mereka mendustakan para rasul-rasul-Nya? Kalian juga demikian, tidak ada tempat lari, tidak ada jalan menghindar, tidak ada tempat mengelak, dan tiada tempat berlindung bagi kalian36.

Secara keseluruhan, Wahbah az-Zuhaili berkata, “Berapa banyak Kami telah membinasakan umat dan golongan terdahulu sebelum orang-orang Quraisy dan sejenisnya yang mendustakan. Umat-umat tersebut jauh lebih besar jumlahnya, lebih dahsyat kekuatannya dan lebih banyak jejak peninggalannya di bumi daripada Quraisy; seperti ‘Ad, Tsamud, kaum Tubba, dan lainnya. Mereka telah membuat berbagai jejak di bumi, menjelajahinya untuk mencari rezeki, berniaga, dan mencari penghasilan, jauh lebih banyak dari pada penjelajahan yang kalian lakukan. Apakah mereka mendapatkan tempat melarikan diri dan berlindung bisa menyelamatkan mereka dari azab, dari qadha’ dan qadar Allah? Apakah harta kekayaan yang telah mereka kumpulkan dapat memberi manfaat dan menghalau azab-Nya ketika mereka mendustakan para rasul? Begitu pula dengan kalian, tidak ada tempat berlindung, menghindar dan melarikan dari bagi kalian.37

Demikianlah. Ayat ini menegaskan bahwa banyak kaum terdahulu yang mendustakan rasul-rasul mereka telah Allah binasakan. Ini sebagai ancaman kepada kaum Quraisy yang melakukan hal yang sama dengan kaum-kaum terdahulu. Selain itu, ia juga sebagai pelipur lara bagi Nabi saw. dan kaum Mukmin.

WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

  1. Al-Da’as, I’râb al-Qur‘ân, 3 (Damaskus: Dar al-Munir, 1452 H), 260
  2. Lihat al-Da’as, I’râb al-Qur‘ân, 3, 260; Muhyiddin Darwisy, I’râb al-Qur‘ân wa Bayânuhu, vol. 9 (Beirut: Dar al-Yamamah, 1995), 297; Mahmud Shafi, al-Jadwal fî I’râb al-Qur‘ân, vol. 26 (Damaskus: Dar al-Rasyid, 1998), 317
  3. Al-Samin al-Halbi, al-Durr al-Mashûn fî ‘Ulûm al-Kitâb al-Maknûn, 2 (Damaskus: Dar al-Qalam, tt), 532
  4. Abu Hafsh al-Nasafi, al-Taysîr fî al-Tafsîr, 14 (Istambul: Dar al-Lubab, 2019), 31 al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 26 (Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1998), 311
  5. Lihat al-Da’as, I’râb al-Qur‘ân, 3, 260; Muhyiddin Darwisy, I’râb al-Qur‘ân wa Bayânuhu, vol. 9 (Beirut: Dar al-Yamamah, 1995), 297; Mahmud Shafi, al-Jadwal fî I’râb al-Qur‘ân, vol. 26 (Damaskus: Dar al-Rasyid, 1998), 317
  6. Lihat al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 311; al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 474
  7. Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiyy, 1998), 143; al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta‘wîl, vol. 3 (Beirut:Dar al-Kalim al-Thayyib, 1998), 368; Ibnu ‘Ajibah, al-Bahr al-Madîd fî Tafsîr al-Qur‘ân al-Majîd, vol. 5, 458
  8. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26 (Tunis: Dar al-Tunisiyyah, 1984), 319
  9. Zainuddin al-Razi, Mukhtâr al-Shihhâh (Beirut: al-Maktab al-‘Ashriyyah, 1999), 252

Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, vol. 7, 40

  1. Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, 3 (tt: ‘Alam al-Kutub, 2008), 1806. Sayyid Thanthawi, al-Tafsîr al-Wasîth, vol. 13 (Kairo: Dar al-Nahdhah, 1998), 350
  2. Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, 3 (tt: ‘Alam al-Kutub, 2008), 1806
  3. Al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 311
  4. Al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta‘wîl, 3, 368; Ibnu ‘Ajibah, al-Bahr al-Madîd fî Tafsîr al-Qur‘ân al-Majîd, vol. 5, 458; Ismail Haqqi, Rûh al-Bayân, vol. 9 (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 133; al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22, 370
  5. Sayyid Thanthawi, al-Tafsîr al-Wasîth, 13, 350. Lihat juga al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 26, 311; al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 27, 474
  6. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 322
  7. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 127 (Bierut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 149
  8. Al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 474
  9. Al-Maturidi, Ta‘wîlât Ahl al-Sunnah, 9. 148; al-Sam’ani, Tafsîr al-Qur‘ân, vol. 4 (Riyadh: Dar al-Wathan, 1997), 246; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta‘wîl, vol. 9 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 29; al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, vol. 26, 311. Lihat juga Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah al-Mu’âshirah, vol. 3 (tt: ‘Alam al-Kutub, 2008), 1806
  10. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 322
  11. Al-Nasafi, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta‘wîl, 3, 190
  12. Sayyid Thanthawi, al-Tafsîr al-Wasîth, 13, 350
  13. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7 (Riyadh: Dar Thayyibah, 1999), 408
  14. Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 22
  15. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 381
  16. Ibnu Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, 26, 322-323
  17. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 322-323
  18. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30, 322-323
  19. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 28, 150
  20. Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5, 143; al-Qasimi, Mahâsin al-Ta‘wîl, vol, 9, 29; Abu al-Su’ud, Irsyâd al-‘Aql al-Salîm ilâ Mazâyâ al-Kitâb al-Karîm, vol. 8 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiy, tt), 133
  21. Al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 28, 150
  22. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 322-323
  23. Al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27, 474
  24. Al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2000), 807
  25. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 322-323
  26. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 322-323
  27. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 409
  28. Al-Zuhaili, Tafsîr al-Munîr, 26, 314

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 14 =

Back to top button