Tafsir

Ancaman Kepada Kaum Kafir dan Pelipur Bagi Nabi Saw (1)

نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ وَمَآ أَنتَ عَلَيۡهِم بِجَبَّارٖۖ فَذَكِّرۡ بِٱلۡقُرۡءَانِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ  ٤٥

Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan. Engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Karena itu berilah peringatan dengan al-Quran kepada siapa pun yang takut terhadap ancaman-Ku. (QS Qaf [50]: 45).

 

Dalam ayat sebelumnya Allah SWT memberitahukan tentang berbagai peristiwa pada Hari Kiamat. Dimulai dengan suara dahsyat pada Hari Kiamat, Allah SWT menghidupkan semua makhluk dan mengumpulkan mereka di suatu tempat. Kemudian disusul dengan ayat ini yang berbicara tentang orang-orang kafir dan Rasulullah saw.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَۖ ٤٥

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan.

Ini merupakan ayat terakhir dalam QS Qaff. Ditegaskan dalam ayat ini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang mereka katakan. Tidak disebutkan secara jelas siapa yang dimaksud dengan mereka. Dari ayat-ayat sebelumnya, dapat dipahami bahwa mereka yang dimaksudkan adalah orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:

فَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ ٣٩

Karena itu bersabarlah engkau (Nabi Muhammad saw.) atas apa yang mereka katakan (QS Qaff [50]: 39).

Perintah bersabar atas perkataan mereka menunjukkan bahwa perkataan yang diucapkan mereka adalah perkataan yang menyakitkan hati Rasulullah saw.1

Tentu saja mereka bukanlah kaum kafir. Sebabnya, mereka adalah kaum yang Mukmin yang sebenarnya, tidak akan mengucapkan perkataan yang menyakiti hati beliau. Dengan demikian, sebagaimana dinyatakan oleh para mufassir, mereka yang dimaksud ayat-ayat ini adalah orang-orang musyrik atau kafir.2

Dalam ayat ini dan sebelumnya, yakni 45 dan 39, juga tidak disebutkan secara sharîh, jelas, atau eksplisit tentang perkataan kaum kafir. Namun demikian, para ulama dapat menyimpulkan bahwa perkataan mereka adalah kekufuran, kebatilan dan kemungkaran. As-Sam’ani berkata tentang ayat ini, “Artinya: (Kami lebih mengetahui) apa yang mereka ucapkan berupa kesyirikan dan kedustaan terhadap Allah serta terhadap Rasul-Nya.”

Kesimpulan tersebut dapat ditarikan dengan menghubungkan dengan ayat-ayat yang sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya, yakni ayat 39 yang memerintahkan Rasulullah saw. untuk bersabar terhadap perkataan mereka. Itu disebutkan setelah firman Allah SWT:

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٖ  ٣٨

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan langit, bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa dan Kami tidak merasa letih sedikit pun. (QS al Qaf [50]: 38)

Menurut Qatadah, dengan ayat 38 ini Allah membantah SWT kedustaan kaum Yahudi, Nasrani dan para pembuat kebohongan atas nama Allah. Hal itu karena mereka berkata, “Sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian Dia beristirahat pada hari ketujuh.” Hari ketujuh itu menurut mereka adalah Hari Sabtu. Mereka menamakan itu sebagai « يوم الراحة » (hari peristirahatan)3. Ini termasuk perkataan batil dan munkar yang diucapkan mereka.

Termasuk perkataan batil dan mungkar yang diucapkan kaum musyrik adalah tentang Hari Kebangkitan. Mereka menganggap itu mustahil sesuatu yang aneh dan tidak masuk akal.4 Perkataan dan sikap mereka itu diberitakan dalam awal surat ini, yakni firman-Nya:

بَلۡ عَجِبُوٓاْ أَن جَآءَهُم مُّنذِرٞ مِّنۡهُمۡ فَقَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ هَٰذَا شَيۡءٌ عَجِيبٌ  ٢ أَءِذَا مِتۡنَا وَكُنَّا تُرَابٗاۖ ذَٰلِكَ رَجۡعُۢ بَعِيدٞ  ٣

(Mereka menolak) bahkan mereka heran karena telah datang pada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri. Berkatalah orang-orang kafir, “Ini adalah sesuatu yang sangat mengherankan. Apakah setelah kami mati dan sudah menjadi tanah (akan dikembalikan)? Itu adalah pengembalian yang sangat jauh.” (QS Qaff [50]: 2-3).

Menjelaskan ayat ini (QS Qaff [50]: 45), Ibnu Jarir ath-Thabari mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah berfirman kepada Nabi saw., “Wahai Muhammad, Kami lebih mengetahui apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyekutukan Allah ini; mulai dari kedustaan yang mereka ada-adakan terhadap Allah, pendustaan mereka terhadap ayat-ayat-Nya, hingga pengingkaran mereka terhadap kuasa Allah untuk membangkitkan (manusia) setelah kematian.”5

Inilah di antara perkataan mereka yang batil dan mungkar. Ketika Allah SWT memberikan ancaman kepada mereka atas apa yang mereka katakan, ini menunjukkan adanya munâsabah (kesesuaian, keterkaitan, relevansi) antara awal surat dengan akhir surat. Jika pada awal surat ini Allah SWT mengabarkan berbagai perkataan mungkar dan batil kaum kafir, maka di akhir surat ini Dia menyampaikan ancaman keras kepada orang-orang yang mengatakan demikian.

Maksud bahwa ayat ini merupakan ancaman bagi kaum kafir dengan berbagai perkataan batil dan mungkar mereka, dikemukakan oleh banyak mufassir, seperti az-Zamakhsyari, Ibnu ‘Ajibah, Ibnu Adil, dan lain-lain.6

Ancaman terhadap kaum kafir karena ucapan dan perkataan mereka tidak disebut­kan secara eksplisit, tetapi dapat dipahami dari beberapa hal.

Pertama: Pengetahuan Allah SWT terhadap perbuatan mereka yang ditegaskan ayat, yakni firman-Nya:

نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَقُولُونَ ١٠٤

Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan. (QS Thaha [20]: 104)

Telah maklum bahwa manusia akan dibalas sesuai amalnya. Ketika mereka melakukan perbuatan baik, akan dibalas dengan kebaikan. Demikian juga sebaliknya. Perbuatan buruk dan jahat juga akan dibalas dengan keburukan. Dipastikan, Allah SWT tidak akan salah dan keliru dalam hal itu. Artinya, siapa pun yang melakukan kebaikan atau kejahatan, pasti diketahui Allah SWT dan akan diberikan balasan sesuai dengan amalnya.

Oleh karena itu, pemberitaan bahwa Allah Mahatahu atas semua amal manusia adalah kabar gembira bagi orang-orang yang melakukan kebaikan serta memberikan motivasi kepada mereka untuk terus melakukan kebaikan. Ini sekaligus sebagai peringatan keras bagi orang-orang yang melakukan kejahatan dan ancaman agar mereka berhenti melakukannya.

Sebagai contoh, perhatikan firman Allah SWT:

وَمَا تَفۡعَلُواْ مِنۡ خَيۡرٖ يَعۡلَمۡهُ ٱللَّهُۗ ١٩٧

Segala kebaikan yang kalian kerjakan (pasti) Allah ketahui (QS al-Baqarah [2]: 197).

Pengetahuan atas amal manusia dalam ayat ini dikaitkan dengan kebaikan. Ini merupakan kabar gembira sekaligus dorongan bagi mereka untuk mengerjakan kebaikan. Ibnu Katsir berkata, “Ketika Allah melarang mereka dari melakukan perbuatan keji, baik secara perkataan maupun perbuatan, Dia pun mendorong mereka untuk melakukan perbuatan yang baik dan mengabarkan kepada mereka bahwa Dia Mahatahu atas perbuatan mereka. Dia pun akan membalas mereka amal perbuatan mereka dengan balasan yang paling sempurna pada Hari Kiamat.”7

Perhatikan juga firman Allah SWT:

قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ ٦٣

Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kalian dengan berlindung (kepada kawannya) (QS an-Nur [24]: 63).8

Pemberitahuan Allah SWT bahwa Dia mengetahui perbuatan mereka itu adalah ancaman bagi mereka dengan azab. Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Allah mengetahui mereka dan Dia akan membalas mereka atas perbuatan itu dengan balasan yang paling sempurna. Karena itulah Dia mengancam mereka dengan firman-Nya (kelanjutan ayat ini):

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ  ٦٣

Karena itu hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih (QS an-Nur [24]: 63).

Demikian juga dengan ayat ini (Qaff [50]: 45). Ini adalah ancaman bagi kaum kafir yang mengucapkan berbagai perkataan kufur, batil dan mungkar.

Kedua: Kepastian manusia kembali Allah SWT pada Hari Kebangkitan. Dalam ayat sebelumnya disebutkan:

وَإِلَيۡنَا ٱلۡمَصِيرُ  ٤٣

Kepada Kami tempat kembali (QS Qaff [50]: 43).

Ayat ini memastikan bahwa semua manusia akan kembali kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang bisa menghindar dari Dia. Karena itu, ini menjadi ancaman bagi orang-orang yang melakukan keburukan dan kejahatan lantaran mereka akan mendapatkan balasan dan hukuman atas perbuatan mereka.

Menurut Ibnu ‘Adil, ayat ini (QS Qaff [50]: 45) merupakan pelipur lara bagi Nabi saw. Bisa juga mengandung ancaman dan peringatan keras. Alasannya adalah firman-Nya: « وَإِلَيْنَا الْمَصِيرُ » (dan hanya kepada Kamilah tempat kembali’). Dengan ilmu Allah itulah ancaman tersebut menjadi sempurna (karena Dia mengetahui segala perbuatan mereka).9

Penegasan serupa juga disebutkan dalam ayat sebelumnya. Allah SWT berfirman:

ذَٰلِكَ حَشۡرٌ عَلَيۡنَا يَسِيرٞ  ٤٤

Yang demikian adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami (QS Qaff [50]: 44).

Ini menunjukkan bahwa ucapan batil dan buruk yang mereka sampaikan tidak akan dibiarkan, namun akan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat, ketika manusia dibangkitkan. Balasan Allah SWT itu benar-benar adil karena pengetahuan-Nya yang sempurna dan menyeluruh terhadap seluruh perkataan mereka.

Dalam ayat lainnya, Allah SWT juga berfirman:

ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَۚ إِنَّهُۥ عَلِيمُۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ  ٧

Kemudian, kepada Tuhanmulah kembali kalian, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. Sesungguhnya Dia Mahatahu atas apa yang tersimpan di dalam dada (QS az-Zummar [39]: 7).10

Ketiga: Sebagai pelipur lara bagi Rasulullah saw. Sebagaimana telah dipaparkan, Allah SWT memerintahkan untuk bersabar atas perkataan mereka. Perintah ini bermakna bahwa perkataan orang-orang kafir itu menyedihkan dan menggelisahkan beliau. Ibnu Katsir berkata, “Artinya, pengetahuan Kami meliputi semua yang dikatakan oleh kaum musyrik terhadap diri kamu, yakni pendustaan mereka terhadap dirimu. Karena itu janganlah sekali-kali hal itu membuat kamu gelisah.” Ayat ini semakna dengan firman-Nya:

وَلَقَدۡ نَعۡلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدۡرُكَ بِمَا يَقُولُونَ  ٩٧ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ  ٩٨ وَٱعۡبُدۡ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأۡتِيَكَ ٱلۡيَقِينُ  ٩٩

Kami sungguh-sungguh mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. Karena itu bertasbihlah dengan memuji Tuhan. Jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat). Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepada kamu yang diyakini (ajal) (QS al-Hijr: 97-99).11

Sikap yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada beliau adalah bersabar, dengan tetap menjalankan tugas beliau sebagai rasul; tanpa terganggu dan tersibukkan oleh sikap dan perkataan mereka.

Fakhruddin ar-Razi berkata: “Artinya: Sibukkanlah dirimu dengan apa yang telah Kami katakan (perintahkan). Janganlah engkau disibukkan oleh keluhan kepada Kami karena sesungguhnya Kami mengetahui ucapan-ucapan mereka dan melihat perbuatan-­perbuatan mereka.”12

Pertanyaannya: Jika Nabi saw. diperintahkan bersabar atas perkataan mereka, lalu apakah mereka dibiarkan begitu saja tanpa ada hukuman atas mereka? Ayat ini memberikan penegasan bahwa mereka akan mendapatkan balasan dan hukuman dari Allah SWT. Karena itu ancaman terhadap mereka itu sekaligus menjadi pelipur lara bagi Rasulullah saw.

Abu Bakar al-Jazairi berkata, “Di dalamnya terdapat hiburan bagi Rasul saw dan di dalamnya terdapat ancaman bagi kaum kafir Quraisy.” Hal yang sama juga diterangkan Wahbah az-Zuhaili dan Ibnu ‘Asyur.13

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT:

وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَٱهۡجُرۡهُمۡ هَجۡرٗا جَمِيلٗا  ١٠

Bersabarlah (Nabi Muhammad) atas apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik (QS al-Muzzammil [73]: 10).

Setelah perintah kepada Nabi saw. untuk bersabar terhadap orang-orang kafir, Allah SWT menyampaikan ancaman kepada mereka dengan ayat selanjutanya. Allah SWT berfirman:

وَذَرۡنِي وَٱلۡمُكَذِّبِينَ أُوْلِي ٱلنَّعۡمَةِ وَمَهِّلۡهُمۡ قَلِيلًا  ١١ إِنَّ لَدَيۡنَآ أَنكَالٗا وَجَحِيمٗا  ١٢

Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap para pendusta yang memiliki segala kenikmatan hidup dan berilah mereka penangguhan sementara. Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat), (Neraka) Jahim (QS al-Muzzammil [73]: 11-12).

Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar memberikan kabar bahwa Allah SWT mengetahui perkataan mereka yang kufur, batil dan munkar. Ayat ini juga merupakan ancaman kepada mereka sekaligus hiburan bagi Rasulullah saw.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

  1. Lihat: al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2000), 807
  2. Lihat: al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, 17, 24; al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 479
  3. al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 376
  4. Lihat: al-Harari, Tafsîr Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, 27 (Beirut: Dar Thawq al-Najah, 2001), 479
  5. al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, 22, 383
  6. Lihat juga al-Zamakhsyari, al-Kasysyâf, 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Araby, 1987), 393; Ibnu ‘Ajibah, al-Bahr al-Madîd fî Tafsîr al-Qur`ân al-Majîd, vol. 5 (Kairo: Dr. Hasan Abbas Zaki, 1999), 462; Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, vol. 18 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Imiyyah, 1998), 54;
  7. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 1 (tt: Dar Thayyibah, 1999), 547
  8. Lihat: al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân (Beirut: Muassasah al-Risalah, 2000), 576
  9. Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 18 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Imiyyah, 1998), 54
  10. Ibnu ‘Adil, al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Kitâb, 18 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Imiyyah, 1998), 54
  11. Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-’Azhîm, 7, 412
  12. al-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, 26 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 258
  13. Lihat: al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, 5, 153; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 26, 312; Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr , vol. 30, 333

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − two =

Back to top button