Opini

Tragedi Pendidikan dan Kemiskinan Sistemik

YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia. Ia diduga mengakhiri hidup karena tidak dibelikan buku tulis dan pulpen. Ini bukan sekadar tragedi keluarga. Peristiwa ini merupakan potret nyata kegagalan negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan kehidupan yang layak (Detik.com, 4 Februari 2026).

Anak yang seharusnya belajar dan bermain justru dibebani tekanan ekonomi yang tidak ia pahami dan tidak ia ciptakan. Kasus ini membantah klaim pendidikan dasar yang benar-benar gratis. Di lapangan, biaya pendidikan tidak berhenti pada bangku sekolah. Ia mencakup buku tulis, alat tulis, seragam, dan transportasi yang kerap membebani keluarga miskin. Dalam sistem Kapitalisme, negara sering berperan sebatas regulator, bukan penanggung jawab penuh kebutuhan dasar rakyat, termasuk pendidikan anak di wilayah terpencil.

Ketergantungan akses pendidikan pada kemampuan ekonomi melahirkan ketimpangan yang tajam. Anak dari keluarga mampu belajar dengan fasilitas lengkap, sementara anak miskin harus bertahan dengan keterbatasan ekstrem. Tekanan psikologis ini sangat berbahaya bagi anak-anak yang belum matang secara emosional. Ironisnya, negara sering baru hadir setelah tragedi terjadi, melalui bantuan dan empati sesaat, bukan dengan pencegahan sistemik. Padahal kemiskinan struktural dan keterbatasan akses pendidikan di daerah tertinggal seperti NTT sudah lama menjadi masalah kronis.

Islam memandang pendidikan sebagai kewajiban negara. Pendidikan harus diberikan secara gratis dan layak, termasuk seluruh sarana penunjangnya, tanpa membebani keluarga. Dalam sejarah Islam, Negara melalui Baitul Mal menanggung kebutuhan pendidikan dan hidup pelajar, khususnya dari keluarga miskin. Khalifah Umar bin Khaththab ra. bahkan menetapkan tunjangan anak sejak dini demi mencegah beban ekonomi pada keluarga miskin. Ini menunjukkan negara hadir sebelum tragedi terjadi, bukan sesudahnya.

Kematian YBR adalah alarm keras bahwa kemiskinan dan pendidikan tidak bisa dipisahkan. Ketika negara gagal menjamin kebutuhan dasar anak, keputusasaan bisa merenggut nyawa. Jika sistem hari ini terus dipertahankan—saat pendidikan gratis sebatas slogan dan kemiskinan dianggap persoalan individu—maka tragedi serupa akan terus berulang. Tragedi YBR harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh agar negara benar-benar hadir melindungi anak-anak, sehingga tak ada lagi harapan yang hilang hanya karena tak mampu membeli buku tulis dan pulpen.

WalLâhu a’lam. [Ilma Nafiah; (Aktivis Muslimah Kepulauan Riau)]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 13 =

Back to top button