
Proposal Trump: Pola Lama Kolonial
Dua puluh satu poin proposal Donald Trump untuk Gaza sesungguhnya merupakan pola lama kolonial untuk melumpuhkan perlawanan terhadap penjajahan. Intinya: demiliterisasi, deradikalisasi, sekulerisasi politik dan jeratan bantuan ekonomi. Hal yang sama dilakukan oleh Donald Trump dalam apa yang dia sebut sebagai perdamaian. Inti proposal ini adalah melumpuhkan perlawanan yang dilakukan oleh pejuang Palestina dengan imbalan politik: sebuah negara lemah sekuler yang dikendalikan oleh Barat.
Demiliterisasi adalah upaya untuk melumpuhkan kekuatan perlawanan Palestina secara militer (fisik). Hal itu tampak dari poin 13 proposal Trump: Hamas dan faksi-faksi lainnya sepakat untuk tidak berperan dalam pemerintahan Gaza, baik secara langsung maupun tidak langsung, atau dalam bentuk apa pun. Semua infrastruktur militer, teror dan ofensif, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, akan dihancurkan dan tidak akan dibangun kembali; akan ada proses demiliterisasi Gaza. Poin ini sangat jelas akan menghancurkan kekuatan perlawanan. Sebaliknya, hal yang sama tidak dituntut kepada entitas penjajah Yahudi yang justru pelaku genosida.
Adapun deradikalisasi tidak lain untuk melumpuhkan perjuangan melalui pemikiran. Sangat jelas yang dituding radikal selama ini oleh Barat adalah pemikiran Islam yang anti-penjajahan. Pemikiran Islam dibangun atas dasar Aqidah Islam. Aqidah Islam memancarkan syariah Islam yang kâffah. Aqidah Islam membentuk pola pikir dan sikap kaum Muslim, yang hanya menyembah dan takut hanya kepada Allah SWT, yang sabar akan ujian dari Allah SWT dalam perjuangan, yang ridha terhadap takdir Allah SWT dan yakin akan kemenangan dari Allah SWT. Aqidah inilah yang menakutkan penjajah Barat.
Adapun syariah Islam yang dibangun atas Aqidah Islam hanya menyerahkan kedaulatan ke tangan hukum syariah, bukan hawa nafsu manusia. Syariah Islam tidak tunduk pada hawa nafsu keserakahan manusia dan kerakusan akan kekuasaan. Syariah Islam inilah yang akan membebaskan manusia serta tentu umat Islam dan negeri-negeri Islam dari penjajahan total Barat.
Selama kaum Muslim mendasarkan diri mereka pada syariah Islam, Barat akan menemukan jalan buntu bagi penjajahan dan pengendalian terhadap umat Islam. Konsepsi Islam yang bertentangan total dengan ekonomi liberal dan politik demokrasi akan membuat umat Islam tidak bisa dikendalikan oleh mereka. Syariah Islam yang mewajibkan jihad fî sabilillah menjadi batu sandungan yang membuat mereka gagal sepenuhnya menjajah negeri Islam. Adapun ukhuwah Islamiyah yang menyatukan kaum Muslim di seluruh dunia akan menjadi kekuatan besar yang sulit mereka bendung. Inilah mengapa Trump menekankan pentingnya deradikalisasi. Demikian seperti tercantum dalam Poin 1: Gaza akan menjadi zona bebas teror yang dideradikalisasi dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangganya.
Upaya deradikalisasi ini diperkokoh dengan program dialog lintas agama untuk apa yang mereka klaim demi menanamkan nilai toleransi dan hidup berdampingan antara Palestina dan Israel. Ini adalah pelumpuhan Aqidah umat. Dialog agama dalam versi Barat bertujuan menyamakan kebenaran Islam dengan kebatilan Yahudi dan Nasrani. Narasi satu keturunan Ibrahim adalah legitimasi untuk normalisasi dengan penjajah Yahudi. Padahal Islam tidak menerima kompromi dalam akidah. Agama di sisi Allah hanyalah Islam.
Poin penting berikutnya adalah sekulerisasi politik. Hal itu tampak sangat jelas dalam Poin 9: Gaza akan diperintah di bawah pemerintahan transisi sementara dari sebuah komite Palestina yang teknokratis dan apolitis dengan pengawasan dan supervisi oleh badan transisi internasional baru, “Dewan Perdamaian”, yang akan dipimpin dan diketuai oleh Presiden Donald J. Trump, dengan anggota dan kepala negara lainnya yang akan diumumkan, termasuk Mantan Perdana Menteri Tony Blair…Badan ini akan menerapkan standar internasional terbaik untuk menciptakan pemerintahan modern dan efisien yang melayani rakyat Gaza dan kondusif untuk menarik investasi.
Jadi pemerintahan Palestina ke depan jelas-jelas menerapkan standar sekuler Barat yang mereka kaburkan dengan istilah “standar internasional dan pemerintahan modern”. Di antara tujuannya adalah untuk menarik investasi. Agar benar-benar bisa dikendalikan, pembentukannya di bawah kendali langsung Trump dan Tony Blair. Inilah dua sosok jahat yang punya rekam jejak berdarah di Dunia Islam. Trump mendukung penuh genosida atas gaza. Adapun Blair bertanggung jawab terhadap genosida selama pendudukan Irak dan Afghanistan dengan lebih dari 1 juta korban umat Islam. Barat sangat tahu persis, justru dengan membentuk pemerintah sekuler ini, yang menjadi pola lama dari kolonial, negeri-negeri Islam bisa ditundukkan dengan penguasa boneka yang menjilat dan melayani kepentingan imperialisme Barat.
Imbalannya adalah janji kesejahteraan dengan pola ekonomi liberal. Rencana pembangunan ekonomi “Trump Plan” akan dibuat dengan para ahli pembangunan kota modern di Timur Tengah untuk menciptakan lapangan kerja dan harapan bagi masa depan Gaza. Pola lama kolonial ini alih-alih memberikan kesejahteraan, ia berujung pada eksploitasi kekayaan negeri Islam, liberalisasi ekonomi yang berujung pada kemiskinan dan kesenjangan antara kaya dan miskin, seperti yang terjadi di negeri-negeri Islam saat ini.
Atas nama rekonstruksi Gaza yang dihancurkan zionis Yahudi atas dukungan Amerika, proposal ini menjanjikan dana miliaran dolar dengan pengawasan AS, Bank Dunia dan PBB. Jelas, dana rekonstruksi bukan bantuan, tetapi alat penjajahan ekonomi. Inilah jalan menuju ketergantungan ekonomi pada lembaga kapitalis global. Rekonstruksi tanpa kedaulatan Islam hanya akan menukar darah syuhada dengan proyek-proyek IMF.
Bagian paling menyedihkan adalah pengkhianatan para pemimpin Muslim yang ditekan Netanyahu untuk memaksa Hamas tunduk. Merekalah penyebab Gaza ditelantarkan. Mereka bahkan berebut bertemu Trump untuk sekadar mendapatkan legitimasi dan pujian dari dirinya. Negara-negara seperti Turki, Qatar, Yordania, Pakistan, Saudi Arabia dan Indonesia kini bekerja keras memaksa mujahidin meletakkan senjata demi menjaga keamanan Israel sang penjajah, bukan umat Islam. Bahkan sebagian dari mereka akan mengirim pasukan ke Gaza, bukan untuk melindungi rakyat Palestina, melainkan melindungi tentara Zionis dari rakyat Gaza sendiri.
Kembali kita tegaskan, persoalan Palestina ini berawal dari keruntuhan Khilafah Utsmani pada 1924 yang membuka jalan bagi perpecahan negeri-negeri Muslim dan perampasan Palestina dengan dukungan Inggris, lalu diwariskan kepada Amerika Serikat. Para penguasa Muslim justru memperkokoh keberadaan entitas Yahudi dengan melindungi mereka; menjalin normalisasi serta menghalangi upaya pembebasan, bahkan menahan kekuatan militer dan membungkam suara rakyat. Pengkhianatan rezim ini kontras dengan meningkatnya kesadaran umat Islam dan opini global yang kian menentang kejahatan Zionis.
Jalan keluar sejati hanya melalui menegakkan kembali Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah yang mampu menghadirkan kekuatan politik dan militer nyata untuk membebaskan Palestina. Inilah jalan perjuangan sejati pembebasan Palestina dan negeri-negeri Islam yang ditindas. AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]





