Dunia Islam

Bagaimana Mengakhiri Derita Muslim Ethiopia?

Pada tanggal 2 Juni 2023, setelah shalat Jumat, tiga orang Muslim dibunuh oleh pasukan keamanan Ethiopia di luar, Masjid Anwar, di Addis Ababa, Ibukota Ethiopia. Pembunuhan itu terjadi selama protes damai terhadap penghancuran otoritas beberapa masjid di pinggiran kota. Mereka berencana untuk menghancurkan masjid lebih banyak lagi. Polisi menggunakan gas air mata dan menembaki jamaah untuk membubarkan kerumunan yang berkumpul di luar masjid.

Minggu sebelumnya, dua orang Muslim terbunuh dan puluhan terluka oleh pasukan keamanan di lokasi yang sama selama protes lain. Sebanyak 114 Muslim juga dilaporkan ditangkap. Beberapa orang melaporkan bahwa ambulans tidak dapat menjangkau orang-orang yang terluka karena pasukan keamanan mengepung masjid. Polisi menembakkan gas air mata ke arah jamaah Jumat di luar masjid terbesar di Addis Ababa, dalam bentrokan terbaru yang dipicu oleh penghancuran masjid di Ibukota Ethiopia.

Beberapa tempat ibadah Muslim telah dihancurkan di Addis Ababa dalam beberapa bulan terakhir sebagai bagian dari proyek perencanaan kota kontroversial yang telah memicu kemarahan di kalangan jamaah. Jumat lalu, bentrokan meletus di luar Masjid Agung Anwar. Akibatnya, dua orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Polisi mengatakan mereka telah menangkap 114 orang.

Menjelang salat Jumat pekan ini (2/6), wartawan AFP melihat polisi anti huru-hara dikerahkan di luar masjid. Anggota Pengawal Republik, unit elit yang bertanggung jawab melindungi institusi dan pejabat Pemerintah, juga hadir. Para jamaah meninggalkan masjid dengan tenang ketika beberapa pemuda mulai meneriakkan “Allaahu Akbar” (Allahu Akbar). Lalu tembakan terdengar. Menebar kepanikan. Wartawan AFP melihat. Beberapa di antara massa melempari polisi dengan batu, yang dibalas dengan gas air mata. Tidak jelas apakah polisi menggunakan peluru tajam, proyektil plastik atau tembakan kosong. Tembakan terus terdengar selama sekitar dua jam sebelum berhenti. Polisi menutup jalan di sekitar masjid.

Amir, seorang jamaah muda yang berada di masjid untuk shalat Jumat mengatakan, “Kami kurang lebih tahu apa yang akan terjadi setelah shalat.”

“Ratusan saudara dan saudari kita ditangkap minggu lalu. Orang-orang marah karena masjid kita dihancurkan.”

Proyek perencanaan kota, yang dikenal sebagai Kota Sheger, melibatkan penggabungan beberapa kotamadya di wilayah Oromia di pinggiran Ibukota. Itu telah menyebabkan penghancuran rumah dan tempat bisnis. Aktivis hak asasi lokal mengecam tindakan itu sebagai “ilegal”.

Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya 19 masjid telah dihancurkan oleh pihak berwenang di Ethiopia sebagai bagian dari proyek perencanaan kota yang kontroversial. Proyek itu melibatkan penggabungan beberapa kota di wilayah Oromia di pinggiran Ibukota, juga pembangunan kota Shaggar baru. Menurut Pemerintah, itu akan meningkatkan ekonomi dan mempercantik Addis Ababa sebagai situs pariwisata perkotaan.

Keputusan Pemerintah untuk menghancurkan lebih dari 30 masjid di Kota Shaggar yang baru didirikan telah memicu kemarahan besar di kalangan umat Islam di negara itu. Mereka telah melakukan berbagai protes terhadap langkah tersebut. Dewan Tertinggi Federal Urusan Islam Ethiopia mengirim surat kepada Perdana Menteri Abiy Ahmed untuk mengakhiri pembongkaran itu, tetapi tidak didengar. Proyek ini juga melibatkan penghancuran rumah-rumah dan tempat bisnis, yang dilaporkan akan menyebabkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

Pada bulan April 2022, lebih dari 20 Muslim tewas dan lebih dari 150 terluka dalam serangan di Pemakaman Sheikh Elias di kota Gondar, Ethiopia utara, selama upacara pemakaman atas seorang tetua Muslim. Insiden itu juga melihat penjarahan properti milik Muslim. Para pelakunya adalah orang-orang Kristen ekstremis. Pada 2019, beberapa masjid diserang di Kota Mota di Amhara dalam gelombang kekerasan anti-Muslim.

Ethiopia atau Abyssinia, sebagaimana yang pernah dikenal, pernah menjadi tempat perlindungan bagi umat Islam yang mencari perlindungan dari penganiayaan pada masa Nabi Muhammad saw. Rumah salah satu masjid tertua di Afrika, yakni Masjid Al-Nejashi, memiliki sejarah Islam yang kaya yang membentang berabad-abad. Di sini ada lebih dari 25 juta Muslim; lebih dari sepertiga populasi. Namun hari ini, umat Islam terbunuh. Situs-situs keagamaan Islam dihancurkan di negeri ini tanpa pemerintahan, tanpa kepemimpinan, tanpa penguasa yang memiliki kemauan politik untuk menghentikan ketidakadilan. Padahal Nabi saw. telah bersabda: “Membunuh orang mukmin lebih besar dosanya di sisi Allah daripada melenyapkan dunia.”

Kami tidak mengharapkan apa pun dari pemerintah Barat dan PBB. Pasalnya, yang ada hanya kata-kata kosong kecaman. Kami tidak mengharapkan apa pun dari rezim dan penguasa dunia Muslim saat ini yang telah membuktikan berkali-kali bahwa mereka tidak peduli dengan kesucian darah Muslim atau Islam.

Hari ini, hak-hak Muslim di Ethiopia sedang diinjak-injak. Ini seperti yang terjadi di India, Myanmar, Prancis dan di negeri-negeri lain di seluruh dunia tanpa kepemimpinan Islam yang tulus untuk melindungi mereka. Hal ini tidak terjadi ketika umat Islam di Spanyol, Palestina, India dan di tempat lain dianiaya pada masa lalu. Saat itu Khilafah melangkah untuk melindungi darah mereka dan membebaskan mereka dari para penindas. Hanya negara inilah yang memiliki kemauan politik dan kekuatan untuk melindungi umat Islam, di mana pun mereka tinggal, dari bahaya dan penganiayaan. Nabi saw. bersabda: “Sungguh Imam/Khalifah adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikan dia pelindung.”

Namun, sejak kehancuran Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924, umat Islam secara global seperti anak yatim. Mereka ditinggalkan tanpa wali atau pelindung.

Setelah pendirian kembali Khilafah berdasarkan metode kenabian, Khilafah akan berusaha untuk menyatukan negeri-negeri Muslim, sumberdaya mereka, kekayaan dan militer untuk membangun negara adidaya yang akan menimbulkan ketakutan ke dalam hati orang-orang yang berani menyakiti umat Islam, atau menyerang Islam atau situs-situs keagamaan mereka. Khilafah akan menggunakan kekuatan politik, ekonomi, strategis dan militer yang sangat besar. Khilafah akan memanfaatkan dan menunjukkan—dalam tindakan,  bukan kata-kata kosong—perannya sebagai penjaga dan perisai umat Islam dan Islam.

Karena itu kami menyeru saudara-saudari kami di Ethiopia dan di seluruh dunia untuk bekerja bersama dengan Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah karena urgensi dan akan menandai fajar baru keamanan dan perlindungan bagi umat ini. [Dr. Nazreen Nawwaz; Direktur Divisi Muslimah Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + eight =

Back to top button