
Mencintai Nabi SAW Secara Total
Peristiwa Maulid Nabi SAW adalah momentum penting bagi umat Islam. Tidak lain untuk mengenang kelahiran sosok manusia paling mulia penerang kehidupan. Penerang langit dan bumi. Pembawa rahmat bagi semesta.
Tentu kenangan kelahiran beliau bukan sekadar nostalgia. Justru momentum ini kita jadikan untuk memupuk rasa cinta, meneladani beliau dalam dakwah, memperkuat ghîrah perjuangan serta semangat jihad dalam menegakkan kalimat Allah SWT. Dengan kembali mengenang kelahiran Rasulullah saw., akan terbayang bagaimana jerih-payah perjuangan beliau dengan para Sahabat dalam merintis dan menata peradaban Islam.
Hakikat Cinta kepada Nabi saw.
Abu Abdillah al-Qurasyi dalam Ar-Risâlah al-Qusyayriyyah menyatakan:
Hakikat cinta adalah engkau memberikan semua yang ada pada dirimu bagi orang yang engkau cintai, tidak tersisa sedikit pun untuk dirimu (Ar-Risâlah Qusyairiyah, hal. 479).
Inilah hakikat cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Ia adalah cinta mutlak yang tak layak dibagi. Cinta kepada selain keduanya adalah cinta karena keduanya. Cinta orangtua, anak, istri, usaha, tempat tinggal dll harus karena cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Mencintai semua itu hukumnya wajib. Berdosa jika dilalaikan apalagi diabaikan. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang fasik (QS at-Taubah [9]: 24).
Ada dua qarînah (indikasi) pada ayat ini yang menegaskan kewajiban mencintai Allah SWT dan Rasulullah saw. di atas yang lainnya. Pertama: Lafal fatarabbashu hatta ya’tiyallâhu bi amrihi. Lafal ini bermakna:
Tunggulah hingga Allah menghalalkan sanksi dan hukuman bagi kalian (Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/841).
Kedua: Allah SWT menyifati orang yang lebih mencintai selain Allah SWT dan Rasulullah saw. dengan sifat fasik dan tidak Allah beri hidayah. Wal ‘iyâdzu bilLâh.
Cinta adalah fi’lul qalb (amal hati). Ia tidak bisa dilihat secara langsung. Akan tetapi, cinta bisa dilihat dengan ‘alamat (tanda) dan atsar (jejaknya). Sebagaimana seseorang yang tidak melihat ada unta, namun ada jejaknya. Ini menunjukkan ada unta yang baru lewat di tempat itu. Karena itu Qadhi ‘Iyadh bin Musa al-Yahshubi menyatakan:
Ketahuilah bahwa siapa saja yang mengklaim cinta terhadap sesuatu (termasuk seseorang) maka ada tandanya. Tanda tersebut bersesuaian dengan kadar cintanya. Jika tidak ada buktinya maka tak benar klaim cintanya.
Masih menurut Qadhi ‘Iyadh, bukti paling nyata atas pengakuan cinta kepada Rasulullah saw. adalah:
Meneladani beliau, mengamalkan sunnah beliau, mengikuti ucapan dan perbuatan beliau menjalankan perintah beliau, menjauhi larangan beliau dan beradab dengan adab beliau (As-Syifâ bi Ta’rîf bi Huqûq al-Musthafa, 2/16).
Karena itu Imam Syafii juga pernah menyatakan:
Jika cintamu benar, tentu engkau akan mentaati Baginda Nabi # Sungguh orang yang mencinta akan mentaati orang yang dicinta
Imam Ibnu Katsir, saat menafsirkan firman Allah SWT dalam QS Ali ‘Imran ayat 31, menyatakan:
Ayat yang mulia ini menjadi pemutus bagi siapa saja yang mengklaim cinta pada Allah, namun tidak mengikuti jalan hidup (tharîqah) Nabi saw. Sesungguhnya ia adalah pendusta atas klaim cintanya pada perkara ini hingga ia mengikuti syariah dan agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. dalam seluruh ucapan dan keadaannya.
Mewujudkan Cinta kepada Nabi saw. Saat Ini
Ada beberapa hal yang mesti kita wujudkan saat ini sebagai bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad saw.
Pertama: Mencintai apa dan siapa yang dicintai oleh Nabi saw. dan membenci apa dan siapa yang dibenci oleh Nabi saw. Terkait hal ini Qadhi ‘Iyadh bin Musa al-Yahshubi menyatakan:
Di antara tanda dan bukti cinta kepada Nabi saw. adalah mencintai apa dan siapa saja yang beliau cintai seperti keturunan beliau, para sahabat beliau dari kalangan Muhajirin dan Anshar; memusuhi, membenci dan mencela siapa saja yang beliau musuhi, yang beliau benci dan yang beliau cela (Asy-Syifâ’, hal. 50).
Dalam konteks kekinian, kita mesti mencintai sesama Muslim, di mana pun mereka berada, meski berbeda negara. Karena persaudaraan Islam, kita mesti turut empati dan simpati serta membantu kesusahan yang mereka alami. Di sisi lain kita mesti memusuhi dan membenci siapa pun yang memusuhi, menindas dan menjajah kaum Muslim. Seperti para penjajah dari entitas Yahudi dan negara pendukung setianya, Amerika Serikat.
Para pecinta Nabi saw. mestinya juga mencintai para pejuang Islam. Tak selayaknya menuduh, memfitnah, mempersekusi serta membubarkan pengajian dan organisasinya.
Kedua: Menerapkan Islam secara kâffah. Bukti nyata dari cinta kepada Nabi saw. adalah menerapkan Islam secara kâffah. Sebabnya, syariah Islam itulah yang dibawa oleh Nabi saw. Karena syariah Islam yang beliau bawa itulah beliau dituduh dengan beragam tuduhan, dikucilkan, diusir hingga hendak dibunuh.
Tidak sempurna iman kita jika tidak menjadikan Nabi saw. sebagai pemutus dalam segala persoalan hidup kita. Tidak hanya soal ibadah mahdhah; tetapi juga persoalan ekonomi, politik, pendidikan, budaya, hukum dan semua aspek kehidupan.
Imam Ibnu Atha’illah dalam Kitab At-Tanwîr fî Isqâth at-Tadbîr (hal. 31-32) memberikan penjelasan tentang keharusan pasrah pada semua ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman (yang artinya): Demi Tuhanmu. Mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan hingga tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 65).
Beberapa poin penting dari QS an-Nisa’ ayat 65 adalah sebagai berikut:
- Kewajiban berhukum (bertahkim) kepada Rasulullah saw. dalam perkara yang diperselisihkan.
- Kewajiban melenyapkan keberatan (haraj) dalam hati. Artinya, ada kesiapan ber-tahkim kepada Rasulullah lahir dan batin.
- Berserah diri (taslîm) secara total pada semua perkara. Bukan hanya pada perkara yang sedang diperselisihkan saja.
Jadi, tidak ada ruang lagi bagi manusia untuk menentang ketetapan dan hukum Allah dan Rasul-Nya yang ditetapkan kepada manusia. Jangankan menentang, ada keberatan saja tidak boleh. Jangankan keberatan, tidak pasrah pada semua urusan saja tidak boleh.
Ketiga: Meneladani metode dakwah Nabi SAW. Klaim cinta kepada Nabi saw. juga mesti diwujudkan dalam meneladani metode dakwah beliau. Kehidupan Nabi saw. adalah hayâtud-da’wah. Sejak awal diutus hingga wafat, beliau selalu berdakwah. Bahkan diamnya Nabi saw. adalah dakwah (dalam istilah ilmu ushul fiqh disebut taqrîr [persetujuan] Nabi saw.).
Meneladani metode dakwah Nabi saw. termasuk dalam meneladani beliau sebagai qudwah/uswah hasanah. Karena itu tidak benar klaim yang menyatakan bahwa zaman Nabi saw. berbeda dengan zaman kita sehingga tidak wajib meneladani metode dakwah beliau. Jawaban atas klaim ini bisa kita jawab: Uslûb (cara/teknik) dakwah boleh saja berbeda, sesuai dengan situasi dan kondisi zaman. Akan tetapi, metode (tharîqah/manhaj) dakwah wajib sepenuhnya mencontoh Nabi saw. Pasalnya, metode (tharîqah/manhaj) adalah perkara baku/tetap yang tidak berubah dengan berubahnya waktu dan tempat. Ciri amal dakwah Nabi saw. adalah metode (tharîqah/manhaj) dakwahnya yang tidak pernah berubah; apapun resikonya dan apapun respon dari objek dakwahnya (Taysîr Wushûl Ilaa al-Ushûl, hal. 21). Contohnya thalab an-nushrah. Di antara metode (tharîqah/manhaj) dakwah Nabi saw. adalah dakwah berjamaah. Beliau mengkoordinasi segala potensi yang ada pada para Sahabat beliau untuk meraih tujuan dakwah.
Dalam kondisi kita saat ini, apapun tantangan dari dakwah berjamaah semestinya kita tetap berupaya istiqamah dalam jamaah, karena ini bagian dari bukti cinta kita kepada Nabi saw. Betapapun godaan untuk keluar dari jamaah bergitu kuat. Semoga Allah SWT mengistiqamahkan kita. Âmîn
Keempat: Membebaskan negeri-negeri Islam yang tertindas dan terjajah. Di antara wujud cinta kita kepada Nabi saw. adalah berjuang untuk membebaskan negeri-negeri Islam yang tertindas dan terjajah. Inilah amal Nabi saw. Siang dan malam beliau berjuang membebaskan Jazirah Arab dari kemusyrikan. Puncaknya adalah pembebasan Makkah (tahun 8 H). Makkah adalah entitas penjaga kemusyrikan. Saat Makkah dibebaskan, kemusyrikan dihapuskan. Masuk Islamlah orang-orang secara bergelombang. Beliau kemudian memperluas medan dakwah. Beliau mengirim surat kepada para raja di luar Jazirah Arab. Beliau menyerukan Islam. Aslim taslam (Masuk Islamlah, maka engkau selamat). Beliau juga memimpin pasukan untuk membuka front dengan imperium Romawi.
Saat ini, negeri-negeri Islam terjajah dengan ideologi Kapitalisme dan Sosialisme. Kaum Muslim terjajah secara fisik seperti yang terjadi di Palestina. Karena itu wujud mencintai dan meneladani Nabi saw. adalah berjuang mencabut ideologi penjajah dan penjajahan itu dari negeri-negeri Islam.
Kelima: Mendirikan negara seperti negara yang pernah didirikan Nabi SAW. Selain mewariskan al-Quran dan as-Sunnah, Nabi saw. juga mewariskan negara. Nabi kita adalah nabi dan rasul sekaligus kepala negara. Negara Islam yang didirikan sekaligus dikepalai oleh Rasulullah saw. Ini dilanjutkan secara estafet oleh Khulafaur Rasyidin dalam wujud Khilafah Islam. Khilafah Islam ini lalu dilanjutkan oleh para khalifah sesudahnya. Sayangnya, Khilafah Islam pada akhirnya diruntuhkan pada 28 Rajab 1342 H/3 Maret 1924.
Nabi saw. juga secara khusus berwasiat agar kaum Muslim berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah Khulafaur-Rasyidin al-Mahdiyyin. Inilah Daulah Islam atau Khilafah Islam. Negara inilah yang akan mewujudkan kecintaan dan peneladanan secara total kepada Nabi saw. Dengan Negara Islam inilah syariah Islam akan bisa diterapkan secara kâffah. Dengan Negara Islam ini dakwah Islam akan tersebar di seluruh penjuru dunia. Dengan Negara Islam ini negeri-negeri Islam akan disatukan dan dibebaskan dari penindasan dan penjajahan. Dengan Negara Islam ini pula kebenaran akan datang dan kebatilan akan sirna. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Kebenaran telah datang dan sirnalah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan pasti akan sirna.” (QS al-Isra’ [17]: 81).
Dengan Negara Islam (Khilafah Islam) yang menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah dan jihad ke penjuru alam, Islam akan tersebar dan manusia akan masuk Islam secara berbondong-bondong. Allah SWT berfirman:
Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, engkau menyaksikan manusia masuk ke dalam agama Allah (Islam) secara berbondong-bondong (QS an-Nashr [110]: 1-2).
Orang yang mengaku cinta kepada Nabi saw. tidak akan ridha dengan sistem kenegaraan selain Khilafah Islam. Dia tidak akan ridha dengan sistem monarki (kerajaan) karena Khilafah bukan kerajaan. Dia juga tidak akan ridha dengan sistem demokrasi dengan beragam variannya karena Khilafah berbeda dengan negara demokrasi dalam asas dan cabangnya. Pecinta Nabi saw. juga tidak ridha dengan sistem negara imperium karena Khilafah bukan negara imperium. Khilafah Islam adalah sistem ketataneragaan yang khas yang diwariskan oleh Baginda Nabi SAW.
Khilafahlah yang di-bisyârah-kan oleh Nabi kita yang akan tegak di akhir zaman. Berjuang menegakkan Khilafah adalah bukti cinta kita pada Nabi saw.. Berjuang menegakkan Khilafah adalah metode mewujudkan cinta kepada Nabi saw. secara total.
Semoga kita dimampukan untuk mewujudkan Kembali Khilafah Islam. Âmîn.
WalLâhu a’lam bish ash-shawâb. [Dr. Wahyudi Ibnu Yusuf]





