
Idul Fitri: Gembira di Tengah Derita
Ramadhan, bulan mulia baru saja berlalu, kaum Muslim bergembira menyambut Idul Fitri. Hari kemenangan kaum Muslim yang shaum didasarkan keimanan dan penuh harap akan pahala dari Allah SWT. Gema takbir, tahmid dan tahlil memenuhi langit-langit di mana pun umat Islam berada. Di seluruh penjuru dunia. Namun, bersamaan dengan kegembiraan di hari raya, kondisi umat Islam masih sangat menyedihkan.
Saudara kita di Palestina, baik di Gaza maupun Tepi Barat, merayakan Idul Fitri dalam penderitaan yang sangat luar biasa. Meski Board of Peace telah diresmikan dan Indonesia turut bergabung, Gaza tetap diserang tanpa henti. Pasukan pendudukan Yahudi kembali melancarkan serangkaian serangan intensif di berbagai wilayah Jalur Gaza. Mereka menargetkan rumah-rumah warga, tenda-tenda pengungsi, serta sebuah kantor polisi. Serangan ini menewaskan 31 orang, termasuk 7 anak-anak dan 7 perempuan. Ini adalah salah satu hari paling berdarah sejak perjanjian gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Secara kumulatif, sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai 72.027 syuhada dan 171.651 korban luka. Serangan-serangan ini berlangsung dalam konteks pelanggaran yang terus-menerus dan disengaja. Seolah-olah gencatan senjata tidak pernah ada. Penghancuran berulang juga terjadi di wilayah yang disebut sebagai “garis kuning”; menghabisi sisa-sisa rumah dan bangunan yang masih berdiri.
Sejak pemberlakuan gencatan senjata pada 11 Oktober saja, tercatat 576 syuhada, 1.543 korban luka, serta 717 kasus evakuasi atau penemuan jenazah. Dari total korban tersebut, 180 adalah anak-anak dan 72 perempuan. Lebih dari 1.360 orang terluka. Sebanyak 57,5% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Kejahatan Zionis Yahudi sungguh di luar kemanusiaan. Lebih biadab daripada hewan buas sekalipun. Zionis Yahudi ini menggunakan senjata amunisi termal bersuhu 3.500 derajat Celsius untuk menghilangkan jejak ribuan jasad genosida. Korban genosida hilang tanpa jejak dalam sekejap.
Investigasi Al Jazeera menemukan sekitar 2.842 warga Palestina di Gaza dianggap “menguap”. Tidak ada tubuh yang ditemukan setelah serangan. Hanya sisa darah atau potongan kecil jaringan biologis. Penyebabnya adalah senjata dengan suhu ekstrem. Senjata yang disebut dalam laporannya termasuk: MK-84 “hammer bomb” — bom berat ~900 kg yang menghasilkan panas sangat tinggi; BLU-109 bunker buster — bom tembus yang meledak setelah masuk ke struktur; GBU-39 glide bomb — bom presisi yang dapat menghancurkan bagian dalam bangunan sambil meninggalkan struktur luar lebih utuh. Semua itu merupakan munisi yang dipasok oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Dunia seolah telah terbiasa dengan darah yang mengalir, serta jeritan para ibu dan anak-anak yang kehilangan. Para penguasa sibuk mempertahankan singgasana. Mereka mencari muka kepada Trump dan sekutunya Netanyahu, dengan mengorbankan Gaza dan rakyatnya.
Para penguasa negeri Islam menampakkan pengkhianatan mereka yang nyata. Mereka bergabung dalam aliansi penjahat pembantai umat. Penjahat bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan secara langsung. Setiap pihak yang turut serta, membiarkan, atau mampu mencegah namun memilih diam, adalah penjahat yang sama. Oleh karena itu, seluruh negara yang berpartisipasi dalam penandatanganan piagam pendirian Board of Peace—termasuk negara-negara yang akan bergabung kemudian—adalah mitra dalam kejahatan kolonialisasi Amerika atas Gaza.
Para pengkhianat ini kerap berharap, dengan perdamaian palsu, terbentuk negara Palestina. Padahal Yahudi sendiri dengan tegas menolak gagasan negara Palestina. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu masih bersikeras menolak untuk mengakui negara Palestina saat entitas Yahudi bergabung dengan organisasi buatan Amerika Serikat, Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP). Netanyahu mengatakan tak akan mengizinkan pembangunan kembali Gaza atau pendirian Negara Palestina selama belum ada demiliterisasi Hamas.
Pejabat Yahudi menyatakan akan terus menggagalkan pembentukan negara Palestina. Di antaranya dengan langkah kebijakan baru pemerintah Yahudi untuk memperluas kendali atas Tepi Barat. Termasuk mempermudah kontrol administratif dan penjualan tanah kepada warga non-Arab serta memperluas wewenang atas wilayah yang sebelumnya dikelola Palestina. Langkah ini bertujuan memperkuat keberadaan penjajah Yahudi sekaligus menolak pendirian negara Palestina merdeka.
Sesungguhnya ada satu kenyataan yang tak bisa diabaikan: negeri-negeri kaum Muslim masih berada dalam penderitaan akibat imperialisme. Karena itu jangan ragu untuk mengungkap fakta ini secara terbuka. Inilah akar dari ketiadaan keamanan dan kestabilan di negeri-negeri kita. Jangan sampai kompas perjuangan umat menyimpang dan mengabaikan realitas tersebut.
Sebaliknya, doronglah umat agar menuntut kepada pihak-pihak yang memiliki kekuatan dan perlindungan (ahlul quwwah wal man‘ah) untuk membebaskan umat dari cengkeraman imperialisme dengan menyingkirkan para penguasa yang menjadi agen kepentingan asing.
Umat Islam harus memiliki satu negara yang menghimpun seluruh potensinya, menyatukan hati dan barisannya, yaitu Daulah Khilafah ar-Rasyidah yang kedua, yang berjalan di atas manhaj kenabian. Maka dari itu, seruan Hizbut Tahrir di seluruh dunia yang tidak kenal lelah untuk menegakkan kembali Khilafah sungguh penting untuk kita perhatikan dan dukung.
Sungguh penegakan Khilafah merupakan agenda vital kaum Muslim. Sungguh kita harus yakin dengan pertolongan Allah, kemuliaan Islam dan kaum Muslim, kembalinya Khilafah ar-Rasyidah yang berjihad, penghancuran entitas Yahudi pencaplok Palestina, penaklukan Roma sebagaimana dulu Konstantinopel ditaklukkan dan menjadi negeri Islam “Istanbul”.
Sungguh pada suasana Idul Fitri ini, marilah kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mari jadikan kegembiraan hari raya sebagai pembaruan tekad kita dan kemarahan terhadap musuh kita, kemudian letakkan tangan bersama, bergandengan dengan tangan para syabab Hizbut Tahrir untuk bekerja serius mengembalikan Khilafah ar-Rasyidah kedua yang mengikuti manhaj kenabian. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian. Orang-orang kafir itu, kecelakaanlah bagi mereka, dan Allah menyesatkan amal-amal mereka” (TQS Muhammad [47]: 7–8).
Allâhu akbar, Allâhu akbar, Allâhu akbar, lâ ilaha illâ Allâhu… Allâhu akbar, Allâhu akbar, wa lillâhi al-hamdu. [Farid Wadjdi]



