Ibrah

Kewibawaan Khalifah

RASULULLAH SAW bersabda:

« الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ »

”Imam (Khalifah) adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepada dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Hadis ini bukan sekadar jargon politik. Ia adalah penegasan bahwa kepemimpinan dalam Islam berdiri untuk menjaga kehormatan umat, melindungi darah kaum Muslim dan menegakkan ’izzah di hadapan musuh.

Sejarah Islam mencatat bagaimana Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. berdiri tegak menghadapi gelombang pembangkangan dan kemurtadan pasca Rasulullah SAW wafat. Saat sebagian orang menolak membayar zakat, beliau berkata dengan tegas, “Demi Allah, seandainya mereka menolak menyerahkan seutas tali unta yang dulu mereka bayarkan kepada Rasulullah SAW, pasti aku perangi mereka karena penolakannya itu.” (HR al-Bukhari).

Ketegasan ini lahir dari iman yang kokoh. Khalifah Abu Bakar ra. memahami bahwa melemah di hadapan pembangkang berarti membuka pintu kehinaan bagi umat.

Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pun dikenal sangat berwibawa di hadapan musuh. Ketika utusan Persia memandang remeh kaum Muslim, Khalifah Umar ra. tidak tunduk pada simbol-simbol kemewahan. Ia justru menampilkan kesederhanaan yang menggetarkan. Dalam dialog yang diriwayatkan oleh Ibn Katsir dalam Al-Bidâyah wa an-Nihâyah (7/40), tampak jelas bahwa ’izzah kaum Muslim bukan pada istana, melainkan pada aqidah dan keberanian.

Bahkan Khalifah Utsman bin Affan ra., yang dikenal lembut, menunjukkan ketegasan saat Romawi mengancam wilayah pesisir. Pada masanya armada laut Islam dibangun secara serius hingga mampu menghadapi kekuatan Bizantium dalam Perang Dzat as-Shawari (Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, 4/304).

Kelembutan pribadi tidak menghalangi ketegasan dalam menjaga kedaulatan.

Demikian pula Khalifah al-Manshur dari Bani Abbasiyah. Saat muncul ancaman pemberontakan yang membahayakan stabilitas negara, ia menegakkan otoritas negara dengan tegas demi menjaga persatuan umat (Ibn al-Jauzi, Al-Muntazham, 8/15).

Khalifah al-Walid bin Abdul Malik pun tercatat memperkuat pertahanan perbatasan (tsughur) dan memperbesar kekuatan militer kaum Muslim. Dengan begitu wilayah Islam disegani oleh imperium besar saat itu (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 9/140).

Sepanjang sejarah, hanya pada era Khilafah pula kemuliaan Islam serta darah dan kehormatan kaum Muslim benar-benar terjaga. Contohnya pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid. Sang Khalifah dikenal sebagai penguasa Muslim yang sangat tegas. Ketika Kaisar Romawi Timur (Bizantium) saat itu, Nikephoros I, mengirim surat yang bernada meremehkan dan menolak membayar upeti (jizyah), Khalifah Harun ar-Rasyid segera membalas dengan surat bernada keras, “Dari Harun, Amirul Mukminin, kepada Nikephoros, Anjing Romawi! Aku telah membaca suratmu. Jawabannya adalah apa yang akan segera kamu lihat! Bukan apa yang akan kamu dengar.” Segera setelah itu, sang Khalifah bersama pasukannya menyerang dan mengalahkan Romawi. Akhirnya, Romawi kembali tunduk pada Khilafah (Al-Khathib al-Baghdadi, Târîkh Baghdâd, 8/364; Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 10/184).

Berikutnya kisah heroik Khalifah al-Mu‘ta­shim Billah. Pada masanya pernah ada seorang Muslimah ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah (wilayah Turki bagian tengah). Dalam penderitaannya, ia berteriak memanggil-manggil sang Khalifah. Berita itu sampai kepada Khalifah al-Mu‘tashim Billah. Tanpa diplomasi, juga tanpa dewan internasional, beliau segera menyambut seruan Muslimah tersebut, “Aku penuhi panggilanmu!” Lalu beliau segera mengerahkan pasukan besar dan menyerbu Amuriyah. Akhirnya, wilayah yang dikuasai Romawi itu jatuh ke tangan kaum Muslim. Disebutkan, saat itu 30 ribu pasukan Romawi tewas dan 30 ribu lainnya berhasil ditawan (Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, 8/631–634; Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 10/325).

Tak kalah menarik adalah kisah keteguhan Sultan Abdul Hamid II, penguasa Khilafah Uts­maniyah. Saat itu, Theodor Herzl, tokoh Zionis Yahudi, pernah menawarkan harta dalam jumlah sangat besar kepada sang Khalifah agar Yahudi diberi hak atas tanah Palestina. Jawaban Khalifah sangat tegas, “Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah itu! Ia bukan milikku. Ia adalah milik umat Islam!” (Muhammad Harb, Abdul Hamid II, Akhîr as-Salâthîn al-Utsmâniyyîn al-Kibâr, hlm. 123–125).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah pula, Prancis pernah diancam oleh Sultan Abdul Hamid II agar segera menghentikan rencana pementasan drama berjudul “Mahomet” karya Henri de Bornier di Prancis. Pasalnya, drama tersebut menghina kemuliaan Baginda Nabi saw. Isi ancaman itu tegas: Jika penghinaan kepada Rasulullah saw. tetap dilakukan, opsi militer (jihad) sangat terbuka. Prancis pun takut. Akhirnya, Prancis membatalkan rencana pementasan drama tersebut (Stanford J. Shaw, History of the Ottoman Empire and Modern Turkey, 1/287).

Bahkan hanya pada era Khilafah pula, penguasa Muslim pernah dengan gagah menghadapi Amerika. Pada abad ke-18, Amerika pernah terpaksa membayar upeti (jizyah) kepada Khilafah Utsmaniyah agar kapal-kapal mereka bisa melintas dengan aman di Afrika Utara (Aljazair, Tripoli, Tunis). Amerika mengakui hal ini secara resmi dalam perjanjian internasional (Treaty of Tripoli [1796], Pasal 10) (Frank Lambert, The Barbary Wars, hlm. 45–52).

Demikianlah. Para khalifah dulu memahami bahwa perdamaian sejati lahir dari kekuatan dan ketegasan, bukan dari ketundukan. Karena itu wibawa mereka membuat musuh berpikir seribu kali sebelum merendahkan kaum Muslim.

Sejarah para khalifah di atas bukanlah dongeng romantik. Ia adalah cermin. Ia memantulkan wajah kemuliaan ketika iman memimpin kekuasaan.

Jika hari ini sebagian para penguasa negeri-­negeri Muslim lebih sibuk mencari legitimasi global ketimbang menjaga ’izzah umat, barangkali yang hilang bukan sekadar strategi politik, melainkan rasa takut kepada Allah.

Semoga Allah mengembalikan kepada kaum Muslim pemimpin yang tegas karena iman, berwibawa karena takwa, dan menjadikan kekuasaan sebagai jalan membela agama-Nya,

Wa mâ tawfîqî illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 + seven =

Check Also
Close
Back to top button