
Ratu 2025: Bersama Membentuk Generasi Pelopor Perubahan
Sebagai dua generasi, baik generasi senior maupun generasi muda, keduanya harus sama-sama mengambil peran untuk mewujudkan perubahan hakiki.
*****
Generasi, dengan seluruh potensi dan permasalahannya, menarik perhatian ratusan tokoh lintas profesi dan lintas generasi se-Jabodetabek. Mereka berkumpul di acara Risalah Akhir Tahun (RATU) 2025 bertajuk Bersama Membentuk Generasi Muslim Pelopor Perubahan, Ahad (14/12/2025) di Jakarta.
Aktivis dakwah nasional, Iffah Ainur Rochmah, menegaskan bahwa hal paling mendasar dari generasi muda adalah sebagai hamba Allah SWT. ”Jangan pernah lupa bahwa generasi muda bukan miliknya sendiri, bukan milik ibu-bapaknya, apalagi milik korporasi. Akan tetapi, mereka adalah hamba Allah SWT,” tandasnya.
Karena itu, lanjut Iffah, energi, potensi, skill dan talenta generasi muda semestinya digunakan untuk menjalankan proyek Allah SWT. Tidak lain mewujudkan perubahan yang dikehendaki Allah SWT, yakni menegakkan hukum-hukum-Nya. “Harus dipastikan potensi mereka digunakan untuk melayani kepentingan Islam; berkhidmat untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim,” jelasnya.
Tantangannya, kata Iffah, ada ancaman pembajakan generasi karena hegemoni digital hari ini dipegang oleh rezim Kapitalisme global. ”Kita tidak boleh lalai bahwa generasi muda sangat rentan mendapatkan asupan pemikiran, arah pergerakan, serta dibajak potensi perjuangannya untuk kepentingan kapitalisme digital,” ujarnya.
Meneladan Rasulullah saw.
Jika kita menghendaki potensi generasi muda diarahkan untuk Islam, jelasnya, kita wajib meneladani Rasulullah saw. dalam melakukan perubahan dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat Islam dengan tegaknya Daulah Islam di Madinah.
Menurut Iffah, ada empat hal penting terkait pembinaan generasi oleh Rasulullah saw., yaitu: membangun qiyâdah fikriyyah (kepemimpinan berpikir) Islam; membangun kepribadian Islam sebagai materi pembinaan; membangun kesadaran politik (wa’yu siyasi); dan optimalisasi potensi generasi.
“Pembinaan dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam sebuah jamaah dakwah (hizbur-rasuul) dengan metode pembinaan yang khas,” imbuhnya.
Ia mengingatkan, meski ada perbedaan antara generasi senior dan generasi muda, amanah keduanya sama; referensi perjuangan keduanya sama dan pembinaannya keduanya juga harus sama. “Mari kita bersama-sama berada di barisan yang sama untuk membina diri kita dan anak-anak generasi kita dalam pembinaan sebagaimana hizburrasul. Pembinaan untuk melahirkan kader dakwah dan pejuang agar segera kembali hadirnya sistem Islam, Khilafah,” tegasnya.
Mengambil Peran
Narasumber kedua, aktivis dakwah Ummu Aiman menyampaikan bahwa saat ini dunia membutuhkan perubahan hakiki. “Kita sebagai dua generasi, baik generasi senior maupun generasi muda, harus sama-sama mengambil peran untuk mewujudkan perubahan hakiki ini,” jelasnya.
Dalam pandangannya, ada misi besar untuk membentuk generasi pelopor perubahan, generasi khayru ummah, generasi takwa, generasi yang kukuh memegang prinsip dan gigih memperjuangkan kebenaran, serta generasi yang mempelajari dan mengamalkan al-Quran di segala sendi kehidupan.
Untuk itu, tambahnya, generasi senior mesti menjalin hubungan dengan generasi muda, juga menghubungkannya dengan Islam sebagai warisan kebaikan kepada generasi muda. “Saat generasi muda direndam dengan Islam kafafah, kotoran-kotoran jahiliah itu hilang sehingga bisa menjadi kunci perubahan hakiki,” ucapnya.
Menurut Ummu Aiman, dua generasi ini harus terus terlibat bersama dalam perjuangan sehingga di dalam Islam tidak dikenal gap generasi, melainkan ketersambungan generasi yang memiliki satu way of life dan amanah, yaitu Islam.
“Anak-anak pun akan menjadi jelas akan perannya, yaitu membela agama Allah sehingga mereka akan tumbuh kuat, percaya diri dan siap menjadi pelopor perubahan yang mampu menghadapi dunia,” jelasnya.
Kekuatan Politik Baru
Narasumber ketiga, aktivis muda Zakiyah Darajat menegaskan, pemuda hendaknya menjadi kekuatan politik baru. Akan tetapi, ia menyayangkan, gerakan Gen Z global yang tampak kritis terhadap sistem rusak, tuntutannya hanya fokus ke masalah teknis.
“Mereka tidak memahami peta ideologi penyebabnya. Jadilah energi protes mereka ‘terserap’ ke agenda-agenda jangka pendek. Perjuangan mereka mudah dialihkan ke isu-isu yang viral, tetapi tidak menyentuh akar persoalan. Potensi besar generasi muda direduksi oleh kapitalisme menjadi sebuah gerakan sporadis,” sesalnya.
Perubahan hakiki, tegasnya, harus berakar pada ideologi Islam. “Untuk itu, generasi muda harus mengikuti pembinaan intensif Islam kâffah, menyuarakan ideologi Islam dan sistem Khilafah sebagai solusi dunia, serta menyatukan pergerakan bersama jamaah dakwah internasional yang fokus memperjuangkan Islam kâffah dan Khilafah. Sesungguhnya DNA generasi muda adalah DNA pejuang risalah Nabi saw.,” pungkasnya. [Ruruh]





