Ibrah

Marhaban Ya Ramadhan

RAMADHAN kembali datang. Puasanya kembali tiba. Tarawih dan shalat malamnya kembali menyapa. Tilawah al-Qurannya kembali menggema. Semua ini sepantasnya dirayakan dengan penuh rasa syukur dan riang-gembira. Pasalnya, Ramadhan adalah tamu agung. Bulan mulia. Momen amat istimewa. Tentu karena Ramadhan membawa rahmat, ampunan dan aneka kebaikan tak terhingga. Seluruh amal kebajikan dilipatgandakan pahalanya. Apalagi puasanya. Saking istimewanya, Allah SWT membalas langsung pahala puasa Ramadhan dengan balasan tak terhingga.

Belum lagi di dalam bulan Ramadhan ada suatu malam yang super istimewa. Lailatul Qadar namanya. Malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Maknanya, di dalamnya, semua amal kebajikan yang dilakukan, pahalanya setara dengan amal kebajikan yang sama, yang dilakukan selama seribu bulan. Kurang-lebih 83 tahun.

Sayangnya, kesempatan emas ini hanya terjadi setahun sekali. Tidak lebih. Hanya saat Ramadhan saja. Hanya satu bulan saja. Padahal dalam setahun ada dua belas bulan.

Karena itulah generasi salafush-shalih jauh-jauh hari telah mempersiapkan diri. Tentu dengan sepenuh hati. Sebabnya, mereka tak ingin Ramadhan yang hanya datang setahun sekali menjadi tak berarti. Mereka tak ingin Ramadhan tersia-siakan. Puasanya hanya sekadar menahan lapar dan dahaga. Qiyamul Lailnya hanya sekadar begadang saja. Tilawah al-Quran dan ragam ibadah lainnya hanya rutinitas hampa tanpa makna. Singkatnya, mereka tak ingin Ramadhan—dengan ibadah puasanya—sama sekali tak menghasilkan takwa. Sebenar-benar takwa.

Dalam hal ini kita layak meneladani Amr bin Qais dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Saat memasuki Sya’ban, sebulan sebelum kedatangan Ramadhan, ia segera menutup tokonya. Menghentikan aktivitas bisnisnya. Juga semua kegiatan yang bisa mengotori jiwanya dan memalingkan kalbunya dari mengingat Allah SWT. Ia lalu fokus memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Terutama memperbanyak tilawah al-Quran. Terkait itu, Amr bin Qais berkata, “Thuubaa li man aslaha nafsahu qabla Ramadhaana (Betapa beruntung orang yang telah memperbagus jiwanya sebelum Ramadhan tiba).” (Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaa’if al-Ma’aarif, hlm. 138).

Mengapa Amr bin Qais sampai meninggalkan bisnisnya untuk sementara demi mempersiapkan diri menghadapi Ramadhan? Ini karena “perniagaan” pada Bulan Ramadhan tentu jauh lebih menguntungkan ketimbang perniagaan duniawi. Sebabnya, pada bulan inilah kesempatan untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya. Tentu dengan berusaha meraih sebesar-besarnya pahala melalui ragam amal shalih selama Ramadhan. Tak hanya shaum, shalat tarawih dan memperbanyak tilawah al-Quran. Selama Ramadhan mereka pun makin giat meraih ilmu, makin banyak bersedekah, makin bersemangat dalam dakwah, dll.

Dengan kata lain, generasi salafush-shalih seperti Amr bin Qais amat paham. Bagi mereka, bisnis duniawi—sekalipun  mendatangkan keuntungan besar—tidak lebih penting daripada menyucikan jiwanya demi menyambut datangnya Ramadhan yang penuh berkah.

Karena itu jelas, Sya’ban adalah bulan persiapan. Persiapan menyambut Ramadhan. Kata Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahulLaah, “Sya’ban diibaratkan seperti ‘mukadimah’ (pendahuluan) bagi Ramadhan. Karena itu dianjurkan di dalam bulan Sya’ban ini untuk mengamalkan apa saja yang diperintahkan selama Ramadhan, yakni banyak berpuasa dan banyak membaca al-Quran. Dengan itu pada saatnya sudah ada kesiapan diri saat memasuki Ramadhan. Dengan itu pula jiwa terlatih untuk selalu taat kepada Allah Yang Maha Pengasih.” (Ibnu Rajab, Lathaa’if al-Ma’aarif, hlm. 258).

Untuk itu, jauh-jauh hari, paling tidak sejak memasuki Sya’ban, mereka sudah memfokuskan diri untuk memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah SWT. Di antaranya dengan memperbanyak membaca al-Quran sepanjang Bulan Sya’ban. Mengapa membaca al-Quran? Sebabnya, kebiasaan membaca al-Quran merupakan salah satu bukti otentik dari kesucian hati/jiwa seorang Mukmin. Ini sebagaimana dinyatakan oleh Utsman bin Affan ra.  (w. 35 H), “Law thaharat al-quluub, lam tasyba’ min qiraa’ah al-Qura’aan (Jika hati bersih maka ia tidak akan kenyang dari membaca al-Quran).” (Al-Ghazali, Ihyaa’ ‘Uluum ad-Diin, 3/ 5).

Tak hanya memikirkan bagaimana memperbagus jiwanya dengan banyak ber-taqarrub kepada Allah SWT pada Bulan Sya’ban. Pada Bulan Sya’ban ini generasi salafus-shalih juga meningkatkan kepedulian mereka kepada saudara-sudara mereka sesama Muslim yang miskin dan papa. Salah satunya dengan menyegerakan penunaikan zakat—juga sedekah lainnya—pada Bulan Sya’ban. Tak menunggu-nunggu kedatangan Ramadhan hanya semata-mata demi meraih pahala yang besar. Sebabnya, boleh jadi banyak kaum Muslim yang fakir atau miskin, yang mungkin saat Ramadhan datang, tak sanggup untuk menyediakan makan sahur dan berbuka secukupnya selama Ramadhan.

Karena itulah, kata Al-Hafizh Ibu Hajar rahimahulLaah: “Dulu kaum Muslim, setiap kali memasuki Bulan Sya’ban, mereka segera tenggelam dalam aktivitas membaca dan menekuni mushaf (al-Quran). Mereka pun mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta-harta mereka agar kaum dhuafa dan orang-orang miskin bisa kuat (karena punya bekal) untuk menunaikan shaum Ramadhan.” (Ibnu Hajar, Fath al-Baari, 13/310-311).

Mereka menyegerakan penunaikan zakat—juga sedekah—bukan karena benar-benar harta mereka yang terkena zakat telah mencapai haul (setahun).  Namun, lebih karena mereka ingin agar dengan zakat atau sedekah mereka yang disegerakan itu, orang-orang miskin dan papa memiliki bekal yang cukup untuk menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh. Baik untuk makan sahur maupun untuk berbuka. Dengan begitu mereka pun bisa melaksanakan puasa dengan tenang. Tak terlalu disibukkan oleh pikiran tentang bagaimana harus mencari uang agar bisa menunaikan ibadah puasa Ramadhan.

Alhasil, Marhaban yaa Ramadhaan. Selamat datang Ramadhan. Semoga di dalamnya kita bisa mereguk sebanyak-banyaknya rahmat dan ampunan Allah SWT. Semoga kita pun dapat meraih takwa—dengan sebenar-benar takwa—sebagai buah dari pelaksanaan ibadah puasa kita selama Ramadhan. Aamiin.

Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah. [Arief B. Iskandar]

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seven − 5 =

Check Also
Close
Back to top button