
Erdogan Diseru untuk Kerahkan Pasukan Selamatkan Garis Merah
Karena kerap berpidato “Masjidil Aqsha adalah garis merah bagi kita” setiap kali tempat suci ketiga kaum Muslim tersebut diserang entitas Yahudi, maka ketika serangan terjadi lagi pada 19 April 2026, Presiden Turki Recep Tayyip Erdoan diseru kerahkan pasukan militer untuk selamatkan garis merah tersebut.
“Wahai Erdogan, daripada mengucapkan kata-kata kosong dari mimbar dan tempat lain bahwa ‘Masjidil Aqsa adalah garis merah bagi kita’, maka segera kerahkan pasukanmu untuk menyelamatkan garis merah itu dan membersihkannya dari kekotoran Zionis Yahudi,” tegas situs hizb-ut-tahrir.info, Senin (20/4/2026).
Pasalnya, sebut situs resmi Hizbut Tahrir tersebut, selama bertahun-tahun (sejak 2020) Erdogan berulang kali mengatakan “Masjidil Aqsa adalah garis merah bagi kita” tetapi apakah entitas Zionis Yahudi mendengarkan?
“Tidak pernah! Karena mereka tahu betul bahwa pidato Anda di sana-sini hanya akan tetap menjadi kata-kata belaka dan tidak akan diterjemahkan menjadi tindakan,” kritik situs tersebut.
Kekuatan militer, jelasnya, hanya ditunjukkan terhadap kaum Muslim yang menargetkan Yahudi di Turki.
“Misi yang telah dipercayakan oleh majikan Anda, Amerika, kepada Anda, dan peran yang telah diberikannya kepada Anda, bukanlah untuk melindungi kaum Muslim dari musuh-musuh mereka, melainkan untuk melindungi Yahudi dan musuh-musuh Muslim. Dan inilah yang kita saksikan di mana-mana,” ungkapnya.
Seperti diketahui, pada Ahad (19/4), kelompok-kelompok pemukim menyerbu kompleks Masjidil Aqsha di bawah pengawalan militer dan keamanan ketat dari pasukan pendudukan Israel, yang mengawal para penyerbu masuk ke dalam tempat suci tersebut.
Penyerbuan para pemukim ke tempat suci tersebut dimulai di Gerbang Mughrabi dan berlangsung selama kurang lebih lima jam. Penyerbuan lain terjadi kemudian pada hari itu juga setelah shalat Dzuhur. Para pemukim berkeliling halaman dan pekarangan masjid tanpa menghormati kesuciannya sebagai tempat ibadah khusus bagi kaum Muslim.
Sumber-sumber di dalam kompleks Masjidil Aqsha melaporkan, kelompok-kelompok pemukim yang menyerbu masjid tersebut berkeliling halamannya, melakukan ritual Talmud dan doa, serta bersujud di tanah di bagian timur kompleks.
Berbicara kepada Arabi21, sumber-sumber tersebut mencatat bahwa para penyerbu dikawal oleh pasukan khusus pendudukan, yang mencegah siapa pun mendekati mereka. Sumber-sumber itu menambahkan bahwa kelompok pemukim tersebut terkadang berjumlah hingga 50 orang. []
[Joy dan Tim]





