Nafsiyah

Membumikan Al-Quran

Ramadhan adalah bulan al-Quran (syahr al-Qur’ân). Al-Quran dibaca dan dipelajari, sebagaimana dicontohkan Rasulullah saw. Ibn ’Abbas ra. berkata:

«وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ»

Jibril as. menjumpai Nabi saw. se

tiap malam pada bulan Ramadhan dan mengajari beliau al-Quran (HR al-Bukhari, Ahmad dan an-Nasa’i).

 

Al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Lathâ’if al-Ma’ârif (hlm. 169) menjelaskan:

دلَّ الحديث على استحباب دِراسةِ القرآن في رمضان، والاجتماع على ذلك، وفيه دليلٌ على استحبابِ الإكثار من تلاوة القرآن في شهر رمضان

Hadis ini menunjukkan anjuran mempelajari (mendalami) al-Quran pada bulan Ramadhan serta berkumpul untuk melakukan hal tersebut. Di dalamnya pun terdapat dalil anjuran memperbanyak bacaan al-Quran pada bulan Ramadhan.

 

Ibn Rajab pun merinci bahwa dalam hadis penuturan Ibn Abbas ra. terdapat dalil bahwa mudârasah (saling mempelajari al-Quran) antara Nabi saw. dan Jibril as. terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan bahwa memperbanyak tilawah al-Quran pada malam hari pada bulan Ramadhan dianjurkan. Pada malam harilah berbagai kesibukan terhenti, konsentrasi menjadi terkumpul dan hati serta lisan saling bersesuaian untuk melakukan tadabur al-Quran. Ini sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ نَاشِئَةَ ٱلَّيۡلِ هِيَ أَشَدُّ وَطۡئًا وَأَقۡوَمُ قِيلًا  ٦

Sesungguhnya bangun malam itu lebih kuat (kesannya) dan lebih tepat untuk bacaan (QS al-Muzzammil [73]: 6).

 

Rasulullah saw. pun mencontohkan Rama­dhan sebagai bulan perjuangan dan penegakan hukum-hukum al-Quran. Hukum-­hukum al-Quran diimani, dipelajari, di-tadabburi, di­dakwahkan dan dibela dari ragam penyimpangan. Momentum perang Badr al-Kubrâ’ di tengah teriknya panas matahari Rama­dhan adalah momentum menguji kekuatan kaum Muslim pasca tegaknya kekuasaan Islam, Ad-Dawlah al-Islâmiyyah di Yatsrib (Al-Madînah al-Munawwarah). Peristiwa ini terekam apik pada tanggal 17 Ramadhan pada tahun kedua hijrah. Al-Quran menyebut peristiwa itu dengan istilah Yawm al-Furqân (Hari Pembeda) (lihat: QS al-Anfal [8]: 41). Hal ini sebagaimana tanggal 20 Ramadhan pada tahun kedelapan hijrah sebagai momentum Fath Makkah (Penaklukan Kota Makkah). Ini adalah momentum agung perluasan kekuasaan Islam hingga pembebasan Ka’bah dan Kota Makkah dari syiar-syiar jahiliyah. Kota Makkah kemudian menjadi pusat dakwah al-Quran ke seluruh penjuru alam.

 

Ramadhan: Bulan Penerapan Hukum al-Quran

Bulan Ramadhan bukan hanya bulan madrasah al-Quran, tetapi juga bulan penerapan hukum-hukumnya dalam seluruh aspek kehidupan. Allah SWT menyifati Ramadhan sebagai syahr al-Qur’ân, yakni bulan ketika al-Quran diturunkan, dan wajib ditegakkan untuk mengatur seluruh aspek kehidupan:

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ ١٨٥

Bulan Ramadhan adalah bulan di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil) (QS al-Baqarah [2]: 185).

 

Al-Quran secara keseluruhan diturunkan dari al-Lawh al-Mahfûzh ke Bayt al-‘Izzah di langit dunia Bulan Ramadhan, khususnya pada Laylah al-Qadr (lihat: QS al-Qadr [97]: 1; QS ad-Dukhan [44]: 3). Ia diturunkan dengan fungsi yang Allah tegaskan dalam ayat: hud[an] li al-nas wa bayyinât min al-hudâ wa al-furqân, yakni “sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Maknanya, sebagaimana diuraikan oleh Syaikhul Ushul ‘Atha bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam At-Taysîr fî Ushûl at-Tafsîr (hlm. 226): Pertama, Hud[an] li an-nâs, menunjuki mereka ke jalan kebenaran dan ke jalan yang lurus (Islam). Kedua, Bayyinât min al-hudâ, yakni mengandung dalil-dalil tegas (dalâ’il qâthi’ah) kemukjizatan bahwa ia merupakan petunjuk yang Allah turunkan. Ketiga, Al-Furqân, yakni yang memisahkan perkara haqq dan bâthil; antara perkara kebaikan dan keburukan; serta antara amal-amal shalih dan amal-amal buruk. Ini relevan dengan senandung syair dalam Dîwân Ahmad Sahnûn:

وهو باب لشهر رمضان شهر * الخير شهر الصيام شهر القيام

Ia (Sya’ban) adalah pintu Bulan Rama­dhan; bulan kebaikan, bulan shaum dan bulan shalat malam,

شهر وحي القرآن شهر حياة * القلب شهر الإحسان والإنعام

Bulan turunnya wahyu al-Quran, bulan kehidupan kalbu, bulan kebaikan dan berbagi.

 

Menjadikan al-Quran sebagai petunjuk artinya menjadikan al-Quran sebagai panduan dan pedoman mengarungi kehidupan: individu, keluarga, kemasyarakatan, bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara; dari mulai aspek akidah, ibadah, muamalah, ’uqûbah hingga siyâsah. Maknanya juga berarti menjadikan al-Quran sebagai furqân, yakni sebagai pembeda atau pemisah antara kebenaran dan kebatilan.

Karena itu termasuk sikap mengabaikan al-Quran sebagai petunjuk dan pembeda jika seorang Muslim menjadikan pluralisme sebagai akidahnya, sosialisme-marxisme sebagai paradigma sosial kemasyarakatannya, feminisme sebagai sudut pandang sosial gendernya, kapitalisme sebagai panduan sistem ekonominya, demokrasi sebagai paradigma politiknya, trias politica sebagai pemikiran bernegaranya, dst. Jika demikian ia bahkan layak digolongkan seperti kaum kuffâr Quraysyi yang diadukan Rasulullah saw.:

وَقَالَ ٱلرَّسُولُ يَٰرَبِّ إِنَّ قَوۡمِي ٱتَّخَذُواْ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ مَهۡجُورٗا  ٣٠

Berkatalah Rasul, “Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Quran itu sebagai sesuatu yang diabaikan.” (QS al-Furqan [25]: 30).

 

Bentuk perbuatan menjadikan al-Quran mahjûr[an] itu beragam, sebagaimana diuraikan oleh al-Hafizh Ibn Qayyim al-Jawziyah (w. 751 H) dalam Al-Fawâ’id (hlm. 82). Salah satunya tidak menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan hukum. Dinyatakan oleh Ibn al-Qayyim:

هجر الْقُرْآن أَنْوَاع أَحدهَا هجر سَمَاعه وَالْإِيمَان بِهِ والإصغاء إِلَيْهِ وَالثَّانِي هجر الْعَمَل بِهِ وَالْوُقُوف عِنْد حَلَاله وَحَرَامه وَإِن قَرَأَهُ وآمن بِهِ وَالثَّالِث هجر تحكيمه والتحاكم إِلَيْهِ فِي أصُول الدّين وفروعه واعتقاد أَنه لَا يُفِيد الْيَقِين وَأَن أدلته لفظية لَا تحصّل الْعلم وَالرَّابِع هجر تدبّره وتفهّمه وَمَعْرِفَة مَا أَرَادَ الْمُتَكَلّم بِهِ مِنْهُ وَالْخَامِس هجر الِاسْتِشْفَاء والتداوي بِهِ فِي جَمِيع أمراض الْقلب وأدوائها فيطلب شِفَاء دائه من غَيره ويهجر التَّدَاوِي بِهِ

Meninggalkan al-Quran memiliki beberapa bentuk. Pertama: Meninggalkan upaya mendengarkan, mengimani dan menyimak al-Quran. Kedua: Meninggalkan upaya mengamalkan isinya; tidak berpegang pada ketentuan halal dan haramnya, meski­pun ia membaca dan mengimaninya. Ketiga: Meninggalkan upaya menjadikan al-Quran sebagai hakim dan rujukan hukum; tidak berhukum dan kembali pada al-Quran dalam pokok-pokok agama maupun cabang-cabangnya, dengan keyakinan bahwa al-Quran tidak memberikan keyakinan yang pasti dan bahwa dalil-dalilnya lafal semata yang tidak menghasilkan ilmu. Keempat: Meninggalkan upaya mentadaburi dan memahami al-Quran serta meninggalkan upaya mengetahui apa yang Allah kehendaki melalui al-Quran. Kelima: Meninggalkan upaya menjadikan al-Quran sebagai sarana penyembuhan dan pengobatan atas seluruh penyakit dan gangguan hati sehingga ia mencari kesembuhan penyakitnya dari selain al-Quran dan meninggalkan berobat dengan al-Quran.

 

Al-Quran mewajibkan penerapan sanksi qishâsh atas kasus pembunuhan (QS al-Baqarah [2]: 179) sebagaimana mewajibkan shaum (QS al-Baqarah [2]: 183). Jika pada bulan Ramadhan kaum Muslim menunaikan ibadah shaum yang diwajibkan oleh al-Quran, lantas mengapa tidak demikian dengan ayat-ayat yang mewajibkan qishâsh, hudûd, jihad, pemerintahan Islam, penegakan hukum Allah, ke­haraman riba, keharaman berhukum pada selain hukum Allah, dan lain sebagainya?

WalLâhu a’lam. [Irfan Abu Naveed, M.Pd.I; (Peneliti Balaghah al- Quran & Hadits Nabawiyyah)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + eighteen =

Back to top button