
Mendidik Anak Peduli Lingkungan
Aku adalah setetes air yang berasal dari laut. Aku diangkat oleh panas matahari menjadi awan sampai ketinggian 1.200 meter. Di sana aku bertemu dengan teman-temanku yang lain, melayang bersama menjadi awan. Aku menari-nari dibawa angin yang lembut, di langit biru yang bersih. Ketika aku turun sebagai hujan, aku jatuh di atas sebuah daun lalu meluncur ke ranting, dahan dan batang pohon sampai ke akarnya….
Suatu hari, aku diangkat kembali oleh matahari menjadi uap dan naik ke langit…Ketika aku jatuh ke bumi menjadi hujan, aku temukan tanah yang gundul. Aduh…perih rasanya menghantam tanah yang berdebu. Tidak ada tanaman yang menahanku lagi. Tidak ada daun yang menangkapku lagi….
Ketika teman-temanku sudah berkumpul, aku terseret menjadi banjir. Aku menghanyutkan banyak benda dan makhluk hidup. Aku sedih melihat diriku menyebabkan sengsara manusia. Itu karena manusia yang jahat, menebang dan membakar hutan seenaknya…. (Kutipan esai Kisah Setetes Air, karya Aisyah Nur Amalia, kelas 3 SDIT Insantama tahun 2008).
Ayah dan Bunda, kutipan esai lawas ananda kita di atas, menjadi realitas pahit yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat akhir bulan November lalu. Hampir 1000 korban tewas. Ratusan orang lagi hilang. Kerugian materi juga luar biasa besarnya. Ribuan orang kehilangan rumah dan harta benda. Seketika papa tak ada yang tersisa.
Pasca kejadian bencana, terungkap satu-persatu penyebabnya, di luar faktor cuaca ekstrem. Dari illegal loging, pengalihan fungsi lahan yang tidak sesuai, tidak adanya amdal hingga kebijakan-kebijakan penguasa yang pro kapitalis tanpa memperhatikan kepentingan umat.
Nah, di sinilah Ayah dan Bunda, kerusakan lingkungan berpangkal. Di sini pula, peran kita harus bermula, yaitu memberikan kesadaran kepada para calon pemimpin masa depan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Dengan itu mereka kelak tidak melakukan kesalahan sebagaimana para pemimpin saat ini. Mereka memahami bagaimana Islam telah memberikan aturan yang jelas dan menyeluruh dalam persoalan lingkungan. Para calon pemimpin tersebut adalah anak-anak kita saat ini.
Lantas bagaimana kita menumbuhkan kesadaran tersebut pada anak-anak kita? Yang paling penting, Ayah dan Bunda, kita yang harus terlebih dulu memahami persoalan ini. Islam, melalui alQuran telah menjelaskan bahwa berbagai kerusakan yang terjadi di muka bumi adalah karena kesalahan yang dibuat manusia. Allah SWT berfirman:
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia agar Allah menimpakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS ar-Ruum [30]: 41).
Ini berarti, jika kita ingin melakukan perbaikan, perbaikan tersebut harus ditempuh dengan kembali pada aturan Allah. Inilah kerangka yang harus kita bangun dalam diri anak-anak kita.
Sebagai bentuk langkah praktisnya, kita bisa tempuh cara-cara sebagai berikut:
- Membangun akidah pada anak sejak dini, disertai keyakinan bahwa hukum Allah adalah hukum yang paling tepat bagi manusia. Kita bisa memberikan gambaran kepada anak, kelemahan-kelemahan yang dimiliki manusia tidak bisa menjadikan dirinya sebagai pembuat hukum yang sempurna. Yang paling memahami apa yang terbaik bagi manusia tentu adalah Penciptanya. Pemahaman seperti ini akan membuat anak lebih mudah dalam menerima hukum-hukum syariah.
- Menumbuhkan kecintaan anak terhadap alam. Ayah dan Bunda bisa membiasakan anak bermain ke tempat-tempat yang bernuansa alam: ke sungai, gunung, pantai, gua, atau sekadar jalan pagi menyusuri sawah, memetik bunga di pinggir sungai, ke taman kota dan sebagainya. Ayah-Bunda bisa menunjukkan bagaimana sebatang pohon menjadi rumah bagi berbagai makhluk kecil. Menebang satu pohon sama artinya kita merusak kehidupan sekian banyak makhluk Allah.
Kita bisa menjelaskan juga fungsi pohon bagi manusia dan berbagai makhluk hidup lainnya. Bagaimana pohon menghasilkan oksigen untuk bernafas, memberikan keteduhan, menahan air, menjadi bahan makanan, obat-obatan dan sebagainya. Begitu juga dengan sungai yang menjadi nadi kehidupan manusia. Airnya yang menghidupi berhektar-hektar sawah dan kebun, menjadi sumber air bersih bagi masyarakat, sarana transportasi bahkan menjadi sumber pendapatan sebagian orang dari hasil ikan, batu dan pasirnya.
- Mengajari anak untuk menjaga lingkungan, misal dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak mencabut tanaman tanpa kepentingan, serta mengajak untuk menanam, apakah itu bunga, atau pohon-pohon yang lain. Kita bisa melibatkan mereka ketika berkebun. Kita ajak mereka mengamati saat benih ditanam, bagaimana Allah menghidupkannya sehingga ia bertunas dan berkembang. Bagaimana serangga berdatangan. Bagaimana menikmati keindahannya, memetik buahnya dan merawatnya.
- Lebih efektif jika kita menyertakan dalil-dalil dari berbagai hadis yang terkait. Jelaskan bagaimana kita akan mendapat pahala dari tiap partikel oksigen yang dihasilkan pohon yang kita tanam. Daun dan buahnya yang dimakan manusia maupun hewan, akan menjadi sedekah kita, dan semuanya akan dicatat Allah sebagai amal shalih kita. Pahalanya akan terus mengalir selama pohon itu masih hidup, sekalipun kita sudah mati.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menanam suatu tanaman atau menabur benih, lalu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah bagi dirinya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Beliau pun bersabda, ”Jika terjadi Kiamat, sementara di tangan salah seorang dari kalian ada bibit tanaman, maka tanamlah.” (HR Ahmad).
Menyertakan dalil akan memperkuat motivasi anak sehingga ia bisa melakukan amal semata karena Allah.
- Saat anak sudah mulai beranjak besar dan kemampuan berpikirnya sudah berjalan, kita bisa menjelaskan dampak-dampak dari kerusakan lingkungan. Bisa dengan kita ajak membaca buku, mencari di internet dan mengkaitkannya dengan fakta-fakta yang terjadi seperti bencana banjir dan longsor saat ini. Bisa juga dengan kita ajak melakukan berbagai eksperimen kecil seperti menyiramkan air pada gundukan tanah yang gundul, serta membandingkannya dengan gundukan tanah yang berumput.
Dengan memahami dampak-dampaknya ini, anak belajar untuk bertanggung jawab dalam mengelola lingkungan. Semakin dini sikap ini kita bentuk, disertai dengan pembiasaan dan teladan dari Ayah dan Bunda, anak akan menjadi calon-calon pemimpin umat yang peduli terhadap lingkungannya. Ia akan menerapkan hukum terbaik untuk memastikan lingkungan tetap terjaga.
- Setelah matang dan kuat akidah dalam dirinya, bisa kita lanjutkan dengan mengenalkan dirinya pada konsep ekonomi kapitalis yang menjadi salah satu ancaman bagi lingkungan. Hal ini karena dalam sistem ekonomi kapitalis, pengelolaan hutan dan tambang bisa diswastanisasi sehingga memungkinkan terjadinya eksploitasi terhadap lingkungan tanpa memperhatikan kelestarian dan dampaknya. Selanjutnya kita ajak untuk membandingkan konsep tersebut dengan konsep ekonomi Islam. Bagaimana Allah mengembankan tugas pada manusia sebagai khilâfah fil ardh, yang bertugas untuk menjaga kelestarian alam dan keseimbangannya sehingga membawa kebaikan bagi semua makhluk. Islam menjadikan hutan dan tambang merupakan milik umum yang dikelola negara sehingga kelestarian lingkungan masih bisa dijaga dan dipertahankan.
Dengan memahami keunggulan sistem Islam dan pembentukan kepribadian yang mencintai lingkungan, kita berharap kelak anak-anak kita akan menjadi pemimpin umat yang mampu mewujudkan lingkungan yang sehat, produktif, dan lestari sesuai konsep Islam.
Terakhir, Ayah dan Bunda, yang perlu kita pahamkan juga ke anak adalah ketika kita berhukum dengan hukum Allah maka keberkahan akan datang tercurah dari langit dan bumi, sebagaimana firman-Nya:
Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Karena itu Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan (QS al-A’raf [7]: 96).
Dengan demikian bencana akan menjauh dan Islam akan terwujud sebagai rahmatan lil ’alamin.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Arini Retnaningsih]





