Pengantar

Pengantar [Maulud Nabi SAW dan Kemerdekaan Hakiki]

Assalâmu ’alaykum wa rahmatulLâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, setiap tahun kaum Muslim memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Berbagai majelis shalawat, kajian sîrah dan ungkapan cinta kepada Rasulullah saw. digelar di berbagai tempat. Umat mengenang keluhuran akhlak beliau, mengagungkan perjuangan dakwah beliau, serta menumbuhkan kerinduan untuk mengikuti jejak hidup manusia terbaik sepanjang zaman. Tentu, kecintaan kepada Rasulullah saw. merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keimanan setiap Muslim.

Akan tetapi, di balik semarak peringatan Maulid Nabi saw., terselip satu ironi besar yang jarang disadari. Rasulullah saw. begitu dicintai, tetapi risalah yang beliau bawa belum sepenuhnya dijadikan pedoman dalam mengatur kehidupan. Sirah beliau dikaji dengan penuh kekhusyukan, namun sistem yang beliau tegakkan justru ditinggalkan. Umat memperingati kelahiran beliau, tetapi masih hidup di bawah dominasi ideologi Kapitalisme-sekuler yang menjauhkan syariah Islam dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Realitas ini menunjukkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia, masih jauh dari hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Penjajahan memang tidak lagi hadir dalam bentuk pendudukan militer sebagaimana masa kolonial dulu. Saat ini ia menjelma dalam bentuk penjajahan pemikiran, politik, ekonomi, hukum dan budaya melalui ideologi Kapitalisme-sekuler. Akibatnya, hukum Allah SWT disingkirkan, kekayaan alam dikuasai korporasi, kebijakan publik tunduk pada kepentingan pemilik modal, dan umat pun terus dibelenggu oleh sistem yang lahir dari akal manusia; bukan dari wahyu Allah SWT.

Islam memandang bahwa kelahiran Rasulullah saw. adalah awal kehadiran cahaya yang membebaskan manusia dari seluruh bentuk penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT. Misi beliau bukan sekadar memperbaiki akhlak individu, tetapi juga mengubah sistem kehidupan jahiliah menjadi sistem Islam yang menegakkan keadilan dan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu meneladani Rasulullah saw. berarti memperjuangkan tegaknya syariah secara kâffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sejarah Islam mencatat bahwa ketika risalah Rasulullah saw. diterapkan dalam kehidupan bernegara, umat merdeka dari berbagai bentuk penindasan, keadilan ditegakkan, kemuliaan manusia dijaga, dan rahmat Islam dirasakan oleh seluruh masyarakat.

Itulah sebagian bahasan utama al-Wa’ie edisi kali ini, selain berbagai topik penting lainnya.

Semoga Peringatan Maulid Nabi saw. kali ini melahirkan kesadaran bahwa kemerdekaan hakiki hanya akan terwujud jika risalah beliau ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupan. Tentu di bawah institusi kekuasaan Islam (Khilafah). Selamat membaca!

Wassalâmu’alaykum wa rahmatulLâhi wa barakâtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =

Back to top button