
Proyek Waste-to-Energy Danantara: Solusi Hijau atau Strategi Kapitalis?
Pemerintah Indonesia melalui badan pengelola investasi Danantara tengah menyiapkan peluncuran proyek waste-to-energy (WtE) di 10 wilayah prioritas utama. Proyek ini diklaim menjadi solusi ganda, yaitu mengatasi timbunan sampah nasional dan memperkuat bauran energi bersih menuju target net-zero emission 2060.
Danantara akan memberikan dorongan finansial melalui “patriot bond” untuk mengelola investasi strategis tersebut. Proyek WtE ini akan melibatkan mitra swasta nasional senilai Rp 50 triliun di 33 titik Lokasi. Listrik yang dihasilkan akan dibeli oleh PLN. (en.antaranews.com, 07/10/2025)
Secara ekonomi, Proyek WtE dianggap sebagai peluang besar untuk mengubah limbah menjadi energi dan membuka lapangan kerja. Namun, di sisi lain, Danantara tetap berorientasi profit, bukan pelayanan publik semata.
Inilah awal bencana sesungguhnya. Pengelolaan sampah seharusnya berpijak pada pandangan ideologis, bukan sekadar teknis manajemen, apalagi profit finansial. Logika Kapitalisme sebagai ideologi yang menguasai dunia saat ini menjadi biang krisis kerusakan alam dan lingkungan, khususnya persoalan sampah.
Kapitalisme yang berpandangan bahwa alam hanyalah materi tanpa korelasi dengan Sang Pencipta telah mengabaikan fungsi manusia sebagai khalifah pemakmur bumi. Sampah adalah bagian dari gaya hidup konsumtif eksploitatif Kapitalisme. Perusahaan besar melakukan advertensi yang memaksa tanpa sadar konsumsi dan menimbulkan berbagai macam sampah.
Prinsip nilai dan ekonomi Islam terhadap lingkungan sangat berbeda dengan Kapitalisme. Islam adalah sistem sempurna dan komprehensif untuk mengatur seluruh urusan manusia yang berasal dari Pencipta. Islam memandang hubungan manusia dengan alam bukan sebagai konflik. Akan tetapi, Allah SWT menundukkan alam untuk kemaslahatan manusia.
Alhasil, Proyek WtE ini berpotensi menjadikan sampah sebagai “emas baru”. PLN yang sudah megap-megap karena harus membeli listrik yang dihasilkan swasta akan semakin terbebani untuk membeli listrik hasil WtE. PLN merugi pun semakin menjadi.
Sebaliknya, para penyuntik dana “patriot bond” tak akan peduli dengan kerugian PLN, yang notabene adalah kerugian negara. Mereka hanya mau tahu jika kapitalnya akan semakin menggendutkan pundi-pundi kekayaan pribadi mereka.
Dalam Islam, bumi sebagai amanah Allah sebagai objek eksploitasi sesuai kebutuhan dan cara yang dibenarkan oleh syariah. Maka dari itu, WtE akan menjadi ibadah jika pengaturannya sesuai Islam. Akan tetapi, jika orientasinya hanya laba dan citra hijau semu, maka Danantara tak ubahnya mesin kapital yang membungkus kerakusan dengan jargon sustainability.
Sejatinya, pengolahan sampah hanya mampu diselesaikan secara tuntas dengan Islam. Ketundukan kepada Allah SWT akan menjadi landasan menundukkan alam dan lingkungan. [Reni Tri Yuli Setiawati; (Aktivis Muslimah Kota Tangerang Selatan)]





