Dunia Islam

Belajar dari Pembebasan Palestina oleh Sultan Shalahuddin

Teks dan sejarah Islam sarat dengan bukti dan contoh perang pembebasan yang mengakhiri pendudukan. Yang paling relevan untuk diambil pelajaran antara lain adalah pembebasan Palestina oleh Sultan Shalahuddin pada tahun 1187, setelah 88 tahun pendudukan oleh Tentara Salibis.

 

Geopolitik Abad ke-11

Dinamika politik abad ke-11 entitas-entitas yang bersaing dan keseimbangan kekuasaan politik tidak jauh berbeda dengan saat ini di dunia Muslim.

Khilafah Abbasiyah telah menjadi pusat kepemimpinan umat. Namun, memasuki abad ke-11, mereka telah melewati masa kejayaannya dan hanya merupakan cangkang dari kekuatan mereka sebelumnya. Jantung dunia Muslim terpecah antara Mesir dan Persia. Desentralisasi politik telah menyebabkan munculnya pemerintahan turun-temurun, yang mengarah pada penciptaan pusat kekuasaan saingan yang melawan Khilafah.

Saingan utamanya adalah Dinasti Fatimiyah, sebuah sekte Ismailiyah yang mengklaim bahwa mereka memiliki hak untuk memerintah sebagai keturunan Imam Ali dan Fathimah radhiyallah ‘anhuma. Mereka kemudian dikenal dengan “Dinasti Fatimiyah”. Dinasti Fatimiyah berusaha keras untuk mengambil alih dunia Muslim dan membentuk pemerintahan Ismailiyah. Mereka secara langsung menantang otoritas Abbasiyah dari tahun 909 M. Ketika mereka menduduki Mesir pada 969 M, mereka menjadi kekuatan terkuat di dunia Muslim. Pada akhir abad ke-11, Dinasti Fatimiyah menguasai Afrika Utara, Mesir, Makkah dan Madinah, serta sebagian Suriah dan Palestina.

Pemain politik utama lainnya adalah Saljuk. Selama era desentralisasi, Abbasiyah mengguna-kan tentara budak yang dibawa dari tanah Turki di Asia Tengah untuk bertugas di militer mereka guna menciptakan keseimbangan dalam melawan Dinasti Fatimiyah. Suku-suku Turki ini bermigrasi ke wilayah Islam dan memeluk Islam. Mereka kemudian mendirikan negara mereka sendiri dalam kekacauan politik abad ke-10. Saljuk membangun negara stabil yang membentang dari Suriah hingga Asia Tengah. Saljuk mengambil peran sebagai pelindung Khilafah, yang mencegah ekspansi Dinasti Fatimiyah di abad ke-11. Pada akhir abad ke-11, Saljuk telah berkembang ke seluruh Anatolia sampai mereka muncul di pantai yang berhadapan dengan Konstantinopel.

 

Kolonialisme Eropa Abad ke-11

Ketika Kaisar Bizantium Alexios menyadari bahwa dia tidak dapat berperang melawan kaum Muslim pada tahun 1095, untuk mencegah jatuhnya Kesultanan Bizantium, maka dia memohon kepada rivalnya, Paus Urbanus II di Roma. Paus Urbanus mengambil kesempatan untuk mengumpulkan pasukan Salibis pan-Eropa dalam nama Kristus yang berjumlah puluhan ribu.

Pada tahun 1096 M, pasukan yang dipimpin oleh bangsawan dan ksatria mulai bergerak menuju Eropa Timur, dari Prancis, Jerman dan Italia zaman modern. Sepanjang jalan, orang Yahudi Eropa dibantai karena semangat keagamaan yang dipicu oleh Gereja. Ketika Tentara Salibis tiba di tembok Konstantinopel, Kaisar Alexios menolak untuk mengizinkan mereka masuk ke kota, karena takut mereka akan menjarahnya seperti yang mereka lakukan terhadap puluhan kota besar dan kecil di sepanjang jalan.

Ketika Tentara Salibis mencapai kota kuno Antiokhia di perbatasan Suriah-Turki (sekarang Antakya di Turki), politik di wilayah itu menguntungkan mereka. Antiokhia, seperti banyak kota besar dan kecil, benar-benar merupakan pulau yang terpencil. Kesultanan Saljuk ketika itu bukan lagi entitas politik yang bersatu. Para pemimpin Turki mengelola kota-kota secara individual dan terus-menerus bertengkar satu sama lain. Kota-kota besar Damaskus, Aleppo, dan Mosul, semuanya terpecah-belah. Para pemimpinnya terus-menerus berperang. Ketika penguasa Antiokhia meminta bantuan dari pemimpin lainnya untuk melawan Tentara Salibis yang mengepung kotanya, ia tidak mendapatkan respon apapun.

Tentara Salibis merebut kota dan penduduknya dibantai. Sungguh, pembantaian Antiokhia dan kota-kota lain di sepanjang jalan menuju Al-Quds telah menimbulkan teror di daerah sekitarnya. Karena itu para pemimpin kaum Muslim sangat ingin menghindari konflik dengan Tentara Salibis. Begitu mereka menyadari sasarannya adalah Al-Quds, banyak yang memutuskan untuk mendukung Tentara Salib dengan makanan, senjata dan perjalanan yang aman daripada melawan mereka.

Pada musim panas tahun 1099 M, Tentara Salib telah mencapai tembok Al-Quds. Pada tanggal 15 Juli 1099 M, setelah pengepungan yang berlangsung hanya seminggu, Tentara Salibis berhasil merebut Al-Quds dari kaum Muslim. Untuk pertama kalinya sejak Umar ra. memasuki kota, 462 tahun sebelumnya, Al-Quds lepas dari kaum Muslim. Semua ini bisa terjadi karena perpecahan para pemimpin kaum Muslim, misalnya Syarif Husain dan Mir Ja’far, yang pada waktu itu membantu Tentara Salibis.

Seluruh penduduk sipil, lebih dari 70.000 orang, telah dibantai. Di al-Aqsa, darah umat Islam sampai ke lutut para penjajah. Masjid dan sinagog di seluruh kota dihancurkan. Bahkan orang Kristen juga menderita, karena Tentara Salibis berusaha memaksakan versi Kristen Katolik mereka sendiri daripada gereja tradisional Yunani, Armenia, Georgia, dan lainnya yang ada di kota.

 

Negara Satelit

Karena kekacauan yang menyelimuti dunia Muslim, Tentara Salibis mampu mengkonsolidasi-kan posisi mereka di Al-Quds. Dalam empat tahun, empat Kerajaan Salibis didirikan: County Edessa, Kerajaan Antiokhia, Kerajaan Kilikia Armenia, Kegubernuran Tripoli dengan Kerajaan Yerusalem (Al-Quds).

Akibat perpecahan internal, dunia Muslim terlalu lemah untuk melakukan perlawanan apa pun. Pusat-pusat kekuasaan tradisional di Baghdad, Damaskus atau Kairo tidak dalam posisi untuk merespon hal ini. Bahkan beberapa desa dan kota Muslim di sekitarnya mulai berdagang dengan negara-negara Tentara Salibis yang semakin memperkuat kehadiran mereka.

 

Kekuatan dalam Persatuan

Butuh waktu setengah abad sejak hilangnya al-Quds hingga respon Muslim terbentuk. Hal itu dimulai dari seorang pemimpin Turki, Imaduddin Zanki, yang memerintah kota Mosul di Irak utara. Dia menyatukan Mosul dan Aleppo menjadi satu negara bagian. Dengan kekuatan gabungan dari dua kota terbesar di wilayah itu, pasukannya menaklukkan County Edessa, negara Tentara Salibis paling utara pada tahun 1044 M. Pada saat itu, Edessa adalah negara Tentara Salibis terlemah.

Strategi Imaduddin adalah untuk membentuk Suriah yang bersatu dalam menghadapi ancaman Tentara Salibis dengan menempatkan Damaskus di bawah kendalinya, tetapi kota kuno itu tetap berada di luar genggamannya karena pemimpin Damaskus tidak ingin menyerahkan wilayah kekuasaannya, sekalipun atas nama persatuan kaum Muslim.

Imaduddin Zanki meninggal pada tahun 1146 M, kemudian putranya Nuruddin Zanki yang mengambil-alih perjuangan untuk menyatukan dunia Muslim. Nuruddin menaklukkan sebagian besar wilayah di sekitar Antiokhia pada tahun 1149 M. Pada tahun 1154 M, ia menggulingkan pemimpin Damaskus dengan bantuan penduduk setempat yang telah muak karena aliansinya dengan negara-negara Tentara Salibis.

Dengan penyatuan Suriah di bawah satu penguasa, maka yang tersisa hanya masalah Mesir. Pada titik ini, Tentara Salibis berbelok ke selatan untuk menaklukkan Mesir untuk memperluas pijakan mereka di wilayah tersebut. Dinasti Fatimiyah yang merasa akan dikalahkan, menghubungi Nuruddin, yang mengirim pasukan atas nama persatuan Islam. Namun, begitu Tentara Salibis dikalahkan, Dinasti Fatimiyah membuat aliansi dengan Tentara Salibis yang baru saja dikalahkan untuk mengusir Nuruddin dan pasukannya dari Mesir. Ini adalah pengkhianatan tingkat tinggi. Pasukan Nuruddin mundur dari Mesir. Hanya empat tahun kemudian, Dinasti Fatimiyah terpaksa menghubungi lagi Nuruddin lagi, saat Tentara Salibis kembali untuk menaklukkan Mesir. Kali ini Nuruddin Zanki mengalahkan Tentara Salibis di Mesir, dan kemudian mengalahkan Dinasti Fatimiyah. Nuruddin Zanki meninggalkan panglimanya, Jenderal Shirkuh, sebagai wali di Mesir. Nuruddin Zanki meninggal beberapa bulan kemudian karena sakit, kemudian digantikan keponakannya, Yusuf pada tahun 1169 M, yang dikenal sebagai Shalahuddin al-Ayyubi.

 

Mengepung Musuh

Shalahuddin telah meletakkan dasar untuk pembebasan al-Quds. Dia langsung mulai membangun ini dan membebaskan al-Quds. Dia mulai dengan mengkonsolidasikan Mesir dan meletakkan semua sisa-sisa Dinasti Fatimiyah di tong sampah sejarah. Dinasti Fatimiyah yang sesat, yang telah menjadi duri di dunia Muslim selama berabad-abad, secara resmi dihapuskan. Universitas al-Azhar, yang pernah menjadi benteng propaganda sekte Ismailiyah, diubah menjadi Universitas Islam tradisional, dan tetap demikian hingga saat ini.

Shalahuddin menandatangani perjanjian damai dengan Kerajaan Yerusalem (Al-Quds) untuk memberinya waktu bagi penyatuan wilayah Muslim di sekitar Yerusalem. Ketika Nuruddin meninggal pada tahun 1174 M karena penyakit, maka Shalahuddin sebagai wali bergerak ke Suriah tanpa perlawanan dan dengan dukungan publik yang luas, dia mempersatukan Mesir dan Suriah untuk pertama kalinya sejak Dinasti Fatimiyah. Kemudian Shalahuddin mempersatukan Irak di bawah kekuasaannya. Ini artinya bahwa Kerajaan Tentara Salibis Yerusalem (Al-Quds) dikelilingi oleh negara Muslim yang kuat dan bersatu di bawah seorang penguasa yang percaya bahwa ia berkewajiban untuk membebaskan Al-Quds.

Pada Pertempuran Hittin tahun 1187 M, pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan sepenuhnya Tentara Salibis di Al-Quds. Yang tersisa di kota suci itu hanya beberapa ksatria, yang menyerah kepada Shalahuddin. Berbeda dengan Tentara Salibis yang membantai semua orang di kota, Shalahuddin justru memberikan jalan yang aman kepada semua penduduk ke tanah Kristen dan diizinkan untuk membawa barang-barang mereka bersamanya. Situs-situs Kristen di kota itu dilindungi. Orang-orang diizinkan berziarah ke sana.

 

Beberapa Pelajaran

Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari pembebasan al-Quds, yang dapat diterapkan pada situasi kita saat ini:

Perpecahan: Tentara Salibis bisa mendapatkan pijakan di dunia Muslim karena kurangnya persatuan di antara para penguasa kaum Muslim. Perbedaan kecil mereka menjadikan mereka saingan satu sama lain. Bahkan mereka lebih peduli tentang pertempuran satu sama lain daripada berurusan dengan ancaman Tentara Salibis. Ini seperti kondisi dunia Muslim saat ini. Kita terbagi menjadi negara-negara bangsa dan bersaing satu sama lain. Kaum kafir Barat lalu memanfaatkan perbedaan nasionalistik kecil ini untuk mencapai kepentingan mereka sendiri.

Menyingkirkan Para Penguasa: Shalahuddin menunjukkan kepada kita bagaimana menghadapi perpecahan. Dia memerangi dan menyingkirkan semua penguasa yang menolak bersatu dalam merebut kembali Al-Quds. Ketika dia memimpin penaklukan Dinasti Fatimiyah Mesir, dia mendapat dukungan dari masyarakat yang tidak hanya menginginkan pembebasan dari Fatimiyah, tetapi juga menginginkan pembebasan al-Quds. Shalahuddin lebih sejalan dengan sentimen masyarakat daripada para penguasa Fatimiyah. Kita menghadapi situasi serupa hari ini. Kita memiliki penguasa yang sangat bertentangan dengan sentimen umat. Umat sangat menginginkan pembebasan Palestina. Sebaliknya, para penguasanya membuat alasan tentang betapa lemahnya kaum Muslim, dan betapa kuatnya entitas Zionis, serta sejauh mana tangan mereka terikat. Akan tetapi, Shalahuddin menunjukkan kepada kita dalam skenario ini bahwa para penguasa ini perlu disingkirkan dan diganti dengan mereka yang sentimennya sejalan dengan umat.

Para Penguasa Antek: Negara-negara Tentara Salibis mampu mengkonsolidasikan posisi mereka di wilayah tersebut karena mereka difasilitasi oleh para penguasa Muslim kecil di sekitar Al-Quds. Tujuan Kerajaan Tentara Salibis adalah menggunakan Al-Quds untuk memperkuat dan memperluas posisinya di Syam. Saat ini entitas Zionis memainkan peran ini sebagai Kerajaan Tentara Salibis abad ke-21. Lalu penguasa Mesir, Yordania dan Suriah memiliki perjanjian dan hubungan yang mengkonsolidasikan entitas Zionis, yang tanpanya entitas itu tidak akan dapat bertahan. Shalahuddin menghadapi kenyataan yang sama. Dia lalu menaklukkan semua wilayah di sekitar Al-Quds dan menyingkirkan para penguasa antek ini. Pada dasarnya hal itu memotong jalur suplai yang menopang Kerajaan Tentara Salibis.

Jalur Suplai: Shalahuddin sejak awal melihat bahwa perdagangan antara desa-desa dan para penguasa Muslim kecil adalah yang menopang ekonomi Kerajaan Tentara Salibis di Al-Quds. Untuk itu, dia memotong jalur suplai ini dengan menaklukkan wilayah-wilayah tersebut, dan dengan demikian memotong jalur kehidupan ekonomi Kerajaan Tentara Salibis. Ketika dia memulai pengepungan Al-Quds, orang-orang Kristen tidak dapat melakukan perlawanan apa pun. Mereka menyerah karena mereka tidak dapat mempertahankan perang dengan pasukan Shalahuddin. Kita menemukan situasi serupa hari ini dengan entitas Zionis. Air disediakan oleh Yordania dan gas alam oleh Mesir.

Pos Terdepan: Negara-negara Tentara Salibis didirikan sebagai pos terdepan oleh Gereja di Eropa untuk mendapatkan Tanah Suci dan menjajah wilayah tersebut. Meskipun banyak peperangan Salibis, penjajah Kristen Eropa tidak pernah mampu mempertahankan pos terdepan mereka. Penjajahan mereka terlama adalah 88 tahun, yang kemudian diakhiri oleh Shalahuddin. Inilah peran entitas Zionis di wilayah tersebut saat ini. Entitas ini didirikan untuk digunakan sebagai pos dalam melakukan campur tangan di wilayah. Inilah mengapa Barat mempersenjatai, mendanai dan mendukung entitas Zionis. Seperti negara-negara Tentara Salibis yang membuat perjanjian dan kesepakatan dengan para penguasa Muslim kecil adalah untuk memperkuat posisi mereka, dan menjadi pos terdepan bagi saudara-saudara Kristen mereka di Eropa. Jadi, entitas Zionis ini tidak ubahnya kapal induk bagi AS di wilayah tersebut saat ini. Ia adalah salah satu alat yang digunakan AS untuk mempertahankan pengaruhnya di wilayah tersebut. Dengan demikian, mengusir Kerajaan Tentara Salibis dari wilayah tersebut seperti yang dilakukan Shalahuddin pada abad ke-11 adalah hal yang perlu dilakukan saat ini untuk memotong alat ini, karena ia menjadi pintu campur tangan asing di wilayah tersebut.

Sungguh, Shalahuddin telah menunjukkan kepada kita bahwa penyatuan kembali di antara kaum Muslim, penghapusan para penguasa antek dari tengah-tengah kita, dan pembebasan Palestina adalah cara kita membebaskan tanah yang diberkati, dengan izin Allah SWT. Ini perlu menjadi prioritas, dan hanya ini yang akan mengakhiri situasi yang kita saksikan saat ini. [Adnan Khan. Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 26/05/2021].

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − two =

Back to top button