Tafsir

Bersabar dan Bertasbih (1)

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ ٱلۡغُرُوبِ  ٣٩ وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَسَبِّحۡهُ وَأَدۡبَٰرَ ٱلسُّجُودِ  ٤٠

Bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan serta bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam. Bertasbihlah kepada-Nya pada malam hari dan setiap selesai shalat. (QS Qaf [50]: 39-40)..

 

Ayat ini memerintahkan Rasulullah saw. untuk bersabar terhadap perkataan kaum kafir dan bertasbih kepada-Nya.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ٣٩

Bersabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan.

 

Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada Nabi saw1. Dhamîr al-wâwi (kata ganti) pada kata « يَقُولُونَ » (mereka katakan), kembali kepada kaum musyrik2; juga kaum Yahudi3. Dengan kata lain, mereka adalah al-mukadzdzibîn (kaum yang mendustakan)4. Mereka itulah yang disebutkan dalam ayat sebelumnya (QS Qaf [50]: 36)5.

Secara bahasa, kata « الصَّبْرُ » adalah « حبس ‌النفس ‌على ما تكرهه، أو يشق عليها » (menahan diri dari hal-hal yang dibenci atau yang terasa berat). Demikian penjelasan Abu al-Abbas al-Qurthubi.6

Menurut Ar-Raghib al-Asfahani, as-shabr adalah « الإمساك في ضيق » (menahan diri dalam keadaan sempit). Dalam kalimat: « صَبَرْتُ الدّابّة » (Aku menahan hewan tunggangan) bermakna: « حبستها بلا علف » (aku menahannya tanpa memberi makan). Dalam kalimat: « وصَبَرْتُ فلانا » (Aku menahan si Fulan), artinya « خلفته خلفة لا خروج له منها » (Aku meninggalkan dia dalam keadaan terkurung tanpa ada jalan keluar bagi dirinya). Dengan demikian kata ash-shabr berarti « حبس النّفس على ما يقتضيه العقل والشرع » (menahan jiwa pada apa yang dituntut oleh akal dan syariah), atau dari apa yang keduanya tuntut untuk menahannya darinya.7

Bertolak dari makna sabar tersebut, maka dapat dipahami bahwa perkataan yang diucapkan oleh kaum kafir terhadap Rasulullah saw. tersebut adalah perkataan-perkataan yang buruk dan menyakitkan. Bukan perkataan-perkataan yang baik dan benar yang akan disukai, tidak dibenci, dan tidak menyakiti. Demikian penjelasan para mufasir tentang ayat ini.

Menurut al-Baidhawi, perkara yang dikatakan oleh kaum musyrik adalah pengingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan. Ini karena sesungguhnya Allah Yang Mahakuasa menciptakan alam semesta tanpa kelelahan, Mahakuasa pula untuk membangkitkan mereka dan membalas mereka. Bisa juga apa yang dikatakan kaum Yahudi berupa kekufuran dan penyerupaan (Allah dengan makhluk). Penjelasan serupa juga disampaikan oleh banyak mufassir lainnya, seperti az-Zamakhsyari, az-Zuhaili, Ibnu ‘Asyur, dan lain-lain.8

Tentang perkataan kaum musyrik yang mengingkari Hari Kiamat telah disebutkan di awal surat ini QS Qaf [50]: 2.9

Terhadap semua perkataan tersebut, Rasulullah saw. diperintahkan untuk bersabar. Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari bahwa Allah SWT berfirman kepada Nabi Muhammad saw., “Bersabarlah, wahai Muhammad, atas apa yang dikatakan oleh kaum Yahudi ini, dan apa yang mereka ada-adakan terhadap Allah, serta kebohongan mereka atas-Nya, karena sesungguhnya Allah mengawasi mereka.”10

Wahab az-Zuhaili berkata, “Wahai Nabi, bersabarlah terhadap ucapan kaum musyrik berupa pengingkaran terhadap Hari Kebangkitan. Sebabnya, Zat Yang berkuasa menciptakan alam tanpa kelelahan, tentu berkuasa pula untuk menghidupkan kembali manusia dari kematian dan menghukum mereka. Juga, bersabarlah atas ucapan kaum Yahudi dan yang lainnya yang menyerupakan Allah SWT, mendustakan kamu, dan kufur.”11

Menurut asy-Syaukani, ayat ini merupakan pelipur lara bagi Nabi SAW sekaligus sebagai perintah untuk bersabar atas perkataan kaum musyrik. Maknanya: “Anggaplah ini perkara ringan bagi kamu. Janganlah engkau bersedih karena perkataan mereka. Hadapilah apa pun yang terlontar kepada dirimu dari mereka dengan kesabaran.12

Ibnu Katsir berkata, “Bersabarlah kamu terhadap mereka dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik.”13

Dengan demikian, perintah bersabar di sini berarti memerintahkan beliau untuk terus menyampaikan dakwah, tidak terganggu dan tidak berhenti karena ucapan kaum kafir yang buruk dan menyakitkan. Perkataan mereka harus dianggap angin lalu yang tidak patut didengar dan diperhatikan.

Kemudian disebutkan:

وَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ قَبۡلَ طُلُوعِ ٱلشَّمۡسِ وَقَبۡلَ غُرُوبِهَاۖ ١٣٠

Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.

 

Selain bersabar, Rasulullah saw. juga diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji Tuhannya. Kata « سَبِّحْ » merupakan fi’l al-amr dari kata « التَّسْبِيحُ ».

Menurut az-Zajjaj, at-tasbîh adalah « ‌تَنْزيهُ ‌اللَّهِ ‌مِنَ ‌السوءِ وتنزيهه تعالى » (menyucikan Allah dari segala keburukan dan menyucikan Dia Yang Mahatinggi).14 Hal serupa juga disampaikan as-Sam’ani dan al-Baghawi.15

Muhammad al-Amin asy-Syinqithi menyebutnya: « تنزيه اللّٰه عن كل ما لا يليق بكماله وجلاله » (menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak layak dengan kesempurnaan dan keagungan-Nya). Pada asalnya, as-tasbîh secara bahasa adalah « الإِبعاد عن السوء » (menjauhkan dari keburukan), dari perkataan mereka: « سبح » (berjalan cepat, berenang), ketika telah jauh.16

Al-Fadhl bin al-Hubab mendengar Ibnu Aisyah berkata:

«‌الْعَرَبُ ‌إِذَا ‌أَنْكَرَتِ ‌الشَّيْءَ وَأَعْظَمَتْهُ قَالَتْ: سُبْحَانَ، فَكَأَنَّهُ تَنْزِيهُ اللهِ عز وجل عَنْ كُلِّ سُوءٍ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُوصَفَ بِغَيْرِ صِفَتِهِ وَنُصَبَتْهُ عَلَى مَعْنَى تَسْبِيحًا لِلهِ»

Orang-orang Arab, jika mengingkari sesuatu dan menganggap hal itu agung, mereka berkata, “Subhân (Mahasuci).” Seolah-olah itu adalah menyucikan Allah ‘Azza wa Jalla dari segala keburukan, yang tidak pantas jika Dia disifati dengan selain sifat-Nya. Lafal tersebut dibaca nashab (Subhâna) dengan makna ‘sebagai bentuk pensucian kepada Allah.17

 

Ibnu Taimiyah berkata, “Perintah untuk bertasbih kepada Allah mengharuskan untuk menyucikan Dia dari semua cela dan keburukan, serta menetapkan sifat kesempurnaan untuk Diri-Nya. Ini karena tasbih mengharuskan penyucian dan pengagungan, sedangkan pengagungan meniscayakan penetapan pujian yang dipuji untuk dirinya. Karena itu perintah itu mengandung penyucian, pujian dan takbir kepada Allah serta tauhid kepada-Nya.18

Dengan demikian, bertasbih kepada Allah SWT adalah menjauhkan hati dan pikiran dari pemikiran dan persangkaan akan kekurangan atau kejelekan yang disandarkan kepada Allah; membersihkan dari semua aib yang disandarkan kepada Diri-Nya oleh orang musyrik dan ateis. Dengan arti seperti inilah Allah SWT disucikan (Lihat: QS al-Mukminun [23]: 91; QS ash-Shaffat [37]: 158-159; QS al-Hasyr: 23).

Penjelasan lebih luas tentang makna at-tasbîh diterangkan ar-Raghib al-Asfahani. Kata tersebut bermakna « تنزيه اللّٰه تعالى » (menyucikan Allah SWT). Asal katanya berarti: « المرّ السّريع في عبادة اللّٰه تعالى » (bergerak cepat dalam beribadah kepada Allah SWT). Hal ini dijadikan untuk perbuatan baik, sebagaimana ungkapan « الإبعاد » (menjauhkan) digunakan untuk kejahatan. Maka dari itu dikatakan, « أبعده اللّٰه » (semoga Allah menjauhkan dia). Adapun kata al-tasbîh dijadikan istilah umum untuk semua ibadah, baik berupa ucapan, perbuatan, atau niat. Allah berfirman:

فَلَوۡلَآ أَنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُسَبِّحِينَ  ١٤٣

Andai dia bukan golongan orang yang banyak bertasbih kepada Allah (QS ash-Shaffat [37]: 143).

 

Ada yang mengatakan maknanya adalah orang-orang yang shalat. Akan tetapi, pendapat yang lebih utama adalah mencakup ketiga hal tersebut (yakni: ucapan, perbuatan, dan niat). Allah berfirman:

وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ ٣٠

Kami bertasbih memuji-Mu (QS al-Baqarah [2]: 30).19

 

Dalam ayat ini, perintah bertasbih itu disertai dengan pujian kepada Allah SWT: « وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ » (dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu). Menurut sebagian mufassir, makna ini pula yang terkandung dalam ayat ini. Asy-Syaukani berkata, “Sucikanlah Allah dari segala yang tidak layak bagi-Nya disertai dengan memuji-Nya pada waktu fajar dan ashar.” Menurut beliau, makna ini yang lebih tepat pada ayat ini dibandingkan dengan beberapa penafsiran lainnya.20

Pendapat yang sama juga dikemukakan al-Qinuji.21

Menurut Qatadah, maksud ayat ini shalat subuh sebelum terbitnya matahari dan shalat ashar sebelum terbenamnya matahari.22

Pendapat serupa juga dikemukakan Abu Shalih, Ibnu Jarir ath-Thabari dan al-Khazin.23 Pendapat ini dikuatkan dengan hadis bahwa Ibnu Abbas mengatakan shalat sebelum terbenamnya matahari adalah shalat zuhur dan ashar.24 Dengan demikian ayat memerintahkan shalat subuh yang waktunya sebelum terbitnya matahari, dan shalat zuhur dan shalat ashar yang waktunya sebelum terbenamnya matahari.25

Demikianlah. Ayat ini memerintahkan Rasulullah saw. untuk bersabar dan bertasbih yang disertai dengan pujian kepada-Nya sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam.

WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

  1. Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17 (Kairo: Dar al-Maktabah al-Mishriyyah, 1964), 24; al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 22 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 376
  2. Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 24
  3. Lihat al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 26 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 376
  4. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 409
  5. Lihat al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 26 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 326
  6. Abu al-‘Abbas, al-Mufhim limâ Asykala min Talkhîsh Kitâb Muslim, 7 (Damaskus: Dar Ibn Katsir, 1996), 80
  7. Al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 474
  8. Al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, 5 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiyy, 1998), 144. Lihat juga al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Araby, 1987), 392; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26 (Damaskus: Dar al-Fikr, 1991), 311
  9. Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , 30 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 326
  10. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 26 (tt: Muassasah al-Risalah, 2000), 376
  11. Al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, 26, 311
  12. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 409
  13. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 409
  14. Al-Zajjaj, Ma’ânî al-Qur‘ân wa I’râbuhu, 5 (Beirut: ‘Alam al-Kitab, 1988), 218
  15. Al-Sam’ani, Tafsîr al-Qur‘ân, 5 (Riyadh: Dar al-Wathan, 1997), 55. Lihat juga al-Baghawi, Ma’âlim al-Tanzîl, vol. 7 (Beiryt: Dar al-Thayyibah, 1997), 364
  16. Al-Syinqithi, Adhwâ‘ al-Bayân fî Îdhâh al-Qur‘ân b al-Qur‘ân, 7 (Riyadh: Dar ‘Atha’at al-‘Ilm, 2019), 859
  17. Al-Thabarani, al-Du’â‘ (Beirut: Darl al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 500
  18. Ibnu Taimiyyah, Majmû’ al-Fatâwâ, 16 (‘Alam al-Nasyr, 1995), 125
  19. Al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 392
  20. Al-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, 5 (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1994), 95
  21. Al-Qinuji, Fat-h al-Bayân, 13 (Beirut: ‘Alam al-Kutub, 2003), 183
  22. Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 26, 376-377
  23. Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 24; al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 26, 376-376; al-Khazin. Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 191
  24. Al-Khazin. Lubâb al-Ta‘wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, 4, 191
  25. Al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, 26, 311

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × four =

Back to top button