Ibrah

Adab Berbeda Pendapat

PERBEDAAN pendapat adalah keniscayaan. Ia lahir dari keterbatasan manusia dalam memahami nas, dari keluasan bahasa dan dari kedalaman metode istinbâth.

Akan tetapi, yang sering hilang dari generasi belakangan bukanlah perbedaan itu sendiri. Yang hilang adalah adab dalam menyikapi perbedaan tersebut. Padahal para ulama dulu telah mewariskan teladan yang sangat agung. Mereka sering berbeda. Bahkan dalam perkara besar. Akan tetapi, hati mereka tetap bersih. Lisan mereka tetap terjaga. Ukhuwah mereka tetap kokoh.

Imam Abu Hanifah rahimahulLâh, misalnya. Beliau dikenal sering berdiskusi/berdebat dengan ulama lain. Akan tetapi, adabnya luar biasa. Saat berbeda pendapat dengan ulama lain, beliau berkata, “Pendapat kami ini benar, tetapi mungkin mengandung kesalahan. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin saja mengandung kebenaran.” (Ibnu ‘Abd al-Barr, Al-Intiqâ’, hlm. 145).

Kalimat ini adalah puncak kerendahan hati dalam keilmuan. Ia tidak ”menuhankan” pendapatnya, sekaligus tidak merendahkan orang lain.

Dalam riwayat lain, Imam Malik bin Anas rahimahulLâh pernah diminta oleh Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur untuk menjadikan Kitab Al-Muwaththa’ sebagai satu-satunya rujukan umat Islam. Beliau menolak dengan lembut perminataan tersebut, “Amirul Mukminin, jangan lakukan itu. Sesungguhnya para Sahabat Rasulullah saw. telah tersebar di berbagai negeri. Setiap kaum telah mengambil ilmu dari mereka. Memaksakan satu pendapat akan menimbulkan fitnah.” (Ibnu ‘Abd al-Barr, Al-Intiqâ’, hlm. 80).

Betapa agung pandangan ini. Imam Malik tidak memaksakan kebenaran versinya. Ia memahami bahwa perbedaan adalah rahmat yang harus dijaga. Bukan diseragamkan dengan kekuasaan.

Adab yang sama juga ditunjukkan oleh Imam Syafi‘i rahimahulLâh. Beliau adalah salah satu murid terbaik Imam Malik. Beliau tidak pernah mencela ulama lain dalam perbedaan pendapat. Disebutkan bahwa Imam Syafi‘i pernah berkata, “Jika aku berdialog/berdebat dengan seseorang, aku tidak pernah berharap ia salah. Aku berharap ia diberi taufik.” (Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 10/ 28).

Bandingkan dengan kondisi hari ini. Banyak orang berdiskusi bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk menjatuhkan lawan. Yang dicari bukan hidayah, tetapi kemenangan.

Imam Syafi’i juga biasa berbeda pendapat dengan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulLâh dalam banyak masalah. Akan tetapi, hubungan keduanya begitu erat. Imam Syafi‘i berkata, “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap kebenaran tampak melalui lisannya.” (Abu Nu‘aim, Hilyah al-Awliyâ’, 9/118).

Sebaliknya, Imam Ahmad, salah satu murid terbaik Imam Syafi’i, juga memiliki adab yang luar biasa, sebagaimana gurunya. Tentang Imam Syafi’i, Imam Ahmad pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Imam Syafi‘i.” (Ibnu Abi Ya‘la, Tabaqaat al-Hanaabilah, 1/283).

Imam Ahmad pun biasa mendoakan orang yang berbeda pendapat dengan dirinya. Disebutkan bahwa Imam Ahmad dan Imam Syafi‘i, meski saling berbeda pendapat dalam banyak hal, tetap saling mendoakan. Imam Ahmad selalu mendoakan Imam Syafi‘i dalam shalatnya selama puluhan tahun. Beliau berkata, “Sejak aku mengenal Imam Syafi‘i, aku tidak pernah meninggalkan doa untuk beliau.” (Al-Baihaqi, Manâqib asy-Syâfi‘i, 2/254).

Perhatikan. Perbedaan tidak melahirkan kebencian. Justru ia memperkuat rasa hormat. Tentu karena yang dicari bukan kemenangan diri. Yang dicari adalah kemenangan kebenaran.

Imam Ahmad juga sering berbeda pendapat dengan sebagian ulama lain. Akan tetapi, beliau tetap menjaga lisannya. Ketika ditanya tentang orang yang menyelisihi beliau, beliau berkata, “Aku tidak suka menyebut mereka kecuali dengan kebaikan.” (Ibn Muflih, Al-Adab asy-Syar‘iyyah, 1/186).

Inilah adab. Berbeda tidak berarti mencaci. Berselisih tidak berarti memutus ukhuwah.

Teladan lainnya adalah Sufyan ats-Tsauri. Beliau tidak pernah memusuhi ulama lain yang berbeda pendapat dengan dirinya. Beliau pernah berkata, “Jika engkau melihat seseorang mengamalkan suatu amalan yang diperselisihkan, janganlah engkau melarang dia.” (Al-Khatib al-Baghdadi, Al-Faqîh wa al-Mutafaqqih, 2/69).

Ini bukan sikap kompromi terhadap kebenaran. Ini adalah pemahaman mendalam terhadap keluasan syariah Islam. Mereka berbeda dalam banyak masalah. Akan tetapi, cinta karena Allah jauh lebih besar daripada perbedaan pendapat di antara mereka.

Berikutnya adalah Imam an-Nawawi rahimahulLâh. Beliau adalah salah satu ulama mu’tabar Mazhab Syafii. Dalam banyak karya beliau, beliau sering menyebutkan perbedaan ulama tanpa mencela. Beliau berkata, “Para ulama telah sepakat bahwa perbedaan dalam masalah cabang (furuu‘) tidaklah mengharuskan adanya pengingkaran.” (An-Nawawi, Al-Majmû‘ Syarh al-Muhadzdzab, 1/93).

Ini adalah kaidah emas. Tidak semua perbedaan harus disikapi dengan keras. Ada ruang toleransi dalam perkara ijtihadi.

Demikian pula Imam Ibn Taymiyah rahima­hulLâh. Beliau senantiasa menunjukkan keluasaan hati sebagai seorang mujtahid. Beliau pernah berkata, “Tidaklah seseorang mencela orang lain dalam masalah ijtihad kecuali ia sendiri lebih layak dicela.” (Ibnu Taimiyah, Majmû‘ al-Fatâwâ, 20/207).

Pernyataan ini seperti tamparan halus. Siapa kita jika berani mencela pihak yang berbeda, sementara para ulama besar saja saling menghormati dalam perbedaan?!

Teladan lainnya lagi adalah Imam adz-Dzahabi rahimahulLâh. Beliau biasa menimbang dengan adil. Beliau pernah menasihati, “Jika engkau melihat seorang alim memiliki kesalahan dalam ijtihadnya, janganlah kesalahan itu membuat dirimu menjatuhkan seluruh kebaikannya.”(Adz-Dzahabi, Siyar A‘lam an-Nubalâ’, 14/40).

Betapa sering hari ini kita melihat seseorang dijatuhkan hanya karena satu kesalahan. Padahal para ulama dulu justru menimbang dengan keadilan yang luar biasa.

Kisah-kisah ini bukan sekadar sejarah. Ia adalah cermin yang memantulkan betapa jauhnya kita dari adab para ulama.

Hari ini, perbedaan sering melahirkan caci-maki. Diskusi berubah menjadi ajang saling merendahkan. Bahkan tidak sedikit yang merasa paling benar, lalu dengan ringan menuduh orang lain bodoh, sesat, bahkan kafir. Padahal para ulama dulu—yang ilmunya jauh melampaui kita—justru biasa bersikap penuh tawadhu’ saat berhadapan dengan pihak yang berbeda. Inilah adab ilmu. Inilah buah dari rasa takut kepada Allah SWT.

Maka dari itu, jika ilmu yang kita pelajari justru melahirkan kesombongan, melahirkan cacian dan merusak ukhuwah, barangkali yang salah bukan pada ilmunya, tetapi pada hati kita yang belum siap menanggung cahaya ilmu tersebut.

Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita adab para ulama: lembut dalam perbedaan, jujur dalam mencari kebenaran dan tulus dalam menjaga persaudaraan.

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

15 + six =

Check Also
Close
Back to top button