
Ironi di Negeri Andalusi
“Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya”
++++
Hadis riwayat ad-Daruquthni di atas menegaskan betapa Islam sebagai risalah itu tak akan bisa dikalahkan oleh apapun dan oleh siapapun. Akan tetapi, sebagai sebuah peradaban, tidak ada jaminan peradaban Islam itu akan langgeng, tak akan lenyap atau tak bisa dikalahkan oleh peradaban lain. Contoh paling nyata adalah apa yang terjadi di negeri Andalusia – kini Spanyol dan Portugal.
Kehebatan peradaban Islam di Andalusia sangatlah nyata. Selama sekitar 700 tahun, Islam di wilayah itu membangun sebuah peradaban agung yang kemudian menjadi pusat ilmu, ekonomi, teknologi, budaya, dan toleransi di Eropa Barat. Bahkan ketika sebagian besar Eropa masih berada dalam masa yang sering disebut “Dark Ages”, Andalusia justru menjadi pusat cahaya ilmu pengetahuan dunia.
Salah satu bukti kehebatannya adalah Masjid Agung Cordoba, salah satu masjid terbesar dan termegah di dunia Islam pada masanya. Tiangnya mencapai ratusan, dengan lengkungan merah putih yang menjadi mahakarya arsitektur dunia. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga universitas dan pusat kajian ilmu. Di sana dipelajari tafsir, hadis, kedokteran, matematika, astronomi hingga filsafat. Cordoba pada masa itu memiliki lampu jalan, sistem sanitasi, perpustakaan besar, dan jalan beraspal ketika banyak kota Eropa masih gelap dan kumuh.
Di Kota Cordoba berdiri perpustakaan dengan ratusan ribu manuskrip. Pada masa Khalifah Al-Hakam II, jumlah koleksi buku disebut mencapai sekitar 400 ribu naskah. Saat sebagian kerajaan Eropa belum memiliki perpustakaan besar, Andalusia sudah menjadi pusat literasi internasional. Para pelajar dari berbagai negeri datang belajar ke sana. Konon Machiavelli pun dikabarkan pernah belajar di sana.
Sementara itu, di Granada ada al-Hambra. Kompleks istana ini menunjukkan tingkat seni, teknik dan arsitektur yang luar biasa hebat. Sistem pengairannya sangat canggih. Air dialirkan ke taman, kolam dan ruangan dengan desain presisi. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan kaligrafi Arab dan ayat-ayat yang menunjukkan kuatnya hubungan antara seni, pertahanan dan spiritualitas Islam. Tempat itu menunjukkan bagaimana umat Islam Andalusia memahami tata kota, estetika dan keseimbangan dengan alam. Konsep taman air dan ventilasi alami di sana bahkan menginspirasi banyak desain arsitektur modern.
Di Sevilla ada Giralda, menara masjid tempat azan dikumandangkan, memberikan bukti bagaimana struktur dan teknik pembangunannya menjadi salah satu pencapaian teknik sipil besar pada zamannya. Hingga kini ia masih menjadi ikon Kota Sevilla.
Kemajuan Andalusia juga tampak dalam bidang ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh besar lahir dari sana. Ibnu Rushd dikenal di Barat sebagai Averroes. Pemikirannya mempengaruhi filsafat Eropa dan menjadi jembatan antara ilmu Islam dan Renaisans Barat. Ada pula Abbas Ibn Firnas yang dikenal melakukan eksperimen terbang jauh sebelum era modern. Dalam kedokteran, astronomi, matematika dan pertanian, Andalusia menghasilkan banyak inovasi penting.
Sistem pertanian Andalusia juga sangat maju. Umat Islam memperkenalkan teknik irigasi modern, kincir air, kanal serta berbagai tanaman baru—seperti jeruk, padi, kapas, delima dan tebu—ke Eropa. Banyak kosakata Spanyol modern bahkan berasal dari bahasa Arab, terutama yang berkaitan dengan ilmu, pertanian dan administrasi; seperti arroz dari ar-ruz (beras). Kota Madrid sendiri berasal dari majrit (sumber air). Ungkapan sehari-hari ‘ojala’ ternyata berasal dari kata ‘insya Allah’. Kota-kota Islam di Andalusia memiliki pemandian umum, rumah sakit, taman kota, sistem drainase, serta penerangan jalan. Pada masa itu banyak kota Eropa belum memiliki fasilitas dasar seperti itu.
Semua itu bisa terjadi karena Andalusia berhasil membangun budaya ilmu. Ilmu dihormati. Ulama, dokter, astronom, penyair dan filosof mendapat tempat penting dalam masyarakat. Dari Andalusia, banyak ilmu masuk ke Eropa dan ikut memicu lahirnya Renaisans.
Akan tetapi, kemegahan itu kini lenyap. Seolah tak berbekas. Setelah jatuhnya Islam dan berlanjut pada Spanish Inquisition, umat Islam dipaksa memilih antara pindah agama, pergi atau menghadapi hukuman berat. Masjid diubah menjadi gereja, manuskrip dibakar, bahasa Arab dilarang dan identitas Islam dihapus secara sistematis.
Ada ironi yang sunyi, namun tajam di sana-kini. Jejak kemegahan peradaban agung itu terus memudar. Bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam denyut kehidupan umat yang tersisa. Di Cordoba, ironi itu terasa begitu nyata. Bangunan megah yang dulu adalah masjid agung—pusat ibadah, ilmu dan peradaban—kini berdiri sebagai katedral. Pilar-pilar yang dulu menjadi saksi sujud panjang para ulama dan penuntut ilmu, kini menggaungkan lantunan liturgi yang berbeda. Sementara itu, umat Islam yang masih ada harus beribadah di tempat yang jauh dari kata layak. Di sebuah masjid kecil. Berukuran kira-kira hanya 4 x 10 meter. Tersembunyi di gang sempit. Tidak ada kemegahan. Tidak ada simbol kejayaan. Yang ada hanyalah ruang sederhana untuk mempertahankan identitas yang tersisa.
Ironi tidak berhenti pada bangunan. Ia meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang paling sederhana, seperti kebersihan dan kesucian dari najis menjadi soal besar sekarang ini. Di hampir semua tempat, toilet tidak menyediakan air. Istinjak, yang dulu menjadi bagian dari kesucian, kini tergantikan oleh tisu. Yang lebih menyedihkan, sebagian umat Islam sendiri mulai terbiasa dengan kondisi itu. Bahkan ketika air tersedia, sebagian tetap saja memilih tisu. Inilah adaptasi yang perlahan mengikis praktik yang sesungguhnya sangat prinsipil, karena tak akan ada ibadah tanpa kesucian dari najis.
Di Granada, bayangan kejayaan masih terlihat dari istana-istana tua yang berdiri kokoh. Akan tetapi, ia lebih menyerupai museum daripada simbol hidup peradaban. Kalimat-kalimat tauhid yang terukir di dinding menjadi artefak sejarah. Bukan lagi bagian dari kehidupan. Umat Islam hadir sebagai pengunjung. Bukan sebagai pewaris.
Di Sevilla, jejak itu semakin samar. Menara yang dulu digunakan untuk azan kini berubah fungsi. Menjadi menara gereja. Melengkapi masjid agung Sevilla yang telah berubah menjadi gereja. Orang-orang datang untuk mengagumi arsitektur, mengambil foto dan mendengar cerita Sejarah. Akan tetapi, mereka tidak merasakan ruh yang pernah menghidupkannya. Islam di sana bukan lagi realitas sosial, melainkan sekadar catatan dalam buku sejarah.
Madrid sebagai ibu kota modern menampilkan wajah yang tak berbeda. Di kota ini, umat Islam hadir sebagai minoritas kecil di tengah hiruk-pikuk globalisasi. Masjid memang ada, tetapi tidak menjadi pusat peradaban seperti dulu. Aktivitas keislaman berjalan, namun dalam ruang yang terbatas dan sering tanpa pengaruh besar terhadap lingkungan sekitar. Identitas harus bernegosiasi dengan realitas sosial yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Malaga pun tidak jauh berbeda. Kota pesisir yang indah ini menyimpan sejarah panjang, tetapi jejak Islamnya nyaris tak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Wisatawan datang untuk pantai dan budaya Mediterania. Bukan untuk menelusuri warisan Islam yang pernah ada. Kosakata halal dalam makanan pun tak lagi dipahami. Kalau dibilang kebab, mereka baru tahu.
Semua ini membawa kita pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana sebuah peradaban besar bisa menghilang begitu jauh hingga hanya menyisakan fragmen-fragmen kecil? Nyatalah, inkuisisi menjadi titik balik yang brutal. Memaksa konversi, pengusiran dan penghapusan identitas. Akan tetapi, yang lebih menyedihkan adalah bagaimana waktu kemudian mempercepat proses pelupaan itu.
Ironi Andalusi bukan sekadar tentang perubahan bangunan atau kebiasaan. Ia adalah cermin tentang rapuhnya peradaban jika tidak dijaga. Kejayaan tidak menjamin keberlanjutan. Identitas bisa terkikis bukan hanya oleh tekanan eksternal, tetapi juga oleh adaptasi yang perlahan mengubah prinsip menjadi pilihan.
++++
Andalusia memberi kita pelajaran. Sejarah tidak hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk direnungkan. Apa yang hilang tidak selalu hilang dalam satu malam, tetapi bisa memudar sedikit demi sedikit. Lalu suatu saat, yang tersisa hanyalah cerita tentang apa yang pernah ada.
Demikianlah. Islam itu tinggi, tetapi tak otomatis menjadi tinggi dengan sendirinya. Islam itu tak akan bisa dikalahkan. Akan tetapi, Andalusia membuktikan, jika tidak dijaga, peradaban Islam juga bisa kalah, bahkan lenyap nyaris tak berbekas! [H.M. Ismail Yusanto]
