
Pelajaran Di Balik Kejahatan Yahudi Bani Isra’il
Tidak ada keburukan di dunia ini melainkan Allah dan Rasul-Nya telah memperingatkan umat manusia dari keburukan tersebut. Salah satunya adalah keburukan kaum Yahudi terhadap ketauhidan, agama, kitab suci dan para nabi. Tidaklah Allah menggambarkan rekam jejak kejahatan Yahudi Bani Israil dalam al-Quran, melainkan terdapat pelajaran berharga bagi orang-orang yang beriman:
كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ مَا قَدۡ سَبَقَۚ وَقَدۡ ءَاتَيۡنَٰكَ مِن لَّدُنَّا ذِكۡرٗا ٩٩
Demikianlah Kami mengisahkan kepada kamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu. Sungguh telah Kami berikan kepada kamu dari sisi Kami suatu peringatan (al-Quran) (QS Thaha [20]: 99).
Asy-Syaikh ’Atha bin Khalil Abu al-Rasytah menegaskan dalam At-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 127) bahwa kaum Muslim harus merenungkan tentang tabiat-tabiat bangsa Yahudi yang buruk, makar politis penuh kedengkian dan berbagai upaya jahat mereka sebagaimana yang telah allah sebutkan. Tentu agar mereka mampu memahami hukum syariah berkaitan dengan permasalahan domestik dan internasional (al-wa’y al-siyâsî), hubungannya dengan Islam dan kaum Muslim. Apalagi pada masa tatkala kaum Muslim hari ini menghadapi Yahudi dengan berbagai produk pemikiran kufurnya. Benar apa yang dituturkan al-Imam al-Ghazali (w. 505 H) dalam Ihyâ’ ’Ulûm ad-Dîn (5/396):
عرفتُ الشرّ لا للشرّ * لكن لتوقيه
ومن لا يعرف الشرّ * من الناس يقع فيه
Aku tahu keburukan bukan untuk keburukan # tapi untuk menghindar darinya
Siapa saja yang tak tahu keburukan # di antara manusia maka akan terjerumus ke dalamnya
Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dalam Qirâ’at Siyâsiyyat li as-Sîrah an-Nabawiyyah (hlm. 117) menggambarkan bahwa kaum Yahudi di Madinah adalah musuh yang cerdas nan licik. Untuk menghadapi mereka, Nabi saw. melakukan beberapa tahapan yang berbeda dengan tahapan mengatasi permusuhan kaum musyrik Quraysyi. Pada akhirnya, wa bilLâhi at-tawfîq, Rasulullah saw. mampu mengatasi permusuhan mereka dengan pandangan politik beliau yang jauh ke depan. Menghadapi mereka tentu membutuhkan petunjuk dan pertolongan-Nya:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّٗا مِّنَ ٱلۡمُجۡرِمِينَۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيٗا وَنَصِيرٗا ٣١
Seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong (QS al-Furqan [25]: 31).
Kalimat “Wa kafâ bi Rabbika hâdiy[an] wa nashîr[an] (Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong)” mengisyaratkan solusi menghadapi para penjahat yang memusuhi Rasulullah saw. dan para pewarisnya dari masa ke masa, yakni semata-mata kembali pada petunjuk dan pertolongan Allah. Al-Hafizh Ibn Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya (VI/99) menafsirkan: Maknanya, bagi siapa saja yang mengikuti Rasul-Nya dan mengimani Kitab Suci-Nya, maka Allah adalah Pemberi Petunjuk dan Penolongnya di dunia dan akhirat. Dikatakan, “Cukuplah Tuhanmu yang menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong” karena kaum musyrik dulu menghalang-halangi manusia dari perbuatan mengikuti al-Quran. Tujuannya agar tidak ada seorang pun mengambil petunjuknya dan agar jalan hidup mereka mengalahkan jalan hidup al-Quran.
Bukan hanya untuk kaum musyrik Qurays, ayat ini pun berlaku bagi kaum kuffaar yang memusuhi para nabi. Realitanya, jika ada golongan yang rekam jejak kejahatannya memenuhi ruang dari masa ke masa, hingga masa Rasulullah saw. bahkan di masa kini, maka itu bukan kaum Nabi Nuh as., kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Nabi Ibrahim as., kaum Nabi Luth as., Fir’aun, Jalut, Abrahah dan pasukan Gajah; tetapi Yahudi Bani Isra’il. Mereka tercatat dalam al-Quran sebagai kaum yang takabur. Mereka menolak untuk mengimani Allah hingga bisa melihat Allah secara terang-benderang. Mereka mengkufuri ayat-ayat Allah (QS al-Baqarah [2]: 55, 61). Mereka menyekutukan Allah dengan patung anak sapi (al-’ijl) (QS al-A’râf [7]: 148) setelah sebelumnya mengimani Allah di bawah bimbingan Nabi Musa as. dan Nabi Harun as.
Para rahib mereka sengaja menyimpangkan Taurat dengan mengarang sendiri kalimatnya. Lalu mereka berdusta dengan mengklaim karangannya itu sebagai firman Allah (QS al-Baqarah [2]: 75, 79). Mereka mengimani sebagian Taurat dan mengkufuri sebagiannya. Mereka membunuh dan mengusir kaumnya sendiri. Mereka tolong-menolong dalam permusuhan (QS al-Baqarah [2]: 85). Mereka menunda-nunda perintah Allah, bahkan menolak untuk taat dan melanggar perjanjian (QS al-Baqarah [2]: 71, 83). Mereka pun berbuat jahat kepada Nabi Isa as. dan pengikutnya. Mereka mendistorsi Injil hingga lahir konsep kufur trinitas. Mereka pun membunuh para nabi (Nabi Zakaria as., Yahya as.) dan mendustakan mereka (Nabi Musa as., Isa as. (QS al-Baqarah [2]: 87). Mereka melanggar peribadatan Hari Sabtu hingga dikutuk menjadi kera (QS al-Baqarah [2]: 65) bahkan menjadi babi sebagai bentuk kemurkaan-Nya atas mereka:
قُلۡ هَلۡ أُنَبِّئُكُم بِشَرّٖ مِّن ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِندَ ٱللَّهِۚ مَن لَّعَنَهُ ٱللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيۡهِ وَجَعَلَ مِنۡهُمُ ٱلۡقِرَدَةَ وَٱلۡخَنَازِيرَ وَعَبَدَ ٱلطَّٰغُوتَۚ أُوْلَٰٓئِكَ شَرّٞ مَّكَانٗا وَأَضَلُّ عَن سَوَآءِ ٱلسَّبِيلِ ٦٠
Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepada kalian tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah; di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaaghuut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS al-Maidah [5]: 60).
Hal tersebut Allah tegaskan sebagai peringatan bagi seluruh umat manusia:
فَجَعَلۡنَٰهَا نَكَٰلٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهَا وَمَا خَلۡفَهَا وَمَوۡعِظَةٗ لِّلۡمُتَّقِينَ ٦٦
Lalu Kami menjadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, juga agar menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa (QS al-Baqarah [2]: 66).
Pada masa Rasulullah saw, mereka menutup-nutupi kebenaran sifat beliau dalam Taurat. Mereka mencampurkannya dengan kebohongan dan menyembunyikannya (QS al-Baqarah [2]: 40-44). Mereka pun berani merendahkan Rasulullah saw. secara lisan (QS al-Baqarah [2]: 104). Mereka mendebat Rasulullah saw. dan memfitnah Nabi Sulaiman as. sebagai tukang sihir (QS al-Baqarah [2]: 102). Nabi Musa as. dan Harun as. pun tak lepas dari tuduhan sebagai tukang sihir (QS al-Qashash [28]: 48). Mereka munafik (QS al-Baqarah [2]: 76). Mereka takabur dengan merendahkan siksa neraka dan mengklaim mereka di neraka hanya beberapa hari saja (QS al-Baqarah [2]: 80). Mereka melakukan makar dengan mengirim sihir santet kepada Rasulullah saw. dengan membayar Labid bin al-A’sham (HR Al-Bukhari dan Muslim). Wal ‘iyâdzu bilLâh.
Allah SWT memperingatkan manusia dari ragam keburukan mereka. Tentu agar ada kesadaran atas persoalan umat (al-wa’y al-siyâsî), yang bertolak dari kemampuan mengidentifikasi ancaman musuh. Kejahatan mereka lahir dari ketakaburan, mengikuti hawa nafsu dan menolak kebenaran (QS al-Baqarah [2]: 87). Allah pun murka kepada mereka hingga tak mampu memilih jalan kebenaran. Ini adalah akibat kejahatan mereka sendiri:
وَقَالُواْ قُلُوبُنَا غُلۡفُۢۚ بَل لَّعَنَهُمُ ٱللَّهُ بِكُفۡرِهِمۡ فَقَلِيلٗا مَّا يُؤۡمِنُونَ ٨٨ وَلَمَّا جَآءَهُمۡ كِتَٰبٞ مِّنۡ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٞ لِّمَا مَعَهُمۡ وَكَانُواْ مِن قَبۡلُ يَسۡتَفۡتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِۦۚ فَلَعۡنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٨٩
Mereka berkata, “Hati kami tertutup.” Namun, sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka. Karena itu sedikit sekali mereka yang beriman setelah datang kepada mereka al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir. Lalu setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu mengingkarinya. Laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu (QS al-Baqarah [2]: 88-89). [Irfan Abu Naveed]




