Dunia Islam

Perang Proxy Armenia Vs Azerbaijan

Konflik Nagorno-Karabakh (wilayah pegunungan dengan luas sekitar 4.400 kilometer persegi) yang telah berlangsung puluhan tahun di Kaukasus kembali memanas. Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat perang terbuka. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata, hal itu tak berlangsung lama. Perang kembali pecah. Azerbaijan mengklaim merebut kembali wilayah yang disengketakan adalah urusan yang belum selesai. Wilayah itu diakui secara internasional merupakan bagian dari Azerbaijan. Sebaliknya, pihak Armenia mengatakan secara historis Nagorno-Karabakh adalah bagian dari Armenia selama berabad-abad.

Gencatan senjata sempat disepakati setelah pembicaraan yang berlangsung selama 10 jam di Ibukota Rusia, Moskow. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan kedua negara sekarang akan memulai pembicaraan “substantif”. Namun, Menteri Luar Negeri Armenia Zohrab Mnatsakanyan kemudian menggambarkan pembicaraan itu sebagai “agak sulit”. Dia mengatakan Armenia ingin Nagorno-Karabakh diakui secara internasional sebagai negara merdeka.

Menteri Luar Negeri Azerbaijan, Jeyhun Bayramov, mengatakan tidak cukup banyak tekanan yang diberikan kepada Armenia selama pembicaraan dan situasi di Nagorno-Karabakh tidak bisa tetap seperti itu. Pemerintah Azerbaijan mengatakan konflik ini akan berhenti jika tentara Armenia ditarik sepenuhnya dari Nagorno-Karabakh. Lebih dari 300 orang tewas dan ribuan lainnya mengungsi sejak kejadian kekerasan terbaru dalam konflik berkepanjangan yang pecah pada 27 September.

 

Sejarah Konflik

Kaukasus adalah wilayah pegunungan yang penting secara strategis di Eropa Tenggara. Selama berabad-abad, berbagai kekuatan di wilayah ini, baik Kristen maupun Muslim, bersaing untuk mendapatkan kendali di sana. Armenia dan Azerbaijan modern menjadi bagian dari Uni Soviet ketika dibentuk pada 1920-an. Nagorno-Karabakh adalah wilayah mayoritas etnis Armenia, tetapi Soviet memberikan kendali atas wilayah tersebut kepada otoritas Azerbaijan.

Orang-orang Armenia di Nagorno-Karabakh melakukan gerakan untuk menjadikan wilayah Nagorno-Karabakh di bawah kendali otoritas Armenia dalam beberapa dekade berikutnya. Namun, baru setelah Uni Soviet mulai runtuh pada akhir 1980-an parlemen regional Nagorno-Karabakh secara resmi memilih untuk menjadi bagian dari Armenia. Azerbaijan berusaha untuk menekan gerakan separatis, sedangkan Armenia mendukungnya. Hal ini menyebabkan bentrokan etnis. Setelah Armenia dan Azerbaijan mendeklarasikan kemerdekaan dari Moskow, perang skala penuh pun terjadi.

Pasukan Armenia mengusir pasukan Azerbaijan dari Nagorno-Karabakh pada tahun 1990-an. Puluhan ribu orang tewas. Satu juta orang mengungsi di tengah laporan pembersihan etnis dan pembantaian yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Pasukan Armenia menguasai Nagorno-Karabakh sebelum gencatan senjata yang ditengahi Rusia dideklarasikan pada tahun 1994. Setelah kesepakatan itu, Nagorno-Karabakh tetap menjadi bagian dari Azerbaijan, tetapi sejak itu sebagian besar telah diperintah oleh separatis, republik yang dideklarasikan sendiri, dijalankan oleh etnis Armenia dan didukung oleh pemerintah Armenia. Itu juga membentuk Garis Kontak Nagorno-Karabakh, memisahkan pasukan Armenia dan Azerbaijan.

 

Campur Tangan Negara Besar

Sebagaimana wilayah konflik dunia lainnya, perang wilayah Nagorno-Karabakh menjadi perang proxy negara-negara besar. Perang proxy (Proxy war) adalah perang antar dua negara atau aktor non-negara yang terjadi karena dorongan atau mewakili pihak lain yang tidak terlibat langsung di pertempuran. Pihak lain tersebut harus memiliki hubungan yang erat dan lama dengan pihak yang bertikai baik dalam bentuk pendanaan, pelatihan militer dan lain-lain yang dapat memastikan perang terus berjalan.

Sebagai perang proxy, perang antara dua negara, tidak bisa dipisahkan dari campur tangan negara-negara besar dan sekutu regionalnya. Rusia sebagai negara yang pernah menjadi pengasuh utama wilayah itu di masa kejayaan Soviet tentu tidak ingin melepaskan pengaruhnya sama sekali. Rusia bersekutu erat dengan Armenia meskipun memiliki hubungan baik dengan Azerbaijan. Amerika punya keinginan besar untuk menggeser pengaruh Rusia di Kaukasus. Namun, Amerika selama ini memilih menghindar dari konflik terbuka dengan Rusia di wilayah ini. Amerika memilih memainkan sekutu dekatnya Turki yang mendukung Azerbaijan. Eropa ikut bermain, namun dalam skala pengaruh yang lebih kecil.

Pemberontakan Armenia melawan Azerbaijan tidak bisa dilepaskan dari bantuan Rusia. Armenia mengumumkan kontrol atas wilayah pegunungan Karabagh pada tahun 1991, mendeklarasikan republik merdeka di wilayah itu. Perang berlanjut hingga tahun 1994. Azerbaijan kehilangan lebih dari 24% dari wilayahnya, yang meliputi wilayah Karabagh (yang terdiri dari lima provinsi), ditambah lima provinsi lainnya di bagian barat negara itu, sebagian besar provinsi Aghdam dan Fadhuli. Sparatis Armenia juga  telah mengusir sekitar satu juta penduduk Muslim di wilayah ini. Tentara Rusia turun tangan secara langsung. Rusia terus berdiri di belakang Armenia, sebuah negara yang kecil dari sisi luas, populasi, kekuatan dan kemampuan dibandingkan dengan Azerbaijan.

Federasi Rusia, negara penerus Uni Soviet, diyakini berperan penting dalam meraih kemenangan bangsa Armenia dalam Perang Nagorno-Karabakh (1988–1994). Pada tahun 2013, Wakil Perdana Menteri Azerbaijan Ali S. Hasanov berkata, “Kita perlu menjadi lebih kuat sehingga jika kita terlibat dalam pertempuran di Nagorno-Karabakh kita dapat melawan pasukan Rusia, karena itulah yang akan kita miliki, untuk dihadapi. Apakah Armenia menduduki wilayah kami? Apakah menurut Anda kekuatan Armenia cukup untuk itu? “

Bagi Rusia, Armenia merupakan mitra strategis yang sangat penting sebagai salah satu pintu masuk memasuki wilayah Kaukasus. Sekaligus sebagai benteng membendung pengaruh negara-negara pro NATO, seperti Turki. Secara historis, Armenia yang mayoritas Kristen juga  menjadi negara mitra lebih dipercaya Rusia, terutama untuk menghadapi  ancaman ‘laten’ negara-negara Muslim seperti Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan dan Tajikistan. Meskipun para penguasa negeri itu diketahui sekular, namun bahaya laten ‘Islam’ yang dianut mayoritas penduduknya, tetap saja menjadi ancaman.

Hubungan bilateral antara Armenia modern dan Federasi Rusia dibangun pada 3 April 1992. Meskipun demikian, Rusia telah menjadi aktor penting di Armenia sejak awal abad ke-19. Hubungan bersejarah kedua negara berakar pada Perang Rusia-Persia tahun 1826 hingga 1828 antara Kekaisaran Rusia dan Qajar Persia setelah Armenia Timur diserahkan kepada Rusia. Apalagi Rusia dipandang sebagai pelindung rakyat Kristen di Kekhilafahan Utsmaniyah, termasuk orang Armenia. Armenia juga bergabung dalam Commonwealth of Independent States (CIS) yang dibentuk tahun 1991. CIS beranggotakan Armenia, Azerbaijan, Belarusia, Georgia (keluar tahun 2008), Kazakhstan, Kyrgyzstan, Moldova, Rusia, Tajikistan, Turkmenistan, Ukraina dan Uzbekistan.

Kerjasama militer antara Armenia dan Rusia didasarkan pada kedua negara yang menjadi anggota aliansi militer (CSTO) serta peserta dalam Sistem Pertahanan Udara (Air Defense System) CIS. Rusia mempertahankan pangkalan militernya di Gyumri (sebelumnya, Alexandropol), sebelah utara Yerevan, sebagai salah satu pangkalan militernya di luar negeri (Pangkalan Militer ke-102); sebagai bagian dari Kelompok Pasukan Transkaukasia Rusia. Perjanjian yang relevan diperpanjang hingga 2044 pada tahun 2010. Moskow juga berupaya untuk memasok Armenia dengan lebih banyak senjata dan perangkat keras militer.

 

Permainan Amerika dan Turki

Turki memainkan masalah Azerbaijan sesuai dengan rotasinya di orbit Amerika. Turki menandatangani perjanjian perdamaian komprehensif dengan Armenia di Zurich, Swiss pada 10 Oktober 2009 yang mengharuskan pengakuan perbatasan saat ini antara kedua negara, membuka perbatasan, membangun hubungan diplomatik, saling bertukar duta besar, membuka konsulat, mengembangkan hubungan di segala bidang, kerjasama regional dan internasional, menyelesaikan konflik regional dan internasional dengan cara damai sesuai aturan dan hukum internasional.

Perjanjian perdamaian yang disponsori oleh Obama pada saat itu dikecam oleh Azerbeijan. Pasalnya, di samping menyampingkan negara itu, juga tidak menyinggung sama sekali wilayah Azerbeijan yang didukuki Armenia. Padahal sebelumnya, Turki mensyaratkan pembukaan hubungan diplomatik dengan Armenia dengan penarikan pasukan Armenia dari daerah Azerbaijan. Melalui perjanjian ini Amerika bisa berharap akan memperbesar pengaruhnya di Armenia secara langsung melalui Turki.

Namun, sembilan tahun kemudian, pada Maret 2017 di bawah tekanan dari Rusia, Armenia secara resmi membatalkan perjanjian tersebut karena tunduk pada pengaruh Rusia. Dengan demikian Amerika kehilangan kesempatan untuk mengambil Armenia dari Rusia melalui perjanjian dengan Turki itu. Rusia bahkan memperkuat pengaruhnya di Armenia. Rusia memperkuat arsenal misilnya di pangkalannya, Pangkalan Gyumri Armenia, menandatangani perjanjian pertahanan udara bersama pada Desember 2015 dengan Armenia. Rusia pun melibatkan Armenia ke dalam pasar Uni Ekonomi Eurasia yang mulai berlaku pada 1 Januari 2015 bersama dengan Belarusia, Kazakhstan dan Kyrgyzstan.

Setelah semua itu, Amerika kembali mencari cara lain untuk memperkuat pengaruhnya di Azerbaijan dan melemahkan pengaruh Rusia. Amerika menginstruksikan kepada Turki untuk memperkuat hubungan militer, ekonomi dan politik dengan Azerbaijan. Hal ini untuk memperkuat pengaruh Amerika sekaligus menekan Armenia. Konflik yang terjadi sekarang ini dengan dukungan penuh Turki terhadap Azerbaijan tidak bisa dilepaskan dari strategi baru Amerika ini. [AF]

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

16 − 3 =

Back to top button