
Generasi yang Dirindukan Nabi SAW.
Pernahkah Ayah-Bunda membayangkan, kira-kira seperti apa generasi yang paling dirindukan Rasulullah saw.? Jawabannya: Bukan generasi yang sekadar cerdas di bangku sekolah. Bukan pula yang sukses meraih gelar dan harta. Rasulullah saw. merindukan lahirnya generasi yang hatinya selalu terpaut kepada Allah, lisannya senantiasa mengingat Dia, akalnya dipenuhi pemikiran Islam, dan hidupnya dipersembahkan untuk memperjuangkan agama-Nya.
Sayangnya, justru hari ini kita sedang menghadapi ujian berat dalam proses pembentukan generasi yang demikian. Anak-anak kita tumbuh di tengah dunia yang begitu bising dengan kerusakan. Sejak membuka mata hingga menjelang tidur, mereka disuguhi dengan berbagai pemikiran, gaya hidup dan nilai yang tidak sejalan dengan Islam. Melalui gawai yang ada di genggaman, dunia seolah masuk ke ruang keluarga tanpa meminta izin. Siap menyebarkan virus-virus kerusakan yang dirancang oleh musuh-musuh Islam.
Inilah wajah kehidupan yang dibentuk oleh sistem Kapitalisme liberal. Sistem ini melahirkan paham sekuler yang mengajarkan bahwa kehidupan harus dipisahkan dari agama. Jadilah ukuran kebahagiaan adalah materi, keberhasilan dinilai dari popularitas dan kebebasan ditempatkan di atas segala-galanya. Benar dan salah tidak lagi diukur dengan halal dan haram, melainkan dengan “yang penting nyaman”, “asal tidak merugikan orang lain”, atau “semua orang juga melakukan”.
Akibatnya, Ayah-Bunda bisa menyaksikan gejala yang mengkhawatirkan. Budaya konsumtif semakin mengakar. Hedonisme dipandang sebagai gaya hidup. Pergaulan bebas dianggap biasa. Penghormatan kepada orangtua dan guru semakin memudar. Media sosial dipenuhi dengan tontonan yang mengikis rasa malu. Anak-anak semakin akrab dengan tokoh-tokoh hiburan dibandingkan akrab dengan para Sahabat Rasulullah saw. Bahkan tidak sedikit yang lebih hapal tren media sosial daripada ayat-ayat al-Quran.
Sebagai orangtua, tentu dalam hati ayah dan bunda bertanya, “Akankah anak-anak kita mampu menjadi generasi idaman di tengah derasnya arus sekuler ini?”
Pertanyaan itu wajar. Akan tetapi, Ayah-Bunda tidak perlu berkecil hati. Pasalnya, Islam telah memberikan jawabannya bagaimana menghadapi tantangan tersebut, melalui teladan Rasulullah saw. dalam membina generasi muda pada masanya.
Perhatian Rasulullah saw. Terhadap Generasi Muda
Jika ada sosok yang paling memahami pentingnya membina generasi muda, beliau adalah Rasulullah saw. Beliau melihat anak-anak dan para pemuda sebagai aset terbesar umat. Di tangan merekalah masa depan Islam akan dilanjutkan. Karena itu Rasulullah saw. begitu memperhatikan mereka dan membina mereka dengan penuh kasih sayang. Sebagai contoh, Ayah-Bunda bisa melihat bagaimana cara Rasulullah saw. menasihati Ibnu Abbas r.a. saat masih kecil berikut:
Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbas ra.: Suatu hari saya dibonceng Rasulullah saw. Beliau lalu berkata kepada saya, ”Nak, sungguh aku ingin mengajari beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah. Jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa seluruh umat manusia, kalau mereka ingin memberi kamu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan untuk kamu. Kalau mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu, mereka juga tidak akan bisa membahayakan dirimu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untuk kamu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR at-Tirmidzi).
Perhatikan pula bagaimana Rasulullah saw. memberikan contoh dalam menegur seorang anak, sebagaimana diriwayatkan oleh Umar bin Abi Salamah, anak tiri Rasulullah saw. Beliau menegur Umar kecil dengan lembut saat tangan anak tersebut bergerak kesana-kemari di nampan makanan. Beliau bersabda:
“Nak, sebutlah nama Allah (Bacalah Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari apa yang ada di dekatmu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Di lain riwayat, Rasulullah saw. mudah menyapa anak-anak. Beliau biasa mengusap kepala anak-anak. Beliau sering menggendong cucu-cucu beliau. Beliau biasa berrsabar mendengarkan pertanyaan mereka. Beliau suka memberikan kepercayaan ketika mereka telah mampu memikul amanah. Beliau mendidik mereka agar menjadi pembawa risalah Islam.
Tidak mengherankan jika dari madrasah Kenabian lahirlah pemuda-pemuda luar biasa. Ada yang menghapal al-Quran di usia belia. Ada yang dipercaya menjadi penulis wahyu. Ada yang diberi amanah memimpin pasukan. Ada pula yang mengemban dakwah ke berbagai penjuru negeri. Mereka menjadi besar bukan karena usia, melainkan karena besarnya iman dan kuatnya pendidikan yang mereka terima.
Menumbuhkan Cinta kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. dalam Keluarga
Ayah-Bunda, anak-anak tidak cukup dipenuhi kebutuhan fisiknya semata. Mereka membutuhkan pula kasih sayang dan bimbingan dalam menumbuhkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka membutuhkan ayah yang menunjukkan bahwa shalat adalah kebutuhan, bukan beban. Mereka membutuhkan ibu yang mencintai al-Quran. Dengan itu rumah terasa hidup dengan lantunan ayat-ayat Allah SWT. Mereka membutuhkan keluarga yang menjadikan halal dan haram sebagai pedoman dalam setiap keputusan. Mereka membutuhkan bimbingan untuk ber-Islam secara kâffah, sebagaimana perintah Allah SWT:
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah [2]: 208).
Hal yang tak kalah penting yang harus dipahami oleh Ayah-Bunda, bahwa anak belajar terutama dari apa yang mereka lihat. Ketika mereka melihat kedua orangtuanya menjaga shalat meski lelah, tetap jujur meski rugi, memilih yang halal meski sulit, mencintai dakwah meski penuh pengorbanan, sesungguhnya saat itulah pendidikan paling berharga sedang berlangsung.
Intinya, apapun yang dilakukan Ayah-Bunda dalam rumah sebagai wujud kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya akan menjadi pelajaran penting bagi anak-anak. Demikianlah, sebagaimana cinta tumbuh karena sering dikenalkan, sering dibicarakan dan sering dirasakan keindahannya. Karena itu mari hidupkan rumah Ayah-Bunda dengan suasana iman.
Secara praktis kita biasa membiasakan shalat berjamaah bersama keluarga. Luangkan waktu membaca al-Quran setiap hari, walau hanya beberapa ayat. Ceritakan kisah Rasulullah saw. sebelum anak tidur, bukan hanya kisah tokoh-tokoh fiksi. Ajarkan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah sehingga anak terbiasa bersyukur. Biasakan berdiskusi tentang halal dan haram ketika menghadapi berbagai persoalan sehari-hari. Yang tidak kalah penting, doakan mereka setiap hari. Sebabnya, tidak ada doa yang lebih tulus selain doa seorang ayah dan ibu untuk anak-anaknya.
Alhasil, anak-anak akan merasakan suasana rumah yang penuh dengan kecintaan pada Allah SWT dan Rasul-Nya. Ini akan membentuk pribadi anak dalam kecintaan yang sama.
Bukti Cinta kepada Nabi saw.
Bukti mencintai Allah SWT dan Rasulullah saw. adalah dengan menghadirkan ketaatan. Allah SWT berfirman:
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran [3]: 31).
Karena itu tugas Ayah-Bunda juga mengajarkan bahwa mencintai Nabi saw. berarti mengikuti sunnah beliau, menaati syariah Allah dalam seluruh aspek kehidupan, serta memiliki kepedulian terhadap tegaknya ajaran Islam di tengah umat.
Anak perlu memahami bahwa Islam bukan sekadar identitas atau ibadah ritual. Islam adalah pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam akhlak, muamalah, pendidikan, keluarga, hingga kehidupan bermasyarakat dan negara.
Kelak, ketika mereka dewasa, kita berharap mereka bukan hanya menjadi Muslim yang baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari orang-orang yang menyerukan kebaikan, menjaga kemurnian ajaran Islam dan berjuang agar syariah Allah dapat diamalkan dalam kehidupan.
Membangun Generasi yang Dirindukan Nabi saw.
Sejak dini, Ayah-Bunda hendaknya sudah bersiap membangun generasi masa depan. Barangkali hari ini anak-anak masih belajar mengeja huruf hijaiyah. Masih belajar menutup aurat dengan sempurna. Masih belajar memahami mengapa salat harus ditegakkan. Jangan pernah meremehkan proses itu. Bisa jadi, kelak mereka menjadi seorang pengemban dakwah yang menguatkan umat, seorang ulama yang menjaga kemurnian agama, seorang pemimpin yang adil, atau seorang ibu shalihah yang melahirkan kembali generasi pejuang Islam.
Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada menghadirkan generasi yang mengenal Rabb-nya, mencintai Rasul-Nya dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup.
Mari Ayah-Bunda, terus membersamai mereka dengan doa, ilmu, kesabaran dan keteladanan. Sebabnya, kemenangan Islam tidak lahir secara tiba-tiba. Ia lahir dari rumah-rumah yang berhasil menumbuhkan anak-anak yang beriman, bertakwa, berilmu, berakhlak mulia serta siap mengabdikan seluruh kehidupannya untuk menaati Allah dan memperjuangkan agama-Nya.
Semoga Allah menjadikan putra-putri Ayah-Bunda termasuk generasi yang dirindukan Rasulullah saw. Generasi yang kelak menjadi penyejuk hati orang tuanya di dunia, pemberat timbangan amal di akhirat dan bagian dari kebangkitan umat Islam. Âmîn. WalLâhu’alam. [Titi Hutami]



