
Kudeta Di Gabon, Siapa Bermain?
Afrika kembali dilanda kudeta. Seperti yang dilaporkan VOA (30/8), ada sebuah petikan pernyataan kelompok tentara yang melakukan kudeta di Gabon hari Rabu (30/8). Kelompok yang menamakan dirinya “Komite untuk Transisi dan Pemulihan Institusi” atau “Committee for the Transition and the Restoration of the Institutions” (CTRI) mengklaim atas nama rakyat Gabon, memutuskan untuk mengakhiri rezim yang berkuasa.
Kelompok tentara itu juga mengatakan telah membatalkan hasil Pemilu Presiden Senin lalu (28/8) yang akan memperpanjang kekuasaan keluarga Bongo yang telah berlangsung selama 55 tahun. Komite Pemilihan Umum Gabon Rabu pagi mengumumkan bahwa Presiden Ali Bongo Ondimba, yang berusia 64 tahun, telah memenangkan Pemilu dengan meraih 64% suara. Namun, beberapa menit setelah pengumuman itu, terdengar suara tembakan di pusat ibukota Libreville. Puluhan tentara berseragam muncul di televisi Pemerintah dan mengumumkan mereka telah mengambil alih kekuasaan. Seorang tentara yang mengklaim sebagai juru bicara, mengatakan, “Semua institusi republik telah dibubarkan.”
Dominasi Prancis
Gabon adalah sebuah negara yang terletak di barat tengah Afrika yang menghadap ke Samudera Atlantik. Penjajah Prancis menduduki Gabon pada tahun 1885 dan memberi negara itu kemerdekaan resmi pada tahun 1960.
Perlu dicatat bahwa ada pangkalan militer di Gabon, di ibukotanya, Libreville. Terdapat sekitar 1.000 orang tentara Prancis yang mensupervisi perlindungan kepentingan Prancis di negara tersebut dan menjamin keberlangsungan pengaruh Prancis di sana. Penduduk negeri ini berjumlah sedikit. Sekitar 2,3 juta orang menurut sensus 2022. Luas negaranya hanya sekitar 270 ribu kilometer persegi. Persentase kaum Muslim kecil, seperti yang ditunjukkan oleh statistik tersebut. Di antara mereka adalah presiden terguling dan presiden transisi yang baru. Persentase kaum Muslim berkisar antara 10 – 12%. Sebagian besar tinggal di ibu kota, Libreville.
Gabon merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam. Gabon juga merupakan produsen mangan kedua di dunia, yang digunakan dalam pembuatan baja, besi dan baterai. Gabon juga memiliki cadangan emas, berlian dan uranium dalam jumlah besar; juga cadangan minyak dan gas yang besar. Itulah sebabnya Gabon menjadi anggota OPEC.
Menurut data Kementerian Luar Negeri Prancis di webitenya, sebagian besar kekayaan ini dikuasai oleh perusahaan-perusahaan Prancis, yang berjumlah sekitar 110 perusahaan di sana, termasuk perusahaan pertambangan Prancis, Eramit, yang mengekstraksi mangan, dan perusahaan energi Prancis, Total yang mengekstraksi minyak dan gas.
Gabon, seperti Niger, Mali, Senegal dan Chad, adalah satu dari empat belas negara yang mata uangnya terikat dengan mata uang Prancis dengan nama Franc Afrika, yang dikaitkan dengan Euro, yang mana itu demi kepentingan Prancis dan Uni Eropa. Pendapatannya ditransfer ke Bank Sentral Prancis, sehingga membentuk cadangan mata uang Prancis, dan kemudian Prancis memberikan remah-remahnya. Begitulah, penduduknya menjadi orang-orang fakir, sementara Prancis mencuri kekayaan mereka.
Orang-orang di negara-negara ini menyerukan pemutusan keterkaitan ini, transfer uang itu ke bank-bank di negara-negara Afrika mereka, dan pendistribusian kekayaan kepada mereka.
Siapa Ali Bongo?
Presiden terguling Ali Bongo menerima kekuasaan dalam Pemilu artifisial pada tahun 2009 setelah kematian bapaknya, Omar Bongo, yang menjadi presiden negara itu sekitar 41 tahun. Sang anak mewarisi keantekan kepada Prancis dari bapaknya. Diumumkan kemenangannya dalam Pemilu 2016. Dia tidak berhak mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiganya sesuai konstitusi di Gabon. Hanya saja, ia sepakat dengan partai-partai lain untuk terjun dalam Pemilu, dan partai-partai lain itu menyetujui hal tersebut.
Hasil Pemilu yang berlangsung pada 26/8/2023 menunjukkan Ali Bongo menang dengan perolehan suara 64,27%. Pada hari pengumuman hasil ini, sekelompok perwira dari Pengawal Presiden dan Pasukan Keamanan melakukan kudeta terhadap Presiden dan menempatkannya dalam tahanan rumah. Noureddine Bongo, putra Presiden dan penasihat dekatnya, ditangkap, selain kepala staf dan wakilnya. Demikian juga sejumlah penasihatnya, juru bicara Presiden, dan dua orang penting lainnya dari Partai Demokrat Gabon yang berkuasa, yang dipimpin oleh Presiden Ali Bongo. Tuduhannya adalah pengkhianatan tingkat tinggi terhadap lembaga-lembaga negara, penggelapan dana publik, penggelapan dana internasional melalui kelompok terorganisir, pemalsuan tanda tangan Presiden, korupsi, dan perdagangan narkoba.
Tampaknya, kudeta tersebut diatur oleh seluruh kekuatan militer di negara tersebut. Jika kita mengetahui bahwa lingkungan militer dikuasai oleh Prancis, maka telunjuk tuduhan pun akan mengarah kepada Prancis.
Mempertahankan Rezim Keluarga Antek Prancis
Perlu dicatat bahwa komandan Pengawal Presiden, Nguema, dekat dengan Presiden Ali Bongo, yang merupakan sepupunya. Sebagaimana dulu, ia juga dekat dengan ayahnya, Omar Bongo, dan bekerja sebagai penasihat khususnya hingga kematiannya. Ia kembali ke negara tersebut setelah bekerja sebagai penasihat militer di kedutaan besar negaranya di Senegal dan Maroko, setelah Ali Bongo menderita stroke pada Oktober 2018, yang membuat dirinya tidak mampu bekerja selama sekitar 10 bulan. Ia sempat dijauhkan ke luar negeri selama dua tahun, kemudian dikembalikan dan diangkat menjadi kepala pengawal Presiden, yang berarti pihak yang ia loyali ingin ia kembali untuk mempersiapkan diri untuk periode setelah presiden yang setengah lumpuh itu.
Calon presiden dari pihak oposisi, Albert Ondo Osa, mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada saluran Prancis TV5 Bonde pada tanggal 31 Agustus 2023, “Kita harus menempatkan segala sesuatu dalam konteksnya. Pertama, ini bukan tentang kudeta militer, melainkan Revolusi Istana. Oligui Nguema adalah sepupu Ali Bongo. Kubu Bongo sampai pada keyakinan bahwa Ali Bongo harus disingkirkan untuk mempertahankan rezim keluarga Bongo. Oligui Nguema adalah pengikut dan di belakangnya berdiri keluarga Bongo, yang mengontrol kekuasaan.”
Adapun sikap resmi Prancis, BBC, pada 30/8/2023 mengutip pernyataan pejabat Prancis, Perdana Menteri Prancis Elizabeth Bourne mengatakan, “Paris mengikuti dengan cermat situasi di Gabon.”
Sumber di Elysee mengatakan, “Paris dengan sangat jelas mengutuk kudeta di Gabon dan bahwa Presiden Macron tidak berkomunikasi dengan Presiden Bongo. Prancis berharap agar tatanan konstitusional di Gabon segera Kembali. Namun, Prancis tidak ikut campur dalam urusan politik dalam negeri negara ini. Solusinya bukanlah dengan kudeta militer, namun melalui Pemilu yang bebas dan adil yang menjamin aspirasi rakyat Gabon.”
Meskipun sikap ini tampak di dalamnya mengutuk kudeta, itu merupakan sikap yang mendukung. Penolakan tersebut sejalan dengan opini publik yang menentang kudeta militer. Ini karena tindakan Presiden Prancis tersebut menegaskan bahwa penolakan tersebut tidaklah serius. Presiden Prancis tidak menghubungi presiden terguling seperti yang dia lakukan terhadap Presiden Niger. Dia tidak secara pribadi mengecam kudeta tersebut. Dia juga tidak mengancam dan tidak menyerukan intervensi, seperti yang dia lakukan terhadap Niger. Dia menganggap masalah tersebut sebagai masalah dalam negeri dan tidak memerlukan intervensi.
Hal ini berbeda dengan upaya campur tangannya dalam urusan dalam negeri Niger; menolak mengakui para pelaku kudeta di sana dan menolak tuntutan mereka agar duta besar Prancis meninggalkan Niger. Macron mengatakan bahwa solusinya adalah melalui Pemilu yang bebas dan adil. Hal itu memberikan pembenaran bagi para pelaku kudeta dan dukungan bagi mereka. Dengan demikian yang paling masuk akal, Prancis berada di balik kudeta ini, terutama karena Gabon adalah sumberdaya yang penting untuk Prancis.
Pada tanggal 31 Agustus 2023, Monte Carlo Prancis mengutip pernyataan Caroline Rossi, direktur Institut Hubungan Internasional dan Strategis di Paris, “Prancis tanpa Gabon adalah mobil tanpa bensin. Gabon tanpa Prancis adalah mobil tanpa pengemudi.”
Tampaknya, Prancis melakukan kudeta ini untuk mempertahankan pengaruh dan kepentingannya dalam kondisi kudeta-kudeta yang terjadi di wilayah Mali, Burkina Faso, dan Niger. Prancis ingin memperkuat pengaruhnya melalui para komandan militer yang mirip dengan para pemimpin kudeta di negara-negara tersebut. Tujuannya agar menjadi sejenis mereka sebagai komandan militer kudeta dan berdiri melawan mereka untuk kepentingan Prancis dan untuk mempertahankan kepentingan-kepentingannya, atau mungkin untuk menyusup di antara mereka untuk membingungkan mereka setelah mereka bersekutu dalam menghadapi Prancis dan upaya campur tangannya.
Perlu dicatat, Ali Bongo sedang sakit dan menderita stroke yang membuat dirinya lumpuh selama 10 bulan. Ia dikabarkan belum memiliki kemampuan mental dan fisik sepenuhnya. Karena itu Prancis ingin menggantikan dia dengan agen lain dari keluarga yang sama. Tampak bahwa lingkaran Ali Bongo yang ditangkap oleh para pelaku kudeta adalah mereka yang mengendalikan urusan, terutama anaknya Noureddin Bongo, dan merekalah yang dituduh oleh rakyat. Dengan demikian, para pelaku kudeta itu dapat menipu rakyat dan menjadikan mereka tampil dengan penampilan orang yang tulus.
Sapi Perah Negara Imperialis
Begitulah, kita saksikan di Gabon, sebagaimana di semua negara pengikut di Afrika dan Asia, para agen yang hanya sekadar berbasa-basi dengan demokrasi, kebebasan, nasionalisme dan patriotism. Pada hakikatnya mereka menjamin kepentingan negara-negara penjajah dengan imbalan sampainya mereka ke kekuasaan atau tetap bertahan di kekuasaan. Mereka tidak perduli bahwa mereka menjadi pelayan penjajah. Mereka juga tidak peduli bahwa perusahaan-perusahaan dari negara-negara imperialis menjarah kekayaan negara-negara mereka. Mereka cukup puas dengan mendapat komisi dari perusahaan-perusahaan yang menjarah kekayaan negara mereka. Pada saat yang sama mereka membiarkan bangsa-bangsa mereka menderita kemiskinan, kelaparan dan penyakit. Mereka malah mengenakan pajak terhadap warga mereka untuk mendukung anggaran belanja mereka, yang dengan cepat mereka habiskan untuk pemborosan.
Tidak ada jalan keluar bagi masyarakat di Gabon dan di tempat lain kecuali dengan menggulingkan agen-agen ini. Mereka harus menyapu bersih para penguasa agen tersebut dari lingkungan politik dan dari semua lingkungan. Mereka harus memiliki keimanan yang benar kepada Sang Pencipta alam semesta, Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa, dan menerapkan syariah-Nya di dalam negara kebenaran dan keadilan, al-Khilafah ar-Rasyidah. Ketika itu maka rakyat Gabon akan hidup dalam keselamatan, keamanan, kebaikan dan kedamaian, dan demikian pula setiap orang yang bernaung kepada Islam, agama kebenaran, petunjuk dan rahmat.
[Disarikan dari Soal-Jawab Amir Hizbut Tahrir, 20 Shafar 1445 H/05 September 2023 M. Sumber: https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/90760.html]



