
Bahagia
Bulan September 2025 lalu saya berjumpa dengan seorang pria paruh baya. Dia mengaku seorang agnostik. Dia menikah dengan seorang Muslimah secara Islam dan pernah umrah ke tanah suci. Akan tetapi, putra dari seorang pendeta ini tidak shalat atau melakukan kewajiban lain selayaknya seorang muslim. Cukup lama berbincang hingga tiba pada soal kebahagiaan. Dia bilang, “Saya tidak mencari kebahagiaan, tetapi ketenangan (peace).”
++++
Rasanya, tak ada orang di muka bumi ini yang tak ingin bahagia. Soalnya adalah dari mana dan bagaimana kebahagiaan itu didapat? Ada beberapa sumber rasa bahagia. Pertama, Getting. Pada umumnya orang akan merasa bahagia jika mendapatkan sesuatu (getting). Mendapatkan pasangan hidup, keturunan, keuntungan bisnis, harta, barang atau benda yang diinginkan, jabatan dan lainnya. Memang manusia punya gharîzah atau naluri berupa kecintaan untuk memiliki (hubbut-tamalluk).
Saking pingin-nya mendapatkan, hingga tak jarang orang lalu melakukan taking (mengambil). Ada yang dilakukan dengan cara yang benar, tetapi tak sedikit yang dilakukan dengan cara yang salah. Mencuri, menipu, manipulasi, merampok dan korupsi adalah cara-cara jahat untuk more getting.
Kedua, Giving. Secara harfiah, giving (memberi) membuat seseorang kehilangan atau setidaknya mengurangi yang ia miliki. Namun, berbagai studi menunjukkan, justru dalam giving itu orang bisa mendapatkan kebahagiaan lebih dari sekadar getting. Dalam hadis shahih riwayat al-Bukhari Muslim, Nabi saw.mengingatkan, bahwa tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Maknanya, tangan yang memberi lebih mulia dan bahagia daripada tangan yang meminta. Giving menumbuhkan makna diri, menenangkan hati dan memperluas keberkahan. Memberi—baik dalam bentuk harta, tenaga maupun kasih sayang—menghubungkan manusia dengan nilai ilahi rahmah (kasih sayang Allah). Inilah sumber kebahagiaan sejati yang tak bergantung pada materi. Bahkan Allah SWT menyatakan dalam QS Ali Imran ayat 92, bahwa kita sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (al-birr) sebelum kita menafkahkan sebagian harta yang kita cintai. Ayat ini menegaskan bahwa kebajikan hanya akan diraih saat seseorang berani memberi, bahkan dari hal yang paling ia cintai. Dalam bahasa spiritual, memberi adalah bentuk tertinggi dari syukur.
Ketiga, Obeying. Jika getting dan giving dilakukan dalam kerangka ketaatan (obeying) kepada Allah, maka itu akan menjadi fondasi kebahagiaan yang luar biasa. Dengan menaati perintah-Nya, seseorang memperoleh ketenangan. Demikian sebagaimana firman Allah dalam QS an-Nahl ayat 97 (yang artinya): Siapa saja yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Allah akan memberikan kehidupan yang baik (hayât[an] thayyib[an]). Kehidupan yang baik di sini ditafsirkan oleh para ulama sebagai ketenangan jiwa, ridha terhadap takdir dan rasa cukup.
Allah SWT juga menyatakan hal serupa dalam QS al-Ahzab ayat 71 (yang artinya): Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan kemenangan yang besar (fawz[an] azhîm[an]). Kemenangan besar dalam ayat ini dipahami bukan hanya kemenangan di akhirat, tetapi juga ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia. Ketaatan kepada Allah membuat hati stabil; tidak mudah terguncang oleh riuhnya dunia. Itulah sebabnya orang yang taat kepada Allah hidupnya tenang karena hatinya terikat pada kehendak Tuhan, bukan pada fluktuasi dunia. Ketaatan membawa kedamaian karena jiwanya tunduk pada kehendak Allah, bukan pada hawa nafsu.
Keempat, Sacrificing. Bukan memberi atau mendapat apalagi mengambil, ternyata kebahagiaan yang lebih mendalam didapat melalui pengorbanan (sacrificing), yang dilakukan demi ketaatan kepada Allah. Melalui pengorbanan, hati menjadi lebih kuat, iman tumbuh dan kebahagiaan yang dalam muncul; bukan yang dangkal dan sementara.
Kebahagiaan muncul bukan saat kita memiliki segalanya, tetapi saat kita rela kehilangan sesuatu demi sesuatu yang lebih bermakna. Itulah yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim. Demi taatnya kepada Allah, ia rela meninggalkan istri yang amat ia cintai dan anaknya yang masih dalam gendongan di lembah yang tak berpenghuni. Ia juga tak ragu menyembelih anaknya yang sudah sangat lama ia nantikan. Semua dilakukan demi taatnya kepada Allah, memenuhi perintah-Nya.
Pengorbanan mengajarkan bahwa memberi untuk Allah justru menumbuhkan jiwa dan menghapus kesempitan hati. Sacrificing (pengorbanan) adalah ujian cinta sejati kepada Allah. Seorang Mukmin bahagia bukan karena hidupnya tanpa pengorbanan, tetapi karena ia tahu setiap pengorbanan untuk Allah itu tak pernah sia-sia. Apalagi jika dari pengorbanan itu, yang bakal ia dapat adalah sesuatu yang jauh lebih berharga: surga. Dalam QS at-Taubah ayat 111 disebutkan bahwa Allah membeli jiwa dan harta seorang yang beriman dengan bayaran surga dalam jihad fî sabilillah. Maka dari itu, mengorbankan diri dan harta untuk memenuhi panggilan jihad menjadi terasa ringan adanya, karena surga tak sebanding dengan apapun di dunia, apalagi sekadar diri dan harta yang tak seberapa.
Kelima, Fulfilling. Oleh karena itu, nyatalah bahwa kebahagiaan itu pada akhirnya didapat melalui fulfilling — memenuhi misi atau tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada Allah, Demikian sebagaimana Allah katakan dalam QS adz-Dzariyat ayat 56, bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada Allah. Dengan menunaikan peran ini, manusia merasa hidupnya bermakna, tidak kosong. Ia menemukan purpose — dan itu sumber kebahagiaan yang tidak bisa dibeli.
Dalam QS al-Mu’minun ayat 1 sampai 9, Allah menyebut ciri-ciri orang-orang yang beriman yang beruntung, “Qad aflaha al-mu‘minûn (Sungguh beruntunglah kaum Mukmin itu).” Beruntung di sini bukan sekadar sukses materi, tetapi bahagia, tenang dan puas secara spiritual yang didapat setelah memenuhi kewajiban, misi dan tujuan. Jadi, kebahagiaan sejati datang ketika seseorang memenuhi perannya sebagai hamba Allah — sebagai anak, orangtua, suami-istri, pemimpin, pekerja, pengusaha, dan lainnya — dengan penuh tanggung jawab.
++++
Jelas sekali, ada hubungan sangat erat antara kebahagiaan (as-sa‘âdah) dengan ketenangan (peace). Keduanya tidak bisa dipisahkan. Ketenangan adalah buah dari kebahagiaan spiritual — saat hati sudah ridha, taat, dan penuh makna. Banyak orang mengejar peace, tetapi Islam mengajarkan bahwa peace adalah buah dari hidup yang penuh iman dan amal shalih. Dalam QS al-Fath ayat 4 dinyatakan Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati kaum Mukmin agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada.
Jadi, kebahagiaan (as-sa‘âdah) adalah jalan menuju ketenangan (peace). Keduanya hanya bisa dicapai ketika manusia getting close to Allah, giving sincerely, obeying faithfully, fulfilling life’s purpose, dan sacrificing patiently. Dengan kata lain, kebahagiaan sejati (as-sa‘âdah al-haqîqiyyah) bukan hasil dari taking (mengambil), apalagi dari jalan yang haram; tetapi dari giving, obeying, sacrificing, dan fulfilling (memberi, menaati, memenuhi dan berkorban di jalan Allah).
Jiwa manusia sesungguhnya diciptakan untuk memberi, tunduk, berkorban dan berbuat baik; bukan sekadar memiliki. Semua itulah yang membuat hati menjadi tenteram, seperti disebut dalam QS ar-Ra’d ayat 28, hanyalah dengan mengingat Allah. Bentuk tertinggi dari “mengingat Allah” adalah dengan menjalani hidup sesuai perintah-Nya, memberi manfaat dan menunaikan amanah dengan ikhlas. Artinya, seseorang gets peace and joy not by taking more, but by finding meaning through remembrance of Allah.
Karena itu tak ada kebahagiaan yang sungguh-sungguh membahagiakan tanpa iman dan ketaatan kepada Allah SWT. Yakin. [H.M. Ismail Yusanto]

