Catatan Dakwah

Amanah

“Wahai Abu Dzar, sungguhn engkau orang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Ia pada Hari Kiamat nanti akan berubah menjadi penyesalan dan kesedihan, kecuali yang mengambil amanah dengan haq dan menunaikan semua kewajiban di dalamnya.” (HR Muslim).

++++

Suatu hari, sebagaimana diceritakan dalam hadis shahih riwayat Imam Muslim, datang Abu Dzar kepada Baginda Rasulullah saw. Ia meminta agar beliau menjadikan dirinya sebagai pemimpin. Sambil menepuk pundak Abu Dzar, Rasulullah saw. berkata seperti tersebut di atas. Intinya ada dua. Pertama: Tentang pentingnya kecakapan dalam memimpin.  Nabi saw. menolak permintaan itu karena Abu Dzar dinilai oleh beliau tidak memiliki kecakapan untuk mengemban jabatan itu. Kecakapan atau kemampuan sangat diperlukan dalam mengemban amanah kepemimpinan. Prinsip the right man on the right place, yang dikenal dalam manajemen modern saat ini, ternyata sudah ditegaskan oleh Nabi saw. sejak dari awal.  Dalam kesempatan lain, sebagaimana disebut dalam hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari, Nabi saw. mengingatkan bahwa akan terjadi kerusakan bahkan kehancuran jika prinsip ini diabaikan, yakni ketika kepemimpinan diserahkan kepada orang yang tidak kapabel. Sabda beliau, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah kehancurannya.”

Kedua: Tentang pentingnya amanah. Kepemimpinan bukan sekadar sebuah jabatan. Di dalamnya melekat kewenangan. Makin tinggi level kepemimpinan, makin besar kewenangan yang dimiliki. Jika kepemimpinan itu dijalankan dengan baik, kebaikan juga akan dirasakan oleh lebih banyak orang. Sebaliknya, jika buruk kepemimpinan, yang merasakan keburukan juga banyak orang. Oleh karena itu, ketika Nabi saw. mengingatkan, kepemimpinan adalah amanah, terkandung peringatan agar setiap pemimpin melaksanakan kewenangan yang dia miliki itu dengan sebaik-baiknya. Jika kepemimpinan itu tidak dilaksanakan dengan baik, Nabi saw. mengingatkan, ia akan berubah menjadi penyesalan dan kehinaan pada akhirat nanti.

Sedemikian penting amanah dan janji kepemimpinan, Nabi saw. mengikatkannya dengan iman dan agama. Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi saw. menyatakan tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. Kesediaan untuk menunaikan amanah dan memenuhi janji-janji menjadi ciri orang-orang yang beriman yang beruntung, sebagaimana disebut dalam QS al-Mu’minun ayat 8.

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad disebutkan, ada empat hal jika ada di dalam diri seseorang, tidak akan merugi meski kehilangan dunia. Di antaranya adalah orang yang menjaga amanah (hifzh al-amanah). Tiga lainnya, berkata jujur (shidq al-hadiits), berakhlak mulia (husn al-khuluuq) dan menjaga makanan dari yang haram (khiffatu tu’matin).

Orang-orang yang menjaga amanah dan janji-janjinya itu, selain akan meraih kesuksesan dalam hidup di dunia, juga sebagaimana disebut dalam QS al-Mu’minun ayat 10 dan 11, dipastikan akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.

Oleh karena itu, Allah SWT wanti-wanti kepada orang yang beriman, sebagaimana disebut dalam QS al-Anfal ayat 27,  untuk tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya serta tidak mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepada dirinya. Peringatan untuk tidak mengkhianati Allah dan Rasul-Nya diutamakan. Sebabnya, jika kepada Allah dan Rasul-Nya saja dengan mudah mengkhianati, apalagi kepada sesama manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, tanda-tanda calon pengkhianat sebenarnya  sudah tampak nyata. Disebut dalam hadis shahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, ada tiga: jika berbicara berdusta; jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berhianat. Karena pengkhianatan itu, dalam QS al-Anfal ayat 58, ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Jika kita tidak disukai oleh tetangga, atau atasan kerja, kita bisa pindah rumah atau pindah tempat kerja. Namun, kalau tidak disukai oleh Allah, kemana kita akan menuju? Di Akhirat, sebagaimana disebut dalam hadis shahih Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, setiap pengkhianat akan mendapat bendera pada Hari Kiamat. Disebutkan: ini pengkhianatan si Fulan dan ini pengkhianatan si Fulan.

Sikap amanah akan menentukan kesungguhan dalam bekerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Sikap amanah juga akan mendorong kreativitas – inovasi serta menjadi dasar soliditas tim. Akhirnya, sikap amanah akan menentukan pencapaian keberhasilan dan keberkahan.

++++

Prinsip-prinsip sederhana tentang amanah yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya di atas ini hari tampak makin tergerus, jika tidak bisa dikatakan telah hilang sama sekali. Orangtua yang dikarunia amanah anak, guru atau dosen yang diberi amanah murid atau mahasiswa, kiai yang diberi amanah sekian banyak santri, bukan dididik dengan baik, malah diterlantarkan, bahkan ada yang dilecehkan dan diperkosa. Suami yang dikaruniai istri, bukan dipimpin dan dibimbing dengan baik, malah dizalimi. Ini yang kini dikenal dengan istilah KDRT.

Kepala Daerah, baik di tingkat II maupun di tingkat I, yang diberi amanah memimpin sekian juta rakyatnya, mengelola sekian ratus miliar bahkan triliun anggaran, malah dikorup. Rakyatnya sendiri tidak diurus dengan baik. Yang miskin tambah miskin. Jalanan rusak, banjir, macet dan lain-lain.

Ulama, yang disebut oleh Nabi saw. sebagai waratsatul anbiyaa’ (pewaris para nabi), dengan amanah ilmunya, bukan memberikan jalan kebenaran kepada umat. Mereka malah merelakan diri menjadi alat stempel kebijakan rezim zalim. Bisa-bisanya ada ulama menyetujui pembubaran kelompok dakwah. Bisa-bisanya juga ada ulama turut serta memerangi dakwah Islam kaaffah dengan alasan memberantas radikalisme.

Pengusaha kaya, dengan amanah rezeki melimpah yang diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya, bukan menggunakan kekayaannya itu untuk jalan kebaikan, mendukung dakwah Islam, menegakkan amar makruf nahi mungkar, malah justru mengongkosi persekutuan jahat pejabat korup dengan para politisi culas untuk bisa berkuasa kembali. Dengan kekuasaan itu, ia berharap mendapatkan cuan lebih besar lagi dari yang sekarang telah dimiliki.

Aparat penegak hukum, yang diberi amanah untuk menegakkan hukum bagi perwujudan keadilan, malah banyak yang  berperan besar dalam mewujudkan ketidakadilan. Pasalnya, hukum tidak lagi dijalankan demi hukum, tetapi demi kekuasaan dan keuangan. Akhirnya, hanya mereka yang mempunyai kekayaan saja yang mendapatkan perlindungan hukum.

Cendekiawan atau ilmuwan, dengan amanah ilmunya, mestinya mampu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah berdasar ilmu yang dia kuasai, tetapi justru, sama seperti ulama, menggunakan otoritas ilmunya itu untuk membenarkan kebijakan salah penguasa, seperti lahirnya UU Ciptaker dengan Perppunya, Perppu Covid dan masih banyak lagi yang lain.

Wakil rakyat, sesuai namanya, mestinya bekerja untuk kepentingan rakyat yang mereka wakili. Yang terjadi, mereka bekerja justru untuk kepentingan penguasa dan oligarki yang sangat merugikan rakyat yang diwakilinya. Dari mereka lahir UU Minerba yang sangat kapitalistik, UU Ciptakerja dan masih banyak lagi yang lain, termasuk revisi UU KPK yang berdampak pada pelemahan institusi pemberantas korupsi itu. Melalui UU Minerba 2020 yang disahkan oleh para wakil rakyat itu, potensi 380 ribu hektar ladang batubara senilai lebih dari 65 ribu triliun kini dikuasi oleh 7 perusahaan besar. Jika UU Minerba 2009 dipertahankan, potensi besar itu dipastikan akan dinikmati oleh rakyat.

Presiden, sebagai pemimpin tertinggi, dengan kewenangan terbesar, mestinya menjadi contoh dalam iman dan takwa kepada Allah SWT yang diwujudkan dalam penerapan syariah di seluruh aspek kehidupan; utamanya politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan budaya. Sejatinya mereka harus mewujudkan persatuan umat, menggerakkan amar makruf nahi mungkar, memimpin pemberantasan korupsi dan aneka bentuk kemaksiatan. Yang terjadi, mereka justru memelopori amar mungkar nahi makruf dengan pembubaran kelompok dakwah. Alih-alih menggerakkan dakwah dan pengamalan Islam, yang terjadi mereka justru menjadi pelopor pembatasan dakwah atas nama perang melawan radikalisme.

Akibatnya, umat terbelah-belah, sekularisme, liberalisme dan kapitalisme, juga korupsi makin menjadi-jadi. SDA alam strategis seperti nikel, batubara dan lainnya lebih banyak dinikmati pemilik modal dari dalam maupun luar negeri. Rakyat sendiri terus dijerat dengan berbagai pajak dan pungutan, berbagai subsidi yang notabene hak rakyat, seperti subsidi BBM, listrik, gas dan lainnya, satu persatu dicabut.

Jika amanah-amanah itu tidak ditunaikan dengan baik, maka benarlah kata Rasululullah, bahwa kepemimpinan itu hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan di Akhirat nanti. Apa yang akan mereka katakan di hadapan Allah kelak dengan semua pengkhianatan-pengkhianatan itu? Na’uudzubilLaah min dzaalik. [H. M. Ismail Yusanto, MM.]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × one =

Check Also
Close
Back to top button