Hiwar

Testimoni Tokoh: RISALAH AKHIR TAHUN (RATU) 2025

Pengantar Redaksi:

Para tokoh dari berbagai bidang yang mengikuti Risalah Akhir Tahun (RATU) 2025 membagikan pandangan tentang tantangan mendidik generasi muda di era digital. Mereka menekankan pentingnya pemikiran dan kepribadian Islam, peran orangtua dan sistem Islam sebagai fondasi perubahan bagi generasi penerus pelopor dakwah. Berikut empat di antaranya.

 

Dr. Rita Yuliana, M.Si.:

“Akademisi Harus Menanamkan Pemikiran dan Kepribadian Islam”

Pengaruh digitalisasi sekuler sangat besar terhadap generasi muda. Mereka mengambil contoh, mengambil pemikiran dan mengambil apa pun dalam kehidupannya dari sana. Itulah yang menyebabkan gap. Orangtua yang sudah mempunyai pemikiran islami dan tahu arah kehidupan menjadi sulit mengarahkan anak-anaknya ke arah Islam atau memiliki kepribadian Islam. Ini karena pemikiran mereka itu sudah diracuni pemikiran sekuler-kapitalis. Standar mereka tentang bahagia, sukses dan yang ingin mereka capai itu sudah berbeda. Mereka pun mengatakan bahwa saat ini era kebebasan. Bahkan ada di antara mereka yang rajin shalat, tetapi saat di luar aktivitas keagamaan, mereka berpikirnya sekuler. Yang ingin mereka raih sesuai dengan yang mereka dapatkan di media sosial yang dikuasai kaum sekuler kapitalis.

Sebagai pendidik di rumah sekaligus akademisi, ada tanggung jawab untuk mengarahkan dengan menanamkan pemikiran dan kepribadian Islam kepada mereka, juga agar mereka bersikap dan berbuat sesuai hukum Allah SWT sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw. Harapannya, mereka bisa menjadi generasi penerus estafet dakwah dan pelopor perubahan. []

 

Nani Muhammad, Pengusaha:

“Bapak Bertanggung Jawab Mendidik”

Adanya kerenggangan hubungan antara orangtua dan anak karena orangtua tidak menganggap anak sebagai prioritas. Orientasinya semata duniawi dan lupa bahwa anak itu amanah dari Allah SWT. Ketika orangtua tidak melakukan hal yang menjadi tanggung jawabnya, pasti anak-anak dididik oleh lingkungannya.

Ketika fondasi awal di rumah itu kuat, maka pengaruh dari luar sebetulnya hanya gimmick. Akan tetapi, ketika fondasi di rumah tidak dibangun, pasti pengaruh luar lebih dominan terhadap pembentukan karakter anak. Dalam Islam, ini bukan hanya peran ibu, tetapi juga bapak sebagaimana ada dalam QS Luqman. Ibu memang madrasah awal buat anak, tetapi yang wajib dan bertanggung jawab mendidik anak adalah bapak. []

 

Mirah Sumirat, S.H., Ketua Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPEK):

“Keniscayaan Sistem Islam”

Potensi generasi muda sangat luar biasa sehingga mereka harus diedukasi agar bisa melakukan perubahan sesuai konteks Islam. Kalau dibiarkan, dikhawatirkan gerakanmereka menjadi liar, tidak terkendali, dan cenderung akan masuk ideologi-deologi yang bertentangan dengan Islam. Apalagi, jika orangtua juga sibuk dengan media sosialnya tanpa memperhatikan anak sebagai generasi penerus.

Perubahan yang perlu dilakukan saat ini tidak hanya secara personal, tetapi juga secara sistem. Kalau hanya personal, tanpa dukungan sistem, ini akan sia-sia; seperti menggarami air laut. Akan tetapi, kalau keduanya dikombinasikan, ia akan menjadi energi luar biasa untuk membuat perubahan signifikan. Sistem yang paling bagus adalah sistem Islam dan ini sebuah keniscayaan.

Sebelum 1924, kita sudah pernah merasakan sistem Islam itu dan sudah ada contohnya, tetapi kemudian diruntuhkan dan diganti dengan sistem yang ada sekarang. Hanya saja, sistem yang sekarang tidak bisa menjawab persoalan, malah makin menghancurkan semua lini. Nah, saya kira, kita harus kembali lagi bicara terkait sistem Islam dan itu tidak tabu. Artinya, ini harus dibuka. Generasi muda juga akan mau menerima karena pemikirannya cenderung lebih terbuka.

Untuk perubahan, tokoh pentingnya adalah ibu karena harus dimulai dari rumah. Ketika ibu memiliki pengetahuan yang cukup bagus terkait Islam, maka akan membentuk generasi yang luar biasa. Dari ibu satu kemudian ibu yang lain, akan terbentuk komunitas yang lebih besar sehingga perubahan akan segera terwujud. []

 

  1. Waode Mariyana, Sp.OG., Praktisi Kesehatan:

“Harus Fokus”

Tantangan terbesar dalam membentuk generasi pelopor perubahan adalah gap generasi sehingga harus fokus agar pemikiran Islam kâffah tersampaikan dan tertanam ke jiwa generasi berikutnya.

Peran strategis ibu dalam menanamkan nilai-nilai Islam adalah mendidik dengan mencontoh Rasulullah saw. dan para Sahabat. Islam diajarkan bukan hanya pada perilaku, tetapi menjadi prinsip yang diajarkan di keluarga. Konsep Islam harus dihadirkan di dalam keluarga, kemudian disampaikan ke dalam kehidupan sosial kita. []

[Ruruh]

WalLâhu a’lam. []

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − two =

Back to top button