Siyasah Dakwah

Mengkaji Metode Dakwah Hizbut Tahrir Dalam Menegakkan Kembali Khilafah

Hizbut Tahrir (HT) merupakan salah satu gerakan Islam saat ini yang paling konsisten dalam memperjuangkan pendirian kembali Negara Khilafah Islam. HT memiliki karakter tanpa kekerasan, intelektual dan bersifat politis. Sejak didirikan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1953, HT telah hadir di lebih dari 40 negara. Di berbagai negara tersebut keberadaannya selalu dicurigai bahkan direpresi oleh para rezim di negara-negara tersebut.

Namujn demikian, HT berhasil menyebarkan dakwahnya lintas negara dan lintas benua. Ini menunjukkan bahwa dakwah untuk memperjuangkan Khilafah adalah gagasan yang dapat diterima oleh masyarakat. Ia bukan sebagai gagasan asing di tengah-tengah masyarakat meskipun berbagai pihak mencoba membangun narasi miring tentang Khilafah.

Ide khilafah tidak mungkin ditolak oleh umat. Pasalnya, khilafah adalah bagian integral dari ajaran Islam dan tertulis dalam kitab-kitab mu’tabar (otoritatif) yang ditulis oleh para ulama dari semua mazhab Islam. Hanya dengan sistem Kilafahlah, ajaran-ajaran Islam dapat diaplikasikan secara sempurna dalam berbagai aspeknya. Dakwah Islam pun dapat disebarkan secara maksimal. Khilafah juga akan menjadi perisai bagi kaum Muslim dari berbagai potensi serangan baik fisik maupun serangan pemikiran dari musuh-musuh kaum Muslim.

Cita-cita menegakkan Khilafah ini menjadi semakin relevan dengan kondisi Dunia Islam yang terpecah-belah; juga dengan kualitas kehidupan yang buruk dari aspek ekonomi, politik, moral, dan pendidikan. Saat ini Dunia Islam juga selalu menjadi objek eksploitasi, kekerasan dan penjajahan dari negara-negara besar. Ini menjadikan umat merasa semakin geram dengan kondisi yang ada. Mereka berharap ada sosok pemimpin dan kepemimpinan yang hadir untuk betul-betul membela dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Sayangnya, para pemimpin Dunia Islam tidak bisa diharapkan. Mereka hanya memikirkan kepentingan nasional, kekuasaan dan kepentingan ekonomi mereka masing-masing. Bahkan mereka lebih rela bekerja sama dengan para penjajah. Mereka tidak berkomitmen melindungi sesama kaum Muslim yang tertindas dan terzalimi. Dunia Islam pun pada akhirnya gagal menyelesaikan persoalan yang terjadi di Palestina, Rohingya, Uyghur dan Kashmir.

 

Urgensi Khilafah dan Kehadiran HT

Di tengah kekecewaan umat ini, Hizbut Tahrir (HT) selalu hadir untuk menyampaikan kepada umat tentang pentingnya kembali pada ajaran-ajaran Islam. Islam wajib diterapkan secara paripurna melalui Daulah Islam atau Khilafah Islam. Ini adalah kewajiban kifâyah bagi kaum Muslim. Khilafah bakal mampu memberikan solusi terhadap problematika umat hari ini. Langkah-langkah praktisnya pun sudah pernah ditunjukkan oleh Nabi saw. saat membangun Negara Islam di Madinah. Negara islam in—yang kemudian disebut dengan Khilafah Islam—dilanjutkan oleh Khulafur-Rasyidin dan para khalifah di era selanjutnya: Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah hingga Khilafah Utsmaniyah.

Sepanjang era Kekhilafahn tersebut, yang berlangsung selama ratusan tahun, seluruh ajaran Islam diterapkan secara sempurna. Dakwah Islam dipimpin oleh Khalifah. Jihad dideklarasikan oleh Khalifah untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan politik musuh agar dakwah serta kebaikan dari ajaran-ajaran Islam dapat dirasakan oleh seluruh umat manusia. Terbukti, sejak era Daulah Islam di Madinah sampai era Khilafah Utsmaniyah, sejarahwan telah mengakui kontribusi peradaban Islam ini bagi umat manusia dari berbagai aspeknya sepert toleransi, kebebasan, ilmu pengetahuan, kekuatan militer, ekonomi, dan kekuatan politik umat Islam. Masa-masa ini adalah masa terbaik bagi kaum Muslim.

Karena itulah Hizbut Tahrir (HT) hadir di tengah-tengah umat. Bukan sekadar mengajak bernostalgia terhadap Khilafah masa lalu yang hebat itu. Akan tetapi, HT hadir untuk mengingatkan kepada umat bahwa keunggulan peradaban itu terjadi akibat dari sebuah perjuangan untuk menerapkan syariah melalui kekuasaan. Ini berlangsung sejak Nabi saw. di utus hingga hijrah dan membangun Negara di Madinah. Setelah itu para penerus beliaulah yang mengembangkan dan melanjutkan eksitensi Negara Islam ini hingga lebih dari seribu tahun berikutnya.

Untuk memperjuangkan tegaknya kembali Khilafah yang hilang saat ini, HT telah menyusun berbagai kitab, termasuk rancangan undang-undang dasar Khilafah. Hal ini dalam rangka menyiapkan umat di dalam menyambut tegaknya kembali Khilafah, termasuk di dalamnya metode menegakkan kembali Khilafah; pembentukan sistem pemerintahan; sistem ekonomi, sistem sosial; keuangan, dan politik luar negeri. Berbagai karya ini dipersiapkan agar saat Khilafah tegak, negara ini bisa menjadi negara independen dan mandiri serta mampu menjadi negara besar yang akan memimpin Dunia Islam serta melakukan dakwah dan jihad ke seluruh dunia.

 

Metode HT dalam Menegakkan Kembali Khilafah

Hizbut Tahrir meyakini bahwa Khilafah adalah bagian dari syariah. Karena itu upaya menegakkan kembali Khilafah juga harus sesuai dengan syariah. Karena itu metode perjuangan HT dalam menegakkan kembali Khilafah merujuk pada metode Nabi saw. saat melakukan dakwah di Makkah hingga berhasil membangun Negara Islam di Madinah. Hal itu tampak melalui tiga tahapan dakwah. Pertama: Tahapan pembinaan dan pembentukan gerakan (organisasi dakwah). Kedua: Tahapan interaksi dengan umat dan perjuangan politik. Ketiga: Penerimaan dan penegakan kekuasaan melalui Ahlun-Nushrah. Semua tahapan dakwah ini dilalui melalui perjuangan intelektual dan politik tanpa penggunaan kekerasan.

HT meyakini bahwa perubahan umat Islam menuju kebangkitan harus dimulai dari perubahan pemikiran. Caranya adalah dengan mengganti pemikiran yang rusak saat ini di benak kaum Muslim dengan pemikiran yang cemerlang yang lahir dari Islam. Dari pemikiran inilah lahir berbagai solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat dari hulu sampai hilirnya. Melalui pemikiran Islam inilah institusi negara dan pemerintahan Islam (Khilafah) dibangun.

Oleh sebab itu, mengganti sistem yang merusak saat ini di Dunia Islam membutuhkan pemahaman dan kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat harus disadarkan tentang kerusakan sistem yang menguasai mereka hingga masyarakat mau menerima Islam sebagai satu-satunya solusi terhadap kehidupan mereka.

Agar tercipta opini umum, perlu kerja tanpa henti yang dilakukan oleh kelompok dakwah yang terus melakukan interaksi di tengah-tengah masyarakat. Tujuannya untuk memperluas jejaring dakwah serta terus meningkatkan kuantitas pengemban dakwahnya. Upaya membangun opini umum ini dilakukan dengan berbagai cara; baik kontak yang sifatnya personal, seminar, publikasi, media sosial, pengajian dan lain sebagainya.

Semua aktivitas ini dilakukan oleh para aktivis dakwah yang telah dibina secara intensif baik pemikiran, spiritual dan mentalnya. Dengan itu mereka menjadi pribadi-pribadi yang tangguh di medan dakwah serta mampu bersabar atas segala upaya berbagai pihak untuk menghentikan dakwah ini.

Saat opini telah tercipta bersama dengan kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat, di situlah pemilik kekuatan (Ahlun-Nushrah) diharapkan akan menyerahkan kepemimpinan pada kelompok dakwah tersebut hingga tegak sebuah kekuasaan yang betul-betul baru dengan landasan ideologis yang baru pula.

Langkah-langkah inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. selama di Makkah. Lalu akhirnya beliau mendapatkan dukungan kekuasaan di Madinah hingga beliau hijrah dan menegakkan Negara Islam. Metode ini pula yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir dalam menegakkan kembali Khilafah. Inilah metode yang tepat dan yang paling sesuai dengan Islam untuk melanjutkan kehidupan Islam. Bukan melalui jalan kekerasan atau ikut dalam pertarungan Pemilu dalam sistem demokrasi saat ini.

 

Capaian Dakwah HT

Saat ini Hizbut Tahrir (HT) telah berada pada fase yang kedua dalam dakwahnya, yaitu tahapan interaksi dengan umat dan perjuangan politik. Tahapan ini adalah tahapan yang terberat dalam dakwah. Sebabnya, HT harus berhadapan dengan pemikiran-pemikiran yang sudah dominan mengakar di tengah-tengah umat; berhadapan dengan sebagian kaum Muslim yang pragmatis dan sekuler; serta berhadapan dengan berbagai rezim yang lebih cenderung berpihak pada sekularisme dan politik Barat daripada Islam dan kepentingan kaum Muslim.

Meskipun demikian, dakwah HT terus berkembang ke berbagai negara. Ini mengindikasikan bahwa gagasan khilafah perlahan-lahan diterima oleh umat. Ini berarti hanya menunggu waktu saja gagasan ini menjadi opini umum yang kemudian beralih pada tegaknya kekuasaan Islam sebagaimana yang pernah Nabi saw. tegakkan pada masa lalu.

Jika merujuk pada sîrah dakwah Nabi saw., semakin berkembang dakwah, akan semakin keras juga tantangan dan hambatan dari rezim politik bersama para pendukungnya. Ini karena saat dakwah semakin diterima oleh umat, maka legimitasi rezim akan terancam dan akan berdampak pada kepentingan kekuasaan mereka. Sebagai respon alami terhadap ancaman tersebut, rezim berupaya melakukan berbagai hambatan, tantangan dan gangguan terhadap dakwah tersebut.

Dalam konteks dakwah saat ini, jelas sekali terlihat bagaimana rezim global bersama dengan rezim politik di Dunia Islam menciptakan berbagai macam cara dalam menghalang-halangi umat terhadap dakwah HT serta gagasan syariah dan khilafah. Mereka memonsterisasi khilafah sebagai gagasan para radikal dan teroris. Mereka melakukan pelarangan dan pembubaran organisasi. Mereka melakukan kriminalisasi terhadap para pejuang khilafah. Bahkan negara-negara Barat mendukung pembentukan gerakan ISIS dengan tujuan semakin menjatuhkan legitimasi Khilafah di mata dunia.

Kenyataannya, dengan berbagai upaya jahat tersebut, dakwah khilafah tetap jalan. Umat juga tetap menyambut dakwah ini seiring dengan meningkatnya literasi politik mereka. Umat akhirnya dapat menilai siapa yang paling layak untuk didukung. Apakah rezim global yang menjadi akar masalah kerusakan dunia saat ini atau HT yang tetap istiqamah dalam menyuarakan perubahan dengan Islam. Inilah yang membuat HT terus bertahan dan berkembang meski di tengah berbagai kebijakan kejam rezim terhadap HT selama ini. Rezim jahat itu yang malah banyak yang berakhir tragis dan menyedihkan. Sebaliknya, dakwah Islam dan khilafah terus berlanjut dan bertumbuh di tengah-tengah umat.

 

Butuh Dukungan Umat

Peluang untuk perubahan umat menuju Khilafah semakin hari semakin besar. Pasalnya, kondisi dunia saat ini semakin buruk dari berbagai level kehidupan. Di sisi lain, kesadaran terhadap syariah pun terus meningkat di kalangan masyarakat. Survei Pew Research Centre 2013 jelas menunjukkan tingginya dukungan masyarakat terhadap syariah bahkan sampai 99, seperti di Afganistan. Di Indonesia sendiri dukungannya mencapai 70%. Survei tahun 2022 yang dilakukan oleh Arab Youth Survey juga menunjukkan hal yang konsisten. Sebanyak 70% pemuda negara-negara Arab dan 60% pemuda dari negara-negara Afrika Utara mendukung formalisasi syariah di negara-negara mereka.

Upaya mempercepat tegaknya Khilafah membutuhkan opini yang masif. Tentu agar tercipta pemahaman dan kesadaran umum di tengah umat, bahwa hanya syariah dan khilafah sebagai satu-satunya harapan mereka. Bukan sistem sekuler yang berkuasa saat ini.

Agar semua itu terwujud dengan segera, butuh peningkatkan jumlah para pendukung, jejaring dan para pejuang dakwah yang militan untuk terus menggulirkan opini ini di tengah-tengah umat. Hal ini berlangsung sampai tahap para pemilik kekuatan (Ahlun-Nushrah) mau menyerahkan kekuasaan kepada HT untuk menegakkan sistem yang baru ini.

Oleh sebab itu, kaum Muslim harus bersegera menyambut seruan penegakan syariah dan khilafah ini. Bukan sekadar setuju, tetapi bergabung dalam jamaah dakwah ini. Tentu untuk bekerja bersama dalam menggelindingkan cita-cita besar ini hingga sampai satu titik saat Allah memberikan pertolongan-Nya dengan tegaknya Khilafah ‘alâ minhâj an-nubuwwah untuk yang kedua kalinya.

Penegakan kembali Khilafah ini penting sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Khilafah juga sekaligus satu-satunya harapan dunia yang sudah sangat rusak ini akibat dari penerapan sistem Kapitalisme-sekuler serta dominasi negara-negara Barat sebagai pengusung utamanya sampai saat ini.

Jika umat hanya diam dan tidak bergerak maka itu sama saja dengan membiarkan Barat dan ideologinya tetap eksis. Oleh sebab itu, kunci tegaknya Khilafah kembali adalah kerja-kerja kolektif bersama HT, dan terbentuknya dukungan dari umat melalui pemahaman dan kesadaran mereka terhadap syariah dan khilafah. [Hasbi Aswar]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × three =

Back to top button