Muhasabah

Pelajaran dari Perang Iran

Whether Sunni or Shia, our enemy is Islam,” begitu ungkapan Menteri Perang AS Pete Hegseth pada akhir Maret 2026 sebagaimana beredar di banyak media, saat perang berkecamuk antara zionis Yahudi-AS dengan Iran. Pernyataan itu menggambarkan, dalam kaca mata AS, Islam adalah musuh, tanpa memandang apa kelompok dan mazhabnya; juga tanpa memandang Sunni atau Syiah.

“Namun sayang, ada kelompok kaum Muslim yang tidak menyadari ini,” ujar Pak Yadi ke saya. “Padahal, umat Islam itu harusnya bersatu,” tambahnya.

Saya sampaikan itulah realitas yang ada dan mau tidak mau harus dihadapi. Saya bilang, ada baiknya mendengarkan ungkapan Ustadz Prof. Abdul Shomad alias UAS. “Seandainya Putin, Vladimir Putin, berpihak kepada Palestina, apakah kita meninggalkan Putin atau bersama Putin? Kita bersama Putin. Apakah dengan kita bersama Putin lalu kita menjadi ortodoks? Tidak. Kita bersama Putin, karena dia bersama Palestina,” ungkapnya.

“Kalau Kim Jong Un, membela Palestina, kita akan berjalan bersama Kim Jong Un. Apakah kita menjadi ateis? Tidak. Kita bersama dia karena kepentingan yang sama untuk membela Palestina. Kalau Xi Jinping, Presiden Cina, bersama dengan Palestina, membela Palestina, kita bilang saja sama Xi Jinping kita akan bersama. Apakah kita akan menjadi agama dia? Tidak,” tambahnya.

“Begitu juga ini. Apakah kalau saya bersama Ali Khamenei, lalu saya menjadi Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah? Tidak. Saya akan bersama beliau demi memerdekaan Palestina. Keyakinan lain,” pungkasnya.

Penjelasan Ustadz Ismail Yusanto sedikit berbeda. “Dalam situasi Iran dibombardir seperti saat ini, apakah kita akan bicara Syiah in detail ataukah in general. Kalau in detail maka harus berbicara detail, kelompok perkelompok bahkan orang-perorang. Ada Ismailiyah, Zaidiyah, Rafidhah, Itsna ‘Asyariyah, dan sebagainya. Kalau in general, lihatlah ada jamaah haji dari Iran. Mereka menunaikan haji, masuk Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Berarti, mereka Muslim, toh?” jelasnya ringkas.

Saya sampaikan juga, kita perlu membedakan Iran sebagai negeri Muslim dengan rezim Iran yang selama ini berada dalam satelit AS. Iran merupakan negeri Islam sejak awal abad ke-7 Masehi pada Pertempuran al-Qadisiyyah tahun 636 M. Pasukan Islam kala itu dipimpin oleh Khalid bin Walid. Saat suatu negeri Muslim mana pun yang diserang oleh negara kafir, kaum Muslim lain tidak boleh berpihak kepada penjajah. Bukankah kaum Mukmin itu bersaudara? Bukankah satu tubuh? Persoalan rezim, itu masalah lain yang harus terus di­kritisi. “Sama dengan Indonesia, Ustadz. Indonesia negeri Muslim, namun rezim menjadi satelit AS,” ujar Pak Yadi.

Saya pikir Pak Yadi ada benarnya. “Saya rasa kunjungan saya ke sini hari ini serta dukungan saya terhadap kemitraan AS-Indonesia merupakan bukti komitmen kami bahwa kami ingin melihat kehadiran Amerika yang kuat di Indonesia. Kami selalu menginginkan hal itu,” ucap Presiden Prabowo, Kamis 19 Februari 2026 (https://www.kompas.tv/ internasional/651655/prabowo-kami-ingin-melihat-kehadiran-amerika-yang-kuat-di-indonesia#google_vignette ).

Terlepas dari itu semua, ada beberapa pelajaran penting dari perang antara Zionis Yahudi-AS dengan Iran. Pertama, menyadari bahwa umat Islam dilimpahi kekayaan yang luar biasa oleh Allah SWT. Minyak, yang merupakan urat nadi kehidupan bagi Amerika dan Barat, berada di negeri-negeri kaum Muslim. Jika aliran minyak kepada mereka dihentikan maka ekonomi mereka akan lumpuh. Sebagai contoh, keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz berdampak sangat melemahkan efektivitas kekuatan militer Amerika dalam menjaga sistem internasional. Realitas juga mengajarkan bahwa jika hanya dengan menutup Selat Hormuz saja negara-negara penjajah sudah berada dalam kesulitan, maka penghentian pengiriman barang-barang mereka melalui selat-selat yang berada di negeri-negeri Muslim dapat menjerumuskan mereka ke dalam krisis politik dan ekonomi yang mencekik. Persoalannya, negeri-negeri Muslim tidak menyatu.

Kedua, negeri-negeri Muslim yang tidak menyatu dan perpecahan umat tidak menghasilkan apa pun selain kehinaan, kemunduran dan keterbelakangan. Bahkan pangkalan-pangkalan militer AS yang ada di negeri-negeri Arab justru digunakan oleh AS untuk menyerang negeri Muslim Iran. Ibaratnya, saat ada seseorang digebuki tanpa salah, saudaranya hanya nonton atau bahkan ikut menyediakan sarana dan prasarana pada orang yang menggebuki saudaranya itu. Sungguh menyakitkan.

Karena itu perlu mengokohkan pemahaman bahwa umat sebagai satu tubuh jauh lebih kuat, baik dalam menghadapi perang yang dilakukan entitas Yahudi terhadap Gaza maupun perang yang dilakukan bersama Amerika terhadap Iran. Lupakah kita akan sabda Rasulullah saw., “Perumpamaan kaum Mukmin dalam saling mencintai, menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim).

Ketiga, jika Iran—yang hanya merupakan satu bagian dari umat—dapat memasukkan Amerika ke dalam krisis di tingkat global, maka bagaimana keadaan AS jika umat Islam mampu mengerahkan seluruh tentaranya di bawah kepemimpinan seorang imam yang lurus, yang menyatukan mereka semua meskipun berbeda ras dan mazhab?

Dalam kitab Hilyah al-Awliyâ’ wa Tabaqaat al-Asfiyaa’ karya Abu Nu’aim al-Isfahani (2/134-135), disebutkan “Sesungguhnya musuh hanya diberi kekuasaan atas kalian karena dosa-dosa kalian. Jika kalian bertobat, niscaya (kekuasaan itu) akan diangkat dari kalian.”

Salah satu dosa itu adalah keterpecah­belahan. Allah SWT berfirman (yang maknanya): Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan karunia-Nya kalian menjadi bersaudara… (TQS Ali ‘Imran [3]: 103).

WalLâhu a’lam. [Muhammad Rahmat Kurnia]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 7 =

Check Also
Close
Back to top button