Opini

Demokrasi dan Intimidasi

Konten kreator dan influencer yang berani mengkritisi kebijakan Pemerintah kerap menjadi sasaran teror dan intimidasi. Dari surat ancaman, vandalisme, rumah dilempari telur, hingga peretasan akun dan pembajakan SIM card. Mereka menghadapi risiko nyata hanya karena menyuarakan fakta dan opini.

Fenomena ini mencuat terutama pasca-bencana alam besar di Sumatra pada penghujung 2025. Banjir bandang menyapu Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Jutaan gelondongan kayu hanyut bersama lumpur hingga menutupi hampir 90% pemukiman, sungai berpindah aliran dan rumah warga hancur. Dampak ini bahkan disebut melebihi tsunami Aceh 2004.

Respon lamban Pemerintah memicu kritik publik dan aksi sosial warga. Sayangnya, aksi kritik ini justru dibalas dengan teror, yang memperlihatkan wajah demokrasi yang otoriter. Rezim yang anti kritik menggunakan intimidasi untuk menakut-nakuti warga dan menyamarkan kepentingan materi sebagai keputusan politik. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI menegaskan penolakannya segala bentuk intimidasi. Akan tetapi, kenyataannya teror tetap terjadi.

Terjadi paradoks antara kondisi nyata di lapangan dengan pernyataan serta sikap penguasa. Penguasa seharusnya melindungi rakyat, bukan meneror atau mengancam mereka. Sayangnya, sikap seperti ini jarang ditemukan dalam sistem demokrasi sekuler. Sebabnya, keputusan penguasa sering didasari hawa nafsu dan kepentingan pribadi. Hubungan antara penguasa dan rakyat pun kerap seperti transaksi antara penjual dan pembeli. Padahal syariah Islam jelas menekankan bahwa penguasa seharusnya menjadi râ’in dan junnah, pengurus dan pelindung rakyat. Oleh karena itu, menjadi wajar dan bahkan wajib bagi rakyat untuk melakukan muhâsabah lil hukkâm; mengevaluasi penguasa secara kritis.

Sistem kapitalis-sekuler sering melahirkan penguasa yang anti kritik, bengis dan mengutamakan materi semata. Hal ini sangat kontras dengan gambaran para khalifah dalam sejarah Islam, yang justru menghargai kritik warganya dan menegakkan keadilan. WalLâhu a’lam. [Huda Reema Naayla; (Aktivis Dakwah)]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 4 =

Back to top button