
Teladan Dakwah
Tidak ada warisan yang lebih agung yang ditinggalkan Rasulullah SAW kepada umat ini selain risalah Islam. Itulah yang mengubah manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Risalah beliau tidak berhenti saat beliau wafat. Ia terus mengalir melalui pundak orang-orang yang mencintai beliau dan bersedia melanjutkan perjuangan beliau.
Para Sahabat memahami bahwa cinta sejati kepada Rasulullah saw. menuntut keberanian untuk memikul beban dakwah yang dulu dipikul oleh beliau. Mereka rela meninggalkan keluarga, harta, bahkan mempertaruhkan nyawa demi menyampaikan kalimat yang dibawa oleh beliau—Lâ ilâha illalLâh—ke seluruh penjuru dunia.
Di antara mereka adalah Mush’ab bin Umair ra. Di Makkah, tidak banyak pemuda yang hidup semewah dia. Pakaiannya paling indah. Tubuhnya selalu harum. Kehidupannya bergelimang kenikmatan.
Akan tetapi, semua itu berubah ketika cahaya Islam menyentuh hatinya. Begitu memeluk Islam, Mush’ab harus menghadapi kemarahan keluarganya. Ia dikurung, diasingkan, bahkan dicabut seluruh fasilitas hidupnya. Pemuda yang dulu hidup dalam kemewahan kini hanya memiliki pakaian yang sederhana.
Kehilangan dunia tidak membuat dirinya menyesal. Sebabnya, ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga: iman kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Melihat kecerdasan, kelembutan dan kematangannya, Rasulullah SAW memilih Mush’ab sebagai duta dakwah pertama dalam sejarah Islam. Beliau diutus ke Yatsrib (Madinah) sebelum peristiwa hijrah untuk mengajarkan al-Quran dan Islam kepada penduduknya. Dengan tutur kata yang lembut, hikmah yang mendalam dan akhlak yang mulia, Mush’ab berhasil membuka hati banyak orang.
Ketika Rasulullah SAW akhirnya hijrah ke Madinah, beliau mendapati sebuah kota yang telah siap menyambut Islam. Di balik kesiapan itu terdapat kerja dakwah seorang pemuda yang rela menukar seluruh kenikmatan dunia dengan keridaan Allah. Itulah Mush’ab bin Umair.
Berikutnya Muadz bin Jabal ra.: Menjelang akhir kehidupan Rasulullah SAW, Islam telah menyebar ke berbagai penjuru Jazirah Arab. Saat itulah Rasulullah SAW memilih seorang Sahabat muda yang alim untuk memikul amanah besar. Dialah Muadz bin Jabal. Ketika melepas keberangkatannya ke Yaman, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlul Kitab. Hendaklah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka mentauhidkan Allah.”
Sesampainya di Yaman, Muadz tidak datang sebagai penguasa yang haus kekuasaan. Ia hadir sebagai guru, pendidik dan pembimbing umat. Ilmunya, kelembutannya dan keteladanannya membuat banyak orang menerima Islam dengan lapang dada.
Berikutnya Abdullah bin Mas’ud ra. Pada masa-masa awal Islam, kaum Muslim belum berani membaca al-Quran dengan suara keras di hadapan kaum Quraisy. Ancaman penyiksaan terlalu besar.
Di tengah suasana itu, ia justru berdiri dengan penuh keberanian. Ia menuju pelataran Ka’bah, lalu membaca permulân QS ar-Rahman dengan suara yang lantang. Para pembesar Quraisy terkejut. Mereka segera mengerumuni dirinya, memukul wajah dan tubuhnya hingga berdarah. Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud tidak menghentikan bacaannya. Semakin keras mereka memukul, semakin teguh ia melantunkan ayat-ayat Allah.
Sekembalinya kepada para Sahabat, tubuhnya penuh luka. Mereka berkata, “Inilah yang kami khawatirkan akan menimpa dirimu.”
Akan tetapi, Abdullah bin Mas’ud menjawab dengan penuh keyakinan, “Demi Allah, musuh-musuh Allah tidak pernah terasa lebih hina di mataku daripada hari ini. Jika kalian menghendaki, besok aku akan mengulanginya lagi.”
Berikutnya Abu Dzar al-Ghifari ra. Ketika mendengar berita tentang munculnya seorang nabi di Makkah, ia segera berangkat untuk mencari kebenaran. Setelah bertemu dengan Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya, beliau sebenarnya diminta agar kembali kepada kaumnya hingga datang perintah berikutnya.
Akan tetapi, sebelum pulang, Abu Dzar tidak mampu menyembunyikan keimanannya. Ia berdiri di pelataran Ka’bah lalu mengucapkan syahadat di hadapan para pembesar Quraisy. Seketika mereka mengeroyok dirinya hingga nyaris meninggal dunia. Andaikan tidak dilindungi oleh ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib, mungkin Abu Dzar telah gugur saat itu.
Setelah kembali ke kabilah Ghifar—yang dikenal sebagai kabilah para penyamun jalur perdagangan—Abu Dzar tidak menikmati keislamannya sendirian. Ia berdakwah dengan penuh kesabaran kepada keluarganya, kemudian kepada seluruh kaumnya.
Dari lisannya yang jujur dan akhlaknya yang istiqamah, Allah memberi hidayah kepada banyak orang. Sebagian besar Bani Ghifar akhirnya memeluk Islam, kemudian disusul oleh kabilah Aslam.
Berikutnya Ath-Thufail bin ‘Amr ad-Dausi ra.: Di antara tokoh Arab yang masuk Islam melalui dialog langsung dengan Rasulullah SAW adalah dirinya. Sebelum bertemu dengan Rasulullah SAW, kaum Quraisy telah memperingatkan dia agar tidak mendengarkan perkataan Muhammad SAW. Bahkan mereka menakut-nakuti dia dengan berbagai tuduhan.
Akan tetapi, Ath-Thufail memilih mendengar sendiri. Begitu mendengar bacaan al-Quran dari Rasulullah SAW, ia berkata, “Demi Allah, aku adalah seorang penyair dan orang yang berakal. Aku mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.”
Hatinya pun luluh. Ia segera masuk Islam. Setelah memeluk Islam, ia memohon izin kepada Rasulullah SAW untuk kembali kepada kaumnya sebagai da’i.
Mula-mula hanya sedikit yang menerima dakwahnya. Bahkan ia sempat kembali kepada Rasulullah SAW dan meminta agar kaumnya didoakan dengan kebinasaan. Akan tetapi, Rasulullah SAW justru mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa, “Ya Allah, berilah hidayah kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka (kepada Islam).”
Ath-Thufail kembali dengan semangat baru. Ia terus berdakwah tanpa mengenal lelah. Beberapa tahun kemudian, ia datang ke Madinah bersama puluhan bahkan ratusan orang dari kaumnya yang telah memeluk Islam.
Demikianlah. Secuil kisah-kisah para para Sahabat di atas mengajarkan bahwa dakwah tidak memiliki satu wajah. Akan tetapi, semuanya berangkat alasan yang sama: meneladani dakwah Rasulullah SAW sebagai tanda bukti cinta sejati mereka kepada beliau.
Lalu bagaimana dengan kita?
Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar/Dari berbagai sumber]



